Cara VC Bekerja

Cara VC Bekerja

Cara VC Bekerja
Pic source: canva.com

Tulisan dihari minggu

Selamat datang. Bagaimana kabar teman-teman?

Hampir tiap hari sekarang saya mendapatkan berita duka dari kerabat, relasi dan beberapa rekan yang menderita karena covid-19 bahkan sampai ada yang meninggal dunia.

Kita harus berduka atas kehilangan rekan-rekan kita dan para tenaga kesehatan yang terus berjuang untuk menolong banyak orang akibat pandemi ini.

Terus jaga kesehatan dan kalau memang bisa dirumah saja untuk mencegah penularan. Tetapi kita juga tahu kalau tidak semua usaha dan bisnis siap dan bisa untuk bekerja dari rumah ya.

Bagi teman-teman yang terkena dampak karena pembatasan karena PPKM Darurat ini, yuk kita coba cari solusi bersama, bagaimana untuk melewati ini semua.

Kali ini mau nulis tentang bagaimana cara venture capital bekerja dan kira-kira usaha macam apa sih yang mereka cari. Terinsipirasi oleh 2 startup besar yang akan hajatan listing dibursa saham nih, yups Bukalapak dan Goto.

Venture Capital dan Usaha yang Mereka Cari

Seperti yang kita tahu bersama, venture capital adalah institusi yang bisnis utamanya adalah menggandakan uang. Mirip-mirip Kanjeng dong ya? He3. Bisa dibilang begitu.

Tetapi dengan cara yang halal dan legal ya tentunya.

Mereka mengumpulkan uang dari para orang-orang kaya, sulthan maupun institusi keuangan yang mempunyai likuiditas luar biasa banyaknya.

Nah, kalau kita nda punya uang kan ada masalah kan. Sama juga dengan orang-orang super kaya yang juga bingung naruh duitnya dimana. Supaya bisa terus berkembang dan menghasilkan.

Sabar, saya belum sampai disana kok, baru pemerhati saja, makanya perlu belajar nih kalau tiba-tiba dapat rejeki lebih. Selain kita harus berbagi juga bagi yang membutuhkan ya.

Nah, sekarang bagaimana dan bisnis apa yang mereka akan invest nih?

Pertanyaan bagus.

Tentunya, yang berprospek dan akan menghasilkan nilai yang lebih selama periode mereka berinvestasi.

Sebuah perpaduan ilmu dari perencanaan dan peramalan gitu deh, karena tidak ada yang tahu dimasa depan apakah bisnis yang mereka pilih akan jadi beneran atau zonk aka tutup.

Tetapi kalau kita lihat dari kriteria-kriteria bisnisnya, yang sekarang lagi rame dan banyak dilirik yang pasti berhubungan dengan fintech nih. Apalagi banyak bank-bank baru yang bermunculan secara digital nih.

Mencoba untuk mengambil ceruk pasar nasabah perbankan dan yang belum jadi nasabah tentunya.

Coba kita cek bersama bisnis kita

Lalu, kalau kita punya bisnis, kira-kira bakal dilirik oleh VC nda sih?

Melalui tulisan cara VC bekerja ini, kita bisa cek bareng-bareng ya, kira-kira bisnis kita (atau saya) bakal dilirik apa nda.

Sebelum lanjut, mampir dulu dong ke artikel yang saya dan tim saya buat. Makasi ya.

Bisa karena terbiasa. Yuk simak bacaannya.

Atau informasi terkait tempat pengisian tabung oksigen bagi yang membutuhkan.

Lanjut ya.

Yang pasti yang mereka incar adalah bisnis yang mampu memberikan market atau pasar yang besar dan siap untuk menjadi sumber pendapatan bisnis kedepannya.

Meskipun saat sekarang masih terus merugi, tetapi secara jangka panjang atau saat proses “penggemukan” sudah berada dijalan yang benar.

Kalau bisnis kita masih lokal aja dan tidak bisa berpikiran secara nasional, sepertinya sulit tuh untuk bisa dilirik. So aim high and big ya.

Kedua, tentunya yang bisa ditingkatkan skalanya tanpa menambah biaya variabel yang seiring dengan peningkatan penjualan. Sulit klo begitu soalnya.

Maka dari itu contoh perusahaan-perusahaan yang diinvest selalu berada dibidang digital dan bukannya yang konvensional.

Ketiga, butuh investasi besar untuk diawal dan proses edukasi pelanggannya. Tetapi pada akhirnya akan kembali dari recurring (berulang) order nya.

Kira-kira sudah tergambar ya untuk jawaban topik kali ini? Mantab.

Kalau mau diskusi-diskusi lebih lanjut, boleh dengan saya via Linkedin ya.

Salam

Daru

Bisa Karena Terbiasa

Bisa karena Terbiasa

Bisa Karena Terbiasa
Pic Source: entrepreneurs.com

Selamat Memasuki Bulan Juli

Tidak terasa ya, kita bersama-sama sudah melewati 6 bulan ditahun 2021.

Dimana kondisi pandemi yang tidak makin membaik, tetapi makin tidak menentu.

Banyak berita-berita yang bermunculan terkait ini, itu dan yang lain – lain, jadi membuat kita bingung sendiri dan tentunya membuat daya tahan tubuh jadi berkurang.

