Tips Memilih Customer untuk Pengusaha Pemula

Tips Memilih Customer untuk Pengusaha Pemula

Tips Memilih Customer untuk Pengusaha Pemula
Sumber : Harvard Business Review

Selamat Datang Pengusaha Pemula

Bagi Anda yang saat ini sudah memutuskan untuk mencoba jalan sebagai pengusaha, saya ucapkan selamat ya! Menurut saya, pilihan Anda merupakan pilihan yang tidak mudah. 

Tidak mudah diputuskan karena biasanya keputusan ini lebih ke sifat kepepet daripada memilih beberapa opsi. Betul? Kalau Anda benar-benar memilih karena keinginan Anda (dan bukan karena kepepet) saya ucapkan selamat sekali lagi.

Wiraswasta seperti petani. Kenapa? Karena tidak ada ada pilihan lain. Tetapi lebih sedih petani. Ada yang tahu? Ya, menjadi petani itu (menurut saya) banyak ketidakpastian dan variabel ketidakpastian tersebut banyak bergantung ke kebijakan pemerintah. 

Wiraswasta atau pengusaha gimana? Meskipun sama atas banyak ketidakpastiannya, tetapi sudah banyak contoh yang suksesnya. 

Nah, kali ini saya mau bahas tentang 1 topik yang menurut saya menarik untuk dibahas, Tips memilih customer untuk pengusaha. 

Sebelum melanjutkan membaca, Anda sekalian pernah mengalami kegagalan? Tulisan saya yang lalu bahas tentang hal tersebut. Mampir juga ya : Kegagalan Kebangkitan dan Proses Belajar


Tips Memilih Customer untuk Pengusaha Pemula

Kenapa saya mulai dengan topik ini. Karena menurut pengalaman pribadi saya, memilih customer (bukan topik sebaliknya ya, customer yang memilih Anda) itu cukup krusial untuk periode awal Anda mendirikan bisnis.

Tips 1 Cari Customer yang Memiliki Termin Pembayaran yang Baik

Ok, saya langsung to the point aja nih. Seringkali, pengusaha pemula, senang mendapatkan customer. Apalagi sudah susah-susah nyari customer bukan? Dengan segala jurus marketing, sales, dan apapun itu, akhirnya dapat customer baru.

Seperti saya juga pada awal mendirikan bisnis (oiya, bisnis yang saya jalani sekarang bukan bisnis pertama saya ya, masih banyak pengalaman gagal juga kok, santai saja, Anda tidak sendirian) itu kesenangan saya juga. Mendapatkan customer yang akhirnya beli produk atau jasa kita.

Seiring berjalannya waktu, saya dan tim akhirnya mencoba untuk melakukan pemilihan, kira-kira prospek yang kita dapatkan ini memang ideal sebagai customer kita atau tidak. 

Salah satu indikatornya adalah kemampuan bayar dan komitmen bayarnya. Terkadang ada customer yang bernama besar, dengan kemampuan bayar baik tetapi komitmen bayarnya ini yang agak-agak diragukan? Pernah bertemu seperti itu?

Pastinya kesel bukan, Anda sudah kerja cape-cape dan customer bilang, termin bayarnya 90 hari ya (atau 3 bulan) pake plus-plus. Sedih. Nah, supaya nda mengalami pengalaman seperti saya, sok disiapkan metode melakukan survey ke prospek sebelumnya terkait topik ini.

Tips 2 Sebaiknya cari Customer yang sudah tahu produk dan jasa Anda

Punya pengalaman seperti ini? Prospek Anda beli dari Anda tapi nda tahu cara menggunakan atau ternyata salah menggunakannya. Pengalaman saya lagi nih. Waktu saya jualan minuman aloe vera, berbentuk kubus seperti nata de coco.

Ada pembeli yang termakan iklan shampoo aloe vera dan Anda tahu kan endingnya seperti apa? Iya, dia menggunakan produk yang salah untuk bagian tubuh yang salah. 

Sama halnya dengan produk dan jasa yang unik dan tidak mudah dipahami oleh customer. Sebaiknya Anda edukasi terdahulu. Tanpa melalui edukasi, tim support Anda yang akan babak belur ditanyakan terus oleh pelanggan. Ujung-ujungnya bisnis jadi terhambat.

Berikut beberapa Tips Memilih Customer untuk Pengusaha Pemula. Semoga mencerahkan ya dipagi hari ini. 

Saya juga sedang mencari tim untuk handle data analis dikantor saya, siapa tahu ada yang tertarik untuk join, bisa langsung ke tautan berikut : Jobs

Pekerjaannya tiap hari berkutat sama data dan visualisasi menggunakan Tableau.

Salam,

Daru

Kegagalan Kebangkitan dan Proses Belajar

Kegagalan Kebangkitan dan Proses Belajar


Kegagalan Kebangkitan dan Proses Belajar
Kegagalan Kebangkitan dan Proses Belajar

Preambule

Selamat malam Mas dan Mbak pembaca setia blog saya yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu. Terutama para silent reader saya yang terus memberikan dukungan untuk saya terus menulis. 

