Suksesikan Bisnis Anda

Suksesikan Bisnis Anda

Suksesikan Bisnis Anda
Pic Source: dramabeans.com

Bacaan dihari Minggu

Hi, selamat datang lagi diblog purwandaru.com yang rajin berbagi mengenai apa yang ada dipemikiran penulisnya. Biasanya tentang bisnis, teknologi bahkan mimpi dan pengalaman sang pemilik blog.

Tanpa terasa, kita sudah mau menjumpai penghujung tahun 2020 ya. Secara minggu depan adalah minggu terakhir dibulan November dan kita akan menjemput bulan Desember.

Tahun ini penuh dengan tantangan, terutama karena adanya pandemi Covid-19. Semuanya serba tidak menentu dan banyak dari kita yang mengalami turbulensi dengan urusan keuangan serta ekonomi yang banyak membuat tambahan pikirian ya.

Ok, semoga kita semua tetap sehat selalu dan selalu bersemangat menghadapi segala tantangan yang ada ya.

Kali ini, sebelum makan siang, saya mau berbagi mengenai ide dan pemikiran saya tentang suksesi bisnis terutama bisnis keluarga ya.

Topik yang saya lagi pikirkan dan renungkan juga untuk bisnis saya sendiri.

Sudah siap ya. Mari kita mulai.

Bisnis Keluarga Serta Suksesikan Bisnis Anda

Saya lupa datanya, mungkin nanti akan saya update setelah menyelesaikan tulisan ini. Tapi yang saya tahu, di Indonesia cukup banyak perusahaan keluarga yang berhasil meneruskan bisnis mereka kepada generasi penerus.

Iya, Anda tahu kan, banyak cerita dan jokes mengenai, generasi pertama adalah pendiri dan kerja kerja, generasi kedua bisnis keluarga adalah yang membesarkan dan generasi terakhir, generasi ketiga adalah yang foya-foya dan menghancurkan bisnis tersebut.

Apakah betul? Nah, bisa kita bahas bersama nih.

Kalau menurut saya, pribadi, suksesi atau memberikan tugas kepada penerus bisnis itu kuncinya adalah persiapan.

Persiapan yang dimaksud adalah proses ini tidak serta merta dapat dilakukan apabila kandidat yang akan kita berikan wewenang tidak mengetahui apa tugas dan tanggungjawabnya.

Pengalaman saya ketika saya diskusi dengan beberapa pemilik bisnis dimana saat rapat pembahasan sistem ERP untuk organisasi tersebut, terkadang putra atau putri mahkota ikut diajak oleh management seniornya, atau founder.

Kita Lanjutkan ya Bahasannya

Nah, menariknya adalah, dari beberapa meeting yang saya dan tim lakukan, ada yang para suksesor (atau generasi kedua) mengerti dan dapat mengikuti alur kerja dan role dia berada, tetapi ada juga yang tidak.

Tidak dapat mengikut dapat berarti, generasi penerus ini belum cukup matang dan masih butuh banyak belajar dari alur bisnis atau seluk beluk detail dari bisnis orang tuanya.

Itu pengalaman kita ya. Tentunya selama persiapan tersebut, organisasi atau bisnis keluarga ini biasanya juga menerapkan change management dimana dibuatkan struktur dan tahapan-tahapan yang lebih baik lagi sehingga para penerus dapat melanjutkan dengan koridor dan ketentuan yang berlaku.

Sekarang Bicara Tools untuk Prosesnya

ERP (Enterprise Resources Planning) merupakan salah satu tools yang bisa kita gunakan untuk tahapan handover ini. Kenapa?

Dengan punya struktur dan alur yang jelas, para Putra dan Putri Mahkota ini dapat melihat langsung kondisi bisnis mereka kedepannya. Pastinya mereka juga harus tahu dan ikut serta saat proses berlangsung ya, sehingga dapat paham juga saat ada muncul masalah.

Bagaimana, tertarik dengan bahasan kali ini? Tentu dong.

Kalau begitu, ada beberapa artikel lain yang masih baru nih bisa Anda baca juga. Tolong mampir juga ya.

Pilih Uang atau Mentor

Tips Melakukan koneksi Tableau dan SAP Hana

Tertarik untuk berdiskusi tentang topik-topik seperti diatas atau penerapan ERP juga boleh ke nomor berikut ya 0815 8690 2500 dengan Mba Euis ya.

Jangan lupa juga add saya dinetwork Linkedin Anda dengan klik dibawah ini ya

Salam,

Daru

Pilih Uang Atau Mentor

Pilih Uang Atau Mentor

Pilih Uang Atau Mentor
Pic Source: Tribun Jogja

Pertanyaan Dihari Minggu

Selamat hari minggu. Hari yang enak untuk beristirahat, melepas lelah atas pekerjaan atau kesuntukan dihari kerja.

Jangan bekerja atau mikir terus, nanti bisa-bisa stress lho.

Ok, daripada kita diam saja tanpa ada kesibukan, mending kita fokus pada aktivitas yang buat kita semua jadi sedikit lebih bersemangat. Setuju nda?

Setuju dong. Dengan apa? Menjalani hobi kita tentu salah satunya.

Nah, karena saya barusan lihat episode 9 drama serial Start Up di Netflix, sepertinya seru nih bahas mengenai perihal mentor atau dana, mana yang Anda pilih kalau Anda diposisi CEO perusahaan rintisan.

