Mencari Tim Yang Tepat

Mencari Tim Yang Tepat

Mencari Tim Bisnis Yang Tepat
Mencari Tim Yang Tepat. Pic Source: Tribunnews

Teamwork

Kata-kata yang menurut saya mudah untuk diucapkan namun sulit sekali dijalankan. Setuju? Iya, pasti setuju kalau Anda saat ini mempunyai bisnis dan Anda merasa bagaimana ya kok tim saya ini masih kurang performa kerjanya. Salahnya dimana?

Sabar, Anda tidak sendirian. Banyak orang yang mengalami hal sama dengan Anda. Lalu, kita mulai dari mana mengenai pemecahan masalah ini?

Sebelumnya, dengan membaca sharing saya yang lain, artinya Anda sudah mendukung saya menulis blog ini ya. Bacaan terbaru sebelumnya: Belajar Dari Orang Lain.

Terimakasih sudah mengklik dan membacanya ya. Syukur-syukur bisa dikasi masukan dan disebarluaskan kalau menurut Anda baik untuk rekan-rekan Anda.

Mencari Tim Yang Tepat

Mencari itu mudah. Yang sulit itu mencari tim yang tepat disaat bisnis Anda tepat pula. Gimana, masi bingung? Ok kita bedah satu-satu ya.

Bisnis, sama halnya dengan kehidupan, pasti terbagi menjadi fase-fasenya. Ada saatnya masih dalam fase startup, dimana bisnis masih mencari bentuk jati diri dan bertujuan untuk survival terlebih dahulu.

Kemudian fase dimana sudah mulai bisa melakukan ekspansi dengan core bisnis yang sudah ditemukan dan menghasilkan.

Fase terakhir adalah kemapanan sebelum fase declining atau menurun. Nah pertanyaannya, bisnis Anda ada dimana saat ini? Anda yang harus menentukan dimana posisi Anda dan beda pula strateginya.

Fase Bisnis

Kalau fase pertama bisnis Anda yaitu ingin survive dulu, berarti Anda harus mencari tim bisnis yang memang mau dan mempunyai visi yang sama dengan Anda. Kenapa begitu? Misalkan rekan Anda tidak mau berkorban pada fase ini, rekan Anda pasti akan meninggalkan Anda.

Karena beda visi juga. Si A sebagai Founder maunya kesana dan si B sebagai co-Founder maunya kesini. Tidak akan ada yang namanya kesepakatan dan ujung-ujungnya akan jalan masing-masing. Jadi tidak hanya skill yang jadi titik berat disini, namun tim yang mampu dan mau bertahan disaat bisnis belum jelas arahnya kemana.

Fase ekspansi berbeda dengan tim yang pertama. Ada beberapa orang yang mempunyai skill how to expand bisnis yang mungkin tertarik bergabung dengan Anda, membesarkan bisnis Anda. Karena game nya dan momennya sudah berbeda. Visi Anda pun bisa Anda share ke mereka bahwa Anda ingin kemana. Dan pula, tim macam ini juga biasanya mempunyai standar yang cukup tinggi.

Fase kemapanan. Kalau ini, beda juga timnya. Karena mapan seringkali kita artikan santai dan leyeh-leyeh. Menurut saya, kurang tepat juga. Karna mapan bisa diartikan harus continous improvement supaya bisnis yang kita jalankan tidak diam ditempat dimana sekeliling kita terus berinovasi. Butuh tim yang bisa mendobrak status mapan ini menjadi sesuatu yang lebih lagi. Bahkan beresiko.

Kesimpulan

Tidak ada yang tidak bisa. Itu menurut saya ya. Setiap tantangan pastilah harus kita jalani dan cari hikmahnya. Bagaimana menurut Anda? Kira-kira menarik? Atau Anda ingin bergabung dengan kami dimana saat ini kami Sunartha sedang mencari jiwa-jiwa pemenang yang ingin berkontribusi dalam meningkatkan bisnis dan skill/pengalaman.

Anda bisa bergabung dengan kami dengan tautan carreer berikut: Our Available Role. Atau apabila Anda freelance dan ingin turut berkontribusi juga, bisa juga berkenalan dengan saya melalui Linkedin dan infokan apa yang Anda ingin bantu ke kami disini: Berkenalan dengan Saya.

Salam,

Daru

Tips Bisnis Belajar dari Orang Lain

Belajar dari Orang Lain

Tips Bisnis Belajar dari Orang Lain
Tips Bisnis Belajar dari Orang Lain. Sumber Gambar: Poskota News

Perlunya Belajar

Selamat pagi. Masih liburan?

Ok, kali ini mau sharing tentang perlunya belajar apalagi soal bisnis. Yang saya tahu dulu, ketika masih kuliah dulu, saya belajar itu untuk bisa lulus kuliah dan segera cari pekerjaan yang sesuai dengan minat saya.

Siapa yang seperti itu? Jadi pastinya waktu kuliah proses belajar saya ya gitu deh, boro-boro serius, asal dapet B aja sudah syukur. Klo dapet C, ya disyukuri juga he3..

Tapi setelah saya lulus, saya jadi berfikir berbeda mengenai belajar. Kenapa ya saya jadi suka belajar dan anehnya proses belajar saya sangat beda sama dengan waktu kuliah dulu.

Dulu boro-boro diminta pegang buku atau baca saja males banget. Sekarang masih sih males pegang atau baca buku, tapi saya menemukan media pembelajaran yang lain. Tentunya akan ada impact langsung ketika saya selesai belajar, yaitu saya akan dapat sertifikasi dan dipampang di Linkedin.

Iya, salah satu metode belajar saya adalah melalui Linkedin Learning ataupun Youtube. Dimana saya bisa langsung mencoba alih-alih mendengarkan dosen berbicara kedalam forum yang cukup banyak. Kebayang kan pusingnya jadi dosen sekarang ini? Setuju?