Stop. Jangan mikir yang negatif-negatif dulu ya. Masa baru baca blog kali ini uda negatif bawaannya.

Ok, ambil nafas panjang dan hembuskan. It’s works for me lho.

Ketika pikiran negatif datang, yang kita bisa lakukan adalah menahan diri untuk berpikiran macam-macam dengan mengatur pola nafas kita.

Tetapi kita nda bahas ini nih. Sesi lain kali aja ya.

Yang kita bahas topiknya tentang bisa karena terbiasa.

Bisa Karena Terbiasa

Pernah nda sih, teman-teman berpikir. Bagaimana jika kita semua, lama-lama terbiasa dengan apa yang kita lakukan sekarang.

Ya, hal yang paling sederhana adalah melakukan semuanya dari tempat tinggal kita.

Bekerja, belajar, belanja dan apapun yang lainnya. Mengerikan nda ya membayangkannya saja.

Daripada ngeri-ngeri, mampir dulu lah ke artikel saya dan tim saya di Sunartha dibawah ini. Monggo dibaca ya.

Dikasi waktu istirahat, manfaatkan.

Pandemi? Inovasi dong.. masa diem aja. Mari kita lanjut ya.

Sip, coba kita simak bersama. Apapun yang kita lakukan sekarang adalah produk kebiasaan diri kita yang dulu.

Misalkan saya deh, saya paksain segimana sibuk dan malasnya (seringan malas sih) untuk menulis dan melakukan update blog.

Kadang skip, kadang ingat. Tetapi, lama-lama kalau sudah nulis, ya enak aja perasaannya.

Nah, kok saya jadi berpikir, apakah dunia ini akan berubah ya dengan kondisi pandemi yang sudah memasuki tahun ke 1 setengah. Apalagi negara tetangga, SG, sudah mengeluarkan protokol hidup bersama Corona.

Jadi, yang perlu kita lakukan apa dong Mas dan Mba?

Pertanyaan bagus, kita musti gimana?

Tentunya, list semua kemampuan yang kita miliki untuk bertahan didunia yang serba tidak menentu sekarang ini.

Misalkan saya nih, wah, ada skills saya nyupir (suka banget jalan-jalan pake mobil, liat pemandangan) kayaknya bakal jarang kepake nih.

Ya kita ganti pelajari skill baru, macam skill atau kemampuan yang kira-kira akan dibutuhkan didunia “New Order” ini.

Yang dulu nda suka hustle, mulailah belajar. Kalau malu-malu disocial media, ya mulai aktif lah. Apapun itu, eksplorasi diri dan keinginan deh, pasti ketemu.

Mau diskusi? Boleh. Yuk konek melalui Linkedin saya.

Gimana? Jadi biasakan sampai bisa. Fake it till you make it.

Saya lanjutin dulu ya hobi saya, mau nonton Gundam Hathaway dulu.

#staysafe #stayhealthy

Daru

Dikasi Waktu Istirahat

Dikasi Waktu Istirahat

Dikasi Waktu Istirahat
Pic by Canva

Sabtu dengan Hujan Rintik

Selamat pagi. Siapa yang sedang istirahat dihari sabtu ini.

Sambil melihat rintik hujan turun dari langit.

Meneguk segelas teh hangat sambil merenung-renung mau ngapain.

Slow dan santai aja Mas dan Mba.

Kita musti bersyukur, dikala kondisi yang semakin mencekam karena naik drastisnya Covid-19, teman-teman sekalian masi diberikan kesehatan untuk menjalani hari-hari yang ada.

Setuju ya? Siip.

Kita berdoa untuk teman, saudara, keluarga yang saat ini masi berada dirumah, rumah sakit, wisma atlit atau tempat isolasi karena positif Covid-19.

Juga untuk tenaga kesehatan, sehat-sehat selalu agar bisa terus membantu saudara-saudara kita yang memerlukan bantuan ya.

Buat teman-teman, klo nda penting-penting amat, stay at home, beraktivitas dan jaga kesehatan selalu ya.

Let’s go back to the topic

Sebelum bahas topik kali ini, monggo yang belum mampir tulisan saya dan tim saya, tolong mampir, dibaca, dishare dan dilike ya.

Eh, nda ada tombol like ya? Nanti dibuat dulu deh 🙂

Supply chain, mandeg? Apa nih?

Penasaran untuk join Tableau Clinic dari Sunartha. Mampir ya.

Saya, sukanya kerja. Tanya pasangan saya.

Apa aja mau dipikirin, dikerjain, dievaluasi, diimprove dan segala hal terkait pekerjaan.

Mungkin tim saya, dalam hati mikir, ini orang apa nda ada pikiran lain selain kerjaan ya? Bener apa bener?

Nah, minggu lalu, saya diberikan waktu istirahat. Yes, saya dikasi waktu istirahat.

Karena badan cukup drop, maka saya bisa istirahat, melepaskan semua beban pikiran dikepala.

Berbagi task yang tadinya ada disaya semua ke tim kantor.

Dikasi Waktu Istirahat

Ternyata, bekerja secara terus menerus dan tanpa henti, mengejar kesempurnaan (bukan kesempurnaan cinta ya, jadi lagu) itu melelahkan.

