Kenapa Perusahaan Mencari Fresh Graduate

Kenapa Perusahaan Mencari Fresh Graduate

Kenapa Perusahaan Mencari Fresh Graduate
Kenapa Perusahaan Mencari Fresh Graduate. Pic Source: idntimes.com

Selamat Bagi Anda Yang Sudah Lulus Kuliah

Ok, sebelum saya masuk ke topik bahasan sharing blog saya kali ini. Saya mau mengucapkan selamat bagi Anda yang sudah dinyatakan lulus dalam masa perkuliahan.

Jadi inget waktu masih mudah dulu (lah, kesannya sudah tua ya), begitu saya menghubungi salah satu intern yang tahun lalu ditempat kami, sunartha.

Ketika saya menghubungi, saya tanyakan kabarnya dan bagaimana skripsi? Jawabnya, sudah beres dan sudah lulus nih Pak. Wah, selamat ucap saya.

Memang 2 orang mahasiswa yang intern ditempat kami, terbilang pintar dan pandai bergaul, ingat saya ketika mereka saya interview sebelumnya.

Good job guys and girls.

Bagi Anda yang baru join dan baca blog saya, selamat datang. Jangan lupa baca tulisan saya (curhat lebih tepatnya) yang lain ya. Ok? Enjoy your time.

Kenapa Perusahaan Mencari Fresh Graduate

Judul diatas saya ambil, karena saat ini, kami di sunartha cukup mempunyai kendala dalam mencari dan mendidik yang namanya tim (kalau startup dibilang talent ya).

Kenapa tidak, kami bergerak dibidang jasa atau services. Dimana pekerjaan yang berjalan pastinya membutuhkan tim untuk melakukan pekerjaannya.

Spoiler sedikit ya, bisnis yang kami jalani saat ini bergerak dalam kategori konsultasi kepada perusahaan menengah dan besar dalam hal implementasi teknologi yang membuat bisnis customer kami tambah maju.

Contoh dalam adopsi teknologi analisa data menggunakan Tableau dan juga seperti implementasi Cloud ERP seperti Acumatica. Yes, kedua produk tersebut merupakan produk dari luar Indonesia asalnya.

Lalu topik yang saya bawa sekarang, kenapa rata-rata perusahaan seperti kami ini mencari fresh graduate atau teman-teman yang baru lulus kuliah? Idenya sederhana, karena teman-teman yang bergabung pasti akan mendapatkan coaching lagi.

Artinya lulus dari perkuliahan belum tentu akan dapat langsung kerja (kalau ditempat saya ya). Saya baca-baca juga, bahkan di perusahaan startup pun sama juga.

Dilema Saya dan Teman Bisnis Lainnya

Yang menjadi dilema bagi saya dan mungkin bagi teman-teman pemilik bisnis lainnya adalah disaat kita membutuhkan tim baru untuk mengisi posisi tersebut, akan ada yang namanya jeda waktu.

Betul, jeda waktu karna kami harus mencari dahulu talent yang akan kami coaching. Itupun sulit. Tim saya curhat, Pak CV yang masuk ke kita itu banyak banget, tapi kenapa secara background kok sulit ya untuk menentukan, apakah kita panggil atau nda.

Nah, bener-bener dilema kan. Bagi bisnis, untuk hiring itu mudah. Tetapi menemukan metode untuk mencari apakah dia orang yang tepat, itu sulitnya minta ampun. Jadi kayak nyari pacar ya? He3, let’s continue.

Sudah gitu, klo misalkan ok, proses coachingnya pun butuh resources, selain waktu, pendampingan, proses dan masih banyak lagi.

Sulit? Pasti. Buat kita dan buat teman-teman yang baru join.

Solusi atas Permasalahan Kita Bersama

Saya jadi berpikir. Kalau misalkan masalah ini banyak ditemui oleh para pemilik bisnis, manajemen bisnis, masak nda ada solusinya sih?

Secara kami terlatih (atau kepepet lebih tepatnya) mencari solusi atas permasalahan client, saya jadi berpikir, apakah mungkin ya kita mengadakan intern proses (bukan probation ya) saat menerima kandidat yang mungkin kita anggep qualified untuk posisi tersebut.

Jadi gimana nih teknisnya?

Yang pasti, bukan probation konsepnya tetapi lebih mengenalkan pekerjaan yang akan dikerjakan kepada kandidat tersebut dalam skala yang mereka akan pahami dan waktu yang lebih pendek.

Mungkin seperti MDP kali ya. Jadi akan ditandem dengan para senior yang sudah paham proses kerjanya dan mereka akan diberikan role sesuai dengan kemampuan mereka.