Bicara soal belajar, pasang iklan lowongan kerja dulu boleh ya. Yang tertarik untuk belajar mengenai Business Intelligence dan salah satu tools nya yaitu Tableau, bisa mampir ke artikel saya ini nih: Tableau dan proses belajarnya. Jangan lupa mampir ya.

Belajar dari Orang Lain

Cara lain saya bisa belajar adalah dengan mendengarkan cerita atau kisah hidup seseorang yang sudah menjalani bisnisnya yang lebih dulu dari saya.

Contoh sederhananya, dulu saya suka membaca biografi Honda, Toyota dan Warren Buffet. Sangat menginspirasi!

Tidak jarang pula, kalau saat saya berkunjung ke client saya, saya berkesempatan berdiskusi panjang lebar dengan pemilik bisnis tersebut. Hal tersebut membuat saya juga terinspirasi dan banyak belajar dari pengalaman tersebut.

Pengalaman adalah hal yang sangat berharga menurut saya. Dan hebatnya kita apabila kita bisa belajar dari pengalaman orang tanpa harus menjalani pengalaman itu.

Seperti contoh klo diyoutube ada entrepreneur yang harus rugi Milyaran dalam proses belajar mereka. Kita nda perlu nyontoh sampe rugi sebesar itu kan? Amit-amit bukan?

Nah, mungkin rencana saya kedepan, saya akan mulai coba menulis tentang bagaimana jatuh bangun seseorang dalam merintis bisnis mereka. Klo istilahnya seri tv terdahulu, X Files, The Untold Misteries. Ha3… Ketahuan umur banget ya?

Bicara soal belajar, kita juga bisa belajar dari film John Wick lho, ah mosok? Makanya baca disini dulu, sekalian mampir ya: Belajar Bisnis dari Film

Kesimpulan

Sama seperti para pedagang starling (starbucks keliling) difoto atas, ada perlunya kita saling berkumpul dan bertukar ide atau pengalaman antara sesama entrepreneur. Saya dukung dan saya support.

Karena dengan seperti itu, kita bisa menjalani perjalanan bisnis kita sehingga bisa dikatakan sukses. Karna menurut saya, sukses itu bukan tujuan, tapi proses yang kita jalanin. Setuju ora son?

Cukup mengoceh dipagi hari ini. Saya melanjutkan belajar dan berkarya dulu ya.

Jangan lupa berteman dengan saya di Linkedin ya dengan mengklik nama saya dibawah ini. Salam,

Daru

Belajar Bisnis dari Film John Wick

Belajar Bisnis dari Film John Wick

Belajar-Bisnis-dari-John-Wick
Belajar-Bisnis-dari-Film-John-Wick. Pic Source : IMDB.com

Pengantar

Selamat Siang. Bagi teman-teman yang sudah dalam perjalanan menuju kampung halaman keluarganya, saya ucapkan selamat menikmati perjalanan dan berhati-hati selama perjalanan ya.

Semoga sampai ditempat tujuan dengan selamat, berkumpul bersama keluarga besar, dan menikmati liburan panjang kali ini dengan sukacita.

Turut mengucapkan turut berduka cita untuk Ibu Ani Yudhoyono, Istri dan Ibu bagi keluarga Pak SBY yang meninggalkan kita pada hari Kesaktian Pancasila 2019 ini. Semoga Pak SBY dan keluarga yang ditinggalkan dikuatkan. Amin.

Lanjut ya, kita kali ini mau bahas hubungan antara film John Wick dan bisnis. So, topik menarik nih. Saya terus terang sangat suka film ini, secara para pemainnya kurang lebih sama dengan Matrix Trilogy sebelumnya. Tapi kita nda bahas tentang filmnya ya, kita bahas dari sisi bisnisnya.

Menarik bukan? Pastinya. Pas panas-panas gini, mari kita sama-sama simak bersama, tapi sebelumnya, tolong mampir ke tulisan saya sebelumnya disini ya: Avengers Endgame dari sisi Bisnis. Bacaan menarik lainnya lho.

Terimakasih yang sudah mampir ya!

Sifat John Wick yang cocok untuk Pebisnis

Bagi yang sudah menonton John Wick diseri sebelumnya, ide cerita film ini sebenarnya sangatlah sederhana. Bagi yang belum nonton, plis, nonton dulu ya, daripada saya dibilang spoiler sama film.

Ok, sudah diwarning ya. Jadi kalau saya cerita nda apa-apa ya. Lanjut.

Ide ceritanya sesimpel John Wick balas dendam karena 2 hal, anjing pemberian mendiang istrinya dan mobil kesayangannya. Dan cerita ini bergulir sampai dengan film ketiganya. Tapi kita nda bahas filmnya ya, mending nonton deh, pasti seru.

Yang kita bahas disini adalah bagaimana sifat-sifat John Wick, kalau diterapkan untuk para pebisnis nih, bukan sifat bunuh kompetitor ya, tapi yang lain, ok? Siap?

Fokus

Ya. Fokus itu salah satu sifat dan skills menurut saya untuk dimiliki oleh para pebisnis. Coba lihat para entrepreneur senior yang sangat sangat fokus sama bisnis dan industri yang digelutinya.

Fokusnya John Wick itu kebangetan. Bisa tetap fokus meskipun banyak rekan seprofesinya yang mengincar dia. Dan dia fokus menaklukkan satu persatu. Nah, kita-kita perlu belajar juga nih. Musti fokus satu persatu sama hal yang menghadang. Setuju nda? Berikutnya.