Lanjut ya.

Kalau Anda, Pilih Uang Atau Mentor?

Mari kita berandai-andai. Bayangkan Anda sukses membuka bisnis Anda yang pertama.

Bidangnya bisa apa saja. Bisa teknologi, maupun bisnis konvensional dengan ciri khas gaya Anda lah pokoknya. Dengan senyum bangga, Anda menapaki dunia baru, yaitu entrepreneurship.

Sip, seru kan?

Seiring berjalan waktu, bisnis Anda berkembang. Banyak tantangan disana-sini. Ok, Anda masih tetap bersemangat. Lalu Anda mulai berhenti dan memikirkan sesuatu dipersimpangan keputusan Anda.

Pilih uang atau mentor. Dimana ada yang menawarkan bisa memberikan Anda tambahan modal kerja Anda. Dan disisi lain ada yang menawarkan mentorship bisnis Anda supaya tambah maju pesat kedepan.

Anda terdiam. Mencoba menimbang-nimbang mana ya yang lebih utama.

Mari kita bahas bersama ya. Siapa tahu kepusingan Anda sedikit berkurang dengan membaca blog pribadi saya ini.

Uang atau Tambahan Modal Bisnis

Banyak yang menyediakan hal ini apabila bisnis Anda itu bagus banget secara performa dan keuangan. Ah mosok Mas Ndaru? Yups, betul.

Kalau Anda mempunyai bisnis yang bagus, kendala ini sebetulnya nda perlu Anda pusingkan.

Misalkan ya. Tadi saya bilang, Anda merintis bisnis online shop. Orderan masuk terus dari sisi pembeli. Lalu stok Anda berkurang, dan butuh tambahan dana untuk persediaan Anda.

Jangan takut, coba hubungi supplier Anda. Mungkin dengan penjelasan yang baik dan adanya termin pembayaran, Anda sudah mendapatkan tambahan modal secara tidak langsung, betul tidak?

Kecuali, bisnis Anda yang tipenya butuh investasi besar diawal dan track record Anda kurang meyakinkan untuk para pemberi modal percaya kepada Anda. Lain cerita ya.

Jadi, sebaiknya buktikan dulu kalau Anda dan bisnis Anda “Worthed” aka bernilai. Itu PeEr pemilik usaha ya.

Mentor dong Mas Jawabannya

Kalau saya, mungkin inilah jawabannya.

Dan terus terang saja, sesuai film Start Up, dimana salah seorang role yang berperan sangat besar, selain pemilik bisnis adalah mentor.

Dengan mentor yang tepat, bisnis dan Anda akan naik kelas dengan lebih cepat dibandingkan kalau Anda harus menghabiskan waktu secara coba-coba (trial & error).

Ok, mungkin Anda punya waktu tersebut, tetapi dengan mentor (yang tepat ya) kemungkinan itu akan berkurang sehingga Anda akan fokus hanya pada apa yang ingin Anda buktikan.

Pertanyaannya, bagaimana cara membuat seseorang yang sudah sibuk dengan pekerjaannya mau jadi mentor Anda? Naah, itu pertanyaannya.

Terus terang, menjadi mentor itu berat, maka dari itu saya sangat apresiasi para mentor diluar sana yang mau membagi waktu berharganya untuk mentee (anak didiknya).

Kesimpulan

Bagi saya, bisnis itu menarik karena dengan hal-hal seperti ini. Banyak variabel yang menentukan kemajuan bisnis kita kedepan.

Hubungan simbiosis mutualisme itu diperlukan. Bahkan game Mobile Legend pun memberikan satu fitur untuk main bersama mentor atau sebagai mentor bagi newbie, bisnispun sama.

So, tetap semangat ya dalam menjalani perjalanan bisnis Anda. Sukses dan Sehat selalu bagi Anda semua.

Tertarik untuk membagikan artikel ini? Silahkan ya. Atau mau berkenalan dengan saya via Linkedin? Tentu bisa, drop direct message kalau Anda mengajukan pertemanan.

Salam,

Daru

Berani Mengambil Resiko

Belajar Membuat Donut Chart di Tableau

Berani Mengambil Resiko

Berani Mengambil Resiko

Berani Mengambil Resiko
Pic Source: https://rhapsodystrategies.com/

Selamat Pagi

Pagi!

Bagaimana hari ini? Semoga Anda semua mempunyai hari yang baik untuk dimulai ya.

Tidak terasa, dari bulan Maret, kita menghadapi pandemi Covid-19. Cukup lama, 7 bulanan yang membuat hari-hari kita berbeda dari sebelum pandemi melanda.

Anda merasakan hal yang sama bukan? Yang tadinya kita bisa bepergian tanpa menggunakan masker, sekarang harus.

Bisa bekerja dikantor bersama teman-teman sekantor, sekarang harus dari rumah.

Bersyukur bagi Anda yang masih bertahan selama ini dengan bisnis, pekerjaan dan kesehatan ya, karena masih banyak teman-teman kita yang secara industri dan pekerjaan cukup terdampak karena pandemi. Semangat!

Berani Mengambil Resiko

Kata-kata yang mudah diucapkan, dituliskan tetapi sulit sekali untuk dilakukan. Setuju nda?

Apalagi kondisi pandemi begini. Resiko sudah seperti teman sehari-hari kita bukan?

