Jam Terbang

Jam terbang. Mungkin istilah ini populer dikalangan pilot apabila ada kejadian khusus contoh kecelakaan. Berita selalu mengangkat berapa jam terbang pilot tersebut selama masa kariernya.

Jam Terbang

Pic Source: Pinterest

Tapi saya ga mau membahas tentang pilot ya. Yang mau saya bahas adalah jam dibidang bisnis. Konsepnya sama saja. Berapa lama kamu, kita semua menekuni bisnis kita. 5 tahun? 10 tahun? bahkan lebih.

Korelasi dengan Bisnis – Jam Terbang

Nah, apa korelasinya dengan bisnis nih. Pilot dengan jam terbang yang tinggi, biasanya sudah menghadapi banyak kejadian-kejadian mendebarkan didalam kariernya. Sama dengan pelaku usaha atau pebisnis.

Mulai dari krisis ekonomi, krisis internal didalam perusahaan, ditipu orang dll. Nah, pantes apabila orang bank bilang, kita ga mau kasi pinjaman ke perusahaan yang seumur jagung (eh umur jagung bulanan ya? ups salah) yang umurnya dibawah 2 tahun.

Kenapa begitu? karena bank dan investor tidak mau meresikokan dananya (meskipun yang peminjam mempunyai aset). Itu kuncinya. So, insight kali ini adalah, perbanyak jam Anda, perbanyak kegagalan (tetapi kegagalan yang terukur ya). perbanyak pertemanan dan sharing session.

Kenapa? Karena dengan itulah kita jadi mempunyai jam terbang yang lebih tinggi. Jam terbang yang lebih tinggi membuat kita lebih awas, perhatian, dan tau cara bersikap apabila mendapatkan tantangan dalam mengelola bisnis, setuju?

Kesimpulan

Nah, mulai dari sekarang, kita mulai mendaftar, kegiatan apa yang membuat jam terbang kita semakin tinggi lagi. Mulai dari sekarang dan kita akan mendapatkan ilmunya.

Karena apapun itu, ilmu yang kita miliki, tidak akan valid atau teruji, kalau kita tidak mempraktekannya. Sesuai gambar diatas, bahkan Bruce Lee pun takut sama orang yang sudah mempunyai pengalaman tinggi, meskipun 1 jurus aja.

So, bagaimana dengan Anda? Kalau saya sih, saya coba dan praktek terus, meskipun kenyataannya, sulit, sangat sulit.

Tetapi tidak apa, kita musti coba dan coba terus ya. Jangan khawatir akan hasil, berproses saja. Selamat belajar.

Regards,

Daru

Apabila ada teman-teman yang ingin berdiskusi lebih lanjut tentang bisnis dan usaha bisa menghubungi saya dan tim dinomor Whatsapp berikut: 0815-8690-2500

Tulisan saya yang lain, yang mungkin Anda perlu dan wajib baca nih. Silahkan.

Berani Beda

Laporan vs Analisa

Berani Beda

Berani beda.

Berani Beda

Pic Source: unisifm.com

Tidak semua orang, yang saya tahu, berani untuk berbeda dari orang kebanyakan. Setuju?

Contoh sederhananya. Apabila kita sendirian masuk kedalam suatu ruangan dimana baju kita beda model dengan yang kebanyakan, bagaimana perasaan Anda? Canggung? Grogi? Keringat dingin? Pasti.

Nah, karena saking takutnya orang untuk berbeda dengan yang lain, jadi terbawa dengan hampir semua pilihan yang kita ambil. Misalnya seperti apa itu Mas bro? Yuk mari kita bahas.

Melamar kerja

Iya, melamar kerja. Coba perhatikan, apabila teman-teman yang memiliki bisnis dan membuka lowongan untuk suatu posisi, coba tanyakan kepada bagian hrd dikantor. Berapa banyak yang mengirim surat lamaran kerja dengan amplop coklat, kertas A4 dan susunan CV yang mirip-mirip semua.

Banyak. Kalau saya lihat malahan hampir semua. Memang, mungkin karena sudah terbiasa dengan seperti itu menjadikan para pelamar kerja yang para mahasiswa menjadi tidak berani tampil beda daripada rekan-rekannya yang lain. Anda berkompetisi dengan pelamar lain lho, bukan lomba mirip-miripan.

Coba deh, amplopnya dibuat unik, berbeda, beda warna, beda ukuran, pokoknya beda. Lihat hasilnya. Coba kertas yang digunakan bukan A4 atau setidaknya kalau minta dikirimkan via email, didesain yang Anda banget. Bagian HR mungkin senyum-senyum sendiri melihatnya. Berani coba?

Bisnis

Siapa yang sekarang ini tidak mau membuka usaha sendiri. Bisnis istilah anak sekarang. Banyak anak muda yang merintis dari awal dan sekarang sudah masuk dalam daftar orang-orang yang sukses dari ukuran bisnis mereka. Membuat semua orang ingin mengikuti jejak mereka.

Selain kegigihan (determinasi) para pelaku bisnis yang sudah sukses. Saya melihat mereka juga mempunyai satu keunggulan yaitu berbeda. Yap, berani tampil beda. Berani ambil keputusan yang beda dari para pelaku dibidang yang sama.

Kenapa begitu? Kalau sama-sama aja, ya kita nda ada bedanya dengan tetangga-tetangga kita donk? Benar tidak. Contoh sederhananya adalah barusan saya membeli durian ucok dari tokopedia. Beda? Pasti! Durian yang saat orang ingin menikmati harus cari tukang durian keliling (biasanya dengan pickup bak) dan menunggu dibukakan durian satu per satu, sampe ketemu rasa yang pas.

Nah, si durian ucok ini sudah menyiapkan dalam kemasan per 1 Kg dan beku. Pas butuh, tinggal pesan via Tokopedia dan diantarkan sampai depan rumah oleh Gosend. Solusi banget bukan? Harga terbilang sama, tetapi nda perlu keluar rumah. Beda? Pasti!

Kesimpulan Berani Beda

Menonton Pandji P  (Standup komedian) berkata dalam salah satu shownya, berbeda itu jauh lebih baik dari lebih baik. Artinya kita harus selalu mencari sesuatu yang beda dari yang lain agar kita bisa dilihat. Agar bisa dicari orang atau pelanggan kita.

Itu yang saya lakukan dikantor kami. Disaat kantor lain cat nya putih, kami malah memasang bata ekspose (bata hias) dengan nuansa coffee shop. Tinggal coffee maker nya saja yang belum dan barista tentunya.