Belajar Bisnis dari John Wick

Skillful

Coba setelah nonton filmnya, perhatikan bagaimana gayanya John Wick kalau sedang in action. Efisien dan skillful. Betul? Benar-benar profesional bukan? Sampai-sampai salah satu rekan kerjanya bilang dia itu adalah yang ditugaskan untuk menghilangkan Baba Yaga (atau boogeyman).

Didunia bisnis, skill itu harus diupgrade terus. Ilmu terus berkembang, teknis terus berubah, bahkan bisnispun berubah terus. Anda juga. Harus selalu upgrade skill dengan cara baca modul2 pembelajaran, baca buku atau mungkin ikut seminar2. Dan dipadu dengan pengalaman-pengalaman pribadi, pasti tambah efisien saat menghadapi masalah. Lanjut?

Necis (Rapih Edun)

Bagi sebagian temen-temen mungkin kurang setuju sama ini. Tapi klo saya, suka nih gaya berpakaian Om John Wick. Rapih, necis dan mencerminkan siapa dia.

Mungkin ada temen-temen yang bilang, bro, klo bisnis gw dipasar atau dilapangan gimana? Ya sesuaikan dengan dresscode dong. Tapi rapih dan matching nda ada salahnya kan? First impression itu pertama dilihat dari pakaian bukan?

Branding yang Luar Biasa.

Siapa yang tidak kenal John Wick dikalangan seprofesi dengan beliau. Ada satu kalimat yang selalu diulang-ulang oleh para rekan kerjanya. John Wick mampu menghabisi targetnya dengan sebuah pensil.

Nah, belajar dari sini, saya jadi terpikir, kita harus selalu punya branding dan tagline yang orang-orang seprofesi kita atau client kita selalu teringat selalu. Hayo coba dipikirkan apa itu? Menarik kan?

Kesimpulan

Menarik nda nih bahasan kita kali ini. Klo nda menarik, coba nonton filmnya dahulu ya. Baru baca lagi tulisannya.

So, 4 poin tadi kira-kira klo kita mau menerapkan dibisnis kita, pasti akan membuat bisnis kita makin maju. Tapi kalau masi tertarik bahas yang lebih detail soal bisnis, bisa mampir diweb sunartha yang sering bahas tentang bisnis nih.

Salah satu contoh bahasannya: ERP Cloud Indonesia – Studi Kasus. Bacaan bagus nih.

Selamat menikmati liburan lebaran kali ini ya.

Salam,

Daru

Avengers End Game dari Sisi Bisnis

Avengers End Game dari Sisi Bisnis

Avengers End Game dari Sisi Bisnis
Avengers End Game dari Sisi Bisnis. Pic Source IMDB

Selamat Pagi!

Yes, weekend kali ini kita bahas jangan yang serius-serius amat yah. Setelah semingguan kita kerja. Sambil berpuasa yang sudah hampir seminggu juga, kita baca tulisan yang ringan dan renyah saja.

Minggu ini lumayan sibuk juga untuk tim Sunartha yang ternyata cukup banyak inquiry yang masuk ke kami untuk dibantu dari sisi pengembangan tools bisnis untuk manajemen perusahaan.

Yah, bahasanya jadi berat deh, ok, sabar-sabar. Dijamin nda berat-berat kok bahasannya. Sebelum membaca sharing kali ini, jangan lupa untuk subscribe dan like, eh itu untuk youtubers ya?

Kalau kita cukup mampir disharing kami sebelumnya dengan judul ini nih: Bagaimana Status Kesehatan Bisnis Anda.

Terimakasih sekali lagi yang sudah mampir. Yang mau komentar atau berbagi, dipersilahkan juga lho.

Avengers End Game dari Sisi Bisnis

Siapa yang sudah menonton film Avengers Endgame? Ok, pertanyaan berikutnya, siapa yang bela-belain nonton subuh sebelum kerja demi film ini? Kalau iya, Anda merupakan fans sejati Marvel berarti. Good!

Tahukah Anda, kalau pendapatan worldwide film Avengers End Game ini berdasarkan IMDB mencapai 2,3 Milyar USD. Kalau mau dirupiahkan dikali aja 15 ribu ya. Mungkin lebih dari 30 Trilyun IDR. Mantab bukan?

Secara bisnis bagaimana? Mantab menurut saya. Mari kita bedah satu-satu ya.

Film keluaran Marvel Studios ini beserta pemiliknya yaitu Walt Disney Pictures merupakan film yang ke 20an menurut seri MCU. Dimulai dari Iron Man, Captain America, Hulk, Thor dan sampai bergabungnya mereka di Avengers pertama.

Sudah pasti, membangun loyalitas basis fans tidak memerlukan waktu yang sebentar. Mereka sangat sabar dan pada akhirnya membuahkan hasil.

Bagaimana implikasi sama bisnis yang kita jalankan? Siapa yang baru pegang produk tiba-tiba langsung promosi jualan ke teman-teman terdekat kita, trus pasang status whatsapp, IG dll?

Saya juga pernah kok, bukan ngomongin Anda hehehe. Artinya, pemilik karakter ini sangat sabar membuka perlahan-lahan dan memberikan values kepada para fans untuk memahami karakter superheroesnya. Ada yang suka Iron Man. Fans Captain America dan seterusnya.

Jadi jangan tuh ujug-ujug hard sell dari awal klo Anda mempunyai bisnis. Tapi coba berikan value yang lebih kepada calon pelanggan Anda. Anggap buat mereka menjadi fans Anda dan produk Anda terlebih dahulu.

Nanti saatnya akan tiba dan pintu rejeki terbuka untuk Anda. Setuju nda nih?

Kesimpulan

Bagi yang belum nonton filmnya, musti nonton ya. Dan bagi yang menjalankan bisnis seperti yang saya infokan tadi diatas, hayo coba ubah strateginya.

