Belajar Tableau

Belajar Tableau

Tableau adalah software yang membantu manajemen dalam mempercepat pengambilan keputusan berdasarkan visualisasi data.

Bisnis saat ini memerlukan proses yang serba cepat. Cepat bukan berarti tidak akurat. Cepat bukan juga berarti tidak berdasarkan data.

Menariknya, menjalankan bisnis sekarang tidak semudah menjalankan bisnis 10 – 20 tahun sebelumnya. Mungkin kalau Anda mencobanya sekarang, dengan gaya 10 – 20 tahun lalu, pilihannya adalah maju sekencang-kencangnya dan masuk ke jurang, ups.

Tidak mengkerdilkan pilihan action now lho ya. Artinya sekarang, menjalankan bisnis haruslah Anda seumpama berkendara dengan cepat tetapi selalu siaga terhadap semua kondisi yang ada.

Nah, apa hubungannya dengan belajar Tableau?

Tableau bisa membantu kita, pemilik bisnis, untuk mempercepat pengambilan keputusan berdasarkan data yang kita miliki.

Contoh sederhananya. Menentukan efektifitas kampanye marketing.

Kemarin saat saya berdiskusi dengan teman saya yang berbisnis distribusi yang berhubungan dengan kendaraan seperti shampo mobil, oli dan lainnya. Saya bertanya, apakah sempat menganalisa berpengaruh tidak antara kampanye via beberapa media dengan penjualan?

Jawabnya, belum. Ok, lanjut saya, kenapa? Karena belum tahu bagaimana cara melakukan evaluasinya. Ok. Menarik saya bilang. Bagaimana kalau Anda siapkan datanya dan saya siapkan tools untuk analisanya. Kita tunggu episod kedua ya..

Contoh menarik tersebut, membuat saya berfikir. Apakah masih banyak perusahaan dan pemilik bisnis yang saat ini sedang berjuang sekuat tenaga untuk meningkatkan penjualan tapi tidak tahu caranya. Bagaimana berjuang melakukan efisiensi untuk meningkatkan profitabilitas tetapi tidak tahu caranya.

Ya, sebenarnya jawabannya sudah ada melalui data yang mereka miliki. Tetapi bagaimana mempermudah dalam pengambilan keputusan lah yang ternyata sulit. Istilahnya dibadminton, umpan lambung tinggal dismash saja.

Ok, coba saya berikan ilustrasi salah satu hasil dari Tableau dashboard.

 

belajar tableau
belajar tableau

Kalau gambarnya terlalu kecil, tolong diklik saja ya supaya membesar.

Seharusnya memutuskan sesuatu berdasarkan informasi semudah itu. Cabang mana yang profit? Profit dan Loss dari produk apa? Dan masih banyak lagi pertanyaan kalau dilanjutkan.

Jadi, usul saya. Apabila Anda tertarik untuk belajar Tableau untuk kemudahan pengambilan keputusan bisnis Anda, segera hubungi kami untuk kami aturkan workshopnya.

Tertarik untuk membaca artikel lainnya tentang Tableau, coba lihat: Workshop Tableau Server yang ini.

Hubungi kami via email di ask@sunartha.co.id atau telp ke kantor kami dengan Euis.

Salam,

Daru

Sasar Manufakturing, Acumatica dan Sunartha tawarkan ERP berbasis Cloud

Sasar Manufakturing, Acumatica dan Sunartha tawarkan ERP berbasis Cloud

Sunartha selaku partner dari Acumatica Cloud ERP di Indonesia yang mempunyai fokus pada bidang manufakturing. Saat ini kebutuhan akan sistem ERP berbasis cloud sudah banyak disampaikan oleh perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur.

Sebut saja salah satu perusahaan manufakturing sisir untuk mesin garmen berlokasi di Jawa Barat, membutuhkan sistem ERP yang dapat membantu mereka dalam menyediakan informasi dari sisi pembelian, persediaan, penjualan dan yang terutama dari sisi produksi.

Sunartha selaku prinsipal JAMS di Indonesia (JAMS merupakan modul manufaktur pada Acumatica Cloud ERP) juga sudah menyelesaikan implementasi dibeberapa pabrik lain.

Seperti diindustri karoseri, industri kimia dan untuk industri makanan.

Acumatica dengan rilis terbaru saat ini, versi 6.10 menawarkan kecepatan dan stabilitas produk yang baik sehingga para pebisnis yang berinvestasi pada Acumatica merasakan perbedaannya dari sisi operasional bisnis mereka.

Profesi Kekinian Yang Akan Dibutuhkan Dimasa Depan

Profesi Kekinian Yang Akan Dibutuhkan Dimasa Depan.

Saya bukan peramal atau profesi sejenis yang bisa melihat masa depan. Tetapi saya ingat sekali pembicaraan ketika saya berdiskusi dengan teman lama yang sudah cukup lama tidak bertemu.