Saya ingin kantor kami mempunyai keunikan. Selalu unik pada cara kami menawarkan produk dan layanan kami. Contoh kami akan mencoba bersinergi dengan para EO untuk menganalisa data pengunjung event mereka, menggunakan Tableau as Business Intelligence Tools tentunya.

Dan masih banyak yang akan kami coba ditahun ini untuk mencapai target kami bersama. So, kesimpulannya adalah jangan takut beda. Jangan pernah khawatir apa kata orang, karena pada akhirnya, yang berani beda akan mencapai apa yang tidak bisa dicapai oleh orang yang sama pada umumnya.

Salam,
Daru

Bacaan lain yang kira-kira menarik untuk Anda baca: Memilih Bisnis Model

Hubungi tim saya, Mba Euis dinomor Whatsapp berikut 0815-8690-2500 untuk sinergi dan informasi tentang penerapan business intelligence ditempat kerja atau usaha Anda.

Memilih Bisnis Model

Memilih Bisnis Model

Memilih Bisnis Model
Pic Source: tuzzit.com

Welcome

Baik, selamat datang lagi diblog rutin saya. Bagi Anda yang baru pertama kali mampir, tidak apa-apa. Silahkan membaca beberapa artikel yang sudah saya tulis tentang bisnis, tools bisnis dan mungkin ide-ide saya.

Baru menulis kembali dikarenakan WFH ini cukup menyita waktu saya untuk mengurus operasional bisnis.

Oiya, bisnis saya full WFH. Bagaimana dengan bisnis Anda? Apakah berencana untuk terus WFH atau sudah masuk kembali or WFO?

Apapun itu, saya harapkan yang terbaik untuk Anda, bisnis Anda dan tentunya tim Anda. Terus patuhi protokol kesehatan yang ditetapkan dan jaga terus kesehatan Anda.

Ingat, kurva Covid masi terus tinggi, jadi tetap jaga kesehatan ya. Mudah-mudahan kondisi ini segera membaik untuk kita semua.

Memilih Bisnis Model – Sebuah Cerita

Hari jumat kemarin, saya sempat berbincang dengan prinsipal saya. Yups, kami merupakan partner resmi untuk implementasi Acumatica di Indonesia.

Nah, disela-sela kami berdiskusi, ada hal atau obrolan yang menarik yang saya dapatkan. Salah satu rekan/partner kami yang ada di negara lain, berencana untuk melepaskan kepemilikan usahanya.

Kenapa, tanya saya? Padahal yang saya tahu, partner tersebut cukup banyak melakukan aktivitas bisnis dan tentunya tidak sedikit customer dan dana yang sudah didapatkan, menurut saya dalam hati.

Ok, ternyata jawabannya cukup mengejutkan saya.

Bisnis model yang dijalankan tidaklah cukup untuk menutup biaya overhead karyawan dan tim yang menjalankan bisnis.

Nah lho, saya jadi tambah bingung. Bagaimana bisa? Tanya saya kemudian.

Ternyata beliau tidak menagihkan jasa yang seharusnya dan sebaiknya dilakukan kepada customer.

Mudahnya seperti ini, apabila Anda mempunyai bisnis jahitan. Apabila customer minta ada perubahan atas desain awal yang disepakati, tentunya Anda akan meminta imbalan atas jasa bongkar tersebut bukan?

Yes, pasti Anda akan jawab tersebut. Tetapi kenyataannya berbeda. Dia tidak melakukan itu.

Ok, saya mungkin tidak mengetahui real case apa yang terjadi tetapi saya jadi teringat dan bertekad untuk menulis tentang topik bisnis model ini.

Apa Insightnya Untuk Kita

Model bisnis. Sesuatu hal yang baru-baru ini cukup terkenal karena banyaknya startup yang bermunculan dengan mengacu model bisnis yang tidak lazim.

Saya biasanya diskusikan dengan istilah konvensional bisnis versus new model bisnis.

Mungkin Anda tahu ya, bisnis konvensional. Fokus pada profit dari awal usaha, jangan ekspansi berlebihan sehingga bisnis akan fokus pada kekuatan internal untuk pengembangan.

Lain halnya dengan new model bisnis dimana tidak ada masalah untuk kerugian, tetapi pada akhirnya biar data yang berbicara dan pada sekian tahun, profit akan didapatkan juga.

Lari sekencang mungkin, kuasai market, ambil pendanaan dan menjadi yang paling besar diindustri yang dijalani.

Lalu apa salahnya? Yes, salahnya adalah, tidak semua bisnis dapat menggunakan model bisnis yang sama.

Contoh bisnis jasa, limitasinya adalah kemampuan tim untuk menghasilkan output. Sama halnya dengan pabrik, pasti limitnya adalah kapasitas produksi.

Pertanyaannya

Lalu pertanyaannya, bagaimana kita dapat memilih model bisnis yang tepat? Betul nda?

Ya, biasanya diawali dengan hipotesa, dari bisnis-bisnis sejenis yang ada duluan. Sebagai catatan kalau sudah ada bisnis sejenis ya.

Dan kalau belum ada, mungkin Anda akan harus memilih yang menurut Anda tepat, meskipun nanti ditengah jalan Anda bisa pivot (berganti strategi).

Seperti tulisan saya ini nih: Memulai Bisnis Lagi bagaimana kita dapat memulai bisnis lagi dan belajar dari pengalaman kita.

Nah, berkaca dari pengalaman itu, jadi pekerjaan rumah saya nih, menentukan bisnis model yang tepat untuk bisnis saya yang lain kedepan.

Apakah bisa menggunakan opsi yang sudah ada, atau total beda agar ada uniqeness. Jadi inget, berbeda mempunyai peluang lebih baik dari sekedar lebih baik saja.

Berbicara itu, akhirnya saya dan tim membangun ini nih di Acumatica: Silahkan baca linknya dibawah ya:

Pengajuan Uang Muka Perjalanan Dinas menggunakan Acumatica Cloud ERP.

Atau, kalau Anda ingin berdiskusi dengan tim saya tentang bagaimana penerapan metode atau tools yang akan membuat bisnis Anda jadi “Lebih Beda” coba kontak Mba Euis dinomor Whatsapp berikut 0815-8690-2500 

Iklan dulu boleh ya

Oiya, jadi inget, hari ini kami sudah melaksanakan Belajar Tableau dari Rumah dan ternyata yang mengikut acara tertarik banget mendapatkan ilmu baru.