Ternyata sudah cukup lama juga ya hobi menulis saya ini saya tekuni. Bermula dari kebutuhan untuk mencurahkan pikiran, uneg-uneg, perhatian untuk bidang bisnis dan entrepreneurship yang saya geluti dan jadikan profesi.

Bermula dari hobi, eh akhirnya ketagihan untuk menulis sejak saya mulai menganalisa kira-kira bacaan dengan topik apa saja yang disukai. Tools yang saya gunakan yaitu Google Analytics. Dan tentunya belajar SEO sedikit-sedikit sehingga beberapa kata kunci masuk dan terindeks oleh Google.

Lanjut ya, poci-pocinya stop dulu. Malam ini mau bahas tentang topik kegagalan, kebangkitan dan proses belajar. Dan apa relevansinya dengan bidang usaha dan entrepreneurship. 


Sebelum melanjutkan bahasan saya malam ini, monggo mampir disini ya Memilih Pasangan untuk baca sharing saya terbaru. 


Kegagalan Kebangkitan dan Proses Belajar

Banyak para pelaku usaha yang sudah sukses, pasti ditanya tentang bagaimana cerita mereka menuju ke kondisi sekarang, yang banyak orang menganggap sebuah kesuksesan. 

Sukses kalau menurut saya, bukanlah suatu tujuan. Jadi kalau mudik, kebetulan lokasi Mbah saya tinggal disebuah kota kecil di Jawa Tengah, kalau sudah sampe tujuan tuh rasanya plong banget.

Ternyata bukan saudara-saudara. Sukses itu bukan seperti itu. Karena apabila kita menganggap sukses sebuah tujuan, maka kita akan berhenti berproses setelah kita sampai. 

Makanya saya coba bahas, bahwa untuk mencapainya, dibutuhkan proses tersebut. Proses yang saya alami sendiri bahwa ternyata belajar itu adalah sebuah proses didalam sebuah kesuksesan. 

Contoh salah satu usaha yang saya dan tim jalankan sekarang. Sun Artha, yang kemarin kita sempat buat event dengan Prinsipal Acumatica Cloud ERP untuk industri manufaktur, selengkapnya bisa dibaca disini: Event Manufaktur 

Bagi sebagian teman saya, kondisi saya sudah dibilang sukses. Kalau menurut saya pribadi, saya juga masih banyak belajar kok. Belajar dari pelanggan, belajar dari vendor/prinsipal, bahkan belajar dari komunitas bisnis dan teman-teman yang ada. 

Karna saya tahu, begitu kita berhenti belajar dan beradaptasi dengan kondisi, terutama kondisi bisnis ya, sepertinya bisa dengan mudahnya keluar dari ring persaingan. Apalagi bidang IT ya. 

Kesimpulannya

Kesimpulannya ya dari sharing saya kali ini dengan judul Kegagalan Kebangkitan dan Proses Belajar. Kalau mau mencoba mandiri dengan mendirikan usaha sendiri, persiapkan diri Anda dengan yang namanya kegagalan. 

Saya yakin juga kok, meskipun kita profesional dibidang kita sekarang atau bekerja dengan orang lain pun pada awalnya pasti akan gagal dahulu dan kita belajar dari kegagalan terus.

Gagal dan kebangkitan menjadi 1 paket yang tidak terpisahkan untuk menuju yang namanya kesuksesan. Jangan lupa belajar, berproses dan memberi pengertian kepada diri sendiri (dan tim tentunya) untuk hal ini.

Setuju?

Salam,

Daru


Saat ini, saya dan tim sedang mencari seseorang yang sangat menyukai proses ngutak atik data. Setiap harinya akan menggunakan dengan software Tableau Business Intelligence  dan mempelajari tentang visualisasi data yang keren serta mengajarkan ke customer kita. Tertarik? Kirim CV Anda kesini ya Loker.

Memilih Pasangan

Memilih Pasangan

Memilih Pasangan
Memilih Pasangan

Coba Nulis Topik Ini

Selamat Sore. 

Ditengah-tengah kesibukan saya hari ini, akhirnya sampai juga pukul 17.11 dimana saya bisa menulis hal-hal diluar kerjaan. 

Ya, kesibukan yang tiada hentinya, namun akhirnya weekend datang juga, Jumat lho sekarang. Jadi bisa agak sedikit lega dengan hari sabtu dan minggu didepan mata.

Kesibukan saya tidak lepas dari menulis konten untuk bisnis dibeberapa blog, mencoba dan mencoba lagi software yang kami dipercaya sebagai partnernya di Indonesia. 

Meeting dengan beberapa teman untuk pengembangan usaha baru terkait data dan pemanfaatan data bagi industri seperti marketing agency, distributor automotif dan masih banyak lagi. 

Cape? Pastinya. Tapi menyenangkan bahwa skills dan knowledge yang kita miliki bisa membantu orang dalam mengembangkan bisnis orang.

Tertarik untuk bergabung dengan kami dan tim kami? Kami lagi cari nih yang akan fokus didivisi business intelligence. Ok, kerjaannya bakal sibuk dibagian apa? Tentunya diaktivitas, menyatukan data, merapihkan data, membuat visualisasi di Tableau. Lowongan kerjanya disini ya. 