Jangan sampai membuat teman, calon pelanggan Anda terpaksa membeli dari Anda karena nda enakan. Iya kalau murah harganya, kalau mahal, piye?

Saya mau berikan values dulu nih bagi teman-teman yang sedang mencari pekerjaan atau pengalaman dibidang ERP, bisnis intelligence dan konsultasi manajemen.

Kita sedang membuka lowongan diwebsite sunartha career. So yang tertarik bergabung, tolong tulis dibagian ceritakan diri Anda, tulis saya baca artikel avengersnya. Ok?

Terakhir, pesan sponsor, mampir diartikel tentang Manfaat Cloud ERP untuk Perusahaan Anda.

Salam,

Daru

Bagaimana Status Kesehatan Bisnis Anda

Bagaimana Status Kesehatan Bisnis Anda

Bagaimana Status Kesehatan Bisnis Anda
Bagaimana Status Kesehatan Bisnis Anda. Pic Source : jenramsey.com

Medical Check Up

Selamat malam.

Diminggu malam ini, sambil melakukan scroll-scroll berita atau social media, saya mau share sesuatu hal nih. Tentang medical checkup untuk bisnis. Yups, topik bahasan yang agak-agak berat, tapi kita bawa santai saja. Ok?

Siapa yang baru-baru ini melakukan aktivitas medical check up untuk kesehatan kita? Anda? Betul. Dengan melakukan aktivitas ini, minimum katanya setahun sekali, kita akan punya yang namanya hasil medical check up yang bisa kita pelajari, terutama soal kolesterol ya? Hayo yang sering makan soto betawi dan jeroan-jeroan? (itu saya banget).

Setelah tahu hasil lab, biasanya kita melakukan tindakan-tindakan yang lebih benar bukan? Contoh makan makanan yang sehat. Olahraga yang cukup dan masih banyak lagi.

Lalu bagaimana dengan bisnis? Sama sih, cuma kita akan bahas lebih detail ya. So, siap-siap camilan, kopi hangat, sehangat kenangan mantan nda ya?

Bisnis dan Bagaimana Status Kesehatan Bisnis Anda

Bisnis saya bangkrut Mas, tutup! Ujar salah satu teman saya. Bahkan saya juga pernah mengalami hal yang sama. Tutup, gulung tikar, bahkan pahit rasanya merumahkan karyawan yang telah bekerja keras untuk bisnis Anda.

Salahnya dimana? Apa salah saya? Apa salah bisnis kita? Mungkin itu pertanyaan yang sering kita pertanyakan dan gumulkan setiap kali mempunyai bisnis yang tidak bisa melanjutkan hidupnya.

Pertanyaannya, seringkah kita melakukan pengecekan status kesehatan bisnis kita? Minimum per bulan, per 3 bulan atau cuma setahun sekali? Istilah orang Jawa Timur, modar kon.

Ini cerita saya ya, sharing nih. Dulu saya jarang yang namanya melakukan check up bisnis. Yang penting duit ada diakhir bulan dan duit ada untuk bayar vendor atau supplier dan karyawan. Siapa yang seperti ini?

Sekarang nda bisa Boss. Sekarang yang namanya Business Owner harus melek finansial. Tidak hanya punya akuntan handal dan tim yang solid cukup, bahkan CEO pun harus punya insting CFO lho.

Seorang CEO harus melek yang namanya Sales Growth (pertumbuhan penjualan), Gross Margin Ratio (Rasio Laba Kotor), Net Profit Margin dan beberapa terms dan istilah-istilah keuangan yang orang awam pasti pusing tujuh keliling.

Sabar, semua bisa dipelajari kok. Dan semua materi itu ada disocial media seperti youtube dan blog-blog diinternet. Jadi jangan takut. Anda musti ikut pelajari ya.

Jangan percaya aja kata akuntan Anda. Jangan percaya aja kata-kata anak buah yang bilang tagihan aman Boss, padahal macet. So pasti Anda sebagai pemilik atau manajemen pasti harus sigap dan peka dengan hal-hal beginian.

Kesimpulan Artikel Ini

Sebelum bagian kesimpulan, ada baiknya Anda mampir ke artikel terbaru saya yang membahas tentang Bisnis dan Momentum, penasaran? Yuk simak disini: Strategi Memanfaatkan Momentum untuk Bisnis.

Kesimpulan pertama.

Rajin-rajin melakukan check up bisnis Anda. Apabila bisnis Anda sedang pesat-pesatnya, ada baiknya melakukan rapat mingguan dengan tim keuangan Anda dan tim operasional Anda. Apa gunanya? Jangan sampe ada istilah miss cashflow. Nda lucu kan, bisnis kenceng tapi bensin atau dana Anda habis.

Kesimpulan kedua.

Belajar terus sama istilah-istilah keuangan bisnis Anda. Terutama soal net profit margin, gross profit margin sama baca cashflow forecast dan realisasi. Penting itu. Kalau Anda mau test tim Anda, coba tanyakan kepada mereka apa artinya dan apa yang harus dieksekusi oleh bisnis Anda kedepannya. Ingat, banyak bisnis tutup karena piutang yang tak tertagih atau bocor halus untuk pengeluaran Anda.

Kesimpulan ketiga.

Kalau Anda bingung memulai dari mana, mungkin tim kami bisa bantu. Dari sisi membuatkan laporan keuangan sehingga rasio keuangan Anda bisa langsung dapatkan. Implementasi sistem keuangan yang mumpuni untuk bisnis Anda juga bisa. Yang terakhir, tim analisa kami terkait kondisi data bisnis yang Anda miliki. Mudah bukan?