Lalu pertanyaannya, Anda berani mengambilnya atau duduk diam termenung seribu bahasa dan tidak berani melangkah?

Kalau saya lihat beberapa teman saya, mereka akhirnya “terpaksa” mengambil resiko itu. Kenapa? Nda ada pemasukan kalau bergantung ke hal yang itu-itu aja Bro dan Sis.

Ya, pada akhirnya, kita semua harus mencoba. Mencoba sesuatu yang baru yang kita belum tahu apakah pilihan kita akan membuahkan hasil atau membuahkan kegagalan.

Sekarang, yang jadi prioritas adalah hasil (baik ataupun buruk) harus dicoba agar kita tahu harus bagaimana menghadapinya, betul?

Kesimpulan

Menurut saya, sekarang adalah saat yang tepat untuk kita melakukan yang namanya “Berani Mengambil Resiko”.

Kenapa? Dulu setiap orang tidak berani karena masih mempunyai pilihan. Pilihan untuk melakukan hal lain yang secara resiko nda akan mempengaruhi kenyamanan hidup mereka.

Tapi sekarang, semua orang (terutama yang kepepet) akan melakukan apapun itu agar bisa selamet dulu. Jadi, kapan Anda beraninya?

Aduh, saya jadi keinget juga nih ada beberapa hal yang saya masih berani untuk mengambil resiko karena zona nyaman yang saya ciptakan sendiri.

Yuk mari kita mengambil resiko dan menjalani hal yang kita ingin lakukan.

Salam.

Daru

Bacaan lain yang Anda bisa nikmati ya sebagai bentuk dukungan tulisan ke saya. Atau kalau ingin berkenalan via Linkedin, bisa klik tautan nama saya diatas.

Bisnis Anda Autopilot

ERP Indonesia

Pengalaman Memulai Bisnis

Pengalaman Memulai Bisnis

Pengalaman Memulai Bisnis
Source: Phactory

Saatnya Menulis

Selamat Malam, selamat malam mingguan bagi Anda yang sedang dirumah saja.

Pada saat pandemi seperti ini, sebaiknya kita mengurangi perjalanan keluar rumah agar kondisi penyebaran corona virus bisa dikurangi ya. Setujukah? Pasti setuju ya.

Sambil dirumah saja, sama dengan saya, ada baiknya saya menulis pengalaman saya saat memulai bisnis. Daripada mengerjakan hal-hal yang menyenangkan hati seperti menonton netflix atau bermain mobile legends terus-terusan, akhirnya saya memulai untuk menulis kembali.

Ok, pertama-tama, saya mau mengucapkan semoga Anda yang membaca tulisan saya kali ini diberkahi kesehatan sehingga Anda dapat beraktivitas seperti biasa dan saya berharap Anda yang sedang dalam masa yang kurang baik seperti bisnis yang kurang baik atau kantor yang sedang berjuang selama masa ini, semoga kita semua bisa melalui ini semua ya.

You’re not alone my friends. Kita semua menghadapi ini kok. Bahkan negara-negara lain juga.

Istilah kata, bisa waras saja dalam melewati ini semua kita harus sudah bersyukur. Masih banyak teman-teman kita yang kurang beruntung. Semangat ya!

Makanya saya mulai menulis lagi nih. Selain agar bisa terus berkarya dan berbagi tentang pengalaman saya, mungkin bisa menjadi pencerahan atau manfaat bagi teman-teman semua ya. Amin.

Pengalaman Memulai Bisnis

Ok, mari kita mulai ya. Tulisan kali ini tentang bagaimana pengalaman memulai bisnis.

Tentunya, ada pemilik bisnis yang memulai bisnis mereka dari jenjang karier atau pekerjaan sebelumnya.

Contoh ada client saya, yang memulai usahanya karena sudah bertahun-tahun bekerja pada tempat kerja sebelumnya.

Tentunya tidak hanya menguasai 1 atau 2 bagian, tetapi hampir semua departemen sudah pernah dijalani. Sehingga ilmu atas bisnis yang dijalaninya cukup lengkap.

Apakah Anda tipe yang seperti itu? Belajar terlebih dahulu, menguasai materi dan pengalaman dalam membesarkan tempat kerja Anda sebelumnya baru mendirikan usaha Anda sendiri?

Idealnya seperti itu ya. Kenapa? Karena selain Anda dibayar karena Anda bekerja didalam bisnis idaman Anda, pengalaman didalamnya adalah sesuatu yang menurut saya tidak bisa dibayar oleh apapun. Itu menurut saya ya.

Lalu, apa tipe yang kedua Mas Ndaru?

Sabar. Ada. Tipe yang kedua adalah tipe yang seperti saya.

Dimana saya mendirikan usaha atau bisnis saya karena saya tertarik dengan bidang tersebut dan terus belajar, sambil menjalankan bisnis diawal-awalnya. Startup, Bootstrap dan Bonek (bondo nekat).

Lalu, apakah saya merasa menyesal dengan memilih jalan tersebut?

Sebetulnya ada. He3. Tapi jangan negatif dulu ya. Saya akan coba jelaskan menyesalnya disisi dan bagian mana, sehingga Anda bisa belajar juga dari pengalaman saya.

Saya ganti playlist Spotify saya dahulu ya.

Lalu, Anda Sebaiknya Bagaimana?

Ok done. Mari kita lanjutkan.

