Bagaimana Kalau Anda Ditawari Dana 15 Milyar?

Ditawari Dana 15 Milyar

Ditawari Dana 15 Milyar
Ditawari Dana 15 Milyar. Pic Source: Ben Lim

Bacaan di Sabtu Pagi

Selamat pagi. Apakabar? Sedang menikmati hari sabtu Anda? Yups, kita harus menikmatinya, karena senin-jumat kita sudah bekerja keras, saatnya melepaskan kepenatan seminggu yang lalu dihari ini dan besok.

Bagi Anda yang sedang mencari-cari kendaraan baru, bisa mampir juga ke acara GIIAS 2019 yang sedang dilangsungkan di ICE BSD. Belum sempat mau kesana euy, mungkin sedang penuh-penuhnya. Karena biasanya kalau saya beli kendaraan, nda dipameran tapi diperiode dimana distributor sedang sepi order, he3, bisa ditiru ya.

Ok, pertanyaan kali ini saya dapatkan idenya ketika saya bersepedaan (statis). Gimana kalau Anda (atau saya) ditawari dana 15 Milyar Rupiah untuk membuat suatu perusahaan baru.

Pertanyaan jebakan ya? Sama. Saya juga ;langsung memutar otak, bagaimana cara menjawabnya. Harus mulai dari mana. Usaha seperti apa. Dan tentunya, yang menawari minta apa dari dana yang kita puter tersebut?

Menarik bukan topik bahasannya? Harus dong. Selagi siap-siap lanjut baca berikutnya, tolong disruput dulu kopi atau tehnya. Sambil ngemil marie regal juga enak. Aduh, jadi pengen.

Mulai dari Mana

Kalau ditanya mulai dari mana, saya akan jawab, mulai dari ide. Yups, ide gratis kan? Ide bisa Anda dapatkan dari hasil merenung, dari teman-teman. Tapi ide seperti apa yang bisa bernilai 15 Milyar.

Kita ambil contoh ya usaha yang sedang kekinian. Kopi. Yups, semudah ide bisnis kopi, atau orang biasa kenal dengan nama coffee shop, yang menjamur.

Buat coffee shop itu tidaklah mahal. Yang mahal adalah sewa ruangan atau space. Semakin tinggi trafficnya atau calon pembeli, maka semakin mahal. Contoh space dimall atau pusat perbelanjaan. Lalu, apa bedanya antara warung kopi yang biasa dan yang tidak biasa.

Kita lihat case startup kopi dan warung kopi pada umumnya. Yang membedakan (dan tentunya yang diberikan dana 15 Milyar lebih) adalah yang punya target atau visi menjual 3 juta cup per hari. Itulah yang membedakan.

Jadi, ide yang kita miliki, harus valid akan scale dan market-able ya. Bukan sebatas omset, yah laku 15-50 cup per hari uda cukup kok Mas. Mending nda usah. Gimana? Nangkep ya?

Next, setelah dari ide yang seperti itu, lanjutnya apa? Tentunya tim yang bisa handle bisnis dengan size atau skala sebesar itu. Pengalaman pribadi saya ya, banyak client saya yang bisnisnya nda siap karena tim yang mengerjakan terbiasa mengerjakan size bisnis yang mereka tahu.

Jadi begitu mendapatkan tantangan yang lebih tinggi lagi, kelimpungan sendiri untuk mengelolanya. Apakah timnya mudah didapatkan? Tentu saja sulit. Bayangin kalau kita punya pemain bola untuk liga primer tapi tim yang kita miliki liga tarkam, jauh kan?

Ditawari Dana 15 Milyar

Tugas Anda berikutnya, mencari pihak yang mempunyai dana sebesar itu. Sekarang banyak sekali venture capital atau angel investors network yang melakukan promosi untuk membantu Anda (dengan imbalan balik kedepannya).

Tapi kalau saya, sebelum bertemu dengan para pihak keuangan tersebut, pastinya harus membuat proyeksi keuangan, syukur-syukur bisnisnya sudah punya laporan keuangan sebelumnya.

Tertarik untuk diskusi dengan saya dan tim saya? Boleh, ini nomor teh Euis ya yang Anda bisa japri. Klo kita ditawari untuk mengembangkan bisnis Anda kedepan, kita juga tertarik kok. Oiya, nomornya disini ya 0815 8690 2500

Ingin diskusi lain tentang bisnis, pengembangan bisnis, atau coba tools tentang bisnis seperti ERP, project management dan Business Intelligence, bisa kok. Caranya add dulu Linkedin saya dibawah, dibagian nama saya. Dan klik tautan diatas ya klo ingin info lebih lanjut.

Salam,

Daru

Artikel lainnya yang kami sarankan untuk Anda baca dan berguna seperti:

Cloud ERP Indonesia

Bagaimana meningkatkan Value diri

Bagaimana Meningkatkan Value Diri

Bagaimana Meningkatkan Value Diri

Bagaimana meningkatkan Value Diri
Bagaimana meningkatkan Value Diri. Source: thriveworks.com

Value dan Gaji sebanding kah?

Selamat Pagi. Tertarik membahas tentang topik ini. Antara value dan penghasilan (gaji) sebenarnya sebanding nda sih? Topik berat ya. Yuk kita simak bersama.

Saya pernah melihat ada seseorang dengan penghasilan yang lebih besar daripada rekannya yang seumuran dan lulusan yang sama. Lalu perbedaannya ada dimana? Kok yang satu bisa lebih besar dari yang lain?

Kalau saya lihat, ada beberapa variabel yang menentukan. Pertama, skill atau value dari orang tersebut. Betul kalau Anda memiliki skill yang saat ini didunia ini tidak ada yang memiliki, pastinya Anda akan dicari bukannya malah mencari, setuju nda?