Bagaimana? Sok langsung dicek untuk bisnis Anda. Mumpung masih april ini. Jangan sampe nanti Anda dan saya menyeruput kopi bersama dan Anda curhat, Bro, bisnis gw mau tutup nih, kan saya mau dengarnya, Bro, gw traktir yak, bisnis gw tambah pesat nih! Amin.

Salam,

Daru

Anda bisa berteman dengan saya di Linkedin. Cukup klik nama saya dan add untuk berteman dengan saya. Trims.

Strategi Memanfaatkan Momentum untuk Bisnis

Strategi Memanfaatkan Momentum untuk Bisnis. Bagaimana strateginya? Dan juga apa juga bahasan momentum dari bisnis itu sendiri? Yuk simak bahasannya bersama.

Strategi Memanfaatkan Momentum untuk Bisnis
Strategi Memanfaatkan Momentum untuk Bisnis

Pic Source : gtw541.com

Rapat Ditepi Kolam Renang

Siang itu, saya dan tim sedang berdiskusi dengan prospek kami, terkait bisnis yang dijalankan dan obrolan-obrolan santai mengenai kopi.

Ya, tentang kopi. Komoditas yang belakangan ini menjadi fenomenal karena ada beberapa gerak kopi “kekinian” yang membuatnya menjadi primadona.

Oiya, saya sempat menulis tentang hal itu juga disini: Kopi dan Investor. Jangan lupa dibaca ya.

Btw, kami nda berenang ya, cuma rapat aja kok ditepi kolam renang. Sambil mencium bau aroma kopi yang sedang diseduh, wanginya! Jadi ada yang tiba-tiba mau nyeduh kopi nda ya setelah baca tulisan saya ini?

Monggo, diseduh dulu kopinya. Diseruput, baru lanjut baca lagi ya.

The Law of Momentum

Topik siang ini ketika saya sedang berkendara. Momentum.

Entah kenapa saya tiba-tiba nyeletuk bahas soal momentum. Tapi ya itulah bahasannya.

Hukum momentum mengatakan, ketika kita ingin mendorong sesuatu benda, dimana keadaan benda itu diam, akan membutuhkan energi yang besar untuk menggerakannya pertama.

Tetapi apabila sudah mendapatkan momentumnya, meningkatkan kecepatannya jauh lebih mudah.

Pernah kan mendorong kendaraan mogok? Ya kira-kira begitu ya analoginya. Lalu, apa hubungannya dengan bisnis, kopi dan momentum Mas? Ok, sebentar, kita bahas sebentar lagi.

Nyeruput kopinya dulu dong, biar sabar.


Strategi Memanfaatkan Momentum untuk Bisnis

Ternyata ada lho momentum juga untuk bisnis. Iya, bisnis saya dan yang anda jalankan sekarang ini.

Bagaimana menggerakkan bisnis Anda, tidak perlu saya share ya. Pastinya banyak kesan dan pesan menarik dari proses itu. Tetapi strategi momentum itulah yang perlu kita bahas bersama.

Kenapa saya kaitkan dengan bahasan mengenai kopi kekinian tadi, karena saat inilah momentum dibisnis tersebut. Itulah yang jadi pokok bahasan saya dengan prospek saya tersebut. Apakah Anda merasakan juga? Kalau iya, kita berarti sama. Sama-sama suka ngopi.

Strategi yang paling jelas dalam memanfaatkan momentum ketika bisnis kita sedang ON adalah mempercepat proses pengembangannya.

Sulit? Pasti. Bayangkan apabila Anda sudah kewalahan dengan 2-5 outlet, disuruh mikir untuk 10-25 outlet lagi. Pusing? Harus. Tapi harus bisa. Kenapa? kalau tidak, pesaing Anda yang akan mengambil ceruk pasar Anda.

Stay focused. Iya, momentum membuat Anda seperti orang yang menyentuh apapun menjadi emas. Tapi jangan salah, disitulah godaan terbesarnya. Semakin besar bisnis Anda, tantangannya adalah diinternal organisasi Anda.

Anda harus siapkan sistem yang mumpuni untuk menangani lonjakan permintaan bisnis Anda saat momentum itu tiba. By the way, kalau Anda sedang mencari sistem tersebut, hubungi tim saya Mba Euis ya untuk tahu bocorannya. Bisa whatsapp disini langsung : 0815 8690 2500

Strategi Yang Lain

Momentum adalah kejadian yang tidak bisa kita buat. Yang bisa kita lakukan adalah masuk kedalam momentum itu. Contoh saat ini seperti fenomena belanja online. Ya kita harus siap-siap.

Strategi ketiga. Ready and always be ready to shift to another momentum. Bisnis kita mungkin bisa old school produk, tapi momentum jangan dilewatkan ya.

Kira-kira gimana strategi-strateginya? Sudah oke kah? Kalau belum ok juga, saya kasi bocoran satu tools lagi nih biar Anda-anda semua yang punya bisnis bisa mantau bisnis dengan dashboard yang keren.

Download gratis disini dan pakai gratis lagi selama 14 hari. Masih bingung cara pakenya, tanya Mba Euis kapan jadwal training terdekatnya ya.

Wah, kopi saya sudah mau dingin nih, saya lanjutkan nyeruputnya dulu ya. Cheers.

Daru

Artikel saya yang lain : How to Raise Fund with Alpha JWC Ventures

Alpha Leader Series Fundraising for Startups

Alpha Leader Series Fundraising for Startups

Alpha Leader Series Fundraising for Startups
Alpha Leader Series Fundraising for Startups. Source Pic : sunartha.co.id

Fundraising

Selamat malam.

Bagaimana hari ini? Sudah cukup lelah dengan kesibukan harian Anda? Pastinya!