Kalau Anda tertarik untuk mencobanya, bisa lho coba dulu Tableau ditautan berikut: Download Tableau Trial

Sukses untuk kita semua, mudah-mudahan tulisan saya bermanfaat ya.

Salam,

Daru

Memulai Bisnis Lagi

Memulai Bisnis Lagi

Memulai Bisnis Kembali
Pic Source: brilio.net

Minggu-minggu enaknya nulis blog

Selamat hari minggu, para pembaca yang budiman.

Sudah cukup lama ya, saya menulis kembali, blog pribadi saya, yang rutin membahas tentang bisnis, pemikiran saya, ide-ide bisnis yang liar serta apapun uneg-uneg yang ada dipikiran saya.

Ternyata, dipikir-pikir, menulis itu salah satu bentuk melepas kepenatan, stress atas profesi dan pekerjaan yang seminggu kita jalani. Terapi yang murah meriah, modalnya cukup notebook, segelas kopi kekinian (kopi Tuku, kita jadi deal ya) dan sebersit ide untuk mulai menulis.

Siang ini, saya meluangkan waktu, 15-30 menit saya untuk menuliskan, ide yang menurut saya, harus dituliskan, agar teman-teman yang saat ini lagi diposisi yang kurang enak karna kondisi pandemik, bisa cepet pulih, dan selalu berharap kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dibantu kearah yang lebih baik ya. Amin.

Ok, saya nyeruput kopi dulu ya. Segar.

Dan balik lagi, minggu-minggu gini, dirumah aja, emang enaknya nulis diblog sendiri. Siaap? Mari kita lanjut ya.

Memulai Bisnis Lagi. Kenapa bisnis lamanya Mas?

Sesuai judul, kenapa saya bilang, memulai bisnis lagi. Lah, kenapa bisnis lama saya? Nda ada apa-apa juga kok. Bisnis lama saya, dan bisnis utama saya, Sunartha.co.id yang bergerak dibidang jasa konsultasi dan implementasi software-software terbaik untuk manajemen, berjalan seperti biasa kok. Malahan baru buka cabang di Surabaya. Nih, artikelnya saya buat khusus untuk Anda.

Buka Cabang Baru nih, Surabaya here we come.

Dapatkan penawaran khusus bagi Anda yang punya bisnis di Surabaya atau teman dan keluarga di Surabaya, Jawa Timur dan sekitarnya untuk berdiskusi tentang software apa yang terbaik untuk bisnis Anda. Monggo lho.

Lanjut ya bahasan kali ini. Kenapa saya memulai lagi? Karena saya ingin punya portofolio bisnis yang secara bisnis, punya market yang besar, retail dan ternyata saya mempunyai keunggulan kompetitif disitu karena itu yang dikerjakan oleh bisnis saya sebelumnya. Betul.

Teknisnya, nanti saya lanjutkan dan ceritakan ya, step-by-step-nya, karena sepertinya menarik kalau kita jadikan serial konten bikin bisnis baru, jadi teman-teman yang ingin bergabung atau membuat bisnis serupa, bisa jadi inspirasi.

Lalu, ternyata, saya menemukan sebuah insight, kunci atas memulai bisnis kembali ternyata langkahnya lebih cepat apabila kita mempunyai pengalaman atau urutan bisnis sebelumnya yang kurang sukses (to the pointnya, bisnis yang bangkrut ya).

Kita bahas dibawah ya. Saya nyeruput kopi kekinian dulu. Sambil ngemil donat gula yang manis, semanis siapa ya? Iya, kamu, jangan senyum-senyum sendiri sambil baca ini ya Mba.

Ternyata, itu toh kuncinya. Penasaran apa kuncinya?

Punya Bisnis Lalu Dijual? Nda sayang?

Tahukah Anda, saya pernah nulis tentang topik diatas itu. Silahkan mampir bagi Anda yang belum mampir ya. Terimakasih lho. Ditunggu masukannya.

Kunci dari penasaran Anda. Yes, karena pengalaman, apapun itu, baik maupun buruk, akan membuat Anda merintis bisnis berikutnya jauh lebih cepat dan lebih terstruktur. Sebagai contoh:

Bisnis berikutnya saya, bisnis yang akan jalan ini sudah mempunyai perhitungan antara penerimaan, target penerimaan, budget biaya dan detail teknis seperti infrastruktur IT, menempatkan dimana saja, software yang digunakan apa aja, dan seterusnya.

Jadi sesuai gambar diatas, meskipun usaha pertama, kedua, ketiga kita tidak sukses or so-so, Anda nda perlu khawatir. Anda akan mendapatkan pengalaman dan insight menarik dari situ. Ingat, belajar itu bukan dari kesuksesan saja lho, kegagalan juga. Setuju?

Wah ternyata saya nulis cukup banyak juga ya. Maafkan. Yang pasti, series merintis bisnis saya ini akan saya jadikan prioritas tulisan saya kedepan. Jadi, ditunggu ya tulisan dan sharing saya berikutnya.

Bagi yang ingin ngobrol-ngobrol tentang bisnis, sistem bisnis dan model bisnis, boleh lho diskusi sama saya. Siapa tahu bisa saling bantu. Anggep CSR pribadi saya deh.

Follow Linkedin saya, di hyperlink saya dibawah ya.

Daru

Saya dan tim sedang membuat bootcamp program untuk developer dibisnis saya Sunartha. Tertarik untuk bergabung? Sent CV Anda ke hrd@sunartha.co.id dengan judul email: BootCamp_BlogPW. Kabari dan bagikan ya kalau saudara, kenalan maupun teman Anda mau join. Trims.

Punya Bisnis Lalu Dijual

Punya Bisnis Lalu Dijual

Punya Bisnis Lalu Dijual
Sumber Gambar: Tribunnews

Minggu Malam Enaknya Makan Indomie

Siapa yang seperti saya?

Disaat hujan-hujan, bingung mau makan malam sama apa, tetiba inget punya mie instan, dengan merk indomie, langsung deh dibuka sobeknya, dimasak, aduh sedapnya. Maaf ya yang jadi buat pada pengen masak Indomie saat ini juga.

Silahkan deh, bagi yang mau masak Indomie dulu baru lanjut baca tulisan saya kali ini. Jangan lupa tambahkan telur dan sawi ya.