Contohnya dokter spesialis (bahkan kalau ada super spesialis). Ada juga saat ini profesi yang kekininian, Data Scientist, dimana gabungan dari skill statistika, programming dan analytics, waduh, dengernya aja uda njelimet bukan?

Variabel kedua, saya lihat adalah momentum. Bisa jadi dulu didunia kerja, profesi atau skill tersebut sedang dibutuhkan banget. Tetapi begitu Anda sudah mempelajarinya, bisa jadi sudah outdated atau ada teknologi yang menggantikannya.

Contohnya adalah petugas penjaga pintu tol. Ya, dulu dibutuhkan, sekarang digantikan oleh mesin yang otomatis mengayun sendiri. Sedih bukan?

Lalu bagaimana meningkatkan Value Diri

Pertanyaannya, bagaimana caranya? Yang pasti selalu dan siap belajar. Kita nda pernah tahu skill apa yang akan dibutuhkan kedepannya. Setuju? Tapi yang kita tahu adalah trend kedepan kira-kira seperti apa.

Contohnya data scientist yang kita bahas tadi diatas. Semakin banyak perusahaan atau startup yang membutuhkan penerjemah data yang dimiliki, profesi itu akan semakin dibutuhkan.

Misalkan trend otomatisasi kedepan semakin tinggi, mungkin programmer dengan kemampuan IOT akan dibutuhkan juga.

Seringlah mendatangi komunitas-komunitas yang seringkali berbagi tentang trend kedepannya. Bisa komunitas teknologi seperti startup, kuliner atau topik-topik yang menyenangkan.

Mulai dari mana?

Mulai sekarang. Ya, mulailah browsing untuk cari-cari skill apa yang menarik untuk dipelajari kedepannya. Bisa dari skill pengolahan data, skill buat powerpoint yang menarik.

Sudah? Belum. Baca dong artikel lainnya dibawah ini untuk mendukung blog saya. Atau kalau mau berkenalan via Linkedin, bisa langsung klik tautan dinama saya dibawah.

Daru

Baca artikel lain yang berguna untuk Anda dan bisnis Anda

Dream Big About Your Business

Belajar Tableau Creator 2019.2

Dream Big About Your Business

Dream Big About Your Business

Dream Big About Your Business
Dream Big About Your Business. Pic Source: TeePublic

How Big

Selamat pagi. Apakabar? Sepertinya sudah lama banget ya nda menulis blog disini. Ya, mungkin lebih dari 2 minggu lalu. Mungkin karena kesibukan dan keteparan saya disabtu kemarin membuat saya harus skip menulis lagi.

Kenapa saya tiba-tiba menulis ini? Mungkin karena saya mempunyai waktu lebih untuk merenungkan ketika saya istirahat dan juga ada series of meeting dengan teman-teman dan kolega saya, yang membuat saya tertarik untuk menganalisa lebih lanjut tentang topik ini.

Ok, kita mulai saja gimana? Lanjut ya. Btw, saya akan coba komit untuk menulis ditiap sabtu, dimana topiknya akan tidak jauh dari soal bisnis, sharing knowledge dari pengalaman saya dientrepreneurship, topik terbaru tentang management tools dan yang lain.

Sebelum saya mulai, coba jawab pertanyaan ini sebelumnya. Apabila Anda mempunyai bisnis sendiri, apakah Anda pernah bermimpi, bisnis yang akan Anda jalankan akan sebesar apa? Misalkan: akan mempunyai revenue sekian puluh juta dollar atau akan punya tim seribu orang.

Pernahkah Anda berandai-andai seperti itu?

My Experience

Pertanyaan yang sulit bukan? Sulit. Bahkan untuk saya sendiri. Saya tidak membayangkan bisnis yang dirintis akan sebesar apa, bagaimana cara membesarkannya, apalagi sampai skala seperti itu. Mustahil!

Apakah benar hal itu mustahil? Mewujudkan mimpi jadi kenyataan? Bisa iya, bisa tidak. Mustahil kalau kita memang nda tahu caranya. Bisa kejadian kalau kita tahu cara dan jalannya. Setuju?

Kita bahas ya. Sesuai pengalaman saya tentunya.

Pengalaman saya dalam memulai bisnis, berulang kali saya selalu berfikir seperti itu. Ah yang penting jalan dulu. Nggelundung dulu aja. Kan masi survival stage ini aja. Istilah keren anak2 jaman sekarang adalah bootsrapping aka modal dengkul. Ya kadang dengkul dimana, kepala dimana.

Ternyata oh ternyata, pemikiran saya itu ada salahnya. Bukan ada benarnya ya. So, apa yang salah? Karena saya salah bermimpi sebesar apa bisnis yang saya dirikan (dahulu ya).

Saya jadi teringat mimpi Ibu saya. Jaman dahulu saat ortu saya dikampung yang nda ada dipeta itu, karna saking jauhnya dipelosok, Ibu mempunyai mimpi, suatu hari nanti akan naik mobil yang namanya mercedes benz. Ok, mustahil kah? Saat itu, saat mempunyai mimpi itu, beneran mustahil. Wong mbah kakung dan mbah putri itu hanya guru kok, duit dari mana.

Fast forward ke sekian puluh tahun kemudian, Ortu saya bisa membeli mobil yang dicita-citakan oleh Ibu saya. Mimpi jadi nyata? Pastinya. Meskipun mimpi itu harus dibayar dengan pengorbanan yang nda sedikit.

