1 Februari 2015

Sudah 31 hari sejak tahun 2014 lalu. Tidak berasa. Ya, waktu memang berjalan sangat cepat. Tau-tau sudah tengah tahun 2015. Apa hubungannya dengan bisnis? Banyak. Tapi sekarang kita ambil 1 hal aja. Target.

Ya, target kita untuk bulan per bulan akhirnya menjadi tahun. Target bulan januari bagaimana dibandingkan dengan perencanaan kita sebelumnya. Kalau tidak direncanakan, ya tidak bisa dibandingkan bukan?

Itulah gunanya perencanaan atau istilah kerennya budgeting. Perencanaan biaya, perencanaan penerimaan/penjualan, dan ujung-ujungnya profit berapa yang kita mau hasilkan.

Yang lebih parahnya, kalau kita tidak punya rencana kerja untuk mencapai target tersebut. Let it flow aja lah. Hidup kan untuk dinikmati, begitu kata orang. Tapi kalau waktu sudah berlalu 2 tahun, 5 tahun, masa kita mau gitu-gitu aja?

Yup, sudah bulan februari, artinya 11 bulan lagi sampai desember. Pergunakan waktu kita sebaik-baiknya.

Follow twitter saya di @purwandaru_w ya

Ide Bisnis

Baru-baru ini saya mengikuti seminar mengenai peluang kerjasama antar vendor dibidang teknologi informasi. Dari acara tersebut kita berkenalan dengan beberapa perusahaan yang core bisnis nya adalah menawarkan solusi fisik server.

Menariknya adalah yang ditawarkan oleh seminar tersebut adalah peluang bagi perusahaan yang tadinya menawarkan server fisik menjadi menawarkan solusi Cloud Services.

Benar-benar merupakan ide bisnis yang 180 derajat berbeda. Yang tadinya berjualan sekarang menyewakan. Konsep bisnis yang berbeda, nilai pekerjaan yang berbeda, dan pendekatan ke customer yang berbeda.

Terkadang, ide bisnis muncul disaat kita berbicara dengan customer kita, dengan sesama pelaku usaha di industri yang sama, bahkan dari pihak lain sebagai pengamat dari luar.

Ide bisnis sebagai pelaku usaha merupakan suatu jalan lain, bisa mengarahkan kita ke peluang usaha yang lebih baik atau bahkan bisa juga hanya sebatas ide yang telah dicoba dan tidak scalable (layak).

Jadi, ditiap kesempatan selalu luangkan waktu dan pikiran untuk membaca peluang-kesempatan-ide yang muncul tiba-tiba. Dari situ mungkin kita bisa mendapatkan bisnis yang bernilai jutaan (dollar) tentunya

Regards

Follow Twitter saya di @Purwandaru_W yaa

Zona Nyaman Berbisnis

Pernah mendengar istilah “Tidak ada yang abadi selain perubahan” ? Yups, saya sering merasakannya, terutama apabila diskusi sama teman-teman yang memiliki bisnis.

Setiap orang yang memiliki usaha atau bisnis harus siap mengantisipasi perubahan. Entah perubahan karena dari internal kita sendiri maupun perubahan dari eksternal.

Contoh perubahan internal adalah standar operasi dan prosedur (SOP) yang kita buat agar semua tertata baik dan mengalir secara lancar.

Contoh perubahan eksternal adalah pasar, pesaing dan mungkin juga kebijakan pemerintah. Intinya adalah kita harus senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan.

Istilah kerennya adalah “Bagaikan berselancar dalam ombak perubahan”. Siapa yang siap dan tahu arah perubahan itu dalam bisnis, mereka yang bakal melaju lebih cepat dari kompetitor.

Baru-baru ini ngobrol dengan teman-teman tim. Salah seorang teman menyeletuk, kalau kita tidak mencoba lepas dari zona nyaman ini, kita ga bisa maju nih. Bisnis temen-temen sudah enak? indikatornya adalah sales stabil, pelanggan puas, dan profit stabil.

Mau tidak teman-teman mengarah ke zona tidak nyaman berikutnya untuk mencari peluang kenaikan omzet dan profit? Mari kita menantang diri kita masing-masing. Saya tertantang nih soalnya

Ingin diskusi lebih lanjut, hubungi twitter saya di @Purwandaru_W

Regards,

Daru

Start Small, Think Big and Act Now (Part 3)

Melanjutkan Part 3 dari seri sebelumnya mengenai topik kali ini “Start Small, Think Big and Act Now”. Saat ini kita akan membahas mengenai Act Now.

Act Now

Yang dalam bahasa Indonesianya berarti “Sekarang”. Mengutip pembicaran dari Owner Bakso Sehat Bakso Atom menjawab pertanyaan Om saya beberapa minggu yang lalu mengenai “Kapan sebaiknya kita mulai berusaha?”. Jawab Pak Prabowo, ya mulai dari sekarang aja Om. Apalagi jika usaha tersebut merupakan usaha sambilan. Ya Om saya masih fulltimer sebagai dosen di Universitas Satya Wacana Salatiga.