Mankyus.

Sambil masak, saya juga punya lho tulisan-tulisan yang patut Anda baca seperti dibawah ini:

Belajar Dari Kegagalan

Ok, Indomie sudah siap didepan Anda? Sambil makan, bisa kita lanjutkan bahas ya, kenapa topik ini perlu dan penting saya bahas. Siap, lanjut ya.

Punya Bisnis Lalu Dijual, Kok Gitu?

Siapa dari kita yang ingin punya bisnis? Ok, cukup banyak ya, Kenapa saya katakan kalau sudah punya bisnis, rintis sampe cape-cape dan berkeringat, kok malah dijual Mas Ndaru?

Ok, ini ternyata alasannya. Dunia sudah berubah, termasuk dunia usaha. Tahukah Anda, ada berita yang mengejutkan yang baru-baru ini ramai diberitakan, bahwa ICBP (anak perusahaan Indofood yang fokus dengan produk Indomie yang kita bahas tadi) melakukan akuisisi ke Pinehill sebesar 44 Trilyun.

Wow, disaat dunia dilanda corona gini, ada berita duit segitu pindah kantong ke pemilik Pinehil. Dan ternyata, tahukah Anda, 49% pemegang saham Pinehill itu yang punya Indofood juga.

Nah, karena berita ini, saya jadi penasaran ingin menulis. Jadi, kalau kita build bisnis dan bisnis yang kita bangun bisa survive dan lari kencang, sebaiknya (kalau saya ya) dijual dan terus dikembangkan kedepan.

Tapi saya penasaran pendapat Anda semua sih, so please tulis komen dibawah ya. Namanya juga sharing pikiran bersama. Tidak ada yang paling tepat bukan?

Kalau Anda Gimana

So, menurut Anda gimana? Ternyata bisnis Indomie segurih dan senagih itu ya dalam hal return dan nilai pasar.

Saya tahu, lalu Mas Ndaru, kalau dijual, saya dapat apa dong? Kan saya mau diwariskan. Apalagi saya nda punya uang dong klo dijual?

Pertanyaan bagus, tapi sebelum saya jawab, saya pasang iklan dulu ya dibawah ini.

Kantor saya, membuka peluang bagi Anda untuk belajar tentang Tableau, tools kekinian untuk para analis dalam membantu pekerjaan mereka buat analisa dan laporan yang super fancy untuk boss Anda.

Tertarik dong disaat covid gini nambah skills? Bisa tanya-tanya lebih lanjut ke tim saya, Mba Euis dengan menghubungi dinomor WhatsApp berikut: 0815 8690 2500

Kalau masih penasaran ingin baca-baca dulu dan lihat silabus seperti apa, bisa nih baca diartikel berikut: Training Tableau Kekinian atau bisa juga join Grup WhatsApp Belajar Tableau

Belajar Tableau dari Rumah
Sumber: Sunartha

Cape juga ya nulisnya. Eh, tapi belum saya jawab ya pertanyaan diatas. Lalu saya harus bagaimana kalau bisnis dijual?

Ok, tentunya, akuisisi oleh pihak pembeli bisnis Anda, bisa kita buat ketentuan kan. Misal nih ya, ada yang deal-nya Anda tetap sebagai pemegang saham minoritas disitu. Ada juga Anda akan tetap menjadi komisaris misal keluarga Tirto di Aqua saat akusisi Danone.

Banyak kok opsi-opsi lainnya. Dan tentunya, Anda punya 1 set tim manajemen yang lengkap untuk membantu Anda mengembangkan bisnis Anda kedepan. Agree?

Harus dong. Baiklah topik kali ini cukup menarik perhatian bukan?

Senyum Anda mustinya sama dengan pemilik warkop di Afrika sesuai gambar saya diatas.

Yuk mari kita mengembangkan bisnis kita kedepan agar bisa Anda jual dan financially freedom. Amin.

Tertarik untuk membaca bahasan topik seperti ini, bisa baca diblog saya ataupun blog Sunartha ya.

Bagi Anda yang terlanjur tertarik sama Tableau itu apa dan kalau mau coba-coba download dulu, saya kasi link download gratis trial selama 14 hari disini: Download Sekarang Juga

Selamat menikmati Indomie Anda.

Salam,

Daru

Belajar Dari Kegagalan

Belajar Dari Kegagalan

Belajar Dari Kegagalan
Pic Source: hai.grid.id

Pagi Santai

Cerahnya pagi ini, membuat saya ingin menulis. Iya, menulis adalah salah satu cara untuk berbagi, melepaskan stres dan mencurahkan uneg-uneg pikiran saya selama bekerja.

Pekerjaan yang saya lakukan cukup menguras pikiran. Memikirkan bagaimana alur proses bisnis customer, implikasi kepada sistemnya serta apakah bisa dilakukan dan dijalankan oleh user dari client saya sesuai dengan harapan bersama.

Cukup rumit bukan? Ok, klo tidak rumit, mungkin saya harus merekrut Anda he3.. Yuks, kita lanjutkan ya, bahasan saya pagi ini, belajar dari kegagalan.

Oiya, bagi Anda yang tertarik untuk bekerja dengan job description seperti diatas, boleh lho apply melalui website Sunartha dan apply as functional consultant. Selamat mencoba!

Mari kita lanjutkan, sebelumnya, mampir dong ke artikel saya yang lain dengan prediksi 10 tahun kedepan sejak covid ini. Berikut artikelnya: Prediksi 10 Tahun Kedepan

Belajar Dari Kegagalan

Siapa sih yang tidak ingin sukses. Sukses dan kalau bisa tanpa gagal. Karena yang namanya gagal itu tidak enak.

Gagal saat ujian sekolah/kuliah, itu nda enak. Apalagi gagal cinta, aduh jangan sampe deh (tapi pasti banyak dong temen-temen semua yang pernah mengalami). Tapi, tahukah Anda, kegagalan ternyata membuat kita semua makin kuat.

Nda percaya?

Hayo kita buktikan. Setiap permasalahan yang kita miliki, diperlukan proses untuk melewatinya. Mungkin terasa sakit, terasa hampa dan masih banyak perasaan berkecamuk didalamnya, tetapi, namanya manusia, kita harus terus move on kan (anak-anak muda sekarang punya istilah).

Tiap kegagalan, apalagi bisnis, pasti ada insight atau pembelajaran yang kita dapatkan.