Dulu, dan sampai sekarang sepertinya, saya berpikir, saya mau kerja keras disaat muda, dan nanti mau menikmati hasilnya.

Kata pasangan saya dong, nah, kamu uda kerja keras, buktinya kalah sama Tokopedia.

Btw bisnis saya lahir ditahun yang sama dengan Tokopedia.

Tentunya saya ngeles dong, wong dia ada investor, saya kan sendirian. Tapi intinya saya tetap kalah, dari sisi size, kecepatan dan yang lain.

Nah, disaat istirahat itulah saya nonton bagaimana Bro William diskusi dengan Bro Dedi C. Gimana tokopedia dari awal sampai sekarang dan bagaimana bisnis-bisnis UKM lainnya berusaha kesana, tapi nda bisa-bisa.

Pada Akhirnya

Ya, pada akhirnya, istirahat itu perlu bro dan sis. Mungkin sekarang kamu lagi bekerja keras nih. Dipekerjaan, dibisnis, rintisan apapun itu, kerja keras penting.

Tapi istirahat juga sama pentingnya. Biar pikiran jernih dan kita bisa melihat sisi-sisi yang terlewat dari rutinitas yang kita lakukan.

Setuju ya?

Harus.

Sip, saya menikmati istirahat saya dulu ya, sambil memandangi hujan rintik disabtu pagi ini.

Have a nice day.

Daru

Akibat Mandegnya Supply Chain

Akibat Mandegnya Supply Chain

Akibat mandegnya supply chain
Credit Pic: forbes.com

Jadwal Tulisan Sabtu Ini

Hai. Salam kenal kembali.

Bagi Anda yang baru baca tulisan saya kali ini. Terimakasih sudah mampir.

Tetapi yang sudah rutin mampir dan baca, selamat datang kembali ya.

Sambil menikmati hari sabtu yang gloomy kali ini, pararel proses upgrade windows dari versi 7 ke versi 10, sambil nyambi nonton pemberkatan pernikahan, kita coba utk nulis dan update blog ya.

Waduh, banyak amat ya kerjaan sambilannya. Nda apa-apa. Hidup emang harus produktif.

Sambil menjalani hobi, yaitu nulis, sambil nonton dan sambil nungguin upgrade selesai.

Topik yang mau saya bahas kali ini, tentang supply chain atau bahasa kerennya rantai distribusi produk.

Kenapa? Karena saya akan bahas dibawah ini, saya punya case menarik didunia nyata dan ternyata penyebabnya ini lho.

Masuk ke topik tentang Akibat Mandegnya Supply Chain

Sebelum lanjut, support saya ya dengan mampir juga dibahasan dibawah ini:

Apakah Digital Transformation

dan saya beserta tim yang sering berbagi tips seperti Tips Membuat Visualisasi Data yang Efektif.

Terimakasih yang sudah mampir ya. Kita lanjutkan.

Tahukah Anda, kalau karena Covid-19 ini, semua permintaan akan barang-barang digital yang membuat kita bisa bekerja dari rumah seperti notebook, pc atau barang-barang sederhana seperti wireless router dan kawan-kawannya, membutuhkan yang namanya chip.

Sedangkan chip elektronik tersebut, kita tahu produsennya bisa dihitung jari. Yes, seriously.

Saya juga penasaran dong, ternyata produsen chip tersebut benar-benar sebagian besar terletak di Asia seperti Taiwan dan Singapore. Wow.

Dengan adanya peningkatan permintaan secara mendadak dan disertai kekacauan transportasi, membuat supply chain yang sudah tersusun dengan baik, hancur berantakan.

Akibatnya? Tepat, seluruh barang-barang yang berbasis elektronik, kosong dipasaran. Mantab nda tuh?

Nah. pengalaman saya terkait dengan terlambatnya pengiriman barang yang saya order dengan adanya informasi, Pak, chipnya terlambat, jadi belum dikirim juga barangnya.

Lalu, kita bisa belajar apa dari kejadian ini?

Lanjut ya.

Insight atau Pelajaran yang bisa diambil

Pelajaran yang bisa diambil dari kejadian ini untuk bisnis atau organisasi Anda.

Perlunya skenario dan planning khusus didalam kondisi pandemi yang khusus juga. Kenapa? Semua model yang kita punya selalu berasumsi dengan pola dan pattern yang sudah ada.

Kebetulan saya punya rekomendasi tools yang menarik untuk temen-temen test kalau sudak utak-atik trend masalalu dan insightnya seperti apa.

Lalu yang kedua. Supply chain merupakan topik yang tentunya menarik untuk terus dipelajari didunia yang saat ini belum menemukan equilibrium baru. So pasti dibutuhkan nih expert2 yang bisa membaca pergerakan dan perencanaan.

Karena bisnis sangat membutuhkan orang-orang dengan skills seperti itu.

Ternyata sudah panjang juga ya saya nulisnya. Kita lanjut ke topik berikutnya ya.

Terimakasih yang sudah mampir. Mudah-mudahan artikel saya menarik untuk dibaca dan ditunggu komentarnya.

Regards,

Daru

Apakah Digital Transformation

Apakah Digital Transformation

Apakah Digital Transformation
Credit Pics: freepik.com

Selamat Datang (Kembali)

Ok. Topik yang dimana masih dibahas aja, padahal sudah mulai masuk tepat dibulan Juni.