Pertanyaannya, dari pengalaman saya, lalu Anda sebaiknya bagaimana nih, yang ternyata masi minim pengalaman dalam memulai bisnis sendiri.

Pengalaman saya, saat merintis bisnis sendiri, adalah punya visi yang kurang besar.

Itu satu hal yang terlewat dari checklist saya. Kok visi harus besar Mas?

Betul, dengan visi dan misi tentunya yang besar, Anda akan mempunyai arah yang jelas untuk bisnis dan karier Anda tentunya.

Jangan sampai tujuan Anda tidak besar dan membuat Anda putus asa ditengah jalan karena hasilnya ya segitu-gitu aja.

Bangunlah visi bisnis Anda agar Anda akan bergetar saat Anda menceritakan ke teman, keluarga bahkan tim Anda yang pertama-tama. Ok, lanjut ya.

Kedua yang penting adalah belajar mencari role model atau mentor yang sudah pernah melalui apa yang Anda inginkan.

Saya pernah baca salah satu quotes di Instagram berkata, jangan bertanya bagaimana cara mengendarai Roll Royce kepada orang yang mengendarai Toyota.

Maaf bukan bermaksud merk salah satu yang diatas ada yang kurang baik ya, tetapi hal ini mengingatkan saya, bahwa kalau saya mau ke suatu tujuan, saya musti bertanya kepada orang yang pernah kesana.

Closing Ya

Penutup. Ternyata saya sudah banyak banget nulisnya.

Pengalaman Anda ataupun orang lain adalah pengalaman yang sangat berharga. Apalagi pengalaman saat pandemi begini dan Anda sedang berjuang mempertahankan bisnis, tim bahkan keluarga Anda pada pundak Anda.

Tetap semangat. Mudah-mudahan tulisan saya mencerahkan ya. Feel free untuk berkenalan saya via Linkedin. Jangan lupa chat pada introductionnya kalau Anda kenal saya dari blog saya ya.

Daru

Bagi Anda yang sedang mencari pekerjaan karena kantor Anda sebelumnya kena efek pandemi ini, bisa mencari pada bagian karir web Sunartha ya.

Atau Anda yang senang mengutak atik data dari excel, database, kantor saya punya toolsnya dimana Anda bisa unduh trialnya secara gratis disini ya: Download Tableau Trial

Nah, tolong dukung saya supaya semangat terus menulis dengan mampir diartikel dibawah ini ya. Gratis kok. Klik, dibaca dan apabila dirasa bermanfaat, bisa Anda bagikan kok.

Memilih Bisnis Model

Cara Membuat Waffle Chart di Tableau

Terimakasih sudah mampir ya. Stay Safe dan sehat selalu.

Masi Mau Bisnis Saat Covid

Masi Mau Bisnis Saat Covid

Masi Mau Bisnis Saat Covid
Pic Source: Freepik.com

Pertanyaan yang buat Galau

Selamat hari Sabtu ya teman-teman semua.

Enaknya sabtu gini itu santai, punya aktivitas bersama keluarga, anak-anak dan menikmati hari liburan.

Kan enaknya gitu ya, tapi gimana kalau kondisinya serba terbalik.

Karena mau ada PSBB kedua, kita malah jadi pusing tujuh keliling.

Kerja serba dari rumah. Kantor gonjang ganjing dengan kondisi ekonomi. Ekonomi lesu.

Plus bonus ketidakpastian gaji karena semua serba harus bertahan dulu.

Ok, sabar, tarik nafas, kita coba rileks dulu ya.

Trus tercetuslah sebuah ide

Gimana kalau kita mulai mencicil untuk membuat bisnis aja sendiri. Good idea bukan?

Sip, ide bagus.

Setidaknya ada solusi daripada mikirin hal yang negatif tentang kasus Covid 19 yang nda jelas juntrungannya.

Tapi, pertanyaan besarnya, Masi Mau Bisnis saat Covid?

Wah, kok jadi malah tambah pusing Mas? Ini blog nda menginspirasi tenan jan.

Santai. Tarik nafas lagi. Rileks.

Saya dukung untuk buka Bisnis

Terus terang, saya setuju untuk memulai buka bisnis disaat kondisi seperti ini.

Memang, tujuannya saja yang perlu direvisi. Ini menurut saya ya.

Misalkan, dulu ingin punya usaha untuk menjadi Kaya Raya. Sekarang, dimulai dengan mendapatkan tambahan penghasilan diluar gaji yang tidak sama lagi dengan kondisi sebelumnya.

Lalu, bisnis tipe dan macam mana yang harus dibuka nih Mas Ndaru?

Cari yang mudah dan sederhana dalam prosesnya.

Jangan ujuk-ujuk buka pabrik 1000 hektar deh. Itu mah namanya bunuh diri.

Semua bisnis bisa dimulai dari Social Media, Whatsapp dan lingkaran pertemanan kita. So simple.

True, simpel saat memulai tapi challenging untuk mempertahankan dan mengembangkannya. But it’s okay. Santai aja Brur.

Kan tujuan bisnis kita beda bukan? Intinya, cari penghasilan yang simpel, ngerjain bisa disambi dan memanfaatkan jaringan pertemanan kita, tapi jangan suka maksa ya.