Contohnya saya. Kegagalan dibisnis kerupuk saya, membuat saya paham, ternyata bagaimana berbisnis dan cara-cara membuat bisnis kedua saya lebih “kebal” dengan hambatan tersebut.

Salah satu insight yang saya dapatkan adalah soal AR (account receivable) atau piutang usaha. Dimana bisnis pertama saya sangat bergantung sama penjualan berbasis piutang untuk mendapatkan revenue.

Saat ini, 180 derajat terbalik. Bisnis saya mempunyai AR collection days dibawah 30 hari dimana aliran cashflow menjadi cair. Dulu? Coba tebak? Lebih dari 90 hari. Lumayan kan dananya bisa utk beli gorengan hehehe.

Move On dan Terus Belajar

Ternyata, belajar itu nda pernah ada sudahnya. Barusan cek twitter, ada yang post seperti ini: Jangan pernah merasa puas diri tahu tentang semuanya, mungkin saja Anda belum mempelajarinya.

Setuju nda?

Bisnis pun sama, mungkin saat ini bisnis saya masi dikisaran medium, tapi tantangan dan pembelajarannya dilevel korporasi jadi beda lagi. Nah, kalau cepat puas diri, kapan kita pinternya? Atau jangan-jangan sudah tutup duluan karna pemiliknya malas.

Tapi saya setuju klo setiap kegagalan itu akan membuat depresi, rasa tertekan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Makanya saya tulis dong artikel tentang ini juga, coba mampir ya: Bangkit Dari Depresi

Jadi, apapun itu, kegagalan kali ini tidak menentukan Anda yang sekarang kok. Mungkin Anda yang sekarang jadi Anda yang lebih baik dari yang kemarin dengan modal tersebut. Sayangnya di CV jarang ya bilang kegagalan in term of kesuksesan. Penasaran juga.

Dan karena saya care untuk berbagi, saya juga menulis tentang topik ini nih: Survival Melewati Badai Corona. Karena setiap dari kita harus bisa survive dari badai ini. Setuju nda?

Atau bisa juga baca artikel berikut dari saya: Punya Bisnis Lalu Dijual.

Penutup

Bagaimana teman-teman, cukup mencerahkan bukan tulisan dipagi hari ini? Semoga kita semua selamat dan mampu bertahan dikondisi saat ini. Stay safe and survive sampai era pandemik berakhir.

Kami juga akan membuat webinar rutin tentang bisnis. Jadi bagi Anda yang ingin ikut dan mengembangkan diri selama kondisi ini, stay tuned di Linkedin Sunartha, tautan bisa dicek disini: Linkedin

Atau ingin berkenalan dengan saya dan diskusi bagaimana kita bisa berbagi tips menghadapi semua ini, tolong japri ya.

Tertarik untuk membuat webinar tentang bisnis bareng, bisa hubungi tim saya, Mba Euis dinomor whatsapp berikut: 0815 8690 2500 untuk kita maju bersama ya.

Salam,

Daru

Spoiler dikit tentang gambar diatas. Saya tertarik untuk berbisnis donat nih. Ada ide bagaimana kita bisa mencoba bisnis rumahan dijaman pandemik ini. Saya akan bagikan rutin cara saya memulai bisnis dari awal. Sepertinya seru untuk mendokumentasikannya dan berbagi untuk Anda semua. Psst, donat buatan keluarga saya enak lho.

Prediksi 10 Tahun Kedepan

Prediksi 10 Tahun Kedepan

Selamat Datang

Pagi! Apakabar? Semoga Anda dan teman-teman sehat selalu. Masih setia dirumah aja kan? Sebaiknya tetap sabar dirumah ya, kurangi bepergian dahulu pada saat ini sambil menunggu kebijakan pemerintah dan pemerintah daerah masing-masing terkait pembatasan berskala besar.

Bagi Anda yang sudah mendapatkan THR dari kantor Anda, selamat! Gunakan dengan bijaksana ya. Karena kita masih belum tahu sampai kapan pandemi ini akan berkurang atau berakhir. So think wisely before spending your money guys!

Pagi ini saya mendapatkan share link video dan saya langsung bagikan kepada Anda diawal tulisan saya kali ini. Pertanyaannya, 10 tahun kedepan itu akan seperti apa sih kehidupan kita? Mungkin bagi Anda yang sudah menontonnya, Anda akan langsung dapat menjawab pertanyaan saya.

Ok, saya berikan waktu ya untuk Anda menonton youtube diatas oleh Nas Daily. Setelah itu, jangan lupa mampir diartikel saya yang lain dibawah ini ya:

The New Normal

Prediksi 10 Tahun Kedepan

Yang pasti, hari-hari kita kedepan masih akan dibayangi oleh hadirnya virus corona, dimana setiap orang akan selalu sadar akan kebersihan terutama penggunaan masker, mencuci tangan dan masih banyak hal lain seperti social distancing.

Sulit? Pastinya. Apalagi bisnis yang berhubungan dengan kerumunan pembeli, interaksi dengan banyak orang dan terkait perjalanan antar daerah. Nda kebayang deh intinya.

Tapi tentunya kita nda boleh menyerah dong ya. Seperti yang Nas (divideo youtube) sampaikan, 10 tahun kedepan, peluang hal-hal baru yang tadinya mungkin tidak terpikir, akan menjadi salah satu pilihan hidup kita.

Seperti bekerja dari rumah (work from home). Gini-gini kantor kami sudah menerapkan work from home sejak pemerintah daerah Jakarta mengumumkan pembatasan.

Sulit untuk tim? Tentu saja. Tapi tetap kita lakukan. Stress? Pasti. Apalagi untuk tim sales saya yang terbiasa berkelana mencari prospek, hal ini sangat merepotkan tentunya.

Tetapi benar juga kata Nas, jangan-jangan, kita bisa lho menawarkan jasa dan produk kita tanpa harus kita keluar dari rumah. Apalagi tinggal didaerah seperti Jawa Tengah, sambil menikmati internet yang harus tetap kencang ya. Tetep.

Rencana dan Cita-cita

Ok, karena pandemic covid ini, sepertinya banyak orang yang harus merevisi rencana dan cita-cita kedepan. Setuju nda? Pasti dong, wong saya juga kok.

Lalu, bagaimana dengan Anda? Saya share bagian saya ya.

Tentunya, untuk bisnis Sunartha sendiri saya mungkin akan arahkan ke konsultan yang 100% murni online consulting. Bagaimana bisa? Nanti kita bahas diblog berikutnya ya.