Wow, nda berasa ya (atau berasa banget nih) dimana ujug-ujug uda bulan 6 aja ditahun 2021.

Covid-19 sudah melanda lebih dari 1 tahun, kita masih berkutat dengan kapan dapat jadwal vaksin, gimana buat survive bisnis dengan segala keterbatasan dan segudang pe-er berikutnya.

Siapa yang ngalami hal serupa? Siapa yang sudah kangen pengen jalan-jalan dan melepaskan stress akibat WFH? Sama Bro and Sis. Sabar ya.

Kembali lagi diblog pribadi saya, dimana saya sering berbagi tentang ide-ide dipikiran saya atau sekedar berbagi kepusingan dan kemungkinan solusi, yang mungkin berguna untuk teman-teman semua. Yuk enjoy.

Apakah Digital Transformation

Topik berat. Tapi mudah-mudahan saya bisa berbagi dengan sesederhana mungkin ya.

Sebenernya ini topik sudah lama sih, jauh sebelum pandemi melanda dinegeri kita. Tapi ya nda apa-apa. Lagian sharing kali ini biar bisa membuat teman-teman yang saat ini berusaha untuk cari opportunity atau wawasan baru. Setuju?

Yuk kita mulai.

Seperti yang kita tahu, saat ini, dunia bisnis itu sudah beda banget jaman dulu. Cie, tua banget kesannya mas bro.

Apa yang membuat beda. Mudah. Sekarang nda punya toko fisik aja, sampeyan sudah punya bisnis bro.

You named it, dari Tokopedia, Shopee, Lazada atau sampe buat website selling macem woocommerce dan kawan-kawan.

Yang penting punya barang, punya domain, niat dan voila, jualan.

Tapi, tahu nda sih, dan semudah itu lho untuk perusahaan-perusahaan yang sudah jalan duluan, misalkan pabrik, distributor dan masih banyak bisnis-bisnis yang skalanya sudah medium up lah ya.

Klo bisa dibilang, kenapa ya? Kok mereka nda ikutan ke digitalisasi proses bisnis mereka?

Susah Boss. Eh, semua juga susah ya kalau belum tahu caranya.

Ok, maksudnya, implementasinya butuh waktu yang tidak sedikit dengan fokus bisnis yang pasti terbagi.

Btw, nulis link dulu ya, biar nda bosen:

Selalu Belajar. Kalian begini juga nda?

Jurus jitu untuk analisa data Anda dengan cepat dan tepat, penasaran?

Jadi Apa Dong

Ok, jadi apa dong digital transformation itu?

Kita bisa bilang sederhananya, bagaimana seluruh organisasi menerapkan digitalisasi untuk setiap proses bisnisnya ya.

Mungkin mudah untuk new company tapi sulit untuk company yang well established.

Nah, itu kerjaan kita di Sunartha. Melakukan evaluasi dan persiapan sebelum eksekusi menjadi digital company, dari sebelumnya yang mungkin masih belum atau sebagian.

Benefitnya apa?

Banyak. Coba disebutin ya beberapa.

Yang pasti, proses bisnis yang riweuh dan njelimet jadi lebih ramping. Siapa yang suka gendut bukan?

Misal ya, kalau ada orderan, jelas tuh alurnya masuk ke mana dulu, misalkan pesanan penjualan (Sales Order) lalu proses berikutnya dan berikutnya.

Efisiensi sih yang diharapkan oleh manajemen. Agar apa? Survive dan bisa melewati tantangan jaman (beraat).

Wah, sudah kebanyakan ngocehnya.

Mungkin perlu nanti dibuatkan part 2 ya, biar pembahasannya lebih menarik dan topiknya lebih seru lagi.

Kalau ada komentar, monggo diinfo ya dan bagi yang mau berkenalan via Linkedin, silahkan juga.

Regards,

Daru

Selalu Belajar

Selalu Belajar

Selalu Belajar
Sumber Gambar: gempita.co

Sabtu Menulis

Selamat hari sabtu teman-teman semua.

Bagaimana seminggu kemarin bekerja dan beraktivitas? Tentunya kita yang masih bisa bekerja dan beraktivitas selama seminggu lalu, patut bersyukur ya.

Kondisi pandemi masih belum menunjukkan perkembangan baik yang signifikan.

Meskipun sudah mulai adanya vaksinasi untuk lansia dan beberapa non-lansia yang bekerja disektor publik, tetapi masih harap-harap cemas, melihat hasil dan data covid-19 yang terus bermunculan setelah libur lebaran dan isu mengenai varian dari luar negeri.

Tetapi semangat dan saling mengingatkan untuk menjaga diri ya. Patuhi protokol kesehatan yang ada dan stay safe selalu. Amin.

Selalu Belajar

Ok, topik kali ini mau bahas mengenai belajar. Tahu nda sih, waktu kecil saya paling malas yang namanya belajar.

Kayaknya tuh membosankan dan materi pembelajaran yang belum dipelajari aja sudah mikir, ini bakal kepake saat nanti dunia nyata nda sih?

Pertanyaan yang tentunya membuat tambah materi yang akan dipelajar tambah nda menarik untuk disimak. Plus, pengajar yang tentunya berbeda-beda untuk tiap topik.