Lalu kenapa Anda dan saya harus malu atau tidak mampu untuk bermimpi besar? Karna seringkali kita takut. Iya karna kita takut diejek, direndahkan dan segala pikiran yang membuat kita “nyaman”.

Dream Big About Your Business

Flashback ke saat ini. Saya dan tim akhirnya mau merumuskan mimpi yang membuat kami bergejolak semangatnya. Bukan gejolak jiwa missqueen ya, tapi jiwa fighting yang ingin merealisasikan mimpi kita. Mimpi yang mungkin bagi sebagian orang mustahil.

Saya membuat tim ingin percaya bahwa apapun itu kita akan bisa jalankan dan lalui. Tidak ada dikamus perjalanan itu mudah. Klo mudah namanya jalan-jalan. Mimpi kita adalah go-international di 3 tahun kedepan level asia.

Dan saya ingin membuat sunartha menjadi best achiever diindustri yang kita miliki sekarang. Rencana sudah disiapkan, tim dipersiapkan, metode kerja sudah juga dan kami mengundang para pemimpi yang ingin mewujudkan mimpinya bergabung dengan kami.

Misi dan visi kami jelas. Dan kami butuh tim yang mempunyai mimpi dan kerja keras yang sama.

So, adakah mimpi besar yang Anda ingin wujudkan? Never affraid to make it happen.

Setuju?

Daru

Artikel lain yang harus Anda kunjungi lainnya:

Mencari tim yang tepat. Cocok untuk Anda yang sedang mencari tim untuk bisnis Anda.

Belajar Membuat Visualisasi Tableau untuk menampilkan Year to Date (YTD). Check this out. Cocok bagi Anda yang suka menganalisa.

Mencari Tim Yang Tepat

Mencari Tim Yang Tepat

Mencari Tim Bisnis Yang Tepat
Mencari Tim Yang Tepat. Pic Source: Tribunnews

Teamwork

Kata-kata yang menurut saya mudah untuk diucapkan namun sulit sekali dijalankan. Setuju? Iya, pasti setuju kalau Anda saat ini mempunyai bisnis dan Anda merasa bagaimana ya kok tim saya ini masih kurang performa kerjanya. Salahnya dimana?

Sabar, Anda tidak sendirian. Banyak orang yang mengalami hal sama dengan Anda. Lalu, kita mulai dari mana mengenai pemecahan masalah ini?

Sebelumnya, dengan membaca sharing saya yang lain, artinya Anda sudah mendukung saya menulis blog ini ya. Bacaan terbaru sebelumnya: Belajar Dari Orang Lain.

Terimakasih sudah mengklik dan membacanya ya. Syukur-syukur bisa dikasi masukan dan disebarluaskan kalau menurut Anda baik untuk rekan-rekan Anda.

Mencari Tim Yang Tepat

Mencari itu mudah. Yang sulit itu mencari tim yang tepat disaat bisnis Anda tepat pula. Gimana, masi bingung? Ok kita bedah satu-satu ya.

Bisnis, sama halnya dengan kehidupan, pasti terbagi menjadi fase-fasenya. Ada saatnya masih dalam fase startup, dimana bisnis masih mencari bentuk jati diri dan bertujuan untuk survival terlebih dahulu.

Kemudian fase dimana sudah mulai bisa melakukan ekspansi dengan core bisnis yang sudah ditemukan dan menghasilkan.

Fase terakhir adalah kemapanan sebelum fase declining atau menurun. Nah pertanyaannya, bisnis Anda ada dimana saat ini? Anda yang harus menentukan dimana posisi Anda dan beda pula strateginya.

Fase Bisnis

Kalau fase pertama bisnis Anda yaitu ingin survive dulu, berarti Anda harus mencari tim bisnis yang memang mau dan mempunyai visi yang sama dengan Anda. Kenapa begitu? Misalkan rekan Anda tidak mau berkorban pada fase ini, rekan Anda pasti akan meninggalkan Anda.

Karena beda visi juga. Si A sebagai Founder maunya kesana dan si B sebagai co-Founder maunya kesini. Tidak akan ada yang namanya kesepakatan dan ujung-ujungnya akan jalan masing-masing. Jadi tidak hanya skill yang jadi titik berat disini, namun tim yang mampu dan mau bertahan disaat bisnis belum jelas arahnya kemana.

Fase ekspansi berbeda dengan tim yang pertama. Ada beberapa orang yang mempunyai skill how to expand bisnis yang mungkin tertarik bergabung dengan Anda, membesarkan bisnis Anda. Karena game nya dan momennya sudah berbeda. Visi Anda pun bisa Anda share ke mereka bahwa Anda ingin kemana. Dan pula, tim macam ini juga biasanya mempunyai standar yang cukup tinggi.

Fase kemapanan. Kalau ini, beda juga timnya. Karena mapan seringkali kita artikan santai dan leyeh-leyeh. Menurut saya, kurang tepat juga. Karna mapan bisa diartikan harus continous improvement supaya bisnis yang kita jalankan tidak diam ditempat dimana sekeliling kita terus berinovasi. Butuh tim yang bisa mendobrak status mapan ini menjadi sesuatu yang lebih lagi. Bahkan beresiko.

Kesimpulan

Tidak ada yang tidak bisa. Itu menurut saya ya. Setiap tantangan pastilah harus kita jalani dan cari hikmahnya. Bagaimana menurut Anda? Kira-kira menarik? Atau Anda ingin bergabung dengan kami dimana saat ini kami Sunartha sedang mencari jiwa-jiwa pemenang yang ingin berkontribusi dalam meningkatkan bisnis dan skill/pengalaman.

