Masi Mau Bisnis Saat Covid

Masi Mau Bisnis Saat Covid

Masi Mau Bisnis Saat Covid
Pic Source: Freepik.com

Pertanyaan yang buat Galau

Selamat hari Sabtu ya teman-teman semua.

Enaknya sabtu gini itu santai, punya aktivitas bersama keluarga, anak-anak dan menikmati hari liburan.

Kan enaknya gitu ya, tapi gimana kalau kondisinya serba terbalik.

Karena mau ada PSBB kedua, kita malah jadi pusing tujuh keliling.

Kerja serba dari rumah. Kantor gonjang ganjing dengan kondisi ekonomi. Ekonomi lesu.

Plus bonus ketidakpastian gaji karena semua serba harus bertahan dulu.

Ok, sabar, tarik nafas, kita coba rileks dulu ya.

Trus tercetuslah sebuah ide

Gimana kalau kita mulai mencicil untuk membuat bisnis aja sendiri. Good idea bukan?

Sip, ide bagus.

Setidaknya ada solusi daripada mikirin hal yang negatif tentang kasus Covid 19 yang nda jelas juntrungannya.

Tapi, pertanyaan besarnya, Masi Mau Bisnis saat Covid?

Wah, kok jadi malah tambah pusing Mas? Ini blog nda menginspirasi tenan jan.

Santai. Tarik nafas lagi. Rileks.

Saya dukung untuk buka Bisnis

Terus terang, saya setuju untuk memulai buka bisnis disaat kondisi seperti ini.

Memang, tujuannya saja yang perlu direvisi. Ini menurut saya ya.

Misalkan, dulu ingin punya usaha untuk menjadi Kaya Raya. Sekarang, dimulai dengan mendapatkan tambahan penghasilan diluar gaji yang tidak sama lagi dengan kondisi sebelumnya.

Lalu, bisnis tipe dan macam mana yang harus dibuka nih Mas Ndaru?

Cari yang mudah dan sederhana dalam prosesnya.

Jangan ujuk-ujuk buka pabrik 1000 hektar deh. Itu mah namanya bunuh diri.

Semua bisnis bisa dimulai dari Social Media, Whatsapp dan lingkaran pertemanan kita. So simple.

True, simpel saat memulai tapi challenging untuk mempertahankan dan mengembangkannya. But it’s okay. Santai aja Brur.

Kan tujuan bisnis kita beda bukan? Intinya, cari penghasilan yang simpel, ngerjain bisa disambi dan memanfaatkan jaringan pertemanan kita, tapi jangan suka maksa ya.

Ini nih penyakit yang baru buka bisnis, jualannya suka rodo maksa. Slow aja, kasi tips dan trik serta buat mereka tahu, apa yang temen-temen bisa bantu. Yang solutip gitu lho, Pesan Bu Tedjo.

Wah, sampun akeh curhat-e

Sudah banyak nih ternyata tulisan kali ini.

So, daripada yang baca bosen, mending saya sudahi ya.

Jadi ini cuma ide saya dan berdasarkan pengalaman saya ya. Jangan serius-serius amat. Saya juga nda serius kok nulisnya.

Tapi, klo mau kasi feedback dan masukan, monggo lho. Ok?

Stay Healthy, Stay humble and We can make it through this Covid 19. Amin!

Salam,

Daru

Bacaan lainnya bisa mampir dibawah ini ya. Sok atuh mampir.

Kopi, Ide dan Eksekusi

Memilih Bisnis Model

Cara Membuat Waffle Chart di Tableau

Oiya, saya sedang mencari anggota tim Sunartha nih, yang tertarik sama urusan utak-atik SQL, trus belajar buat Viz yang keren-keren sambil ngoceh sana sini tentang kejagoannya dia. Berminat? Buktikan kejagoanmu dengan apply diweb Sunartha ya. Saya tunggu lho!

Kopi Ide dan Eksekusi

Kopi Ide dan Eksekusi

Kopi Ide dan Eksekusi
Pic Source: www.birthdaywishes.expert

Selamat Pagi, Ngopi Dulu Yuk

Pagi!

Bagi Anda pecinta kegiatan minum kopi dipagi hari, meneguk segelas kopi hampir seperti ritual bukan?

Sama dengan saya. Setiap pagi, sebelum memulai hari, meminum segelas kopi, baik kopi hitam maupun kopi susu, sudah seperti sebuah kenikmatan dan semangat dalam memulai hari.

Oiya, saya minta maaf nih, biasanya saya menulis dihari Sabtu, tetapi tergeser sampai dihari Selasa.

Maklum, menunggu ide datang itu lumayan menantang bagi saya disaat menulis. Dan akhirnya ide untuk bahasan kali ini hadir juga.

Lanjut ya ngopinya sambil baca tulisan-tulisan saya seperti dibawah ini:

Bisnis Anda Autopilot

Efek Tontonan Youtube yang Bermanfaat

Sambil scroll-scroll santai disaat liburan kemarin, saya menemukan sebuah channel youtube yang dihost oleh Pak Gita Wiryawan.

Sesi kali itu, beliau diskusi santai dan serius dengan founder Kopi Kenangan. Ya, kopi kekinian yang cukup banyak dikenal oleh generasi pencinta kopi yang tidak serius-serius amat.

Kenapa, ya namanya kopi susu gula aren, kan bukan kesukaan yang terbiasa neguk kopi item pake strong pula šŸ™‚

Yang menarik saat mendengarkan mereka diskusi berdua adalah bagaimana sang founder, menjelaskan secara rinci, tujuan dan arah bisnis yang dipimpinnya dalam rentang waktu yang menurut saya, cukup luar biasa.