Misalkan kita tahu dong kalau ada guru yang cara ngajari enak untuk dibuat pengantar tidur dan ada yang enak untuk didengarkan.

Dari situ saya mulai berpikir, kira-kira, kalau gini terus, kapan pinternya ya? Secara orang pintar dilihat dari nilai akademis dan ranking diraport. Aduh ketahuan tua banget nih klo masih bicarain raport ya.

Ok, move on.

Tetapi sekarang sangat berbeda ketika masuk didunia kerja atau profesional.

Apa bedanya Mas? Pertanyaan Menarik.

Belajar dan Dibayar

Tentunya bagi sebagian besar orang, dunia kerja adalah dua aktivitas dimana kita bisa belajar dan dibayar atas waktu dan kontribusi kita ditempat kerja.

Siapa yang setuju? Atau tidak setuju?

Ok, gini deh. Saat kita belajar dibangku sekolah atau kuliah, Anda belajar untuk mendapatkan ilmu atau knowledge dari pengajar, dosen tamu atau siapapun yang ada disaat tersebut untuk memberikan Anda ilmu.

Dikonfirmasikan melalui nilai apakah Anda memahami topik yang Anda pelajari dibandingkan dengan teman dan rekan Anda dong.

Nah, kalau disaat bekerja, terbalik nih. Anda masuk ke suatu organisasi atau kantor Anda, ok, Anda mungkin akan diajari awal-awal, tapi tentunya, tidak semua harus diajari kan ya?

Saya cerita saja dikantor saya ya, Sunartha.

Ok, promosi dulu ya, Values and Culture Sunartha salah satunya adalah pembelajar ya. So, kita selalu terus mau improve apa yang ada didalam kita, tanpa terkecuali saya sendiri.

Contohnya ya

Anggap kita punya si A dan si B.

Si A, masuk dan bergabung dengan kantor saya, awal mulanya juga masih belum apa-apa. Kemudian diajari dan dikenalkan cara dan metode kerjanya, dan menariknya, apa yang si A tidak tahu, dia mau cari tahu bagaimana caranya.

Baru kalau dia mentok, bingung, dia akan coba tanyakan ke seniornya, kira-kira yang benar yang mana ya? Muncul opsi dan diskusi, lalu dipilihlah cara yang terbaik dari diskusi tersebut dan dia mendapatkan knowledge dari case tersebut.

Berbeda dengan si B. Sama-sama masuk, cuma si B ini cara kerjanya agak berbeda. Apabila dia nda tahu dan tidak ada didokumen manual, si B akan diem saja dan hanya menunggu jawaban dari seniornya atas case yang dia miliki.

Tentunya seniornya lama-lama agak gerah juga, kok kurang kreatif nda mau cari dulu opsi-opsinya.

Nah, dari ilustrasi diatas, kira-kira Anda? Atau saya, yang mana ya?

Dan menurut Anda, kira-kira, mana yang akan cepat naik dari sisi karier kedepannya.

Silahkan tulis komentar dibawah ya, kayak youtuber aja 🙂

Nah, Kesimpulannya

Selalu belajar dimanapun kita ada, merupakan hal yang menurut saya itu harus dan wajib dimiliki. Sekill kalau orang jawa bilang.

Dari ilustrasi diatas, si A punya semangat belajar yang tinggi tuh, sampe dia cari-cari tahu dan baru meyakinkan ke seniornya untuk ambil keputusan.

Jadi saya pun sekarang selalu begitu. Selalu belajar untuk topik dan info-info terbaru. Apa sih yang akan kira-kira menarik untuk pelaku bisnis kedepan.

Apa yang dibutuhkan para pemilik bisnis juga saat pandemi ini bahkan bagaimana cara pemilik bisnis apabila pandemi ini berkepanjangan.

Jadi, upgrade selalu diri Anda, selalu terbuka akan hal baru, dan selalu belajar ya kesimpulannya.

Jangan lupa baca topik-topik lain dibawah ini ya.

Bahas Branding Bisnis Yuk

Tips Analisa Bisnis dengan Cepat dan Tepat

Selamat berlibur!

Regards,

Daru

Bahas Branding Bisnis Yuk

Bahas Branding Bisnis Yuk

Bahas Branding Bisnis Yuk
Pic by Purwandaru

Merenung dihari Sabtu

Selamat hari sabtu teman-teman.

Nda terasa kalau beberapa hari lagi kita akan merayakan Lebaran.

Bagaimana ibadah Puasanya? Semoga lancar-lancar semua ya.

Hari sabtu ini, akhirnya saya dapat kesempatan untuk menulis kembali, lebih tepatnya merenung sih.

Karena minggu lalu cukup sibuk dengan urusan kantor dan perjalanan dinas ke kantor client kami, Sunartha.

Nah, disaat merenung dan berpikir santai seperti inilah, biasanya ide-ide baru, atau evaluasi strategi kemarin-kemarin jadi muncul nih.

Salah satunya adalah mau bahas Branding.

Mudah-mudahan bukan topik yang berat ya. Sabtu-sabtu pula. Ok kita mulai ya.

Investasi lho bukan expenses

Branding kalau menurut saya adalah seluruh aktivitas yang kita lakukan untuk memperkenalkan dan membuat persepsi atas brand atau merk yang kita bawa ya.