Ini nih penyakit yang baru buka bisnis, jualannya suka rodo maksa. Slow aja, kasi tips dan trik serta buat mereka tahu, apa yang temen-temen bisa bantu. Yang solutip gitu lho, Pesan Bu Tedjo.

Wah, sampun akeh curhat-e

Sudah banyak nih ternyata tulisan kali ini.

So, daripada yang baca bosen, mending saya sudahi ya.

Jadi ini cuma ide saya dan berdasarkan pengalaman saya ya. Jangan serius-serius amat. Saya juga nda serius kok nulisnya.

Tapi, klo mau kasi feedback dan masukan, monggo lho. Ok?

Stay Healthy, Stay humble and We can make it through this Covid 19. Amin!

Salam,

Daru

Bacaan lainnya bisa mampir dibawah ini ya. Sok atuh mampir.

Kopi, Ide dan Eksekusi

Memilih Bisnis Model

Cara Membuat Waffle Chart di Tableau

Oiya, saya sedang mencari anggota tim Sunartha nih, yang tertarik sama urusan utak-atik SQL, trus belajar buat Viz yang keren-keren sambil ngoceh sana sini tentang kejagoannya dia. Berminat? Buktikan kejagoanmu dengan apply diweb Sunartha ya. Saya tunggu lho!

Kopi Ide dan Eksekusi

Kopi Ide dan Eksekusi

Kopi Ide dan Eksekusi
Pic Source: www.birthdaywishes.expert

Selamat Pagi, Ngopi Dulu Yuk

Pagi!

Bagi Anda pecinta kegiatan minum kopi dipagi hari, meneguk segelas kopi hampir seperti ritual bukan?

Sama dengan saya. Setiap pagi, sebelum memulai hari, meminum segelas kopi, baik kopi hitam maupun kopi susu, sudah seperti sebuah kenikmatan dan semangat dalam memulai hari.

Oiya, saya minta maaf nih, biasanya saya menulis dihari Sabtu, tetapi tergeser sampai dihari Selasa.

Maklum, menunggu ide datang itu lumayan menantang bagi saya disaat menulis. Dan akhirnya ide untuk bahasan kali ini hadir juga.

Lanjut ya ngopinya sambil baca tulisan-tulisan saya seperti dibawah ini:

Bisnis Anda Autopilot

Efek Tontonan Youtube yang Bermanfaat

Sambil scroll-scroll santai disaat liburan kemarin, saya menemukan sebuah channel youtube yang dihost oleh Pak Gita Wiryawan.

Sesi kali itu, beliau diskusi santai dan serius dengan founder Kopi Kenangan. Ya, kopi kekinian yang cukup banyak dikenal oleh generasi pencinta kopi yang tidak serius-serius amat.

Kenapa, ya namanya kopi susu gula aren, kan bukan kesukaan yang terbiasa neguk kopi item pake strong pula ๐Ÿ™‚

Yang menarik saat mendengarkan mereka diskusi berdua adalah bagaimana sang founder, menjelaskan secara rinci, tujuan dan arah bisnis yang dipimpinnya dalam rentang waktu yang menurut saya, cukup luar biasa.

Padahal, buka kartu dikit ya, saat awal-awal kopi kekinian mulai ambil momentum, saya dan temen-temen sudah memikirkan dan menuliskan ide membuat kopi macam beginian yang tentunya tidak bersifat cafe atau tempat nongkrong.

Dan kita tahu, ide hanyalah sebatas ide kalau tidak ada eksekusi dan plan yang jelas.

Gimana raise fund (pengumpulan dana), pembukaan 1-2 outlet pertama, menyiapkan tim dan segudang task dan aktivitas lainnya.

Bagaimana menurut Anda? Pernahkah Anda melewatkan ide yang spektakuler dan akhirnya melewatkan bus bernama momentum didepan Anda?

Segera Yuk, Gimana Tulisan Kopi Ide dan Eksekusi?

Kesimpulan.

Saya suka dengan tulisan saya yang penuh dengan kesimpulan dan tantangan untuk saya dan teman-teman sekalian. Karna dengan begini saya ikut diingatkan, bahwa kita bisa belajar dari siapa aja dan kapan saja.

  1. Ide hanyalah sebatas ide tanpa ada realisasi.
  2. Eksekusi merupakan hal yang penting meskipun memulai dengan jumlah yang sedikit, contoh memulai usaha, mencoba berjualan atau semudah posting produk/jasa kita via social media
  3. Evaluasi eksekusi ide kita sedini mungkin sehingga kita tidak melewatkan waktu lama terbuang dan mengarahkan ke ide yang (mungkin) jauh lebih baik
  4. Berdoa. Yes, persiapan yang baik dan momentum yang tepat akan berbuah hasil.

Dan satu lagi, jangan lupa menyeruput segelas kopi ya. Boleh sambil mengingat mantan atau move on, it’s up to you.

So, sudah semangat menjalani hari? Harus.

Semangat!

Daru

Bisnis Anda Autopilot

Bisnis Anda Autopilot

Bisnis Anda Autopilot
Bisnis Anda Autopilot. Pic Source: electrek.co

Singkat Cerita

Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia Yang ke 75! Merdeka dan Jaya Selalu Negeriku Tercinta.

Dihari libur, tanggal merah ini, enaknya menulis. Sambil melepas stress dan uneg-uneg yang ada dipikiran, ya enaknya menulis.