Anda bisa bergabung dengan kami dengan tautan carreer berikut: Our Available Role. Atau apabila Anda freelance dan ingin turut berkontribusi juga, bisa juga berkenalan dengan saya melalui Linkedin dan infokan apa yang Anda ingin bantu ke kami disini: Berkenalan dengan Saya.

Salam,

Daru

Tips Bisnis Belajar dari Orang Lain

Belajar dari Orang Lain

Tips Bisnis Belajar dari Orang Lain
Tips Bisnis Belajar dari Orang Lain. Sumber Gambar: Poskota News

Perlunya Belajar

Selamat pagi. Masih liburan?

Ok, kali ini mau sharing tentang perlunya belajar apalagi soal bisnis. Yang saya tahu dulu, ketika masih kuliah dulu, saya belajar itu untuk bisa lulus kuliah dan segera cari pekerjaan yang sesuai dengan minat saya.

Siapa yang seperti itu? Jadi pastinya waktu kuliah proses belajar saya ya gitu deh, boro-boro serius, asal dapet B aja sudah syukur. Klo dapet C, ya disyukuri juga he3..

Tapi setelah saya lulus, saya jadi berfikir berbeda mengenai belajar. Kenapa ya saya jadi suka belajar dan anehnya proses belajar saya sangat beda sama dengan waktu kuliah dulu.

Dulu boro-boro diminta pegang buku atau baca saja males banget. Sekarang masih sih males pegang atau baca buku, tapi saya menemukan media pembelajaran yang lain. Tentunya akan ada impact langsung ketika saya selesai belajar, yaitu saya akan dapat sertifikasi dan dipampang di Linkedin.

Iya, salah satu metode belajar saya adalah melalui Linkedin Learning ataupun Youtube. Dimana saya bisa langsung mencoba alih-alih mendengarkan dosen berbicara kedalam forum yang cukup banyak. Kebayang kan pusingnya jadi dosen sekarang ini? Setuju?

Bicara soal belajar, pasang iklan lowongan kerja dulu boleh ya. Yang tertarik untuk belajar mengenai Business Intelligence dan salah satu tools nya yaitu Tableau, bisa mampir ke artikel saya ini nih: Tableau dan proses belajarnya. Jangan lupa mampir ya.

Belajar dari Orang Lain

Cara lain saya bisa belajar adalah dengan mendengarkan cerita atau kisah hidup seseorang yang sudah menjalani bisnisnya yang lebih dulu dari saya.

Contoh sederhananya, dulu saya suka membaca biografi Honda, Toyota dan Warren Buffet. Sangat menginspirasi!

Tidak jarang pula, kalau saat saya berkunjung ke client saya, saya berkesempatan berdiskusi panjang lebar dengan pemilik bisnis tersebut. Hal tersebut membuat saya juga terinspirasi dan banyak belajar dari pengalaman tersebut.

Pengalaman adalah hal yang sangat berharga menurut saya. Dan hebatnya kita apabila kita bisa belajar dari pengalaman orang tanpa harus menjalani pengalaman itu.

Seperti contoh klo diyoutube ada entrepreneur yang harus rugi Milyaran dalam proses belajar mereka. Kita nda perlu nyontoh sampe rugi sebesar itu kan? Amit-amit bukan?

Nah, mungkin rencana saya kedepan, saya akan mulai coba menulis tentang bagaimana jatuh bangun seseorang dalam merintis bisnis mereka. Klo istilahnya seri tv terdahulu, X Files, The Untold Misteries. Ha3… Ketahuan umur banget ya?

Bicara soal belajar, kita juga bisa belajar dari film John Wick lho, ah mosok? Makanya baca disini dulu, sekalian mampir ya: Belajar Bisnis dari Film

Kesimpulan

Sama seperti para pedagang starling (starbucks keliling) difoto atas, ada perlunya kita saling berkumpul dan bertukar ide atau pengalaman antara sesama entrepreneur. Saya dukung dan saya support.

Karena dengan seperti itu, kita bisa menjalani perjalanan bisnis kita sehingga bisa dikatakan sukses. Karna menurut saya, sukses itu bukan tujuan, tapi proses yang kita jalanin. Setuju ora son?

Cukup mengoceh dipagi hari ini. Saya melanjutkan belajar dan berkarya dulu ya.

Jangan lupa berteman dengan saya di Linkedin ya dengan mengklik nama saya dibawah ini. Salam,

Daru

Belajar Bisnis dari Film John Wick

Belajar Bisnis dari Film John Wick

Belajar-Bisnis-dari-John-Wick
Belajar-Bisnis-dari-Film-John-Wick. Pic Source : IMDB.com

Pengantar

Selamat Siang. Bagi teman-teman yang sudah dalam perjalanan menuju kampung halaman keluarganya, saya ucapkan selamat menikmati perjalanan dan berhati-hati selama perjalanan ya.

Semoga sampai ditempat tujuan dengan selamat, berkumpul bersama keluarga besar, dan menikmati liburan panjang kali ini dengan sukacita.

Turut mengucapkan turut berduka cita untuk Ibu Ani Yudhoyono, Istri dan Ibu bagi keluarga Pak SBY yang meninggalkan kita pada hari Kesaktian Pancasila 2019 ini. Semoga Pak SBY dan keluarga yang ditinggalkan dikuatkan. Amin.

Lanjut ya, kita kali ini mau bahas hubungan antara film John Wick dan bisnis. So, topik menarik nih. Saya terus terang sangat suka film ini, secara para pemainnya kurang lebih sama dengan Matrix Trilogy sebelumnya. Tapi kita nda bahas tentang filmnya ya, kita bahas dari sisi bisnisnya.