Bisa saja kita bawa branding nama bisnis kita atau juga nama pribadi kita yang terasosiasi dengan bisnis kita.

Setuju ya?

Atau kalau ada definisi lain yang lebih lengkap, padat dan akurat boleh lho dishare biar kita bahas sama-sama.

Dulu saya berpikir bahwa branding itu adalah expenses atau biaya.

Kenapa tidak? Wong tiap bulan masuk ke kelompok akun biaya dan tidak ada implikasi secara langsung ke pendapatan (pada saat itu ya).

Pokoknya mikir gimana caranya agar mengoptimalkan expenses itu biar ada hasil atau kontribusi ke penjualan.

Maklum mental pemula dan baru mulai bisnis ala-ala UMKM.

Biasanya sama tuh dengan teman-teman yang lain kan yang baru mulai.

Cash is everything, so spend it wisely.

Nah hal ini berubah ketika saya melihat banyak perusahaan atau bisnis atau brand owner yang saya bilang kreatif dan inovatif saat mereka eksekusi plan-nya.

Kenapa nda, efek jangka menengah dan panjang mereka itu kalau ditarik garis itu buat kurva yang eksponensial lho.

Ok, diawal-awal seakan-akan hanya menghambur-hamburkan uang, tetapi akhirnya saat mencapai tipping point (titik tertentu) akan menghasilkan sesuatu didalam penjualan mereka.

Dengan catatan, kita sudah menemukan metode yang tepat dan efektif ya.

Serunya bahas branding bisnis yuk dilanjut

Kalau soal bahas branding, pasti seru.

Apalagi kita mengaca ke kondisi saat ini dimana nih kalau saya dan tim saya, mba Nabila melakukan evaluasi channel disocial media mana yang efektif untuk media komunikasi kita.

Bisa dari Linkedin, Instagram, Mailist dan seterusnya.

Enaknya kita akan bahas series lebih lanjut tentang branding kedepan yuk.

Sambil kita visualisasikan bersama dengan menggunakan Tableau.

By the way, apa itu Tableau? Coba ya dibaca penjelasan dibawah ini.

Mengenal Tableau

Dan juga jangan lupa mampir diartikel saya yang lain dong, support terus ya! And Enjoy.

Strategi Menabung di hari tua

Tutorial Story di Tableau, apa pula ini?

Regards,

Daru

Strategi Menabung Hari Tua

Strategi Menabung Hari Tua

Strategi Menabung Hari Tua
Pic Credit from Vincenzo Netflix Series and kjtamusings

Selamat Hari Minggu

Hi dan halo.

Selamat datang kembali diblog pribadi saya. Cukup lama sudah tidak menulis kembali.

Karena alasan kesibukan dan butuh istirahat dihari sabtu dan minggu.

Tapi karena sudah komitmen untuk menuliskan apa yang saya pikirkan dan rasa penting untuk dibagi, maka saya akan coba menuliskannya ya (semoga tetap semangat selalu)

Bagaimana kabar teman-teman sekalian?

Dibulan April ini, masih tetap semangat kan ya?

Pandemi masih belum berlalu, namun kita, para pemilik bisnis, harus sudah mulai mempersiapkan hajatan nih, yes, THR. Jangan lupa lho.

Mendukung kebijakan pemerintah agar ada perputaran ekonomi dan menumbuhkan roda perekonomian ya.

Saat Merenung, Terpikir Strategi Menabung Hari Tua

Ok, terus terang saya belum tua-tua amat. Tapi jangan-jangan saya sudah mulai menua nih.

Banyak diskusi dan melihat kondisi disekitar. Bagaimana ya hidup saya kalau sudah memasuki hari tua?

Apakah saya masih dapat menikmati hidup yang sesuai dengan gaya hidup saya saat ini?

Hmm, pertanyaan yang rumit dan harus disiapkan sepertinya jawabannya.

Maka, saya mulai cari-cari tahu di mbah google, bagaimana strategi menabung dan hidup dengan nyaman dihari tua.

Ternyata, artikel-artikel yang saya baca dan rata-rata masukan dari konsultan keuangan keluarga dan beberapa ahli, bilang harus mulai menabung dihari muda.

Ok. Pertanyaannya berikutnya, berapa yang harus ditabung? Dan sebaiknya ditabung dimana? Bener nda?

Iya, dong. Secara sekarang menabung dibank itu sepertinya tidak ada nilai tambahnya dan malah tergerogoti yang namanya biaya admin bank.

Kalau lihat laporan keuangan bank-bank di Indonesia, pendapatan jasanya besar-besar he3…

Pertanyaan itu, belum terjawab nih, apa mungkin kalau kita tempatkan diinstrumen investasi semacam surat hutang negara semacam ORI dkk, setidaknya better lah ya, 5% up.

Kan deposito cuma 3% -an.

Hari Tua dan Strateginya Jaman Now

Kembali lagi. Melihat kedua orang tua saya, menikmati hari tua mereka.

Bisa berkebun, bisa belanja kebutuhan sesuai dengan keinginan tanpa harus ngoyo untuk cari-cari bayar pakai apa.

Everyone wants that nda sih dihari tua mereka?

Saya pun juga.

Nah, kalau anak jaman now, gimana nih strateginya?