Saya, berkesempatan untuk mendengarkan sharing session dari beberapa startup plus dari Tokopedia dimana startup yang hadir diacara tersebut merupakan bagian dari keluarga besar Alpha JWC Ventures.

Kenapa saya hadir diacara berjudul Alpha Leader Series Fundraising for Startups tersebut?

Karena penasaran. Iya, saya penasaran bagaimana bisa sebuah usaha warung kopi yang baru saja berdiri, bisa mendapatkan pendanaan, sesuai diberita, 8 juta dollar saja. Yes! Penasaran kan?

Ternyata ada ceritanya. Yuk kita bahas bersama.

Cerita dan Sharing Session

Sebelumnya, perkenalkan nama saya Daru. Bagi yang belum kenal, salam kenal ya. Kalau mau berkenalan via Linkedin, silahkan diadd ya. Berikut Link nya : Kenalan dengan Daru

Kesibukan saya saat ini menjalankan bisnis saya dibidang Konsultan IT dengan produk seperti Acumatica Cloud ERP dan Tableau Business Intelligence. Jangan lupa mampir ya dilink yang saya share diatas.

Tertarik tentang berita terbaru mengenai bisnis dan pendanaannya, salah satunya ini nih, kopi kenangan. Baca ya artikel lainnya : Kenapa Startup Kopi Dilirik Investor

Lanjut ya, numpang iklan dahulu ya.

Acara sharing session kali ini full. Ya full pengunjung. Mungkin topiknya menarik, tentang fundraising. Dan kopinya juga menarik, kopi kenangan. Padahal saya berkata dalam hati, ini dikasi kopi kenangan gratis nda ya?

Ternyata dikasi lho he3… lumayan. Lah, kenapa saya jadi ngiklanin kopi kenangan ya. Ah sudahlah.

Fundraising merupakan momok atau hal yang menakutkan bagi pemilik bisnis terutama startup. Dimana terkenal dengan ke-horor-an untuk pitching didepan investor dan apabila ditolak.

Ternyata begitu juga testimoninya. Namun ternyata, antara pemilik startup dan para funder (VC) juga saling membutuhkan kok. Nah, saling membutuhkannya seperti apa?

VC itu juga bisnis untuk muterin duitnya investor. Dan Startup adalah salah satu vehicle untuk meningkatkan capital atau dana investor. Saling menguntungkan bukan? Lalu bagaimana cara saling memperkenalkan dirinya?

Tentunya dengan harus mengikuti komunitas-komunitas seperti ini. Terus terang saya agak kaget juga segitu banyak yang hadir diacara kali ini. More than 100 orang sepertinya. Selain saya mau survei WeWork di Menara Astra tentunya.

But overall, acaranya seru. Kopinya enak dan sharingnya meskipun tidak terlalu dalam, tetapi menarik banyak peminat kok. Well Done!

Ideas dan Kesimpulan

Lalu kesimpulannya apa? Buat saya, bagi teman-teman yang sedang menjalankan proses fundraising, tetap semangat! Jangan mudah putus asa. Selain itu juga, bisnisnya juga harus dipikirin, jangan terlalu semangat nguber investor, eh bisnisnya malah nda berkembang.

Ada istilah bagus yang pernah saya baca dulu disalah satu buku. Jangan fokus mengejar lebah, mending fokus saja mempercantik taman yang kita miliki, nanti lebah-lebah akan berdatangan dengan sendirinya.

Sukses untuk bisnis kita semua. Nyeruput kopi lagi nda ya? Besok pagi saja deh.

Salam,

Daru

Kenapa Startup Kopi Dilirik Investor

Kenapa Startup Kopi Dilirik Investor

Kenapa Startup Kopi Dilirik Investor
Kenapa Startup Kopi Dilirik Investor. Pic Source : youngster.id

Siapa yang tidak suka ngopi?

Okay. Siapa yang tidak kenal gambar warung kopi kekinian diatas?

Anda? Yakin? Ok nda apa-apa. Silahkan coba bagi yang belum pernah.

Tahukah Anda? Coffee Shop chain tersebut sudah mendapatkan komitmen pendanaan 120-an Milyar Rupiah dari salah satu investor yang sering menggelontorkan uang di startup technologi.

Ah masa? Nda percaya kan? Saya juga. Lalu kita bahas bareng yuk, kenapa startup kopi dilirik investor seperti bahasan kali ini.

Eits sebelum lanjut, soal millennials dan rumah, pasti ada yang menarik tentang bahasan kedua hal tersebut. Yuk baca sharing saya tentang hal itu : Rumah dan Millennials

Lalu kenapa Investor Tech tertarik?

Investor. Anda tahu kan, institusi atau perorangan yang tertarik untuk menanamkan uangnya atau dananya kedalam perusahaan yang diyakininya akan berkembang dan mengembang-biakkan dana mereka.

Apakah Anda investor juga? Nah, simak bersama-sama ya.

Misi dan tujuan utama investor adalah ingin mendapatkan return dari investasinya.

Kalau Anda begini juga, berarti Anda investor juga. Selamat.

Lalu pertanyaannya, kenapa tertarik ya? Emang bisnis kopi bisa scale? Istilah keren dari bisnis yang bisa membesar dengan sangat cepat dan akan menghasilkan return pada periode waktu tertentu?

Soalnya, kalau tech startup, investasi akan digunakan untuk hiring tech teams, customer acquisition dsb dsb. Kalau coffee startup, dananya digunakan untuk apa ya?

So pasti untuk pengembangan bisnis mereka melalui pembukaan cabang baru. Investasi alat seperti coffee machine, hiring teams dan selanjutnya. Mungkin berikutnya hiring tim data analytics, jangan lupa Sun Artha ya.

Jadi, kesimpulannya. Artinya ada investor yang percaya sama bisnis model begini nih. Denger-denger diluar sana ada lho kopi kekinian yg dengan sentuhan tech punya valuasi Trilyun. Mengerikan.