Menarik bukan? Pastinya. Pas panas-panas gini, mari kita sama-sama simak bersama, tapi sebelumnya, tolong mampir ke tulisan saya sebelumnya disini ya: Avengers Endgame dari sisi Bisnis. Bacaan menarik lainnya lho.

Terimakasih yang sudah mampir ya!

Sifat John Wick yang cocok untuk Pebisnis

Bagi yang sudah menonton John Wick diseri sebelumnya, ide cerita film ini sebenarnya sangatlah sederhana. Bagi yang belum nonton, plis, nonton dulu ya, daripada saya dibilang spoiler sama film.

Ok, sudah diwarning ya. Jadi kalau saya cerita nda apa-apa ya. Lanjut.

Ide ceritanya sesimpel John Wick balas dendam karena 2 hal, anjing pemberian mendiang istrinya dan mobil kesayangannya. Dan cerita ini bergulir sampai dengan film ketiganya. Tapi kita nda bahas filmnya ya, mending nonton deh, pasti seru.

Yang kita bahas disini adalah bagaimana sifat-sifat John Wick, kalau diterapkan untuk para pebisnis nih, bukan sifat bunuh kompetitor ya, tapi yang lain, ok? Siap?

Fokus

Ya. Fokus itu salah satu sifat dan skills menurut saya untuk dimiliki oleh para pebisnis. Coba lihat para entrepreneur senior yang sangat sangat fokus sama bisnis dan industri yang digelutinya.

Fokusnya John Wick itu kebangetan. Bisa tetap fokus meskipun banyak rekan seprofesinya yang mengincar dia. Dan dia fokus menaklukkan satu persatu. Nah, kita-kita perlu belajar juga nih. Musti fokus satu persatu sama hal yang menghadang. Setuju nda? Berikutnya.

Belajar Bisnis dari John Wick

Skillful

Coba setelah nonton filmnya, perhatikan bagaimana gayanya John Wick kalau sedang in action. Efisien dan skillful. Betul? Benar-benar profesional bukan? Sampai-sampai salah satu rekan kerjanya bilang dia itu adalah yang ditugaskan untuk menghilangkan Baba Yaga (atau boogeyman).

Didunia bisnis, skill itu harus diupgrade terus. Ilmu terus berkembang, teknis terus berubah, bahkan bisnispun berubah terus. Anda juga. Harus selalu upgrade skill dengan cara baca modul2 pembelajaran, baca buku atau mungkin ikut seminar2. Dan dipadu dengan pengalaman-pengalaman pribadi, pasti tambah efisien saat menghadapi masalah. Lanjut?

Necis (Rapih Edun)

Bagi sebagian temen-temen mungkin kurang setuju sama ini. Tapi klo saya, suka nih gaya berpakaian Om John Wick. Rapih, necis dan mencerminkan siapa dia.

Mungkin ada temen-temen yang bilang, bro, klo bisnis gw dipasar atau dilapangan gimana? Ya sesuaikan dengan dresscode dong. Tapi rapih dan matching nda ada salahnya kan? First impression itu pertama dilihat dari pakaian bukan?

Branding yang Luar Biasa.

Siapa yang tidak kenal John Wick dikalangan seprofesi dengan beliau. Ada satu kalimat yang selalu diulang-ulang oleh para rekan kerjanya. John Wick mampu menghabisi targetnya dengan sebuah pensil.

Nah, belajar dari sini, saya jadi terpikir, kita harus selalu punya branding dan tagline yang orang-orang seprofesi kita atau client kita selalu teringat selalu. Hayo coba dipikirkan apa itu? Menarik kan?

Kesimpulan

Menarik nda nih bahasan kita kali ini. Klo nda menarik, coba nonton filmnya dahulu ya. Baru baca lagi tulisannya.

So, 4 poin tadi kira-kira klo kita mau menerapkan dibisnis kita, pasti akan membuat bisnis kita makin maju. Tapi kalau masi tertarik bahas yang lebih detail soal bisnis, bisa mampir diweb sunartha yang sering bahas tentang bisnis nih.

Salah satu contoh bahasannya: ERP Cloud Indonesia – Studi Kasus. Bacaan bagus nih.

Selamat menikmati liburan lebaran kali ini ya.

Salam,

Daru

Avengers End Game dari Sisi Bisnis

Avengers End Game dari Sisi Bisnis

Avengers End Game dari Sisi Bisnis
Avengers End Game dari Sisi Bisnis. Pic Source IMDB

Selamat Pagi!

Yes, weekend kali ini kita bahas jangan yang serius-serius amat yah. Setelah semingguan kita kerja. Sambil berpuasa yang sudah hampir seminggu juga, kita baca tulisan yang ringan dan renyah saja.

Minggu ini lumayan sibuk juga untuk tim Sunartha yang ternyata cukup banyak inquiry yang masuk ke kami untuk dibantu dari sisi pengembangan tools bisnis untuk manajemen perusahaan.

Yah, bahasanya jadi berat deh, ok, sabar-sabar. Dijamin nda berat-berat kok bahasannya. Sebelum membaca sharing kali ini, jangan lupa untuk subscribe dan like, eh itu untuk youtubers ya?

Kalau kita cukup mampir disharing kami sebelumnya dengan judul ini nih: Bagaimana Status Kesehatan Bisnis Anda.

Terimakasih sekali lagi yang sudah mampir. Yang mau komentar atau berbagi, dipersilahkan juga lho.

Avengers End Game dari Sisi Bisnis

Siapa yang sudah menonton film Avengers Endgame? Ok, pertanyaan berikutnya, siapa yang bela-belain nonton subuh sebelum kerja demi film ini? Kalau iya, Anda merupakan fans sejati Marvel berarti. Good!