Karena beda jaman, beda vehicle investasinya, beda strategi, beda juga ekspektasi. Apalagi saat pandemi begini.

Tapi jangan mirip Mas Bro Vincenzo Cassano ya? Yang punya simpenan emas sampai sekian Trilyun he3.

Ok deh. Itu saja.

Besok mulai senin, let’s find solution for hari tua kita ya.

Semangat!

Salam,

Daru

Jangan lupa mampir dan baca artikel saya yang lain dan tim saya di Sunartha ya. Thanks All.

Aset Fisik Versus Digital

Bagaimana melakukan mapping peta di Tableau

Aset Fisik Versus Digital

Aset Fisik Versus Digital

Aset Fisik versus Digital
Pic Source: Pinterest

Hi Again

Selamat datang bagi teman-teman yang baru pertama kali membaca blog saya pribadi. Dan selamat datang kembali bagi yang sering membaca ya.

Dihari libur ini, kembali saya mau menuliskan apa yang saya lagi pikirkan ketika saya mempunyai ide ataupun uneg-uneg ya, kalau orang jawa bilang.

Jadi ceritanya begini.

Eh, sebelum cerita, tolong bagi Anda yang belum artikel saya sebelumnya, bisa mampir disini ya:

Mengejar Mimpi

Atau tulisan lain yang membahas tentang Tableau nih:

Tableau dan Geospatial Data

Terima kasih ya yang sudah mampir. Enjoy.

Mari Kita Mulai

Aset.

Seperti yang kita definisikan sebagai aset adalah kategori suatu nilai ekonomi kepemilikan kita yang akan menghasilkan nilai kepada kita dimasa depan.

Nah, jadi kalau teman-teman punya properti yang ditinggali sendiri, kategorinya belum aset ya. Masih liabilities ya. Artinya nilai kepemilikannya belum menghasilkan nilai tapi untuk kita tinggali, kecuali properti yang kita tinggali ini juga kita sewakan ya.

Ok singkat cerita, saya nda mau membahas itu sih, tetapi membahas topik lain. Aset digital versus aset fisik.

Dulu nih atau pada jaman dahulu kala, definisi saya untuk menjadi kaya atau wealth (makmur) adalah orang-orang yang memiliki aset fisik dimana-mana.

YES, pasti sama ya dengan teman-teman. Misalkan dulu saya selalu envy lihat juragan properti kost-kostan yang menghitung satuannya adalah pintu.

Bro, si A ini punya 30 pintu nih tersebar bogor, karawang dll. Wah, keren banget kata saya dalam hati.

Kalau punya 30 pintu artinya tiap hari bisa dapat passive income tuh . Misalkan 500 ribu aja setiap hari. Artinya sebulan sudah dapat 15 Juta. Nda ngapa-ngapain kan. Keren.

Pergantian Aset jadi Digital

Nah, sekarang. Dunia berubah.

Aset digital, apa pula itu Bang?

Tahukah Anda. Selain aset fisik, yang tentunya untuk membangun 30 pintu kamar kost dan kontrakan, biaya yang dikeluarkan per kamar atau unit itu nda murah. Betul kan?

Yups betul. Kecuali Anda pewaris lahan dikerawang 1000 meter persegi jadi Anda tinggal tuker aja tuh dan bangun.

Anak-anak muda jaman sekarang, mulai kebalik nih. Alih-alih membangun aset fisik (yang tentunya mereka akan bangun juga) dahulu, mereka membangun aset digital.

Seperti apa? Misalkan blog personal dengan paid promote atau google ads. Konten Youtube dichannel pribadi atau bisa juga channel Facebook dan Instagram yang aktif. Tidak lupa yang terakhir Tik-Tok ya.

Ok, pelan-pelan Mas.

Kita terangkan pelan-pelan ya.

Karena disaat ini dunia itu butuh hiburan dan salah satu hiburan adalah konten. Seperti saya, saya suka menonton konten otomotif. Ya suka aja. Padahal membeli belum tentu atau daripada saya beli dan cobain, kenapa saya nda nonton para konten kreator dibidang itu.

Dengan traffic konten yang ramai penonton, mereka akan dibayar oleh para penaruh iklan. Dari Youtube atau bisa juga mereka endorse produk mereka juga disana.

Nah, aset digital ini kan bukan berupa kontrakan. Bukan juga berupa rumah atau yang lain. Tetapi penghasilan mereka tidak juga dalam kategori sedikit ya. Ya cukup lah untuk bulanan mereka.

Kesimpulan Aset Fisik Versus Digital

Bagian terakhir, kesimpulan.

Perkembangan sekarang, apapun yang teman-teman pilih strateginya, bisa disesuikan dengan preferensi Anda ya.

Mau dimulai dari yang fisik-fisik dulu boleh. Atau digital dahulu baru ke fisik silahkan.

Tapi boleh nih kalau ada yang mau komentar, jadi penasaran mana yang lebih banyak suka.

Kalau saya sih, digital dahulu baru fisik ya.

So, stay safe and healthy ya. Tetap semangat dan berbagi.

Salam,

Daru

PS: Start April with Semangat!

Bagaimana Memanfaatkan Waktu Untuk Mengejar Mimpi

Bagaimana memanfaatkan waktu untuk mengejar mimpi. Kumpulan tips dari pengalaman saya pribadi.

