Millennials Haruskah Punya Rumah

Millennials Haruskah Punya Rumah

Millennials Haruskah Punya Rumah
Millennials Haruskah Punya Rumah. Sumber gambar: klikcair.com

Home Sweet Home

Selamat Malam.

Sambil menikmati malam mingguan, baik yang masih menjomblo atau yang sudah berpasangan, boleh dong sembari memikirkan seperti foto diatas, nanti kalau sudah menikah dan punya rumah sendiri, gambaran rumah itu seperti apa. Betul nda?

Kalau yang masih menjomblo, mungkin jangan jauh-jauh mikir cari rumah, mending cari calonnya dulu, he3… Piss ya.

Ok, topik kali ini bener-bener membuat saya berfikir. Menurut studi yang ada, millennials itu kemungkinan tidak akan bisa membeli rumah lho! Shocking bukan? Tapi apa benar sih? Sampe segitunya?

Atau apakah ada solusi lain, bagi para millennials ini yang kepingin punya rumah sendiri, or apartment atau tetap serumah dengan ortu, selama-lamanya? Hmm, yuk kita bahas semuanya satu per satu ya.

Siapkan cemilan, minuman hangat dan tentunya camilannya bukan nasi goreng atau mie godog ya, melar nanti.

Hasil Analisa

Sebelum saya mulai, mampir dong ke artikel yang saya tulis sebelumnya, saya berikan linknya ya: Beda Permainan Beda Strateginya

Support saya dengan mengklik link tersebut atau kalau boleh tolong bagikan juga ya kalau berguna. Terimakasih!

Lanjut ke topik kita. Menurut hasil riset dan analisa tersebut mengatakan millennials terancam tidak sanggup membeli rumah sendiri. Ok, mari kita telaah bersama, apa sih alasannya.

  • Pastinya Penghasilan dan Nilai Properti itu Sendiri

Millennials, yang dibilang kelahiran tahun 1983 keatas, saat ini dalam masa bekerja ditahap-tahap awal karena memang baru lulus. Nah, bagi yang beruntung dan bekerja ditempat yang bonafid (bukan bandeng ya) akan mendapatkan reward yang wuah.

Tapi bagi yang lulusan dengan IPK dua koma aja uda syukur dan skill pas-pasan, kira-kira nasibnya gimana? Padahal harga rumah dengan tanahnya saja di Jakarta ini sudah muahal. Bener Muahal. Klo kata Atta Halilintar apa? Syiiiaaap?

Nah, penghasilan pas-pasan ktemu dengan properti yang muahal jadi nda nemu tuh. Ujung-ujungnya PIM (Pondok Indah Mertua).

  • Kenaikan Harga Properti Tidak Sebanding Dengan Tabungan

Ini alasan juga. Gimana mau ngejar, wong tabungan aja nda nambah-nambah. Apalagi pas ditabung, bukannya nambah banyak, malah abis digerogotin admin bank. Sedih!

Jadi, udah nda manjur lagi tuh alasan ngejar properti pake tabungan. Yang ada, musti ngejar properti pakai investasi, mungkin lebih cocok. Makanya, sekarang millennials banyak yang sudah mulai tertarik dengan investasi saham dan reksadana. Bayangkan, anak magang dikantor saya saja sudah nanya, kira-kira saham apa ya yang bagus untuk dikoleksi? Mantab!

Millennials Haruskah Punya Rumah – Solusi

Lalu, solusinya apa dong Mas?

Haruskah kita punya rumah dan nyicil KPR seumur hidup? Kembali lagi ke Anda-anda semua sih.

Kalau Anda merasa dan harus butuh banget yang namanya rumah, maka mulai persiapkan semuanya, DP untuk beli rumah, angsuran per bulan yang tidak mencekik bulanan Anda. Dan siap-siap juga biaya turunannya ya. Ingat, rumah bukan investasi tapi bisa membuat Anda tidak kehujanan dan kepanasan. Ciee!

Dan setelah saya googling solusi millennials diluar sana, ternyata ada lho startup di US yang berfikiran, bagaimana kalau dibuatkan seperti Airbnb tapi untuk millennials for housing. Ok, menarik bukan?

Konsepnya seperti Coworking Space, mungkin mirip Kostan ala ekslusif (but kayaknya cocok untuk yang masih jomblo aja deh). Begitu sudah berkeluarga, ya harus cari own house atau apartment kalau ingin terjangkau didalam kota Jakarta.

Intinya, kurangi pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu. Investasikan waktu kita dan uang hasil kerja keras kita untuk peningkatan skills sehingga karier or bisnis klo case saya, bisa meningkat pesat dan berharap bisa membeli rumah dengan Cash Keras, tanpa cicil KPR lama-lama. Setuju?

Sponsor dulu ya. Bagi yang sedang mencari pekerjaan dibidang consulting untuk implementasi sistem untuk perusahaan-perusahaan, saya dan tim sedang cari nih. Banyak. So, tertarik, email ke hrd@sunartha.co.id dan attach CV Anda.