Padahal, buka kartu dikit ya, saat awal-awal kopi kekinian mulai ambil momentum, saya dan temen-temen sudah memikirkan dan menuliskan ide membuat kopi macam beginian yang tentunya tidak bersifat cafe atau tempat nongkrong.

Dan kita tahu, ide hanyalah sebatas ide kalau tidak ada eksekusi dan plan yang jelas.

Gimana raise fund (pengumpulan dana), pembukaan 1-2 outlet pertama, menyiapkan tim dan segudang task dan aktivitas lainnya.

Bagaimana menurut Anda? Pernahkah Anda melewatkan ide yang spektakuler dan akhirnya melewatkan bus bernama momentum didepan Anda?

Segera Yuk, Gimana Tulisan Kopi Ide dan Eksekusi?

Kesimpulan.

Saya suka dengan tulisan saya yang penuh dengan kesimpulan dan tantangan untuk saya dan teman-teman sekalian. Karna dengan begini saya ikut diingatkan, bahwa kita bisa belajar dari siapa aja dan kapan saja.

  1. Ide hanyalah sebatas ide tanpa ada realisasi.
  2. Eksekusi merupakan hal yang penting meskipun memulai dengan jumlah yang sedikit, contoh memulai usaha, mencoba berjualan atau semudah posting produk/jasa kita via social media
  3. Evaluasi eksekusi ide kita sedini mungkin sehingga kita tidak melewatkan waktu lama terbuang dan mengarahkan ke ide yang (mungkin) jauh lebih baik
  4. Berdoa. Yes, persiapan yang baik dan momentum yang tepat akan berbuah hasil.

Dan satu lagi, jangan lupa menyeruput segelas kopi ya. Boleh sambil mengingat mantan atau move on, it’s up to you.

So, sudah semangat menjalani hari? Harus.

Semangat!

Daru

Bisnis Anda Autopilot

Bisnis Anda Autopilot

Bisnis Anda Autopilot
Bisnis Anda Autopilot. Pic Source: electrek.co

Singkat Cerita

Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia Yang ke 75! Merdeka dan Jaya Selalu Negeriku Tercinta.

Dihari libur, tanggal merah ini, enaknya menulis. Sambil melepas stress dan uneg-uneg yang ada dipikiran, ya enaknya menulis.

Saya cerita dulu ya, seminggu kemarin, saya dan tim, berkendara cukup jauh, dari km nol (cawang) sampai dengan km 800 an, yaitu exit tol probolinggo.

Karena ada urusan pekerjaan disalah satu daerah di Jawa Timur, saya dan tim mengendarai kendaraan kantor kami kesana.

Bagaimana kesan dan pesannya? Luar Biasa. Jalan tol yang sudah terbentang dan jalanan yang cukup lancar selama perjalanan kami, sambil melihat pemandangan kiri kanan sawah, pegunungan cukup menghibur mata.

Dan tercetuslah pemikiran saat kami berkendara yang kurang lebih 13 jam-an itu.

Seru juga ya kalau kendaraan ini jadi autopilot, seperti Tesla, yang dimana pengemudi, cukup menikmati perjalanan, dan kendaraan secara otomatis berjalan dengan sendirinya.

Nikmat bukan? Yang pasti kita nda boleh tidur ya, pengemudi maksud saya, karena kita juga harus selalu awas dengan jalanan dan kondisi lalu lintas yang ada.

Menarik nih kalau kita bahas, bagaimana klo bisnis kita dibuat autopilot šŸ™‚

Gimana kalau Bisnis Anda Autopilot

Pertanyaan menarik. Sebenarnya, bisnis autopilot itu macam apa sih?

Apakah ongkang-ongkang kaki dan dapat duit terus? Hmm, asik juga klo bisa begitu.

Tapi ternyata, pilot pesawat pun, yang sudah autopilot, nda boleh lho tertidur saat menerbangkan pesawat. Apalagi bisnis Anda.

Coba bayangkan, Anda mengendarai kendaraan yang sudah autopilot dan sudah Anda arahkan ke tujuan yang Anda inginkan. Sebaik-baiknya sistem yang bekerja, tetap butuh Anda untuk melakukan koreksi, kontrol, inovasi supaya tetap kejalan yang benar.

Betul nda?

Iya dong, jadi menurut saya nih ya, jangan ngimpi, bisnis Anda bisa jalan tanpa Anda sebagai pengemudinya.

Apalagi bisnis yang nda punya sistem, tim dan seperangkat alat yang bisa membantu bisnis Anda maju terus.

Ini menurut saya pribadi ya.

Sepertinya Enak ya, Tapi Mulai dari Mana

Bukan sepertinya lagi ya, pasti enak kok yang namanya autopilot itu. Saya aja pengen.

Tapi mulai dari mana? That’s the question bukan?

Mulai dari mana, banyak kok yang sudah menjelaskan lebih detail dari tulisan ringan saya ini.

Yang pasti, bisnis Anda harus punya purposes dan seluruh ekosistem penunjangnya untuk menjadi autopilot.

Autopilot yang membuat bisnis Anda jalan dengan seminim mungkin keterlibatan Anda secara operasional, tapi tetap membutuhkan ide, arahan dan hal-hal lain yang membuat bisnis Anda tetap maju.

Kesimpulan

Part akhir, sebelum dibungkus. Seperti bisnis saya, Sunartha yang membantu para pemilik bisnis setidaknya berkurang task listnya untuk membuat bisnisnya kearah autopilot.

Sistem adalah salah satunya. Selain tim eksekusi yang ok ya.