Tahukah Anda, kalau pendapatan worldwide film Avengers End Game ini berdasarkan IMDB mencapai 2,3 Milyar USD. Kalau mau dirupiahkan dikali aja 15 ribu ya. Mungkin lebih dari 30 Trilyun IDR. Mantab bukan?

Secara bisnis bagaimana? Mantab menurut saya. Mari kita bedah satu-satu ya.

Film keluaran Marvel Studios ini beserta pemiliknya yaitu Walt Disney Pictures merupakan film yang ke 20an menurut seri MCU. Dimulai dari Iron Man, Captain America, Hulk, Thor dan sampai bergabungnya mereka di Avengers pertama.

Sudah pasti, membangun loyalitas basis fans tidak memerlukan waktu yang sebentar. Mereka sangat sabar dan pada akhirnya membuahkan hasil.

Bagaimana implikasi sama bisnis yang kita jalankan? Siapa yang baru pegang produk tiba-tiba langsung promosi jualan ke teman-teman terdekat kita, trus pasang status whatsapp, IG dll?

Saya juga pernah kok, bukan ngomongin Anda hehehe. Artinya, pemilik karakter ini sangat sabar membuka perlahan-lahan dan memberikan values kepada para fans untuk memahami karakter superheroesnya. Ada yang suka Iron Man. Fans Captain America dan seterusnya.

Jadi jangan tuh ujug-ujug hard sell dari awal klo Anda mempunyai bisnis. Tapi coba berikan value yang lebih kepada calon pelanggan Anda. Anggap buat mereka menjadi fans Anda dan produk Anda terlebih dahulu.

Nanti saatnya akan tiba dan pintu rejeki terbuka untuk Anda. Setuju nda nih?

Kesimpulan

Bagi yang belum nonton filmnya, musti nonton ya. Dan bagi yang menjalankan bisnis seperti yang saya infokan tadi diatas, hayo coba ubah strateginya.

Jangan sampai membuat teman, calon pelanggan Anda terpaksa membeli dari Anda karena nda enakan. Iya kalau murah harganya, kalau mahal, piye?

Saya mau berikan values dulu nih bagi teman-teman yang sedang mencari pekerjaan atau pengalaman dibidang ERP, bisnis intelligence dan konsultasi manajemen.

Kita sedang membuka lowongan diwebsite sunartha career. So yang tertarik bergabung, tolong tulis dibagian ceritakan diri Anda, tulis saya baca artikel avengersnya. Ok?

Terakhir, pesan sponsor, mampir diartikel tentang Manfaat Cloud ERP untuk Perusahaan Anda.

Salam,

Daru

Bagaimana Status Kesehatan Bisnis Anda

Bagaimana Status Kesehatan Bisnis Anda

Bagaimana Status Kesehatan Bisnis Anda
Bagaimana Status Kesehatan Bisnis Anda. Pic Source : jenramsey.com

Medical Check Up

Selamat malam.

Diminggu malam ini, sambil melakukan scroll-scroll berita atau social media, saya mau share sesuatu hal nih. Tentang medical checkup untuk bisnis. Yups, topik bahasan yang agak-agak berat, tapi kita bawa santai saja. Ok?

Siapa yang baru-baru ini melakukan aktivitas medical check up untuk kesehatan kita? Anda? Betul. Dengan melakukan aktivitas ini, minimum katanya setahun sekali, kita akan punya yang namanya hasil medical check up yang bisa kita pelajari, terutama soal kolesterol ya? Hayo yang sering makan soto betawi dan jeroan-jeroan? (itu saya banget).

Setelah tahu hasil lab, biasanya kita melakukan tindakan-tindakan yang lebih benar bukan? Contoh makan makanan yang sehat. Olahraga yang cukup dan masih banyak lagi.

Lalu bagaimana dengan bisnis? Sama sih, cuma kita akan bahas lebih detail ya. So, siap-siap camilan, kopi hangat, sehangat kenangan mantan nda ya?

Bisnis dan Bagaimana Status Kesehatan Bisnis Anda

Bisnis saya bangkrut Mas, tutup! Ujar salah satu teman saya. Bahkan saya juga pernah mengalami hal yang sama. Tutup, gulung tikar, bahkan pahit rasanya merumahkan karyawan yang telah bekerja keras untuk bisnis Anda.

Salahnya dimana? Apa salah saya? Apa salah bisnis kita? Mungkin itu pertanyaan yang sering kita pertanyakan dan gumulkan setiap kali mempunyai bisnis yang tidak bisa melanjutkan hidupnya.

Pertanyaannya, seringkah kita melakukan pengecekan status kesehatan bisnis kita? Minimum per bulan, per 3 bulan atau cuma setahun sekali? Istilah orang Jawa Timur, modar kon.

Ini cerita saya ya, sharing nih. Dulu saya jarang yang namanya melakukan check up bisnis. Yang penting duit ada diakhir bulan dan duit ada untuk bayar vendor atau supplier dan karyawan. Siapa yang seperti ini?

Sekarang nda bisa Boss. Sekarang yang namanya Business Owner harus melek finansial. Tidak hanya punya akuntan handal dan tim yang solid cukup, bahkan CEO pun harus punya insting CFO lho.

Seorang CEO harus melek yang namanya Sales Growth (pertumbuhan penjualan), Gross Margin Ratio (Rasio Laba Kotor), Net Profit Margin dan beberapa terms dan istilah-istilah keuangan yang orang awam pasti pusing tujuh keliling.