Oiya, bagi teman-teman yang belum tahu Sunartha, kita merupakan consultant bagi perusahaan menengah dimana goals kami ingin membantu perusahaan-perusahaan tersebut mengadopsi teknologi dan tools IT supaya bisnisnya berkembang kedepan.

Kami juga partner dari product Acumatica dan Tableau. Tertarik? Boleh diskusi sama tim saya, Mba Euis ya dinomor whatsapp berikut: 0815 8690 2500

Lanjut ya. Trus kalau target pribadi gimana? Pastinya, kayaknya saya mempertimbangkan untuk membeli kendaraan yang biasa saja, alih-alih ingin memiliki rumah dengan view ruang kerja yang luar biasa. Ya mirip-mirip gambar dibawah ini lah ya

Yang lain? Tentunya saya akan lebih rajin belajar mengenai hal baru dibidang saya dan rutin berbagi seperti yang tim saya akan lakukan diminggu ini. Kita akan membantu teman-teman sekalian bagaimana menggunakan salah satu produk kekinian untuk work from home.

Saya infokan disini ya eventya dan secara acara ini gratis, undang teman-teman Anda semua ya untuk join. Link pendaftarannya bisa daftar disini ya: https://bit.ly/35N2469

Source: Sunartha

Bagaimana? Cukup mencerahkan bukan? Oiya, kalau teman-teman tertarik untuk menyumbang ide, kira-kira permasalahan atau gimana cara membantu masalah dibisnis teman-teman yang terkait dengan kami, diinfo saja ya. Atau japri ke Mba Euis juga tidak apa-apa.

Terimakasih sudah membaca dan jangan lupa sharing kalau bermanfaat.

Salam,

Daru

Bacaan lain terbaru dari Sunartha: Survival Melewati Badai Corona

Belajar Mengelola Cashflow Usaha disaat Covid

Belajar Mengelola Cashflow Usaha disaat Covid

Belajar Mengelola Cashflow Usaha
Sumber Foto: stylo.grid.id

Intermezo

Cashflow. Atau sering kita sebut juga arus kas.

Hal yang saat ini menjadi hal yang paling berharga bagi para pengusaha atau pemilik bisnis. Bagaimana tidak, ditengah kondisi pandemik seperti ini, sepertinya yang namanya uang kas itu seperti menguap diudara. Siapa yang setuju?

Kenapa saya mau bahas tentang hal ini? Mungkin karena saya berpikir, pasti ada teman-tema sekalian yang kesulitan atau bingung bagaimana ya caranya atau ingin ada opini kedua mengenai topik pengelolaan uang diusahanya pada saat seperti ini.

Berarti temen-temen datang ke blog yang tepat. Selamat datang ya. Bagi yang sudah pernah sebelumnya dan sering mampir, saya ucapkan ketemu lagi dan selamat membaca.

Sudah siap? Mari kita lanjutkan.

Sebelum lanjut membaca, tolong bantu saya dong, mampir ditautan berikut ini, saya berbagi tentang belajar Tableau, baru kenal Tableau, nda apa-apa, nanti disana diajarkan kok:

Belajar Tableau

Belajar Mengelola Cashflow Usaha disaat Covid

Mengelola cashflow secara sederhana adalah berusaha untuk mengurangi cash out dan menambah cash in sehingga kita tidak mengalami yang namanya defisit cash atau dana tunai.

Sesederhana itu memang dasarnya. Tetapi aplikasi secara nyatanya, kita bisa rincikan satu per satu kok. Mari kita bahas bersama.

Prioritas pertama kita dalam mengelola arus kas adalah kita harus membuat yang namanya eksisting model cashflow usaha kita.

Teman-teman bisa menggunakan aplikasi spreadsheet seperti excel untuk membuat gambaran alur penerimaan dan pengeluaran bisnis. Komponen apa saja yang harus dibuat, mudah, kita daftar saja. Yang pasti terbagi menjadi 3 bagian utama, sisi penerimaan yaitu kita akan mendapatkan uang dari mana saja, sisi pengeluaran dimana kita akan membayarkan uang tersebut kepihak lain dan yang terakhir sisi balance atau saldo yang kita miliki.

Bingung? Sabar, nanti bisa saya jelaskan satu persatu kok. Yuk mari dilanjut ya.

Yang jadi kendala disaat pandemi seperti ini adalah dimana pengeluaran kita sifatnya tetap sedangkan penerimaan kita, bersifat menjadi tidak menentu. Setuju?

Nah, dalam ilmu per-cashflow-an, ini sudah menjadi salah satu pertanda yang kurang baik. Apalagi kalau kita mempunyai yang namanya hutang yang perlu diangsur tiap bulan, apapun itu namanya.

Apa yang harus kita lakukan dong klo gitu? Prioritas.

Survival is the Key

Betul, kita harus menentukan prioritas terlebih dahulu. Misalkan usaha Anda mempunyai hutang rutin yang harus dibayarkan tiap bulan sedangkan dana yang Anda miliki, setelah dimasukkan kedalam excel tersebut hanya cukup untuk periode tertentu, tentunya kita harus memprioritaskan terlebih dahulu mana yang kita bayarkan.

Pada umumnya, prioritas pertama adalah membayar kepada pihak ketiga yang kita sudah mengambil fasilitas pinjaman tersebut. Namun, ditengah kondisi seperti ini, biasanya dan umumnya, kita masih bisa mengajukan yang namanya restrukturisasi pinjaman, sehingga kita bisa minta keringanan untuk metode bayar atau nilainya.

Kedua, kita juga harus melakukan prioritas kepada supplier utama kita dimana bisnis kita bekerja sama. Misalkan Anda berbisnis kopi, mau tidak mau, apabila Anda stop membayar supplier kopi Anda, ada kemungkinan Anda tidak akan diberikan pasokan bahan baku lagi bukan?

Tentunya Anda dapat berdiskusi dengan supplier Anda, bagaimana caranya agar hutang usaha yang dimiliki bisa dikelola dengan baik dan bagaimana kondisi Anda agar bisnis terus dapat jalan dan saling membantu ditengah kondisi seperti ini.

Ketiga, yang tentu tidak boleh dilupakan adalah karyawan dan tim Anda. Tentunya tanpa mereka, bisnis Anda tidak akan jalan bukan? Apalagi kegiatan produksi.