Daru, inget nda teman-teman kita yang memutuskan untuk mengambil kuliah dibidang perminyakan?  Kata dia. Ya, saya ingat sekali. Hampir semua teman saya yang mengambil kuliah tersebut, langsung melejit saldo rekening bank-nya he3, saya tidak bercanda.

Booming harga minya dunia membuat hampir semua orang yang bekerja disektor tersebut menikmatinya. Apakah saya iri dengan mereka? Tentu tidak, karena menurut saya rejeki sudah ada yang mengaturnya. Setuju?

Mari kita lanjutkan. Lalu, setelah minyak dunia harganya mengalami kontraksi seperti sekarang ini, apa donk profesi yang akan menjadi primadona berikutnya? Pertanyaan yang bagus.

Tanggal 20 Mei 2017 kemarin, hari sabtu, saya menghadiri sebuah acara meetup yang diadakan oleh DataScience Indonesia. Komunitas yang mewadahi para data scientist (peneliti data mungkin istilah Indonesianya) dan pihak-pihak yang tertarik mengenai bidang ini.

Pembicara pertama, Pak Satrio Prabandaru (yang namanya mirip sama saya, ada daru-nya) memberikan insight yang sangat menarik dan harus saya bagikan ke teman-teman sekalian mengenai profesi ini.

Profesi ini muncul karena ada kebutuhan bisnis user atau pelaku bisnis dimana saat ini data dikumpulkan dalam skala yang terbilang sangat banyak dan cepat. Tahu dari mana? Ok, sekarang nda usah jauh-jauh saja. Euforia startups dan Big Data lah salah satu pencetusnya. Dimulai dari Google dan kawan-kawannya seperti Facebook.

Mereka (perusahaan tersebut) memperkerjakan banyak orang untuk melakukan analisa terhadap data yang dimiliki. Untuk apa? Tujuannya adalah untuk memahami dan memberikan insight kepada bisnis user apa yang harus dikerjakan kedepannya sehingga ide tersebut bisa dieksekusi dan meningkatkan value atau nilai kedepannya.

Sebagai contoh sederhana saat Pak Satrio bercerita. Dianalogikan sedotan sebagai data. Sedotan yang kita tahu fungsi dan nilainya digunakan untuk kita menyedot suatu minuman? Setuju?

Nah, apakah Anda tahu bahwa sedotan dapat dibuat udang-udangan untuk umpan pancing dengan ditambahkan kail dan pemberat? Menarik?

Sama dengan data. Data yang hanya 1 sisi, akan berbeda apabila digabungkan dengan data lainnya, sehingga didapatkan nilai dan memberikan masukan terhadap bisnis.

Disinilah data scientist ikut andil dalam proses tersebut. Jadi, pertanyaannya apakah orang biasa-biasa saja seperti saya bisa menjadi data scientist? Jawabannya, kenapa tidak? Tetapi seperti Pak Satrio bagikan, ternyata ada skill set yang para peminat profesi ini harus kuasai. Pasti donk!

Nah, skill set-nya apa saja? Karena banyak, saya bagikan yang menurut saya penting ya.

Menurut saya, salah satu skill yang terpenting dipelajari bagi yang tertarik adalah bagaimana menjadi storyteller hasil analisa data.

Iya. Kenapa begitu? Karena setahu saya, sehebat apapun analis data tersebut bisa membuat suatu insight yang menarik bagi audiens-nya, tetapi saat bercerita kurang meyakinkan, pasti gimana rasanya.

Bercerita mengenai data pekerjaan yang tidak mudah. Menceritakan runutan dan logika bagaimana data tersebut dianalisa sampai pada kesimpulannya dan menyakinkan tidaklah semudah membuat slide. Kita harus bisa menarik perhatian dan bercerita seperti mendongeng menurut saya (tapi bukan mendongeng dan membuat ngantuk ya).

Ilmu kedua yang perlu adalah bagaimana mendapatkan data tersebut, membersihkan dan mengolahnya. Ilustrasi yang tepat disini adalah data scientist itu mirip chef. Chef yang hebat adalah chef yang bisa membuat masakan sesuai dengan kebutuhan penikmat makanan dan mengerti mengolah bahan-bahan yang ada. Dan bahan tersebut standar-standar saja.

Jadi, pekerjaan yang kekinian ini, apakah mudah atau susah Mas Ndaru? Menurut saya gampang-gampang susah. Gampang dipelajari, namun sulit untuk dikuasai. Seperti Chef, diperlukan jam terbang yang cukup untuk suatu menu yang biasa namun bisa menjadi luar biasa ditangan yang tepat.

Mungkin saya akan berbagi lagi dipart kedua ya supaya tidak terlalu panjang. Oiya, berkenalan dengan saya di Linkedin apabila Anda ingin berdiskusi lebih lanjut atau email ke saya di daru@sunartha.co.id.

Salam,

Daru

 

 

 

Apa sih hubungan ekonomi Riil dengan Pertumbuhan ekonomi?

Apa sih hubungan ekonomi Riil dengan Pertumbuhan ekonomi?