Ya, dengan ilustrasi tesla diatas, apapun itu, mobil yang dapat berkendara sendiri, pastilah mempunyai sistem, data perjalanan, sederet fungsi pengambilan keputusan yang bisa membuat Anda hidup lebih nyaman.

Setuju nda? Harus ya hehehe.

So, sebelum membosankan dan tulisan ini ngelantur kemana-mana, saya sudahi dulu ya. Pikiran dan uneg-uneg sudah keluar nih. Thanks ya.

Jangan lupa mampir ke tulisan saya yang lain ya dibawah ini.

Salam,

Daru

Analisa dan Action

Smartsheet Partner Indonesia. Apa itu Smartsheet?

Memulai Bisnis Setelah Pensiun

Memulai Bisnis Setelah Pensiun

Memulai Bisnis Setelah Pensiun
Sumber Gambar: krjogja.com

Hai

Okay, selamat datang kembali diblog saya kali ini, yang secara rutin membahas tentang ide-ide, kepikiran saya, disaat waktu-waktu merenung sendiri.

Kira-kira ide menulis ini tercetus, ketika saya berdiskusi dengan orang tua saya, yang tentunya sedang memasuki masa pensiun.

Dan saya pikir-pikir juga, ternyata sudah lama beliau menjalankan masa pensiunnya, sejak secara resmi mundur dari karier profesionalnya.

Kesibukannya? Tentu melakukan aktivitas yang beliau sukai, seperti bercocok tanam ala hidroponik, melihat bursa saham dan aktivitas-aktivitas pensiunan lainnya. Minus jalan-jalan karena lagi dijaman Covid sekarang ini.

Masa Kerja, Pensiun Bingung Mau Apa

Seringkali, saat kita mempunyai kesibukan pada saat bekerja, kita melupakan mempersiapkan masa pensiun kita.

Mas Ndaru, lagi covid gini, malah mikirin masa pensiun. Lagi sibuk cari kerjaan nih Mas, pengeluaran rutin sudah mulai menggerogoti tabungan Mas. Lagipula, sulit nih nyari peluang tempat kerja lain, wong orang pada susah.

Setuju. Saya setuju 100% sama Anda. Kondisi seperti ini, covid yang membuat kita mulai berpikir, wah, sekarang aja sulit, apalagi nanti masa menjelang pensiun, atau pensiun kita nanti ngapain ya.

Semangat bagi Anda yang sedang mencari pekerjaan baru apabila tempat kerja Anda sebelumnya cukup terdampak dengan pandemik ini. Saya mendukung Anda dalam berusaha dan terus berjuang.

Bagi Anda yang masih mempunyai pekerjaan, do your best pada karier dan pekerjaan Anda, kita belum tahu ujung pandemi ini kapan berakhir, tetapi yang pasti kita harus selalu mengasah diri, sehingga kita tetap dapat berkarya dan tentunya menghasilkan untuk keluarga kita.

Lalu

Tapi begini deh, daripada temen-temen yang lagi nyari pekerjaan baru, kebingungan mencari tempat kerja baru, gimana kalau sambil belajar, teman-teman ngerintis usaha.

Yah itung-itungan, daripada nanti kalau perekonomian sudah membaik, dan mendapatkan pekerjaan seperti semula, kita masih punya bisnis kecil-kecilan yang bisa kita lanjutkan setelah masa pensiun.

Tapi inget, jangan main All Out ya semua dana dicemplungin. Ingat, seperti pepatah pemain saham, yang harus dikendalikan itu emosi, jangan rakus ya.

Menurut Kamu Gimana? Memulai Bisnis Setelah Pensiun

Dan, kira-kira menurut Anda gimana? Ok nda tuh, nyicil membangun dan memulai bisnis kecil-kecilan disaat pandemi ini?

Kalau untuk belajar, saya setuju. Tapi kalau langsung berharap bisnis Anda yang piyik langsung Anda minta dividen, aduh, jangan deh, kasian.

Tentunya, kalau mulai bisnis, jangan setelah menjelang pensiun ya. Keburu cape, keburu takut, sama keburu sering khilaf nya, napsu sama apa aja dikerjain dan ujung-ujungnya, rumput tetangga selalu lebih hijau.

Wong rumput sintetis. šŸ™‚

Ok, sudah malam, saya mau lanjut kerja dulu nih. Oiya, mau titip lowker nih. Tim saya lagi cari beberapa orang yang mau bergabung dengan kami, Sunartha, dengan membantu bisnis-bisnis yang termasuk survive melewati covid dengan optimalisasi sistemnya.

Posisi yang lagi open: C# Developer (Penempatan Bali dan Jakarta), Account Executive (Jakarta or Surabaya). Silahkan kirim CV Anda ke hrd@sunartha.co.id dengan Subject: [Posisi Kerja] Tahu dari Blog Pak Purwandaru.

Jangan lupa bacaan dari artikel saya yang lain ya dibawah ini. Ok? Siap. Makasi ya.

Bagaimana Mempersiapkan Masa Pensiun

Salam,

Daru

Bacaan lainnya: Smartsheet Partner Indonesia

Analisa dan Action

Analisa dan Action

Analisa dan Action
Adam Hadwin at the Dye Preserve Golf Club in Jupiter, FL on Tuesday, November 11, 2017. Pic Source: golfdigest.com

Relax dan Enjoy the Reading

Yes, santai saja. Sabtu-sabtu begini, sebaiknya kita mengistirahatkan pikiran kita.