Kalau saya sih gampang aja. Kalau per hari kopi kenangan bisa jual 100ribu cup dengan margin gross 7rb aja, berarti sudah punya dana segar 700 juta per day. Coba kalikan per bulan dan pertahun, betul?

Investor mana yang nda kepincut.

Pelajaran untuk bisnis kita sendiri

Apa pelajarannya bagi Anda dan bisnis yang Anda jalankan?

Pastinya berkaca dan berguru dari kopi kenangan (meskipun saya blm pernah punya warung kopi kekinian ini) adalah:

Bisnis yang bagus itu adalah bisnis yang sederhana. Sesederhana menyeduh kopi dan menuang kopi dengan takaran yang pas dan tidak butuh tim yang pendidikan tinggi.

Apalagi bisa digenjot bukaan cabangnya. Coba lihat Starbucks. Bisa bayangkan kalau kopi kenangan mempunyai cabang setengah dari cabang starbucks di Indonesia. Mungkin akan seru ya.

Apakah bisnis Anda mempunyai 2 hal itu? Niscaya kalau punya, investor yang akan menghubungi Anda. Dan menanyakan pertanyaan sakti ini, “Butuh dana berapa Bro?”

Sedap,

Nyeruput Kopi Kenangan Mantan Terindah dulu ahh.

Daru

Millennials Haruskah Punya Rumah

Millennials Haruskah Punya Rumah

Millennials Haruskah Punya Rumah
Millennials Haruskah Punya Rumah. Sumber gambar: klikcair.com

Home Sweet Home

Selamat Malam.

Sambil menikmati malam mingguan, baik yang masih menjomblo atau yang sudah berpasangan, boleh dong sembari memikirkan seperti foto diatas, nanti kalau sudah menikah dan punya rumah sendiri, gambaran rumah itu seperti apa. Betul nda?

Kalau yang masih menjomblo, mungkin jangan jauh-jauh mikir cari rumah, mending cari calonnya dulu, he3… Piss ya.

Ok, topik kali ini bener-bener membuat saya berfikir. Menurut studi yang ada, millennials itu kemungkinan tidak akan bisa membeli rumah lho! Shocking bukan? Tapi apa benar sih? Sampe segitunya?

Atau apakah ada solusi lain, bagi para millennials ini yang kepingin punya rumah sendiri, or apartment atau tetap serumah dengan ortu, selama-lamanya? Hmm, yuk kita bahas semuanya satu per satu ya.

Siapkan cemilan, minuman hangat dan tentunya camilannya bukan nasi goreng atau mie godog ya, melar nanti.

Hasil Analisa

Sebelum saya mulai, mampir dong ke artikel yang saya tulis sebelumnya, saya berikan linknya ya: Beda Permainan Beda Strateginya

Support saya dengan mengklik link tersebut atau kalau boleh tolong bagikan juga ya kalau berguna. Terimakasih!

Lanjut ke topik kita. Menurut hasil riset dan analisa tersebut mengatakan millennials terancam tidak sanggup membeli rumah sendiri. Ok, mari kita telaah bersama, apa sih alasannya.

  • Pastinya Penghasilan dan Nilai Properti itu Sendiri

Millennials, yang dibilang kelahiran tahun 1983 keatas, saat ini dalam masa bekerja ditahap-tahap awal karena memang baru lulus. Nah, bagi yang beruntung dan bekerja ditempat yang bonafid (bukan bandeng ya) akan mendapatkan reward yang wuah.

Tapi bagi yang lulusan dengan IPK dua koma aja uda syukur dan skill pas-pasan, kira-kira nasibnya gimana? Padahal harga rumah dengan tanahnya saja di Jakarta ini sudah muahal. Bener Muahal. Klo kata Atta Halilintar apa? Syiiiaaap?

Nah, penghasilan pas-pasan ktemu dengan properti yang muahal jadi nda nemu tuh. Ujung-ujungnya PIM (Pondok Indah Mertua).

  • Kenaikan Harga Properti Tidak Sebanding Dengan Tabungan

Ini alasan juga. Gimana mau ngejar, wong tabungan aja nda nambah-nambah. Apalagi pas ditabung, bukannya nambah banyak, malah abis digerogotin admin bank. Sedih!

Jadi, udah nda manjur lagi tuh alasan ngejar properti pake tabungan. Yang ada, musti ngejar properti pakai investasi, mungkin lebih cocok. Makanya, sekarang millennials banyak yang sudah mulai tertarik dengan investasi saham dan reksadana. Bayangkan, anak magang dikantor saya saja sudah nanya, kira-kira saham apa ya yang bagus untuk dikoleksi? Mantab!

Millennials Haruskah Punya Rumah – Solusi

Lalu, solusinya apa dong Mas?

Haruskah kita punya rumah dan nyicil KPR seumur hidup? Kembali lagi ke Anda-anda semua sih.

Kalau Anda merasa dan harus butuh banget yang namanya rumah, maka mulai persiapkan semuanya, DP untuk beli rumah, angsuran per bulan yang tidak mencekik bulanan Anda. Dan siap-siap juga biaya turunannya ya. Ingat, rumah bukan investasi tapi bisa membuat Anda tidak kehujanan dan kepanasan. Ciee!

Dan setelah saya googling solusi millennials diluar sana, ternyata ada lho startup di US yang berfikiran, bagaimana kalau dibuatkan seperti Airbnb tapi untuk millennials for housing. Ok, menarik bukan?

Konsepnya seperti Coworking Space, mungkin mirip Kostan ala ekslusif (but kayaknya cocok untuk yang masih jomblo aja deh). Begitu sudah berkeluarga, ya harus cari own house atau apartment kalau ingin terjangkau didalam kota Jakarta.