Saya cerita dulu ya, seminggu kemarin, saya dan tim, berkendara cukup jauh, dari km nol (cawang) sampai dengan km 800 an, yaitu exit tol probolinggo.

Karena ada urusan pekerjaan disalah satu daerah di Jawa Timur, saya dan tim mengendarai kendaraan kantor kami kesana.

Bagaimana kesan dan pesannya? Luar Biasa. Jalan tol yang sudah terbentang dan jalanan yang cukup lancar selama perjalanan kami, sambil melihat pemandangan kiri kanan sawah, pegunungan cukup menghibur mata.

Dan tercetuslah pemikiran saat kami berkendara yang kurang lebih 13 jam-an itu.

Seru juga ya kalau kendaraan ini jadi autopilot, seperti Tesla, yang dimana pengemudi, cukup menikmati perjalanan, dan kendaraan secara otomatis berjalan dengan sendirinya.

Nikmat bukan? Yang pasti kita nda boleh tidur ya, pengemudi maksud saya, karena kita juga harus selalu awas dengan jalanan dan kondisi lalu lintas yang ada.

Menarik nih kalau kita bahas, bagaimana klo bisnis kita dibuat autopilot ๐Ÿ™‚

Gimana kalau Bisnis Anda Autopilot

Pertanyaan menarik. Sebenarnya, bisnis autopilot itu macam apa sih?

Apakah ongkang-ongkang kaki dan dapat duit terus? Hmm, asik juga klo bisa begitu.

Tapi ternyata, pilot pesawat pun, yang sudah autopilot, nda boleh lho tertidur saat menerbangkan pesawat. Apalagi bisnis Anda.

Coba bayangkan, Anda mengendarai kendaraan yang sudah autopilot dan sudah Anda arahkan ke tujuan yang Anda inginkan. Sebaik-baiknya sistem yang bekerja, tetap butuh Anda untuk melakukan koreksi, kontrol, inovasi supaya tetap kejalan yang benar.

Betul nda?

Iya dong, jadi menurut saya nih ya, jangan ngimpi, bisnis Anda bisa jalan tanpa Anda sebagai pengemudinya.

Apalagi bisnis yang nda punya sistem, tim dan seperangkat alat yang bisa membantu bisnis Anda maju terus.

Ini menurut saya pribadi ya.

Sepertinya Enak ya, Tapi Mulai dari Mana

Bukan sepertinya lagi ya, pasti enak kok yang namanya autopilot itu. Saya aja pengen.

Tapi mulai dari mana? That’s the question bukan?

Mulai dari mana, banyak kok yang sudah menjelaskan lebih detail dari tulisan ringan saya ini.

Yang pasti, bisnis Anda harus punya purposes dan seluruh ekosistem penunjangnya untuk menjadi autopilot.

Autopilot yang membuat bisnis Anda jalan dengan seminim mungkin keterlibatan Anda secara operasional, tapi tetap membutuhkan ide, arahan dan hal-hal lain yang membuat bisnis Anda tetap maju.

Kesimpulan

Part akhir, sebelum dibungkus. Seperti bisnis saya, Sunartha yang membantu para pemilik bisnis setidaknya berkurang task listnya untuk membuat bisnisnya kearah autopilot.

Sistem adalah salah satunya. Selain tim eksekusi yang ok ya.

Ya, dengan ilustrasi tesla diatas, apapun itu, mobil yang dapat berkendara sendiri, pastilah mempunyai sistem, data perjalanan, sederet fungsi pengambilan keputusan yang bisa membuat Anda hidup lebih nyaman.

Setuju nda? Harus ya hehehe.

So, sebelum membosankan dan tulisan ini ngelantur kemana-mana, saya sudahi dulu ya. Pikiran dan uneg-uneg sudah keluar nih. Thanks ya.

Jangan lupa mampir ke tulisan saya yang lain ya dibawah ini.

Salam,

Daru

Analisa dan Action

Smartsheet Partner Indonesia. Apa itu Smartsheet?

Memulai Bisnis Setelah Pensiun

Memulai Bisnis Setelah Pensiun

Memulai Bisnis Setelah Pensiun
Sumber Gambar: krjogja.com

Hai

Okay, selamat datang kembali diblog saya kali ini, yang secara rutin membahas tentang ide-ide, kepikiran saya, disaat waktu-waktu merenung sendiri.

Kira-kira ide menulis ini tercetus, ketika saya berdiskusi dengan orang tua saya, yang tentunya sedang memasuki masa pensiun.

Dan saya pikir-pikir juga, ternyata sudah lama beliau menjalankan masa pensiunnya, sejak secara resmi mundur dari karier profesionalnya.

Kesibukannya? Tentu melakukan aktivitas yang beliau sukai, seperti bercocok tanam ala hidroponik, melihat bursa saham dan aktivitas-aktivitas pensiunan lainnya. Minus jalan-jalan karena lagi dijaman Covid sekarang ini.

Masa Kerja, Pensiun Bingung Mau Apa

Seringkali, saat kita mempunyai kesibukan pada saat bekerja, kita melupakan mempersiapkan masa pensiun kita.

Mas Ndaru, lagi covid gini, malah mikirin masa pensiun. Lagi sibuk cari kerjaan nih Mas, pengeluaran rutin sudah mulai menggerogoti tabungan Mas. Lagipula, sulit nih nyari peluang tempat kerja lain, wong orang pada susah.