Sambil bersantai bersama keluarga, ada baiknya kita membaca tulisan dan sharing yang menarik, sehingga saat kembali ke waktu bekerja, Anda sudah terisi full konsentrasinya.

Apakabar? Sehat?

Ya, saya berharap pembaca setia blog pribadi saya, sehat dan tetap sehat juga bisnis yang dijalaninya. Badai cukup besar, namun kita tidak boleh menyerahkan diri pada keadaan bukan? Setuju?

Disaat bersantai ini, saya mau berbagi tentang analisa dan action. Dua hal yang menurut saya penting untuk saya lakukan dan penting juga bagi teman-teman sekalian turut melakukannya. Kenapa?

Mari kita simak bersama ya.

Analisa dan Action

Dimulai dari kata analisa. Betul, pertanyaan saya kepada teman-teman sekalian, siapa yang sering melakukan analisa terhadap kondisi bisnis yang dijalankan.

Betul, analisa bulanan juga termasuk kok. Biasanya mencakup sisi penjualan, pengeluaran, keuangan, bahkan efektifitas bagian pemasaran. Begitu? Yes.

Bagi Anda yang sudah melakukannya, saya harus akui, bagus. Bagi yang belum, hayo, kenapa belum melakukan analisa? Apakah belum tahu mulai dari mana, atau hal yang lain?

Saya lanjut dulu ya. Action. Atau aksi. Siapa yang melakukan kegiatan yang disepakati setelah melakukan analisa?

Sebagian sudah dan sebagian belum. Baik, tidak apa-apa. Yang belum, saya coba bantu ya.

Perulangan dan Hasil

Tahukah Anda. Kedua hal diatas, apabila dilakukan secara rutin dilakukan, efek dan hasil yang didapat akan jauh lebih baik daripada tidak dilakukan? Setuju ya? Harus dong.

Contohnya kantor saya saja ya. Kami tiap minggu melakukan rapat evaluasi. Umumnya terbagi menjadi 3 bagian, operasional, keuangan dan sales marketing. Standar ya.

Ditiap rapat evaluasi, kita harus menyampaikan data-data terkait hasil yang kita dapat selama implementasi strategi yang kita jalankan. Contoh bagian saya ya. Marketing.

Saya menjelaskan, bagaimana efeknya apabila kata-kata kunci dan segmen market yang kita bidik dan spend budget ads, terhadap ketertarikan prospek untuk menghubungi.

Dan itu kita lakukan secara rutin evaluasinya. Entah sampai berapa lama kita sempurnakan akhirnya kita dapatkan beberapa formula dan rumusan yang tepat dibandingkan awal-awal strategi yang kita jalankan.

Betul, prinsip kami adalah trial and error sebanyak dan serutin mungkin sehingga hasil yang kita dapat akan terus bertambah secara nilai dan volume. Sepakat ya?

Bagaimana dengan Anda? Mau mencoba?

Sekarang Anda, bagaimana nih? Mau mengikuti jejak kami?

Untuk mencoba dan melakukan analisa serta action lebih lanjut dari strategi yang sudah dilakukan? Harus ya.

Apalagi disaat kondisi ekonomi diera pandemik Covid begini. Semua ilmu yang kita miliki, harus kita uji coba sehingga akan didapatkan hasil yang optimal dibandingkan strategi lainnya.

Sekedar tips, kami menggunakan Tableau Business Intelligence sebagai salah satu tools yang kita pakai untuk melakukan testing dan analisa tersebut.

Sumber datanya? Banyak. Dari ERP Acumatica (kami pakai ini juga) kombinasi dengan google ads dan kadang excel juga. Kalau saran saya untuk Anda, gunakan data-data yang Anda miliki.

Dan juga, kami secara rutin membuat event training online lho tentang Tableau. Tertarik? Setiap sabtu, setengah hari selama 2 hari, Anda bakal dapat ilmunya.

Saya bagi e-flyer dan kontak tim saya ya, Mba Euis disini: 0815-8690-2500

Mau coba dulu secara gratis software Tableau? Boleh, klik tautan disini ya untuk dapatkan free trialnya. Monggo: Download Link Tableau Trial Disini

Ingin berdiskusi dengan saya terkait topik-topik bisnis atau ada ide tulisan yang kira-kira bisa membantu bisnis Anda, silahkan connect dengan Linkedin saya dibawah ini ya.

Salam,

Daru

Jam Terbang

Belajar Tableau

Jam Terbang

Jam terbang. Mungkin istilah ini populer dikalangan pilot apabila ada kejadian khusus contoh kecelakaan. Berita selalu mengangkat berapa jam terbang pilot tersebut selama masa kariernya.

Jam Terbang

Pic Source: Pinterest

Tapi saya ga mau membahas tentang pilot ya. Yang mau saya bahas adalah jam dibidang bisnis. Konsepnya sama saja. Berapa lama kamu, kita semua menekuni bisnis kita. 5 tahun? 10 tahun? bahkan lebih.

Korelasi dengan Bisnis – Jam Terbang

Nah, apa korelasinya dengan bisnis nih. Pilot dengan jam terbang yang tinggi, biasanya sudah menghadapi banyak kejadian-kejadian mendebarkan didalam kariernya. Sama dengan pelaku usaha atau pebisnis.

Mulai dari krisis ekonomi, krisis internal didalam perusahaan, ditipu orang dll. Nah, pantes apabila orang bank bilang, kita ga mau kasi pinjaman ke perusahaan yang seumur jagung (eh umur jagung bulanan ya? ups salah) yang umurnya dibawah 2 tahun.