Intinya, kurangi pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu. Investasikan waktu kita dan uang hasil kerja keras kita untuk peningkatan skills sehingga karier or bisnis klo case saya, bisa meningkat pesat dan berharap bisa membeli rumah dengan Cash Keras, tanpa cicil KPR lama-lama. Setuju?

Sponsor dulu ya. Bagi yang sedang mencari pekerjaan dibidang consulting untuk implementasi sistem untuk perusahaan-perusahaan, saya dan tim sedang cari nih. Banyak. So, tertarik, email ke hrd@sunartha.co.id dan attach CV Anda.

Kerjaannya seru. Clientnya perusahaan-perusahaan besar. So, kapan lagi bisa kerja tidak membosankan. Ditunggu CV-nya. Mau segera kebeli rumah kan? Cheers!

Salam,
Daru

Sunartha sebagai Partner Tableau dan Acumatica di Indonesia, saat ini banyak membantu perusahaan yang bernaung dalam grup besar. Dan kami membuka lowongan consultant untuk kedua produk tersebut. Join ya.

Beda Permainan Beda Strateginya

Beda Permainan Beda Strateginya

Beda Permainan Beda Pula Strateginya
Beda Permainan Beda Strateginya. Sumber Gambar : dynamicbusiness

Bisnis Seperti Permainan

Selamat sore. Selamat datang kembali ke blog saya kali ini yang akan membahas topik diatas.

Saya mau mengucapkan permintaan maaf terlebih dahulu karena kesibukan saya dengan pekerjaan sehingga waktu menulis saya menjadi cukup tersita. Tetapi karena saya sudah komitmen, akan saya coba kembali, menulis secara rutin.

Blog saya, bagi Anda yang baru pertama kali membaca, akan lebih fokus membahas tentang bisnis, sistem informasi dan topik-topik kekinian yang menurut saya menarik untuk diulas.

Mari kita lanjutkan. Sambil saya memutar video youtube dibawah ini dari Do As Infinity.

Betul, bisnis seperti permainan. Permainan yang membutuhkan keahlian, pengalaman, kerja tim dan segudang hal lainnya.

Menariknya pula, setiap kali kita sudah berhasil menyelesaikan permasalahan pada suatu level, kita akan menemui tantangan berikutnya dan seterusnya sampai akhirnya tamat, apabila dalam permainan.

Sebelum melanjutkan, bagi Anda yang belum membaca tulisan saya tentang Faktor Kali, mungkin bisa mampir ya.

Strateginya

Bisnis saat ini, kalau menurut saya, cukup menarik dengan adanya beberapa jenis dan modelnya.

Mulai dari jualan kopi seperti tuku, kopi kenangan, kopi kulo dan kopi-kopian lainnya. Sampai dengan unicorn seperti Gojek, Tokopedia dan lain-lainnya.

Bisnis idenya sederhana, cuma strategi dan SKALA-nya yang cukup menggemparkan, kalau menurut saya.

Seperti bisnis yang saya jalankan sekarang. Apakah bisa seperti mereka-mereka ini? Belum tentu, secara pemahaman saya ya. Karena memang kami hanya fokus pada niche market, spesific B2B dan dengan kemampuan beli yang diatas rata-rata.

Artinya, kami secara bisnis sudah didesain untuk melayani sedikit pelanggan. Sehingga kualitas output bisa diawasi dan dipertanggungjawabkan.

Beda halnya dengan yang saya sebutkan tadi diatas sebagai contoh. Nda mungkin kan jualan kopi 1 cangkir kita hargai, umpamanya IDR 250rb? Siapa yang mau beli? Mungkin jual 10 dalam sehari aja sudah Excellent!

Lain halnya dengan kopi kenangan, yang dengan bandrol IDR 18rb dan cabang yang terserak dimana-mana. Apa yang diincar? Mass product dan scale up!

Beda Permainan Beda Strateginya

Nah, beda banget bukan? Tidak bisa disamakan ya. Bagi Anda yang sedang ingin merintis bisnis, desain dari awal seperti ini haruslah dibahas dan diresapi dalam-dalam.

Jika tidak, merubah ditengah jalan akan menyebabkan bisnis yang kita jalani mengalami turbulensi (posisi tidak uenak).

Bagi temen-temen yang ingin memulai bisnis, namun takut, tenang, Anda bisa memulainya sambil menguasai ilmu-ilmunya, dengan bergabung ditim saya.

Posting iklan dulu boleh dong ya. Kami di Sunartha  sedang mencari tim nih, banyak bahkan untuk menjadi konsultan dibidang implementasi sistem seperti ERP dan Business Intelligence.

Tidak familiar dengan istilahnya? Tidak apa-apa, akan kita ajarkan sembari jalan. Permasalahannya, ilmunya mahal. Jadi harus benar-benar yang tertarik dan suka sama hal yang beginian.

Mau bergabung? Gampang, mampir ke web kami,
Sunartha dan masuk kebagian career. Atau kami juga membuka lowongan dibeberapa job directory seperti indeed dan loker.

Kalau yang sudah bekerja dan tetap tertarik dengan tools-tools bisnis yang kami gunakan dan biasakan implementasi, bisa hubungi tim saya, Mba Euis dengan nomor whatsapp berikut 0815 8690 2500 (linknya diklik aja, nanti akan buka whatsapp langsung kok, jam kerja ya).

Selain itu, tolong mampir juga diartikel saya lain seperti membahas tentang solusi manufaktur di Indonesia atau Implementasi Tableau untuk industri keuangan.

Selamat berlibur dihari Imlek ini, Selamat Merayakan bagi teman-teman yang merayakannya.

Salam,

Daru