Setuju. Saya setuju 100% sama Anda. Kondisi seperti ini, covid yang membuat kita mulai berpikir, wah, sekarang aja sulit, apalagi nanti masa menjelang pensiun, atau pensiun kita nanti ngapain ya.

Semangat bagi Anda yang sedang mencari pekerjaan baru apabila tempat kerja Anda sebelumnya cukup terdampak dengan pandemik ini. Saya mendukung Anda dalam berusaha dan terus berjuang.

Bagi Anda yang masih mempunyai pekerjaan, do your best pada karier dan pekerjaan Anda, kita belum tahu ujung pandemi ini kapan berakhir, tetapi yang pasti kita harus selalu mengasah diri, sehingga kita tetap dapat berkarya dan tentunya menghasilkan untuk keluarga kita.

Lalu

Tapi begini deh, daripada temen-temen yang lagi nyari pekerjaan baru, kebingungan mencari tempat kerja baru, gimana kalau sambil belajar, teman-teman ngerintis usaha.

Yah itung-itungan, daripada nanti kalau perekonomian sudah membaik, dan mendapatkan pekerjaan seperti semula, kita masih punya bisnis kecil-kecilan yang bisa kita lanjutkan setelah masa pensiun.

Tapi inget, jangan main All Out ya semua dana dicemplungin. Ingat, seperti pepatah pemain saham, yang harus dikendalikan itu emosi, jangan rakus ya.

Menurut Kamu Gimana? Memulai Bisnis Setelah Pensiun

Dan, kira-kira menurut Anda gimana? Ok nda tuh, nyicil membangun dan memulai bisnis kecil-kecilan disaat pandemi ini?

Kalau untuk belajar, saya setuju. Tapi kalau langsung berharap bisnis Anda yang piyik langsung Anda minta dividen, aduh, jangan deh, kasian.

Tentunya, kalau mulai bisnis, jangan setelah menjelang pensiun ya. Keburu cape, keburu takut, sama keburu sering khilaf nya, napsu sama apa aja dikerjain dan ujung-ujungnya, rumput tetangga selalu lebih hijau.

Wong rumput sintetis. ๐Ÿ™‚

Ok, sudah malam, saya mau lanjut kerja dulu nih. Oiya, mau titip lowker nih. Tim saya lagi cari beberapa orang yang mau bergabung dengan kami, Sunartha, dengan membantu bisnis-bisnis yang termasuk survive melewati covid dengan optimalisasi sistemnya.

Posisi yang lagi open: C# Developer (Penempatan Bali dan Jakarta), Account Executive (Jakarta or Surabaya). Silahkan kirim CV Anda ke hrd@sunartha.co.id dengan Subject: [Posisi Kerja] Tahu dari Blog Pak Purwandaru.

Jangan lupa bacaan dari artikel saya yang lain ya dibawah ini. Ok? Siap. Makasi ya.

Bagaimana Mempersiapkan Masa Pensiun

Salam,

Daru

Bacaan lainnya: Smartsheet Partner Indonesia

Analisa dan Action

Analisa dan Action

Analisa dan Action
Adam Hadwin at the Dye Preserve Golf Club in Jupiter, FL on Tuesday, November 11, 2017. Pic Source: golfdigest.com

Relax dan Enjoy the Reading

Yes, santai saja. Sabtu-sabtu begini, sebaiknya kita mengistirahatkan pikiran kita.

Sambil bersantai bersama keluarga, ada baiknya kita membaca tulisan dan sharing yang menarik, sehingga saat kembali ke waktu bekerja, Anda sudah terisi full konsentrasinya.

Apakabar? Sehat?

Ya, saya berharap pembaca setia blog pribadi saya, sehat dan tetap sehat juga bisnis yang dijalaninya. Badai cukup besar, namun kita tidak boleh menyerahkan diri pada keadaan bukan? Setuju?

Disaat bersantai ini, saya mau berbagi tentang analisa dan action. Dua hal yang menurut saya penting untuk saya lakukan dan penting juga bagi teman-teman sekalian turut melakukannya. Kenapa?

Mari kita simak bersama ya.

Analisa dan Action

Dimulai dari kata analisa. Betul, pertanyaan saya kepada teman-teman sekalian, siapa yang sering melakukan analisa terhadap kondisi bisnis yang dijalankan.

Betul, analisa bulanan juga termasuk kok. Biasanya mencakup sisi penjualan, pengeluaran, keuangan, bahkan efektifitas bagian pemasaran. Begitu? Yes.

Bagi Anda yang sudah melakukannya, saya harus akui, bagus. Bagi yang belum, hayo, kenapa belum melakukan analisa? Apakah belum tahu mulai dari mana, atau hal yang lain?

Saya lanjut dulu ya. Action. Atau aksi. Siapa yang melakukan kegiatan yang disepakati setelah melakukan analisa?

Sebagian sudah dan sebagian belum. Baik, tidak apa-apa. Yang belum, saya coba bantu ya.

Perulangan dan Hasil

Tahukah Anda. Kedua hal diatas, apabila dilakukan secara rutin dilakukan, efek dan hasil yang didapat akan jauh lebih baik daripada tidak dilakukan? Setuju ya? Harus dong.

Contohnya kantor saya saja ya. Kami tiap minggu melakukan rapat evaluasi. Umumnya terbagi menjadi 3 bagian, operasional, keuangan dan sales marketing. Standar ya.