Kenapa begitu? karena bank dan investor tidak mau meresikokan dananya (meskipun yang peminjam mempunyai aset). Itu kuncinya. So, insight kali ini adalah, perbanyak jam Anda, perbanyak kegagalan (tetapi kegagalan yang terukur ya). perbanyak pertemanan dan sharing session.

Kenapa? Karena dengan itulah kita jadi mempunyai jam terbang yang lebih tinggi. Jam terbang yang lebih tinggi membuat kita lebih awas, perhatian, dan tau cara bersikap apabila mendapatkan tantangan dalam mengelola bisnis, setuju?

Kesimpulan

Nah, mulai dari sekarang, kita mulai mendaftar, kegiatan apa yang membuat jam terbang kita semakin tinggi lagi. Mulai dari sekarang dan kita akan mendapatkan ilmunya.

Karena apapun itu, ilmu yang kita miliki, tidak akan valid atau teruji, kalau kita tidak mempraktekannya. Sesuai gambar diatas, bahkan Bruce Lee pun takut sama orang yang sudah mempunyai pengalaman tinggi, meskipun 1 jurus aja.

So, bagaimana dengan Anda? Kalau saya sih, saya coba dan praktek terus, meskipun kenyataannya, sulit, sangat sulit.

Tetapi tidak apa, kita musti coba dan coba terus ya. Jangan khawatir akan hasil, berproses saja.Ā Selamat belajar.

Regards,

Daru

Apabila ada teman-teman yang ingin berdiskusi lebih lanjut tentang bisnis dan usaha bisa menghubungi saya dan tim dinomor Whatsapp berikut: 0815-8690-2500

Tulisan saya yang lain, yang mungkin Anda perlu dan wajib baca nih. Silahkan.

Berani Beda

Laporan vs Analisa

Berani Beda

Berani beda.

Berani Beda

Pic Source: unisifm.com

Tidak semua orang, yang saya tahu, berani untuk berbeda dari orang kebanyakan. Setuju?

Contoh sederhananya. Apabila kita sendirian masuk kedalam suatu ruangan dimana baju kita beda model dengan yang kebanyakan, bagaimana perasaan Anda? Canggung? Grogi? Keringat dingin? Pasti.

Nah, karena saking takutnya orang untuk berbeda dengan yang lain, jadi terbawa dengan hampir semua pilihan yang kita ambil. Misalnya seperti apa itu Mas bro? Yuk mari kita bahas.

Melamar kerja

Iya, melamar kerja. Coba perhatikan, apabila teman-teman yang memiliki bisnis dan membuka lowongan untuk suatu posisi, coba tanyakan kepada bagian hrd dikantor. Berapa banyak yang mengirim surat lamaran kerja dengan amplop coklat, kertas A4 dan susunan CV yang mirip-mirip semua.

Banyak. Kalau saya lihat malahan hampir semua. Memang, mungkin karena sudah terbiasa dengan seperti itu menjadikan para pelamar kerja yang para mahasiswa menjadi tidak berani tampil beda daripada rekan-rekannya yang lain. Anda berkompetisi dengan pelamar lain lho, bukan lomba mirip-miripan.

Coba deh, amplopnya dibuat unik, berbeda, beda warna, beda ukuran, pokoknya beda. Lihat hasilnya. Coba kertas yang digunakan bukan A4 atau setidaknya kalau minta dikirimkan via email, didesain yang Anda banget. Bagian HR mungkin senyum-senyum sendiri melihatnya. Berani coba?

Bisnis

Siapa yang sekarang ini tidak mau membuka usaha sendiri. Bisnis istilah anak sekarang. Banyak anak muda yang merintis dari awal dan sekarang sudah masuk dalam daftar orang-orang yang sukses dari ukuran bisnis mereka. Membuat semua orang ingin mengikuti jejak mereka.

Selain kegigihan (determinasi) para pelaku bisnis yang sudah sukses. Saya melihat mereka juga mempunyai satu keunggulan yaitu berbeda. Yap, berani tampil beda. Berani ambil keputusan yang beda dari para pelaku dibidang yang sama.

Kenapa begitu? Kalau sama-sama aja, ya kita nda ada bedanya dengan tetangga-tetangga kita donk? Benar tidak. Contoh sederhananya adalah barusan saya membeli durian ucok dari tokopedia. Beda? Pasti! Durian yang saat orang ingin menikmati harus cari tukang durian keliling (biasanya dengan pickup bak) dan menunggu dibukakan durian satu per satu, sampe ketemu rasa yang pas.

Nah, si durian ucok ini sudah menyiapkan dalam kemasan per 1 Kg dan beku. Pas butuh, tinggal pesan via Tokopedia dan diantarkan sampai depan rumah oleh Gosend. Solusi banget bukan? Harga terbilang sama, tetapi nda perlu keluar rumah. Beda? Pasti!

Kesimpulan Berani Beda

Menonton Pandji P Ā (Standup komedian) berkata dalam salah satu shownya, berbeda itu jauh lebih baik dari lebih baik. Artinya kita harus selalu mencari sesuatu yang beda dari yang lain agar kita bisa dilihat. Agar bisa dicari orang atau pelanggan kita.

Itu yang saya lakukan dikantor kami. Disaat kantor lain cat nya putih, kami malah memasang bata ekspose (bata hias) dengan nuansaĀ coffee shop.Ā TinggalĀ coffee makerĀ nya saja yang belum dan barista tentunya.

Saya ingin kantor kami mempunyai keunikan. Selalu unik pada cara kami menawarkan produk dan layanan kami. Contoh kami akan mencoba bersinergi dengan para EO untuk menganalisa data pengunjung event mereka, menggunakan Tableau as Business Intelligence Tools tentunya.