Sabar, semua bisa dipelajari kok. Dan semua materi itu ada disocial media seperti youtube dan blog-blog diinternet. Jadi jangan takut. Anda musti ikut pelajari ya.

Jangan percaya aja kata akuntan Anda. Jangan percaya aja kata-kata anak buah yang bilang tagihan aman Boss, padahal macet. So pasti Anda sebagai pemilik atau manajemen pasti harus sigap dan peka dengan hal-hal beginian.

Kesimpulan Artikel Ini

Sebelum bagian kesimpulan, ada baiknya Anda mampir ke artikel terbaru saya yang membahas tentang Bisnis dan Momentum, penasaran? Yuk simak disini: Strategi Memanfaatkan Momentum untuk Bisnis.

Kesimpulan pertama.

Rajin-rajin melakukan check up bisnis Anda. Apabila bisnis Anda sedang pesat-pesatnya, ada baiknya melakukan rapat mingguan dengan tim keuangan Anda dan tim operasional Anda. Apa gunanya? Jangan sampe ada istilah miss cashflow. Nda lucu kan, bisnis kenceng tapi bensin atau dana Anda habis.

Kesimpulan kedua.

Belajar terus sama istilah-istilah keuangan bisnis Anda. Terutama soal net profit margin, gross profit margin sama baca cashflow forecast dan realisasi. Penting itu. Kalau Anda mau test tim Anda, coba tanyakan kepada mereka apa artinya dan apa yang harus dieksekusi oleh bisnis Anda kedepannya. Ingat, banyak bisnis tutup karena piutang yang tak tertagih atau bocor halus untuk pengeluaran Anda.

Kesimpulan ketiga.

Kalau Anda bingung memulai dari mana, mungkin tim kami bisa bantu. Dari sisi membuatkan laporan keuangan sehingga rasio keuangan Anda bisa langsung dapatkan. Implementasi sistem keuangan yang mumpuni untuk bisnis Anda juga bisa. Yang terakhir, tim analisa kami terkait kondisi data bisnis yang Anda miliki. Mudah bukan?

Bagaimana? Sok langsung dicek untuk bisnis Anda. Mumpung masih april ini. Jangan sampe nanti Anda dan saya menyeruput kopi bersama dan Anda curhat, Bro, bisnis gw mau tutup nih, kan saya mau dengarnya, Bro, gw traktir yak, bisnis gw tambah pesat nih! Amin.

Salam,

Daru

Anda bisa berteman dengan saya di Linkedin. Cukup klik nama saya dan add untuk berteman dengan saya. Trims.

Strategi Memanfaatkan Momentum untuk Bisnis

Strategi Memanfaatkan Momentum untuk Bisnis. Bagaimana strateginya? Dan juga apa juga bahasan momentum dari bisnis itu sendiri? Yuk simak bahasannya bersama.

Strategi Memanfaatkan Momentum untuk Bisnis
Strategi Memanfaatkan Momentum untuk Bisnis

Pic Source : gtw541.com

Rapat Ditepi Kolam Renang

Siang itu, saya dan tim sedang berdiskusi dengan prospek kami, terkait bisnis yang dijalankan dan obrolan-obrolan santai mengenai kopi.

Ya, tentang kopi. Komoditas yang belakangan ini menjadi fenomenal karena ada beberapa gerak kopi “kekinian” yang membuatnya menjadi primadona.

Oiya, saya sempat menulis tentang hal itu juga disini: Kopi dan Investor. Jangan lupa dibaca ya.

Btw, kami nda berenang ya, cuma rapat aja kok ditepi kolam renang. Sambil mencium bau aroma kopi yang sedang diseduh, wanginya! Jadi ada yang tiba-tiba mau nyeduh kopi nda ya setelah baca tulisan saya ini?

Monggo, diseduh dulu kopinya. Diseruput, baru lanjut baca lagi ya.

The Law of Momentum

Topik siang ini ketika saya sedang berkendara. Momentum.

Entah kenapa saya tiba-tiba nyeletuk bahas soal momentum. Tapi ya itulah bahasannya.

Hukum momentum mengatakan, ketika kita ingin mendorong sesuatu benda, dimana keadaan benda itu diam, akan membutuhkan energi yang besar untuk menggerakannya pertama.

Tetapi apabila sudah mendapatkan momentumnya, meningkatkan kecepatannya jauh lebih mudah.

Pernah kan mendorong kendaraan mogok? Ya kira-kira begitu ya analoginya. Lalu, apa hubungannya dengan bisnis, kopi dan momentum Mas? Ok, sebentar, kita bahas sebentar lagi.

Nyeruput kopinya dulu dong, biar sabar.


Strategi Memanfaatkan Momentum untuk Bisnis

Ternyata ada lho momentum juga untuk bisnis. Iya, bisnis saya dan yang anda jalankan sekarang ini.

Bagaimana menggerakkan bisnis Anda, tidak perlu saya share ya. Pastinya banyak kesan dan pesan menarik dari proses itu. Tetapi strategi momentum itulah yang perlu kita bahas bersama.

Kenapa saya kaitkan dengan bahasan mengenai kopi kekinian tadi, karena saat inilah momentum dibisnis tersebut. Itulah yang jadi pokok bahasan saya dengan prospek saya tersebut. Apakah Anda merasakan juga? Kalau iya, kita berarti sama. Sama-sama suka ngopi.

Strategi yang paling jelas dalam memanfaatkan momentum ketika bisnis kita sedang ON adalah mempercepat proses pengembangannya.

Sulit? Pasti. Bayangkan apabila Anda sudah kewalahan dengan 2-5 outlet, disuruh mikir untuk 10-25 outlet lagi. Pusing? Harus. Tapi harus bisa. Kenapa? kalau tidak, pesaing Anda yang akan mengambil ceruk pasar Anda.