Bagaimana Memanfaatkan Waktu Untuk Mengejar Mimpi
Pic Credit: @aronvisuals

Time To Write

Selamat hari sabtu. Hari istirahat untuk teman-teman yang sedang beristirahat.

Atau bagi teman-teman yang sedang menjalankan side hustle (kerja sambilan) semangat ya. Berarti Anda salah satu orang yang mau dan mampu untuk membagi waktu untuk menjalankan aktivitas sambilan diluar aktivitas utama.

Great Job.

Sabtu adalah hari dimana saya mencoba untuk berkomitmen menulis. Apapun yang ada dipikiran saya, akan saya bagikan diblog pribadi saya ini.

Jangan lupa untuk mampir dikonten lainnya yang saya tuliskan seperti dibawah ini ya: Terimakasih bagi yang sudah mampir, your support really appreciated lho.

Membangun Jiwa Entrepreneurship

Perbedaan Tableau Public dan Tableau Desktop (Atau Creator sekarang)

Topik kali ini adalah bagaimana memanfaatkan waktu untuk mengejar mimpi.

Pertanyaan saya, siapa sih yang nda punya mimpi?

Sedari kecil, kita ditanya, mimpinya apa saat sudah besar nanti?

Ada yang bermimpi jadi dokter, guru, pengusaha (seperti saya dong) atau menjadi istri direktur?

Apapun itu, sah-sah saja. Toh itu mimpi Anda. Anda pun yang berhak dan wajib untuk mewujudkannya. Setuju? Ok. Lanjut ya.

Bagaimana Memanfaatkan Waktu Untuk Mengejar Mimpi

Nah, bagaimana caranya?

Tentunya, kita semua tahu, yang menjadi kendala untuk mewujudkan mimpi adalah kemauan dan kemampuan kita sendiri. Selain ada faktor X yaitu Yang Mahakuasa ya, tapi kita bisa selalu bawa dalam doa kita toh?

Lalu, kemauan. Hal pertama. Kemauan yang besar akan menjadi salah satu bahan bakar untuk diri kita sendiri mewujudkan mimpi.

Contoh mimpi saya adalah membangun perusahaan dimana perusahaan tersebut akan public listed (menjadi perusahaan terbuka dibursa efek).

Mimpi yang besar bukan? Tentu. Punya kemauan kesitu? Pasti saya punya. Karena kalau nda ada kemauan, tentunya saya akan lebih nyaman bekerja saja jadi profesional, nda usah pusing-pusing mikirin hal-hal mengelola suatu organisasi.

Lanjutnya adalah waktu.

Waktu yang tentunya adalah komoditas yang paling langka dari hidup seseorang. Karena sangat terbatasnya, kita tidak akan dapat mengulangi ataupun membeli komoditas ini. Setuju?

Jangan analogikan dengan film drama korea terbaru ya yang membahas perjalanan waktu sehingga jagoannya bisa merubah jalur nasib. Kok jadi malah bahas kesana ya.

Waktu dan kemampuan akan saling bertautan. Kenapa tidak?

Waktu dan Kemampuan

Pengalaman saya, sampai saat ini, pengelolaan waktu dan goals yang tepat akan membuat skills aka kemampuan Anda akan meningkat secara tepat dan optimal.

Ok2, bahasanya agak riweuh. Contohnya seperti ini.

Misalkan mimpi saya untuk membangun perusahaan yang mau naik kelas dari UKM ke perusahaan terbuka. Pasti ada syaratnya dong? Tentu.

Sales/Revenue per tahun berapa, laporan keuangan dapat menunjukkan seberapa bagus performa bisnis, team yang ada, dan seterusnya. Standar bisnis yang akan masuk perusahaan yang akan masuk deh.

Pengelolaan waktu artinya Anda harus dalam waktu yang ditentukan, misalkan, 5 tahun, harus bisa mengoptimalkan semuanya itu, mencari relasi yang paham bagaimana cara kerja perusahaan menjadi Tbk, bagaimana merekrut tim yang akan bisa membawa kesana, mencari dan menjalankan industri yang tentunya juga akan menarik untuk investor dan seterusnya.

Tidak bisa kita bersantai-santai dan harus “lari” dengan kecepatan yang tepat dan punya hasil yang kita harapkan sama dengan tujuan kita.

Kesimpulan

Lalu bagaimana dengan hal-hal yang lain? Apakah waktu kita boleh kita alokasikan untuk kegiatan yang nda ada nilai tambah?

Tentu boleh, misalkan hobi, time for your family dan yang lain yang membuat Anda siap untuk menjalani mimpi Anda.

Tetapi terukur ya. Karena ingat, mimpi Anda harus terwujud. Saya pun juga, harus mewujudkan mimpi saya sendiri, karena itu tanggung jawab saya.

Ok, selamat mewujudkan mimpi dengan mengoptimalkan waktu Anda ya. Semangat!

I Love Maret.

Regards,
Daru

Ps: Saya sedang mencari tim untuk bantu saya dibagian HR (Generalist). Apabila Anda tertarik dengan topik HR dan mempunyai skills yang Anda bisa share ke saya agar saya dan tim bisa pertimbangkan, let me know. Thanks.