Dan masih banyak yang akan kami coba ditahun ini untuk mencapai target kami bersama. So, kesimpulannya adalah jangan takut beda. Jangan pernah khawatir apa kata orang, karena pada akhirnya, yang berani beda akan mencapai apa yang tidak bisa dicapai oleh orang yang sama pada umumnya.

Salam,
Daru

Bacaan lain yang kira-kira menarik untuk Anda baca: Memilih Bisnis Model

Hubungi tim saya, Mba Euis dinomor Whatsapp berikut 0815-8690-2500Ā untuk sinergi dan informasi tentang penerapanĀ business intelligenceĀ ditempat kerja atau usaha Anda.

Memilih Bisnis Model

Memilih Bisnis Model

Memilih Bisnis Model
Pic Source: tuzzit.com

Welcome

Baik, selamat datang lagi diblog rutin saya. Bagi Anda yang baru pertama kali mampir, tidak apa-apa. Silahkan membaca beberapa artikel yang sudah saya tulis tentang bisnis, tools bisnis dan mungkin ide-ide saya.

Baru menulis kembali dikarenakan WFH ini cukup menyita waktu saya untuk mengurus operasional bisnis.

Oiya, bisnis saya full WFH. Bagaimana dengan bisnis Anda? Apakah berencana untuk terus WFH atau sudah masuk kembali or WFO?

Apapun itu, saya harapkan yang terbaik untuk Anda, bisnis Anda dan tentunya tim Anda. Terus patuhi protokol kesehatan yang ditetapkan dan jaga terus kesehatan Anda.

Ingat, kurva Covid masi terus tinggi, jadi tetap jaga kesehatan ya. Mudah-mudahan kondisi ini segera membaik untuk kita semua.

Memilih Bisnis Model – Sebuah Cerita

Hari jumat kemarin, saya sempat berbincang dengan prinsipal saya. Yups, kami merupakan partner resmi untuk implementasi Acumatica di Indonesia.

Nah, disela-sela kami berdiskusi, ada hal atau obrolan yang menarik yang saya dapatkan. Salah satu rekan/partner kami yang ada di negara lain, berencana untuk melepaskan kepemilikan usahanya.

Kenapa, tanya saya? Padahal yang saya tahu, partner tersebut cukup banyak melakukan aktivitas bisnis dan tentunya tidak sedikit customer dan dana yang sudah didapatkan, menurut saya dalam hati.

Ok, ternyata jawabannya cukup mengejutkan saya.

Bisnis model yang dijalankan tidaklah cukup untuk menutup biaya overhead karyawan dan tim yang menjalankan bisnis.

Nah lho, saya jadi tambah bingung. Bagaimana bisa? Tanya saya kemudian.

Ternyata beliau tidak menagihkan jasa yang seharusnya dan sebaiknya dilakukan kepada customer.

Mudahnya seperti ini, apabila Anda mempunyai bisnis jahitan. Apabila customer minta ada perubahan atas desain awal yang disepakati, tentunya Anda akan meminta imbalan atas jasa bongkar tersebut bukan?

Yes, pasti Anda akan jawab tersebut. Tetapi kenyataannya berbeda. Dia tidak melakukan itu.

Ok, saya mungkin tidak mengetahui real case apa yang terjadi tetapi saya jadi teringat dan bertekad untuk menulis tentang topik bisnis model ini.

Apa Insightnya Untuk Kita

Model bisnis. Sesuatu hal yang baru-baru ini cukup terkenal karena banyaknya startup yang bermunculan dengan mengacu model bisnis yang tidak lazim.

Saya biasanya diskusikan dengan istilah konvensional bisnis versus new model bisnis.

Mungkin Anda tahu ya, bisnis konvensional. Fokus pada profit dari awal usaha, jangan ekspansi berlebihan sehingga bisnis akan fokus pada kekuatan internal untuk pengembangan.

Lain halnya dengan new model bisnis dimana tidak ada masalah untuk kerugian, tetapi pada akhirnya biar data yang berbicara dan pada sekian tahun, profit akan didapatkan juga.

Lari sekencang mungkin, kuasai market, ambil pendanaan dan menjadi yang paling besar diindustri yang dijalani.

Lalu apa salahnya? Yes, salahnya adalah, tidak semua bisnis dapat menggunakan model bisnis yang sama.

Contoh bisnis jasa, limitasinya adalah kemampuan tim untuk menghasilkan output. Sama halnya dengan pabrik, pasti limitnya adalah kapasitas produksi.

Pertanyaannya

Lalu pertanyaannya, bagaimana kita dapat memilih model bisnis yang tepat? Betul nda?

Ya, biasanya diawali dengan hipotesa, dari bisnis-bisnis sejenis yang ada duluan. Sebagai catatan kalau sudah ada bisnis sejenis ya.

Dan kalau belum ada, mungkin Anda akan harus memilih yang menurut Anda tepat, meskipun nanti ditengah jalan Anda bisa pivot (berganti strategi).

Seperti tulisan saya ini nih: Memulai Bisnis Lagi bagaimana kita dapat memulai bisnis lagi dan belajar dari pengalaman kita.

Nah, berkaca dari pengalaman itu, jadi pekerjaan rumah saya nih, menentukan bisnis model yang tepat untuk bisnis saya yang lain kedepan.

Apakah bisa menggunakan opsi yang sudah ada, atau total beda agar ada uniqeness. Jadi inget, berbeda mempunyai peluang lebih baik dari sekedar lebih baik saja.