Prioritaskan untuk melakukan pembayaran gaji terlebih dahulu daripada biaya-biaya yang dirasa kurang perlu. Apalagi seperti contohnya karena tim Anda bisa work from home, pengeluaran utilitas kantor bisa dikurangi bukan?

Mari Kita Lanjutkan

Nah, kira-kira apalagi ya?

Tentunya kita harus pikirkan dari sisi penerimaan ya. Dari sisi penerimaan, tips yang paling mungkin kita lakukan adalah lakukan segala cara untuk mendapatkan penerimaan dari seluruh produk dan jasa yang kita miliki.

Contohnya kalau ditempat saya, Sunartha kami merencanakan marketing campaign seperti pembelian voucher implementasi dimana nilai yang dikeluarkan lebih terjangkau daripada implementasi full package.

Atau juga kita siap-siap dengan modul-modul yang lebih sederhana sehingga para pelanggan kami dapat menggunakan jasa yang ada dengan nilai yang lebih terjangkau agar kebutuhan cashflow tercukupi.

Dan juga kita bisa memulai menggunakan channel e-commerce seperti slogan berikut ini Mulai Aja Dulu yang Anda pastinya sudah kenal sebelumnya bukan?

Kesimpulan

Baik, karena sudah cukup banyak tips yang dibagikan diatas, dan semoga bermanfaat untuk rekan-rekan semua, seperti gambar dibagian blog yang saya lampirkan, stay safe and healthy, jangan lupa minum jamu ya (secara saya jadi endorse mba aurel nih).

Ada ide tulisan lain yang kira-kira bermanfaat untuk dibagikan? Yuk tuliskan dibagian comment dibawah ini ya.

Salam,

Daru

Mulai Aja Dulu

Mulai Aja Dulu

Mulai Aja Dulu

Mulai Aja Dulu
Mulai Aja Dulu

Artikel Yang Tetap Hits saat Covid-19 Melanda

Akhirnya, saya punya waktu lagi untuk memperbarui tulisan diblog saya ini. Kenapa tidak? Setelah sekian lama tidak diupdate, masih saja ada pembaca setia, atau mampir aja karna penasaran sama judul tulisannya ya.

Mungkin Anda dan saya saat ini sedang bingung dan galau mengenai kondisi kedepan setelah Covid-19 ini. Ide mulai aja dulu menjadi salah satu yang patut dipertimbangkan. Atau bahkan ide yang harus segera dieksekusi, tidak dipertimbangkan lagi.

Kenapa tidak? Menurut berita yang bersliweran diluar sana, banyak teman-teman yang dirumahkan dan otomatis menjadi jobless. Mungkin karena industrinya sedang bermasalah karena regulasi atau karena perusahaan tempat bekerja juga kesulitan untuk bertahan.

Kok saya jadi berpikir, mulai aja dulu ini jadi bener-bener harus dilakukan.

Kalau Anda bisa memasak, kenapa nda coba memasak dan dipromosikan melalui sosial media yang Anda miliki. Banyak media yang bisa kita pakai, Instagram, Twitter, Facebook, Youtube, you named it. Tokopedia mungkin juga bisa.

Apapun itu, ide seharusnya tidak menjadi tumpukan ide saja, namun dieksekusi dan belajar dari hasil eksekusinya. Setuju?

Artikel saya yang original ada dibawah ya. Saling support untuk kondisi Covid-19. Semoga kita dapat melaluinya bersama.

Ide Banyak Eksekusi Minim

Siapa yang seperti ini?

Saya juga kok, santai aja, saya nda nyalahin Anda-Anda semua.

Ide saya banyak banget.

Mau buka usaha ini.

Kayaknya buat divisi itu enak juga.

Usaha client saya yang anu kayaknya untungnya gede.

Nah lho, itu maruk (kemaruk-bahasa jawane rakus) atau ngayal.

Beda tipis sih.

Cuma siapa sih yang nda kayak gitu.

Saya aja kepinginan. Ingin ngejalanin semua.

Banyak ide, tapi ujungnya hanya diujung mulut saja, tanpa adanya eksekusi.

Eksekusi yang serius, eksekusi yang konsisten dan pembelajaran yang menerus.

Mulai Aja Dulu

Daripada kebanyakan ide, mulai sekarang saya selalu mengingatkan diri saya.

Untuk yuk mulai aja dulu.

Mulai dari yang mudah dulu.

Dari yang sederhana dan bisa dilihat hasilnya.

Hasilnya belum sempurna, nda apa-apa.

Daripada manis dibibir (kayak judul lagu jadul ya) dan menguap seperti asap yang entah berantah.

Mending kita mulai pake slogan MVP (Minimum Viable Product). Tahu?

Itu lho, seminimum mungkin produk atau jasa yang bisa kita kasi ke pelanggan.

Contoh sederhana kalau dibisnis saya.

Saya mau jualan kopi nih.

Ya saya jualin aja kopi item (wong bisanya baru buat kopi item) ke sekitar kantor.

Nanti kalau udah ada respon dari pelanggan-pelanggan, baru deh belajar buat latte, cappucino dan menu-menu lainnya.

Slogan Tokopedia

Saya tidak dibayar dan diendorse oleh tokopedia ya.

Gini-gini saya pelanggan tokopedia lho.

Beli dari printer, makanan kucing, sendal kantor sampe barusan duren aja belinya dari toped.

Lalu, kok saya nda mulai jualan via toped. Ide bagus.

Mereka aja bisa, kok saya nda bisa ya? Padahal apa-apa ada.

Maksudnya ada komputer, internet dan barang dagangan.

Mungkin yang kurang niat.

Makanya slogan Nike dengan Just Do It dan Tokopedia yang Mulai Aja Dulu buat saya tahu.

Untuk memulai sesuatu itu mah nda usah dipikir panjang. Mikir harus ya! Tapi jalanin.

Lalu, bagaimana dengan Anda? Saya sih Mulai Aja Dulu.

Artikel paling rame dari blog perusahaan saya, silahkan mampir ya: Contoh Penerapan ERP

Kalau Anda penyuka film korea dan tertarik belajar bisnis sambil nonton, musti baca artikel saya yang ini:  Belajar Bisnis dari Itaewon Class

Salam Malam Mingguan,

Daru

Saat ini saya bekerja di Sunartha, partner perusahaan untuk implementasi tools terbaik untuk meningkatkan bisnis mereka. Mulai dari Cloud ERP dan Business Intelligence sampai ke jasa training dan konsultasi.