Stay focused. Iya, momentum membuat Anda seperti orang yang menyentuh apapun menjadi emas. Tapi jangan salah, disitulah godaan terbesarnya. Semakin besar bisnis Anda, tantangannya adalah diinternal organisasi Anda.

Anda harus siapkan sistem yang mumpuni untuk menangani lonjakan permintaan bisnis Anda saat momentum itu tiba. By the way, kalau Anda sedang mencari sistem tersebut, hubungi tim saya Mba Euis ya untuk tahu bocorannya. Bisa whatsapp disini langsung : 0815 8690 2500

Strategi Yang Lain

Momentum adalah kejadian yang tidak bisa kita buat. Yang bisa kita lakukan adalah masuk kedalam momentum itu. Contoh saat ini seperti fenomena belanja online. Ya kita harus siap-siap.

Strategi ketiga. Ready and always be ready to shift to another momentum. Bisnis kita mungkin bisa old school produk, tapi momentum jangan dilewatkan ya.

Kira-kira gimana strategi-strateginya? Sudah oke kah? Kalau belum ok juga, saya kasi bocoran satu tools lagi nih biar Anda-anda semua yang punya bisnis bisa mantau bisnis dengan dashboard yang keren.

Download gratis disini dan pakai gratis lagi selama 14 hari. Masih bingung cara pakenya, tanya Mba Euis kapan jadwal training terdekatnya ya.

Wah, kopi saya sudah mau dingin nih, saya lanjutkan nyeruputnya dulu ya. Cheers.

Daru

Artikel saya yang lain : How to Raise Fund with Alpha JWC Ventures

Alpha Leader Series Fundraising for Startups

Alpha Leader Series Fundraising for Startups

Alpha Leader Series Fundraising for Startups
Alpha Leader Series Fundraising for Startups. Source Pic : sunartha.co.id

Fundraising

Selamat malam.

Bagaimana hari ini? Sudah cukup lelah dengan kesibukan harian Anda? Pastinya!

Saya, berkesempatan untuk mendengarkan sharing session dari beberapa startup plus dari Tokopedia dimana startup yang hadir diacara tersebut merupakan bagian dari keluarga besar Alpha JWC Ventures.

Kenapa saya hadir diacara berjudul Alpha Leader Series Fundraising for Startups tersebut?

Karena penasaran. Iya, saya penasaran bagaimana bisa sebuah usaha warung kopi yang baru saja berdiri, bisa mendapatkan pendanaan, sesuai diberita, 8 juta dollar saja. Yes! Penasaran kan?

Ternyata ada ceritanya. Yuk kita bahas bersama.

Cerita dan Sharing Session

Sebelumnya, perkenalkan nama saya Daru. Bagi yang belum kenal, salam kenal ya. Kalau mau berkenalan via Linkedin, silahkan diadd ya. Berikut Link nya : Kenalan dengan Daru

Kesibukan saya saat ini menjalankan bisnis saya dibidang Konsultan IT dengan produk seperti Acumatica Cloud ERP dan Tableau Business Intelligence. Jangan lupa mampir ya dilink yang saya share diatas.

Tertarik tentang berita terbaru mengenai bisnis dan pendanaannya, salah satunya ini nih, kopi kenangan. Baca ya artikel lainnya : Kenapa Startup Kopi Dilirik Investor

Lanjut ya, numpang iklan dahulu ya.

Acara sharing session kali ini full. Ya full pengunjung. Mungkin topiknya menarik, tentang fundraising. Dan kopinya juga menarik, kopi kenangan. Padahal saya berkata dalam hati, ini dikasi kopi kenangan gratis nda ya?

Ternyata dikasi lho he3… lumayan. Lah, kenapa saya jadi ngiklanin kopi kenangan ya. Ah sudahlah.

Fundraising merupakan momok atau hal yang menakutkan bagi pemilik bisnis terutama startup. Dimana terkenal dengan ke-horor-an untuk pitching didepan investor dan apabila ditolak.

Ternyata begitu juga testimoninya. Namun ternyata, antara pemilik startup dan para funder (VC) juga saling membutuhkan kok. Nah, saling membutuhkannya seperti apa?

VC itu juga bisnis untuk muterin duitnya investor. Dan Startup adalah salah satu vehicle untuk meningkatkan capital atau dana investor. Saling menguntungkan bukan? Lalu bagaimana cara saling memperkenalkan dirinya?

Tentunya dengan harus mengikuti komunitas-komunitas seperti ini. Terus terang saya agak kaget juga segitu banyak yang hadir diacara kali ini. More than 100 orang sepertinya. Selain saya mau survei WeWork di Menara Astra tentunya.

But overall, acaranya seru. Kopinya enak dan sharingnya meskipun tidak terlalu dalam, tetapi menarik banyak peminat kok. Well Done!

Ideas dan Kesimpulan

Lalu kesimpulannya apa? Buat saya, bagi teman-teman yang sedang menjalankan proses fundraising, tetap semangat! Jangan mudah putus asa. Selain itu juga, bisnisnya juga harus dipikirin, jangan terlalu semangat nguber investor, eh bisnisnya malah nda berkembang.

Ada istilah bagus yang pernah saya baca dulu disalah satu buku. Jangan fokus mengejar lebah, mending fokus saja mempercantik taman yang kita miliki, nanti lebah-lebah akan berdatangan dengan sendirinya.

Sukses untuk bisnis kita semua. Nyeruput kopi lagi nda ya? Besok pagi saja deh.

Salam,

Daru