Berbicara itu, akhirnya saya dan tim membangun ini nih di Acumatica: Silahkan baca linknya dibawah ya:

Pengajuan Uang Muka Perjalanan Dinas menggunakan Acumatica Cloud ERP.

Atau, kalau Anda ingin berdiskusi dengan tim saya tentang bagaimana penerapan metode atau tools yang akan membuat bisnis Anda jadi “Lebih Beda” coba kontak Mba Euis dinomor Whatsapp berikut 0815-8690-2500 

Iklan dulu boleh ya

Oiya, jadi inget, hari ini kami sudah melaksanakan Belajar Tableau dari Rumah dan ternyata yang mengikut acara tertarik banget mendapatkan ilmu baru.

Kalau Anda tertarik untuk mencobanya, bisa lho coba dulu Tableau ditautan berikut: Download Tableau Trial

Sukses untuk kita semua, mudah-mudahan tulisan saya bermanfaat ya.

Salam,

Daru

Memulai Bisnis Lagi

Memulai Bisnis Lagi

Memulai Bisnis Kembali
Pic Source: brilio.net

Minggu-minggu enaknya nulis blog

Selamat hari minggu, para pembaca yang budiman.

Sudah cukup lama ya, saya menulis kembali, blog pribadi saya, yang rutin membahas tentang bisnis, pemikiran saya, ide-ide bisnis yang liar serta apapun uneg-uneg yang ada dipikiran saya.

Ternyata, dipikir-pikir, menulis itu salah satu bentuk melepas kepenatan, stress atas profesi dan pekerjaan yang seminggu kita jalani. Terapi yang murah meriah, modalnya cukup notebook, segelas kopi kekinian (kopi Tuku, kita jadi deal ya) dan sebersit ide untuk mulai menulis.

Siang ini, saya meluangkan waktu, 15-30 menit saya untuk menuliskan, ide yang menurut saya, harus dituliskan, agar teman-teman yang saat ini lagi diposisi yang kurang enak karna kondisi pandemik, bisa cepet pulih, dan selalu berharap kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dibantu kearah yang lebih baik ya. Amin.

Ok, saya nyeruput kopi dulu ya. Segar.

Dan balik lagi, minggu-minggu gini, dirumah aja, emang enaknya nulis diblog sendiri. Siaap? Mari kita lanjut ya.

Memulai Bisnis Lagi. Kenapa bisnis lamanya Mas?

Sesuai judul, kenapa saya bilang, memulai bisnis lagi. Lah, kenapa bisnis lama saya? Nda ada apa-apa juga kok. Bisnis lama saya, dan bisnis utama saya, Sunartha.co.id yang bergerak dibidang jasa konsultasi dan implementasi software-software terbaik untuk manajemen, berjalan seperti biasa kok. Malahan baru buka cabang di Surabaya. Nih, artikelnya saya buat khusus untuk Anda.

Buka Cabang Baru nih, Surabaya here we come.

Dapatkan penawaran khusus bagi Anda yang punya bisnis di Surabaya atau teman dan keluarga di Surabaya, Jawa Timur dan sekitarnya untuk berdiskusi tentang software apa yang terbaik untuk bisnis Anda. Monggo lho.

Lanjut ya bahasan kali ini. Kenapa saya memulai lagi? Karena saya ingin punya portofolio bisnis yang secara bisnis, punya market yang besar, retail dan ternyata saya mempunyai keunggulan kompetitif disitu karena itu yang dikerjakan oleh bisnis saya sebelumnya. Betul.

Teknisnya, nanti saya lanjutkan dan ceritakan ya, step-by-step-nya, karena sepertinya menarik kalau kita jadikan serial konten bikin bisnis baru, jadi teman-teman yang ingin bergabung atau membuat bisnis serupa, bisa jadi inspirasi.

Lalu, ternyata, saya menemukan sebuah insight, kunci atas memulai bisnis kembali ternyata langkahnya lebih cepat apabila kita mempunyai pengalaman atau urutan bisnis sebelumnya yang kurang sukses (to the pointnya, bisnis yang bangkrut ya).

Kita bahas dibawah ya. Saya nyeruput kopi kekinian dulu. Sambil ngemil donat gula yang manis, semanis siapa ya? Iya, kamu, jangan senyum-senyum sendiri sambil baca ini ya Mba.

Ternyata, itu toh kuncinya. Penasaran apa kuncinya?

Punya Bisnis Lalu Dijual? Nda sayang?

Tahukah Anda, saya pernah nulis tentang topik diatas itu. Silahkan mampir bagi Anda yang belum mampir ya. Terimakasih lho. Ditunggu masukannya.

Kunci dari penasaran Anda. Yes, karena pengalaman, apapun itu, baik maupun buruk, akan membuat Anda merintis bisnis berikutnya jauh lebih cepat dan lebih terstruktur. Sebagai contoh:

Bisnis berikutnya saya, bisnis yang akan jalan ini sudah mempunyai perhitungan antara penerimaan, target penerimaan, budget biaya dan detail teknis seperti infrastruktur IT, menempatkan dimana saja, software yang digunakan apa aja, dan seterusnya.

Jadi sesuai gambar diatas, meskipun usaha pertama, kedua, ketiga kita tidak sukses or so-so, Anda nda perlu khawatir. Anda akan mendapatkan pengalaman dan insight menarik dari situ. Ingat, belajar itu bukan dari kesuksesan saja lho, kegagalan juga. Setuju?

Wah ternyata saya nulis cukup banyak juga ya. Maafkan. Yang pasti, series merintis bisnis saya ini akan saya jadikan prioritas tulisan saya kedepan. Jadi, ditunggu ya tulisan dan sharing saya berikutnya.