Baru-baru ini saya melakukan riset sederhana. Sederhana karena risetnya tidak memenuhi kualifikasi riset yang baik dan benar. Saya ngaku ya. Jadi kalau salah, ya namanya juga riset sederhana.

Riset ini berdasarkan interview alias ngobrol-ngobrol. Yak, kapan? Saat saya dipelanggan saya. Saat saya dijalan. Saat dimana saya bisa berdiskusi dengan narasumber yang bisa saya temui.

Hipotesa saya berdasarkan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan salah satu yang terbaik didaerah asia. Sehingga asumsinya adalah dengan pertumbuhan ekonomi yang baik, teori mengatakan bisnis riil (bisnis yang menyentuh hajat hidup orang banyak) pasti tumbuh. Setuju?

Ok. Saya catat dulu ya siapa yang setuju dan siapa yang kurang setuju.

Tetapi, hipotesa saya sangat berketerbalikan dengan kenyataan dilapangan. Kenapa? Mari kita telisik bersama.

Tahun lalu, saya sempat menawarkan program ERP kepada salah satu produsen pakaian didaerah Bandung. Manajemen serta tim yang saat itu saya ajak bicara, mengatakan bahwa 2-3 bulan sebelum lebaran, mereka menggenjot produksi pakaian mereka karena segmen pakaian mereka pelanggan yang merayakan Idul Fitri.

Ok. Asumsi saya adalah, tahun lalu, 2015 adalah tahun dimana bisnis sedang lesu-lesunya. Selesu kucing saya sebelum mendapat makan pagi.

Ada informasi tax amnesty. Ada ketidakpastian karena harga komoditi. Dan masih banyak lagi informasi global yang mungkin buat pemilik bisnis agak nda mood. Yes, actually bisnis by mood memungkinkan juga terpengaruh ya.

Fast forward ke tahun 2016. Saya menanyakan kepada salah satu customer saya di Bandung juga. Informasi yang saya dapatkan adalah sebaliknya. Para produsen garmen, beberapa bulan sebelum hari raya, sepertinya tidak bergairah seperti tahun lalu. Nah lho? Kenapa demikian?

Bukankah pertumbuhan ekonomi kita baik-baik saja? Bukankah tax amnesty lancar jaya? Bukankah harga komoditi sudah mulai membaik? Masalahnya ada dimana?

Itu yang membuat saya berfikir (sok mikir seperti pemerhati ekonomi saja Mas Ndaru). Korelasinya apa donk. Bukankah setiap asumsi pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat yang memutar roda perekonomian.

So, what’s the problem?

Merhatikan nda kalau belanja di Matahari sekarang diskon sudah angkanya agak kacau? Yes, diskon 70%. Setelah itu dikasi voucher belanja pula. Wow.

Menurut analisa saya (yang tentunya belum tentu benar dan belum tentu salah juga). Saat ini ekonomi Indonesia sedang dalam masa transisional. Mirip gubernur baru dan lama gitu deh.

Transisi dari serba ngerem belanja. Iya, saat ekonomi membaik, semua jor-joran belanja. Saat ekonomi memburuk, semua ngerem belanja. Saya aja uda nahan belanja iPhone 7 lho, curcol.

Nah, masa transisional ini, membuat masyarakat (mirip politisi ngomong) menjadi galau. Bingung. Apakah sekarang saat yang tepat untuk belanja? Apakah pemerintah sekarang bisa membuat ekonomi bangkit lagi? Apakah (dan masih banyak pertanyaan lainnya).

Jadi mungkin saya perlu diskusi dengan Ibu SMI (yang mungkin sudah punya jawaban saya, karena saya termasuk mahasiswa yang kurang cerdas) untuk pertanyaan saya.

Apakah saat ini pemerintah sudah tahu atas masalah ini? Soalnya dan karena kalau ini dibiarkan terlalu lama, efek berantainya yang agak susah kedepannya. Contoh : kalau masyarakat nda belanja, kasian pedagang dimana barang dagangan tidak laku, kasian produsen tidak bisa produksi dan ujungnya PHK karyawan (dengan alasan efisiensi).

Dan efek berantai terus menerus sehingga saya tidak tahu apakah jadi perekonomian semakin menurun, dibawah 5% mungkin.

Meskipun saya dukung pemerintah sekarang lagi jor-joran bangun infrastruktur sampai 4ribu Trilyun (banyak ya nolnya). Tetapi tolong diperhatikan masyarakat juga agar tetap semangat belanja Pak-Bu. Kasian bisnis Riil merasa tambah berat bebannya.

Kembali lagi ke disclaimer saya diatas. Analisa saya belum tentu benar dan salah. Ini hanyalah opini saya semata. Tidak ada kaitan dengan sponsor atau apapun. Hanya cerita dan mencoba merangkai titik-titik yang terserak.

Ditunggu komentar dan masukannya ya teman-teman yang ikut merasakan hal yang sama dibisnisnya.

Salam

Daru