Interesting? Harus nih. Curhatnya jadi panjang ya ternyata.

Menurut kalian bagaimana? Karena terus terang saya melihat, kok sayang ya dari sekian banyak CV yang masuk, kok kita nda bisa proses atau at least saya kasi kesempatan.

Tapi kesempatan juga termasuk hal yang buat para pelaku bisnis harus hitung dengan cermat bukan? Ok, mungkin tulisan ini bisa saya lanjutkan dengan topik yang sama ditulisan yang berbeda.

Jangan lupa mampir ditulisan saya yang lain seperti dibawah ini ya. Ok? Thanks.

Cara Mengembangkan Bisnis

Pelatihan Tableau di Jakarta

Regards,
Daru

Cara Mengembangkan Bisnis

Cara Mengembangkan Bisnis

Cara Mengembangkan Bisnis
Cara Mengembangkan Bisnis. Pic Source: Anirban chakraborty

Dilema Pemilik Bisnis

Selamat Pagi.

Di minggu yang teduh ini, saya menulis lagi di blog pribadi saya, purwandaru.com

Blog yang berisi tentang apa saja yang menjadi pemikiran saya, sambil lewat, supaya nda lupa dan bisa juga berbagi pengalaman tentang apa yang saya rasakan saat merintis, melalui tantangan dalam mendirikan dan menjalankan bisnis.

Karena saya berniat untuk mengurangi mengkonsumsi kopi, jadi slogannya bukan sambil nyeruput kopi kenangan mantan (sori ya) sekarang saya meneguk air putih saja, lebih sehat dan lebih natural he3.

Ok, back to topic, saya bagi tulisan kali ini pertama adalah dilema untuk pemilik bisnis. Yes, bagi Anda yang saat ini sedang bermimpi untuk merintis bisnis, bacaan ini bisa juga untuk referensi bacaan Anda.

Tapi kalau Anda yang yang sedang menjalankan dan mengelola bisnis, pasti Anda merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan. Betul, dilema bagi para pemilik bisnis adalah bagaimana saya dapat mengembangkan bisnis yang saya miliki.

Maka dari itu banyak sekali seminar dari pembicara-pembicara bisnis yang membahas topik ini. Pasti dong Anda pernah mengikuti seminar atau talkshow yang membahas hal ini? Saya pun juga kok.

Sambil memutar playlist di spotify, cari yang cozy seperti Olivia Wong.

Lanjut?

Mampir dulu dong di tulisan saya yang lain dibawah ini

Analisa Bisnis Film Gundala. Terimakasih yang sudah mampir ya.

Cara Mengembangkan Bisnis

Lalu bagaimana caranya Mas Ndaru?

Pengalaman saya terdahulu dan membaca pengalaman dari pemilik bisnis yang lain. Cara mengembangkan bisnis sebenarnya konsepnya sama.

Sama bagaimana ya? Sama dalam artian, bisnis yang bisa dikembangkan adalah bisnis yang pada setiap tahapannya sesuai dengan persiapan yang pemilik bisnis sudah kerjakan.

Seperti hal nya mengerjakan pekerjaan rumah waktu kita sekolah dulu. Dari tingkat dasar, menengah sampai atas (ketauan umur dong saya ya, karna sekarang sudah beda penyebutannya) pasti tugasnya berbeda-beda.

Bisnis pun sama. Tahap merintis akan punya tantangan sendiri, ekspansi dan tahap maturity (istilah manajemen bukalapak itu grown company).

Pertama, kita harus tahu, kita ada dimana nih fasenya. Kalau dulu saat saya merintis dengan modal pas-pas-an, fokus saya cuma satu. Survival.

Dengan artian, karna background keluarga orang keuangan, rajin tuh yang namanya mantengin laporan keuangan, duit sisa berapa di bank untuk bayar gajian tim. Bukan saya ya, tapi tim.

Mulai Dari Mana

Lalu kalau mengembangkan caranya gimana Mas? Sabar.

Pengembangan itu akan pas dan tepat kalau Anda sudah berhasil membuat bisnis Anda itu setidaknya tidak mengalami yang namanya kalau saya bilang bocor alus, aka bisnis yang Anda jalankan sebenarnya rugi.

Btw, yang kita bahas ini bukan ranah startup yang unicorn, decacorn ya. Ini konvensional bisnis. Klo Anda memang fokus disitu, ya gas pool aja, tapi pake itungan ya.