Bagi yang ingin ngobrol-ngobrol tentang bisnis, sistem bisnis dan model bisnis, boleh lho diskusi sama saya. Siapa tahu bisa saling bantu. Anggep CSR pribadi saya deh.

Follow Linkedin saya, di hyperlink saya dibawah ya.

Daru

Saya dan tim sedang membuat bootcamp program untuk developer dibisnis saya Sunartha. Tertarik untuk bergabung? Sent CV Anda ke hrd@sunartha.co.id dengan judul email: BootCamp_BlogPW. Kabari dan bagikan ya kalau saudara, kenalan maupun teman Anda mau join. Trims.

Punya Bisnis Lalu Dijual

Punya Bisnis Lalu Dijual

Punya Bisnis Lalu Dijual
Sumber Gambar: Tribunnews

Minggu Malam Enaknya Makan Indomie

Siapa yang seperti saya?

Disaat hujan-hujan, bingung mau makan malam sama apa, tetiba inget punya mie instan, dengan merk indomie, langsung deh dibuka sobeknya, dimasak, aduh sedapnya. Maaf ya yang jadi buat pada pengen masak Indomie saat ini juga.

Silahkan deh, bagi yang mau masak Indomie dulu baru lanjut baca tulisan saya kali ini. Jangan lupa tambahkan telur dan sawi ya.

Mankyus.

Sambil masak, saya juga punya lho tulisan-tulisan yang patut Anda baca seperti dibawah ini:

Belajar Dari Kegagalan

Ok, Indomie sudah siap didepan Anda? Sambil makan, bisa kita lanjutkan bahas ya, kenapa topik ini perlu dan penting saya bahas. Siap, lanjut ya.

Punya Bisnis Lalu Dijual, Kok Gitu?

Siapa dari kita yang ingin punya bisnis? Ok, cukup banyak ya, Kenapa saya katakan kalau sudah punya bisnis, rintis sampe cape-cape dan berkeringat, kok malah dijual Mas Ndaru?

Ok, ini ternyata alasannya. Dunia sudah berubah, termasuk dunia usaha. Tahukah Anda, ada berita yang mengejutkan yang baru-baru ini ramai diberitakan, bahwa ICBP (anak perusahaan Indofood yang fokus dengan produk Indomie yang kita bahas tadi) melakukan akuisisi ke Pinehill sebesar 44 Trilyun.

Wow, disaat dunia dilanda corona gini, ada berita duit segitu pindah kantong ke pemilik Pinehil. Dan ternyata, tahukah Anda, 49% pemegang saham Pinehill itu yang punya Indofood juga.

Nah, karena berita ini, saya jadi penasaran ingin menulis. Jadi, kalau kita build bisnis dan bisnis yang kita bangun bisa survive dan lari kencang, sebaiknya (kalau saya ya) dijual dan terus dikembangkan kedepan.

Tapi saya penasaran pendapat Anda semua sih, so please tulis komen dibawah ya. Namanya juga sharing pikiran bersama. Tidak ada yang paling tepat bukan?

Kalau Anda Gimana

So, menurut Anda gimana? Ternyata bisnis Indomie segurih dan senagih itu ya dalam hal return dan nilai pasar.

Saya tahu, lalu Mas Ndaru, kalau dijual, saya dapat apa dong? Kan saya mau diwariskan. Apalagi saya nda punya uang dong klo dijual?

Pertanyaan bagus, tapi sebelum saya jawab, saya pasang iklan dulu ya dibawah ini.

Kantor saya, membuka peluang bagi Anda untuk belajar tentang Tableau, tools kekinian untuk para analis dalam membantu pekerjaan mereka buat analisa dan laporan yang super fancy untuk boss Anda.

Tertarik dong disaat covid gini nambah skills? Bisa tanya-tanya lebih lanjut ke tim saya, Mba Euis dengan menghubungi dinomor WhatsApp berikut: 0815 8690 2500

Kalau masih penasaran ingin baca-baca dulu dan lihat silabus seperti apa, bisa nih baca diartikel berikut: Training Tableau Kekinian atau bisa juga join Grup WhatsApp Belajar Tableau

Belajar Tableau dari Rumah
Sumber: Sunartha

Cape juga ya nulisnya. Eh, tapi belum saya jawab ya pertanyaan diatas. Lalu saya harus bagaimana kalau bisnis dijual?

Ok, tentunya, akuisisi oleh pihak pembeli bisnis Anda, bisa kita buat ketentuan kan. Misal nih ya, ada yang deal-nya Anda tetap sebagai pemegang saham minoritas disitu. Ada juga Anda akan tetap menjadi komisaris misal keluarga Tirto di Aqua saat akusisi Danone.

Banyak kok opsi-opsi lainnya. Dan tentunya, Anda punya 1 set tim manajemen yang lengkap untuk membantu Anda mengembangkan bisnis Anda kedepan. Agree?

Harus dong. Baiklah topik kali ini cukup menarik perhatian bukan?

Senyum Anda mustinya sama dengan pemilik warkop di Afrika sesuai gambar saya diatas.

Yuk mari kita mengembangkan bisnis kita kedepan agar bisa Anda jual dan financially freedom. Amin.

Tertarik untuk membaca bahasan topik seperti ini, bisa baca diblog saya ataupun blog Sunartha ya.

Bagi Anda yang terlanjur tertarik sama Tableau itu apa dan kalau mau coba-coba download dulu, saya kasi link download gratis trial selama 14 hari disini: Download Sekarang Juga

Selamat menikmati Indomie Anda.

Salam,

Daru