Lowker : Business Intelligence Consultant 


Eh, malah bahas tentang kerjaan. Ok ok, balik ke tentang memilih pasangan ya. 

Memilih Pasangan

Kenapa saya nulis topik ini, karena kemarin itu lagi hangat-hangatnya topik memilih pasangan wakil presiden. Ada 2 kubu, pentahana dan penantang yang ternyata sama-sama nyari wakil. 

Ternyata, krusial juga ya posisi wakil atau klo distartup namanya co-founder. Selain untuk mengimbangi gaya leader or founder, co-founder juga bisa menjadi pasangan yang ideal bagi gaya pemimpinnya.

Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memilih pasangan baik pasangan dibisnis, pasangan dikehidupan cinta atau pasangan diorganisasi sama sulitnya?

Sulit bukan karena apa? Karena kita harus mencari yang tepat bukan? Bukan ideal ya, yang tepat. Jurus ngeles klo ditanya soal pasangan hidup.


Sambil nulis, saya mendengarkan lagu ini dulu lho


Dan jangan lupa baca tulisan saya sebelumnya ya: Bisnis Anda Selamanya


Kesimpulan

Setelah saya menulis diatas, kesimpulan yang bisa saya dapatkan adalah ini. Kita harus dengan tepat mencari pasangan yang sesuai dengan gaya kita. 

Kalau Anda adalah Founder yang ahli dibidang teknis, mungkin perlu cari pasangan yang lebih dibidang sales dan marketing. 

Bukan ideal ya, tapi sepadan. Setuju?

Salam,

Daru

Apakah Bisnis Anda Selamanya?

Apakah Bisnis Anda Selamanya?


Sumber Gambar : Mensxp.com

Pertanyaan

Seringkali pertanyan tersebut muncul dibenak saya, disaat saya berkendara, setelah bertemu dengan klien yang memiliki bisnis lebih dari puluhan tahun didalamnya.

” Bisnis Saya bisa Bertahan Sampai Selama Itu Nda Ya? “

‘Question by Daru’

Terkadang, ingin juga mempunyai warisan bisnis yang masi bisa dilanjutkan secara terus menerus oleh tim yang professional. Tetapi tidaklah mudah. Kenapa?

Membuat bisnis yang bisa self sustain atau mampu bertahan hidup melewati tantangannya. Sedangkan tantangan bisnis sekarang sangatlah dinamis.

Yes, belum sempat merasa mapan, eh sudah ada inovasi dan terobosan terbaru dari bisnis-bisnis rintisan berbasis teknologi. Ataupun kompetitor yang selalu mengawasi gerak-gerik bisnis kita. Meleng sedikit, sudah didahului. 

Apakah itu yang Anda rasakan juga? 


Jangan lupa mampir disharing saya lainnya seperti :
Trotoar dan Bisnis


Apakah Bisnis Anda Selamanya?

Nah, pertanyaannya, Apakah Anda ingin menjalankan bisnis Anda selama mungkin atau memang Anda berniat untuk segera memberikan tampuk pimpinan tersebut ke profesional disekitar Anda?

Mungkin kalau masih semuda saya (cie yang ngaku masi muda) akan tetap lanjut dulu dong ya menjalankan bisnis. Lagi seru-serunya nih. Mosok dikasi ke orang lain?

Sambil dengerin lagunya Rendy Pandugo yg I don’t Care ya

Lagipula, nanti kan dikasi juga ke profesional juga klo sudah tiba saatnya. Betul nda? Sama nda pemikiran saya dengan Anda? Sama lah ya. 

Tetapi, saya juga berpikir, alangkah lebih baiknya apabila sedari sekarang, sambil merintis bisnis Anda nih, bagaimana kalau mempersiapkan sistem yang nanti apabila saatnya tiba, Anda bisa fokus bukan didalam bisnis, tetapi dipengembangan bisnis kedepannya.


Oiya, jangan lupa mampir diartikel lainnya yang dibuat oleh tim saya ya, Cara menganalisa Data Keuangan Menggunakan Tableau


Tahapannya bagaimana? Ya mulai membuat sistem yang bisa membantu pemilik bisnis melakukan kontrol dan pelaporan aktivitas bisnis meskipun dipercayakan ke orang profesional. 

Salah satunya menerapkan sistem terintegrasi seperti ERP. Atau menerapkan sistem berupa dashboard yang dapat memberikan update bisnis ke pemilik melalui perangkat smartphone seperti Tableau. 

Saya berikan contohnya ya kalau dari keduanya itu. 

Acumatica Cloud ERP


Tableau Video

Ok, dengan melihat seperti itu, mudah nda sih kalau kita menerapkan sistem dibisnis kita? Saya rasa sih iya.

Tertarik untuk berdiskusi mengenai topik ini? Silahkan menghubungi tim saya, Mba Euis dinomor whatsapp berikut ini 0815 8690 2500 

Atau ingin berkenalan dengan saya melalui Linkedin saya?

Sukses ya untuk bisnis Anda.

Salam,

Daru