Pengembangan bisnis bisa dimulai dari horisontal, maksudnya bisnis Anda diekspan ke lini usaha lain (which is menurut saya berat nih, ngomong gampang). Misalkan dari tadinya jual kuliner martabak trus buat butik pakaian.

Kalau yang saya lakukan yaitu vertikal, yaitu fokus ke satu segmen tetapi melengkapi produk atau jasa yang similar atau mirip.

Mungkin karna bisnis saya terkait dengan jasa ya, jadi kualitas harus terus dijaga dengan baik. Ini contoh salah satu lini kami yang terbaru

Pelatihan Tableau di Jakarta

Nah, setiap strategi tadi (ada 2 ya) itupun harus direncanakan dengan baik-baik. Karena kalau pakai dana internal, harus hati-hati, hasil uang jerih payah dan keringat lho.

Jangan lupa mempersiapkan tim yang tepat, ini juga salah satu challenge dan strategi pemasaran dan branding yang tepat. Banyak belajar saya disini.

Gimana, makin kebayang nda? Yuk diskusi lebih lanjut. Bisa add Linkedin saya dibawah ya untuk diskusi lebih lanjut.

Saya udahin dulu ya. Nanti kita lanjutkan lagi. Happy Sunday.

Salam,

Daru

Analisa Bisnis Film Gundala

Analisa Bisnis Film Gundala

Analisa Bisnis Film Gundala
Analisa Bisnis Film Gundala. Sumber Gambar: Liputan6

Film Superheroes Indonesia

Selamat hari sabtu pagi.

Sudah menyelesaikan tugas-tugas rumah dipagi hari ini? Dan sambil menikmati sarapan aka brunch, enaknya sambil baca tulisan ringan saya kali ini.

Tulisan ringan mengenai film Gundala. Yups, film yang baru tayang dengan sutradara Joko Anwar yang sukses dengan film-film bergenre horor sebelumnya.

Disclaimer dulu ya, saya nda akan bahas review tentang filmnya, tapi bahas soal bisnisnya dari film pertama dari Jagad Bumi Langit. Mirip Marvel Cinematic Universe (dugaan saya ya) yang akan berlajut dengan film superheroes berikutnya.

Nda akan ada spoiler dan totally dari pemikiran saya pribadi ya. Kalau mau komentar, monggo, tapi komentar yang mendukung ya Mas dan Mba.

Eh btw, kantor saya, sunartha.co.id kemarin sempat buat Giveaway tiket nonton Gundala untuk 3 pemenang pas kita launch IG sunartha.co.id. Sori telat infoinya.

Next time ok?

Kalau mau bacaan agak berat, sok mampir ditulisan dibawah ini.

Ada Apa Dengan Cinta? Ternyata Ada Apa Dengan Jurnal Pembalik

Tips Memilih Akuntan

Analisa Bisnis Film Gundala

Film Gundala yang saya baca artikel terakhir di Liputan6 sudah menembus 1 juta penonton. Wow, congrats. Btw kita nda akan bahas menembus Hollywood dulu ya, itu sutradara yang lain.

Kalau dianggap rata-rata harga tiket sebesar 50rb maka dikali 1 juta penonton sudah membukukan sales sebesar 50 Milyar sampai tanggal 5 Sept 2019. Jualan macem apa nih yang bisa sampe M dalam waktu kurun seminggu? Ya filem.

Setidaknya, pencapaian kali ini membuat para investor, saya lihat ada Ideosource ikutan disini, legacy pictures dan beberapa nama seperti Om Erick Thohir bisa tersenyum bahagia.

Kenapa tidak? Menurut saya lho ya, momentum film itu penting. Inget DC yang berusaha dengan Superman, Batman dkk. Pusing tuh untuk mengangkat klo momentum yang dibuat nda ada tractionnya, aka sepi peminat.

Saya pun tergelitik untuk memberikan tiket giveaway karena mungkin sisi nasionalis saya muncul kali ya. Superheroes Indonesia kok nda ada unjuk giginya sih, padahal makhluk halus sukses diangkat dilayar lebar he3, just kidding.

What’s Next Mas Joko?

Pertanyaan berikutnya. Selanjutnya apa?

Kalau melihat rancangan besarnya, mungkin akan dilanjutkan dengan the next superheroes. Mungkin ada saja nama-nama yang sudah familiar seperti, Si Buta dari Goa Hantu. Atau yang lain? Who knows?

Kalau saya sih tahu, what’s next untuk temen-temen yang sudah baca, mampir dong ke artikel baru seperti dibawah ini untuk mendukung saya dalam menulis terus tiap sabtu.