Kami juga lagi mencari beberapa kandidat tim kami, tertarik? Kirim ke hrd@sunartha.co.id ya. Add saya di Linkedin Anda ya. 

Artikel update 3 Mei 2020

The New Normal

The New Normal

The New Normal
Source: Forbes

Kondisi Saat Ini

Selamat Pagi. Sabtu ini saya akhirnya menuliskan kembali pikiran saya dalam blog pribadi, yang cukup lama terbengkalai. Maklum, karna WFH kali ini, kerjaan kok perasaan tambah banyak ya daripada disaat sebelum WFH.

Sambil melihat hujan rintik-rintik pagi ini, saya mulai menuliskan, apa yang menurut saya nanti akan muncul setelah Covid-19 dapat diatasi.

Menurut saya dan bacaan-bacaan yang saya lihat dari para pengamat akan ada kondisi dimana terjadi The New Normal.

Apa itu? Yuk simak bareng-bareng. Karena sedang puasa, nda perlu ada iklan nge-teh dan ngopi dulu ya 🙂

Artikel pada blog saya lainnya bisa Anda baca disini ya:

Belajar Bisnis dari Film Itaewon Class

The New Normal

Kondisi normal, bagi sebagian dari kita adalah disaat kita dapat beraktivitas sebelum kejadian Covit melanda. Betul kan?

Seperti setiap sabtu minggu jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Atau kita bisa berangkat kerja untuk ngantor. Atau juga ketemuan dengan mitra bisnis dan customer secara tatap muka.

Tetapi itu normal yang dulu. Sekarang ada normal yang baru. Saya share ya, kenapa gitu?

Saya dan tim saya, saat ini sudah menjalankan aktivitas pekerjaan dari rumah kami masing-masing. Dulu, kami sama seperti Anda kok, bekerja seperti biasa, jalan dan travelling seperti biasa. Tapi sekarang berbeda.

Shock? Pastinya. Yang saya ingat cuma 1 tim saya yang terbiasa bekerja dari rumah. Itupun dia join dengan tim kami karena sudah bosan dan ingin bekerja seperti orang pada umumnya.

Tetapi karena covid ini, kita semua akhirnya merasakan dan menjalankan apa yang diminta oleh pemerintah daerah masing-masing. Work from home. Menjadi the new normal kami sehari-hari.

Sulit? Pada awalnya iya. Karena menurut penelitian, kondisi normal atau sudah menjadi kebiasaan itu sulit untuk berubah.

Contohnya saya sendiri, untuk memulai berolahraga, itu sulit sekali. Saya lebih senang untuk bangun pagi, mandi dan langsung didepan notebook. Padahal kalau sudah terbiasa untuk 30 menit berolahraga selama 1 bulan terus menerus, pasti tubuh kita sudah menjadi normal dengan kondisi baru bukan?

Lalu, kira-kira berikutnya bagaimana ya?

Itu yang saya lagi cari tahu dan sambil menerka-nerka kedepannya. Barusan saya baca beberapa bisnis ritel seperti KFC, Ramayana dan perusahaan startup unicorn pun, Traveloka sedang berpikir (saya yakin manajemennya berpikir keras) bagaimana beradaptasi kedepannya.

Itu mereka ya, yang gede-gede. Gimana kita para pengusaha yang secara ukuran mungkin masih lebih kecil dibandingkan mereka.

Kita harus juga berpikir untuk beradaptasi kedepan. Mungkin saya bisa bagikan beberapa tipsnya:

Melakukan koordinasi pekerjaan yang sesuai dengan kondisi the new normal.

Contohnya kami, setiap pagi dan sore kita rutin mengadakan meeting-meeting singkat untuk membahas apa yang bisa saling bantu satu sama lain. Dulu kami harus keruang rapat secara fisik, sekarang cukup buka sesi teams maupun google meet dan instan join semua. Sama toh?

Belajar untuk menerima The New Normal

Ya. Kami berusaha untuk belajar untuk menerima the new normal. Baik dari sisi aktivitas bisnis kami, dengan customer kami, dengan mitra-mitra prinsipal kami. Karena apapun itu, kondisi ini akan menjadi kondisi kami kedepannya. Sambil berdoa dan berharap kondisi kedepan akan lebih baik.

Evaluasi Kondisi dan Strategi Kedepan

Setiap ada kondisi baru, kita harus beradaptasi. Menurut bapak evolusi, yang bertahan adalah yang bisa beradaptasi.

Mungkin bisnis kami dulu sangat terbiasa dan ahli dalam implementasi sistem secara tatap muka. Tetapi the new normal membuat kami harus beradaptasi dengan metode kerja full online. Sulit? Pasti!

Tetapi masih mungkin dilakukan. Karena seluruh bisnis saat ini berusaha juga untuk bertahan dan mempersiapkan diri untuk kedepannya. Teorinya, setiap yang bisa bertahan disaat kondisi berubah, pasti akan mempunyai keunggulan tersendiri. Seperti kekebalan kali ya.

Bahkan kelakar teman saya, disaat kondisi gini, akan ada orang-orang kaya baru yang bisa membaca peluang disaat kesempitan melanda. Jadi, Anda tipe yang mana? Terus mencari peluang atau tetap merenungi nasib? Saya sih pilih nomor 1 ya.

Kesimpulan – The New Normal

Sambil mendengarkan spotify lagu-lagu korea, saya akhirnya mempunyai kesimpulan. Kondisi apapun, kita sebagai manusia dan pengusaha ya, harus selalu siap dan menjalankan ilmu dasar kita, survival.

Yes, bertahan dahulu sambil mencari peluang dimanapun kita temui. Toh akhirnya yang bisa kita lakukan adalah mencoba strategi-strategi baru sekalian bertahan dulu bukan? Klise sih, cuma ini yang saya dapat simpulkan sementara.

Tulis komentar ya, kalau Anda ingin berdiskusi lebih lanjut.

Tulisan dari rekan saya, Pak Airlangga: Kerjanya di Ponsel, Temannya Ice Cream juga merupakan salah satu bentuk kreativitas disaat WFH. Mampir ya.

Yang ingin berkenalan di Linkedin juga boleh. Add saya ya.

Daru

Artikel baru lainnya terkait mengelola keuangan disaat pandemic Covid-19:

Mengelola Cashflow Bisnis

10 Tahun kedepan setelah Covid kira-kira gimana ya?