Ditiap rapat evaluasi, kita harus menyampaikan data-data terkait hasil yang kita dapat selama implementasi strategi yang kita jalankan. Contoh bagian saya ya. Marketing.

Saya menjelaskan, bagaimana efeknya apabila kata-kata kunci dan segmen market yang kita bidik dan spend budget ads, terhadap ketertarikan prospek untuk menghubungi.

Dan itu kita lakukan secara rutin evaluasinya. Entah sampai berapa lama kita sempurnakan akhirnya kita dapatkan beberapa formula dan rumusan yang tepat dibandingkan awal-awal strategi yang kita jalankan.

Betul, prinsip kami adalah trial and error sebanyak dan serutin mungkin sehingga hasil yang kita dapat akan terus bertambah secara nilai dan volume. Sepakat ya?

Bagaimana dengan Anda? Mau mencoba?

Sekarang Anda, bagaimana nih? Mau mengikuti jejak kami?

Untuk mencoba dan melakukan analisa serta action lebih lanjut dari strategi yang sudah dilakukan? Harus ya.

Apalagi disaat kondisi ekonomi diera pandemik Covid begini. Semua ilmu yang kita miliki, harus kita uji coba sehingga akan didapatkan hasil yang optimal dibandingkan strategi lainnya.

Sekedar tips, kami menggunakan Tableau Business Intelligence sebagai salah satu tools yang kita pakai untuk melakukan testing dan analisa tersebut.

Sumber datanya? Banyak. Dari ERP Acumatica (kami pakai ini juga) kombinasi dengan google ads dan kadang excel juga. Kalau saran saya untuk Anda, gunakan data-data yang Anda miliki.

Dan juga, kami secara rutin membuat event training online lho tentang Tableau. Tertarik? Setiap sabtu, setengah hari selama 2 hari, Anda bakal dapat ilmunya.

Saya bagi e-flyer dan kontak tim saya ya, Mba Euis disini: 0815-8690-2500

Mau coba dulu secara gratis software Tableau? Boleh, klik tautan disini ya untuk dapatkan free trialnya. Monggo: Download Link Tableau Trial Disini

Ingin berdiskusi dengan saya terkait topik-topik bisnis atau ada ide tulisan yang kira-kira bisa membantu bisnis Anda, silahkan connect dengan Linkedin saya dibawah ini ya.

Salam,

Daru

Jam Terbang

Belajar Tableau

Jam Terbang

Jam terbang. Mungkin istilah ini populer dikalangan pilot apabila ada kejadian khusus contoh kecelakaan. Berita selalu mengangkat berapa jam terbang pilot tersebut selama masa kariernya.

Jam Terbang

Pic Source: Pinterest

Tapi saya ga mau membahas tentang pilot ya. Yang mau saya bahas adalah jam dibidang bisnis. Konsepnya sama saja. Berapa lama kamu, kita semua menekuni bisnis kita. 5 tahun? 10 tahun? bahkan lebih.

Korelasi dengan Bisnis – Jam Terbang

Nah, apa korelasinya dengan bisnis nih. Pilot dengan jam terbang yang tinggi, biasanya sudah menghadapi banyak kejadian-kejadian mendebarkan didalam kariernya. Sama dengan pelaku usaha atau pebisnis.

Mulai dari krisis ekonomi, krisis internal didalam perusahaan, ditipu orang dll. Nah, pantes apabila orang bank bilang, kita ga mau kasi pinjaman ke perusahaan yang seumur jagung (eh umur jagung bulanan ya? ups salah) yang umurnya dibawah 2 tahun.

Kenapa begitu? karena bank dan investor tidak mau meresikokan dananya (meskipun yang peminjam mempunyai aset). Itu kuncinya. So, insight kali ini adalah, perbanyak jam Anda, perbanyak kegagalan (tetapi kegagalan yang terukur ya). perbanyak pertemanan dan sharing session.

Kenapa? Karena dengan itulah kita jadi mempunyai jam terbang yang lebih tinggi. Jam terbang yang lebih tinggi membuat kita lebih awas, perhatian, dan tau cara bersikap apabila mendapatkan tantangan dalam mengelola bisnis, setuju?

Kesimpulan

Nah, mulai dari sekarang, kita mulai mendaftar, kegiatan apa yang membuat jam terbang kita semakin tinggi lagi. Mulai dari sekarang dan kita akan mendapatkan ilmunya.

Karena apapun itu, ilmu yang kita miliki, tidak akan valid atau teruji, kalau kita tidak mempraktekannya. Sesuai gambar diatas, bahkan Bruce Lee pun takut sama orang yang sudah mempunyai pengalaman tinggi, meskipun 1 jurus aja.

So, bagaimana dengan Anda? Kalau saya sih, saya coba dan praktek terus, meskipun kenyataannya, sulit, sangat sulit.

Tetapi tidak apa, kita musti coba dan coba terus ya. Jangan khawatir akan hasil, berproses saja.ย Selamat belajar.

Regards,

Daru

Apabila ada teman-teman yang ingin berdiskusi lebih lanjut tentang bisnis dan usaha bisa menghubungi saya dan tim dinomor Whatsapp berikut: 0815-8690-2500

Tulisan saya yang lain, yang mungkin Anda perlu dan wajib baca nih. Silahkan.

Berani Beda

Laporan vs Analisa