Belajar Membuat Startup Digital

Mengelola Proyek Sistem Informasi

Terimakasih yang sudah mampir ya. Really appreciate.

Masih penasaran nanti kalau sudah keluar film kedua, ketiga dan berikutnya. Nanti saya coba bantu buatkan trendnya via Tableau yups, BI Tools kekinian yang Anda bisa coba trial gratis selama 14 hari.

Contoh visualisasi yang sudah saya buat ada juga di Tableau Public.

Dan kalau bagi Anda yang jago jualan, jago komunikasi dan tentunya senang cari duid, bisa bergabung sama tim kami, langsung aja japri ke Mba Euis dinomor whatsapp berikut: 0815 8690 2500 untuk apply langsung.

Bisa juga via website sunartha.co.id dimana Anda bisa drop CV temen-temen, nanti tim saya, Mba Taniya, akan followup. Ok?

Wah, harus sepedaan dulu nih. Thanks uda baca ya.

Salam,

Daru

Yakin Kemampuan Anda Menjual

Yakin Kemampuan Anda Menjual

Yakin Kemampuan Anda Menjual
Yakin Kemampuan Anda Menjual. Pic Source: Liputan6.com

Santai Dulu

Selamat hari Minggu yang indah dan cerah ini.

Sambil bersantai dengan keluarga dan menikmati segelas teh hangat tawar di pagi hari ini, kita bahas satu topik yang membuat saya tergelitik untuk menulis nih.

Yups, soal jualan. Ilmu wajib nih bagi Anda yang saat ini mau mencoba mempunyai usaha sendiri dan cocok juga untuk bacaan ringan bagi Anda yang sudah mempunyai usaha sendiri.

Kenapa ujug-ujug (bahasa jawanya tiba-tiba) saya ingin menulis ini? Karena kemarin, sabtu, saya bertemu dengan mitra bisnis kami yang berbisnis bisnis process outsourcing untuk marketing agency.

Nah, sambil terpikir-pikir, menarik juga nih klo saya sharing tentang topik, disaat seperti ini, kita gimana yakin strategi atau kemampuan menjual kita (sebagai pemilik usaha dan mengelola tim penjualan) udah bener atau nda ya?

Seru kan? Monggo diseruput dulu teh hangatnya. Segar. Jangan lupa saya ngemil camilan kecimpring (stok waktu saya dari Bandung kemarin).

Bagaimana Cara Kita Tahu Jualan Kita Tepat

Pertanyaan mendasar, bagaimana cara tahunya Mas Ndaru? Simpel. Menurut saya ya, kalau Anda punya masukan atau feedback lainnya, monggo diinfokan.

Saya cari playlist Korea dulu di-spotify ya, biar nda bisa nyanyi tapi sambil lancar nulisnya. Sebentar. Btw, sambil menunggu saya ganti playlist, monggo mampir artikel tim saya tentang keuangan dibawah ini ya. Trims sudah mampir.

5 Tips Mengatasi Permasalahan Pembukuan Usaha

Lanjut. Mudah cara menganalisanya. Apakah pelanggan ideal Anda yang beli produk atau jasa Anda berdasarkan data penjualan yang masuk.

Contoh nih. Saya pasang iklan di-IG trus saya kasi iklan untuk mengiklankan Film Gundala. And you know what? Yang tertarik dengan iklan tersebut rentang umurnya, 16-24 tahun, pria dan none of them mampir ke web saya.

Failed? Yes. Totally wrong ideas. Sedangkan segmen kami, sunartha.co.id (mampir ya) adalah male/female, ages 35-40 years, owned multiple business. Yes. artinya apa? Salah Mas Bro. Coba dipikirkan kembali strateginya.

Got the idea? Yups, pastinya dapet. Klo segmennya adalah emak-emak millenials, dengan anak bayi, pasti cara komunikasi, pasang socmed dan gaya bahasa beda dong ya? Tentunya.

Nah, dengan begitu, kita bisa optimal fokus dikegiatan kita untuk mencari, ini pada dimana sih target market kita supaya target penjualan kita masuk per bulan or per tahun.

Ok, minum dulu teh-nya sambil direnungkan dulu.

Yakin Kemampuan Anda Menjual

Sekarang sudah yakin sama kemampuan menjual Anda? Masih ragu juga? Harus buat artikel part 2 dong nih.

Sabar, saya ibadah dulu ya, nanti saya lanjutkan lagi. Tetapi supaya support saya dan tim tolong mampir diartikel berikut dibawah ini ya. Thanks.

Belajar Membuat Startup Digital

Belajar Technical Acumatica

Salam,

Daru