Kerjaannya seru. Clientnya perusahaan-perusahaan besar. So, kapan lagi bisa kerja tidak membosankan. Ditunggu CV-nya. Mau segera kebeli rumah kan? Cheers!

Salam,
Daru

Sunartha sebagai Partner Tableau dan Acumatica di Indonesia, saat ini banyak membantu perusahaan yang bernaung dalam grup besar. Dan kami membuka lowongan consultant untuk kedua produk tersebut. Join ya.

Beda Permainan Beda Strateginya

Beda Permainan Beda Strateginya

Beda Permainan Beda Pula Strateginya
Beda Permainan Beda Strateginya. Sumber Gambar : dynamicbusiness

Bisnis Seperti Permainan

Selamat sore. Selamat datang kembali ke blog saya kali ini yang akan membahas topik diatas.

Saya mau mengucapkan permintaan maaf terlebih dahulu karena kesibukan saya dengan pekerjaan sehingga waktu menulis saya menjadi cukup tersita. Tetapi karena saya sudah komitmen, akan saya coba kembali, menulis secara rutin.

Blog saya, bagi Anda yang baru pertama kali membaca, akan lebih fokus membahas tentang bisnis, sistem informasi dan topik-topik kekinian yang menurut saya menarik untuk diulas.

Mari kita lanjutkan. Sambil saya memutar video youtube dibawah ini dari Do As Infinity.

Betul, bisnis seperti permainan. Permainan yang membutuhkan keahlian, pengalaman, kerja tim dan segudang hal lainnya.

Menariknya pula, setiap kali kita sudah berhasil menyelesaikan permasalahan pada suatu level, kita akan menemui tantangan berikutnya dan seterusnya sampai akhirnya tamat, apabila dalam permainan.

Sebelum melanjutkan, bagi Anda yang belum membaca tulisan saya tentang Faktor Kali, mungkin bisa mampir ya.

Strateginya

Bisnis saat ini, kalau menurut saya, cukup menarik dengan adanya beberapa jenis dan modelnya.

Mulai dari jualan kopi seperti tuku, kopi kenangan, kopi kulo dan kopi-kopian lainnya. Sampai dengan unicorn seperti Gojek, Tokopedia dan lain-lainnya.

Bisnis idenya sederhana, cuma strategi dan SKALA-nya yang cukup menggemparkan, kalau menurut saya.

Seperti bisnis yang saya jalankan sekarang. Apakah bisa seperti mereka-mereka ini? Belum tentu, secara pemahaman saya ya. Karena memang kami hanya fokus pada niche market, spesific B2B dan dengan kemampuan beli yang diatas rata-rata.

Artinya, kami secara bisnis sudah didesain untuk melayani sedikit pelanggan. Sehingga kualitas output bisa diawasi dan dipertanggungjawabkan.

Beda halnya dengan yang saya sebutkan tadi diatas sebagai contoh. Nda mungkin kan jualan kopi 1 cangkir kita hargai, umpamanya IDR 250rb? Siapa yang mau beli? Mungkin jual 10 dalam sehari aja sudah Excellent!

Lain halnya dengan kopi kenangan, yang dengan bandrol IDR 18rb dan cabang yang terserak dimana-mana. Apa yang diincar? Mass product dan scale up!

Beda Permainan Beda Strateginya

Nah, beda banget bukan? Tidak bisa disamakan ya. Bagi Anda yang sedang ingin merintis bisnis, desain dari awal seperti ini haruslah dibahas dan diresapi dalam-dalam.

Jika tidak, merubah ditengah jalan akan menyebabkan bisnis yang kita jalani mengalami turbulensi (posisi tidak uenak).

Bagi temen-temen yang ingin memulai bisnis, namun takut, tenang, Anda bisa memulainya sambil menguasai ilmu-ilmunya, dengan bergabung ditim saya.

Posting iklan dulu boleh dong ya. Kami di Sunartha  sedang mencari tim nih, banyak bahkan untuk menjadi konsultan dibidang implementasi sistem seperti ERP dan Business Intelligence.

Tidak familiar dengan istilahnya? Tidak apa-apa, akan kita ajarkan sembari jalan. Permasalahannya, ilmunya mahal. Jadi harus benar-benar yang tertarik dan suka sama hal yang beginian.

Mau bergabung? Gampang, mampir ke web kami,
Sunartha dan masuk kebagian career. Atau kami juga membuka lowongan dibeberapa job directory seperti indeed dan loker.

Kalau yang sudah bekerja dan tetap tertarik dengan tools-tools bisnis yang kami gunakan dan biasakan implementasi, bisa hubungi tim saya, Mba Euis dengan nomor whatsapp berikut 0815 8690 2500 (linknya diklik aja, nanti akan buka whatsapp langsung kok, jam kerja ya).

Selain itu, tolong mampir juga diartikel saya lain seperti membahas tentang solusi manufaktur di Indonesia atau Implementasi Tableau untuk industri keuangan.

Selamat berlibur dihari Imlek ini, Selamat Merayakan bagi teman-teman yang merayakannya.

Salam,

Daru