Jika usaha yang mau kita buat adalah sambilan, kenapa ga sekarang saja. Toh klo ada apa-apa, risiko nya masih bisa ketutup sama pekerjaan utama kita, benar atau benar? (mirip Pak TDW klo uda ngomong bgini).

Saya memulai usaha dahulu waktu kuliah di semester2 akhir. tapi sebenernya waktu kuliah semester awal juga sudah mulai. Tapi bisnis nya tergolong kecil banget. Pas saya mulai isi waktu luang dikuliahan, saya berjualan pulsa hp. Dahulu masi bentuknya voucher dan tidak ada tempat beli voucher selain dikios2 pulsa. Belum jamannya elektrik.

Mengingat itu, benar juga apa kata Pak Prabowo (Btw, sudah coba Bakso Atom beliau? Inovatif dan rasanya enak,- Spoiler iklan udahan dl). Klo kita mau mulai usaha, ya skarang aja. Apalagi sekarang kita bisa mulai usaha jual online via bbm, wa, instagram dengan modal smartphone, pake internet dan modal secukupnya. Yang penting tahu rasanya berusaha dulu.

Kadang orang-orang kebanyakan berfikir mau usaha apa. Waktu saya mulai usaha software accounting, ya dicoba aja apply dan karena perusahaan nya butuh reseller ya diterima. Apalagi target ga ada, hayuk aja. Dari situ kita bisa sambil belajar dan dibayar. Ingat, belajar harus juga dibayar, bukan bayar untuk belajar kayak kuliahan klo di bisnis.

So… Act now, yes NOW… and there’s no tommorow for start your own business…

Regards

Daru

Follow me at @Purwandaru_W and @Smartcounting kalau mau diskusi lebih lanjut tentang Startup, Bisnis maupun ERP.

Start Small, Think Big And Act Now (Part 2)

Melanjutkan Part 2 dari blog sebelumnya “Start Small, Think Big and Act Now”.

Think Big

Seringkali mimpi kita yang terlalu kecil. Pernahkah anda merasa demikian? Contohnya seperti ini, usaha ini jalan dan memberi saya gaji bulanan sebesar Rp 50 Juta saja sudah cukup kok. Artinya kita membatasi rejeki kita sendiri dari bisnis kepunyaan sendiri. Sehingga apa yang kita yakini dan usahakan sebatas itu saja.

Berfikiran besar membuat kita sebagai pemilik akan mengarahkan semua pikiran dan kekuatan ke arah tersebut. Apabila kita mau melakukan perjalanan kerumah kakek dan nenek diluar kota, kita biasanya sudah mempersiapkan peta, tempat pom bensin yang akan dihampiri, mau makan dimana dan sebagainya.

Think Big disini seperti itu, kalau kita membuat arah sebesar apa bisnis kita nanti di tahun 2020 contohnya. Maka 5 tahun dari sekarang semua jalannya sudah direncanakan. Misalkan, omzet tiap tahun naik 50% dengan profit margin konsisten 30%. Berarti butuh jumlah karyawan berapa di bagian produksi, marketing, sales dan apa saja yang disiapkan.

Semakin besar ide kita, maka semakin tertantang dan semua kreativitas kita pun akan terpacu.

So, mari kita mulai  memikirkan seberapa besar bisnis kita nanti kedepan. Amati saja pengusaha  yang sukses dari bisnis yang mempunyai industri yang sama sebelumnya, minimum itulah target yang mau ditetapkan.

Regards,

@Purwandaru_w

Start Small, Think Big and Act Now (Part 1)

Itulah kata-kata dosen saya Pak Bayu Krisnamurthi disaat beliau mengajar.Waktu itu mata kuliah nya saya lupa, tapi kata-kata tersebut terus terngiang-ngiang dipikiran saya. Saat itu saya belum terpikir apa yang akan saya lakukan ketika saya lulus nanti, bekerja atau mencoba usaha sendiri, wiraswasta kata banyak orang.

Tetapi setelah saya melalui pengalaman-pengalaman dalam memulai usaha, ternyata ada benarnya juga kata-kata tersebut.

Start Small

Seringkali waktu kita mulai usaha, maunya langsung serba besar. Besar kantornya, besar tim atau karyawannya, besar omsetnya, besar segala-galanya. Itu benar apabila memang modal kita sudah mencukupi. Modal disini bukan hanya capital atau uang tetapi pengalaman mengelola sdm, operasional dibidang yang kita akan usahakan.

Start small, mulailah dengan yang kecil dulu. Dengan yang kecil, kita akan terasah secara langsung. Bagaimana mengelola sdm, mengelola aktivitas marketing dan penjualan, mengelola keuangan, mengelola emosi dan ketahanan diri kita sendiri.

Jatuh dan bangun saat kita kecil membuat kita menjadi siap apabila skala usaha yang kita mulai tadi membesar. Rumusnya hanyalah duplikasi. Apabila kita sudah mempunyai cukup informasi dan data yang bisa kita jadikan dasar, maka sisanya adalah prosedur dan sistem yang bekerja.

Dahulu saya dan keluarga mempunyai usaha dibidang produksi kerupuk. Buat sebagian orang, usaha ini sederhana sekali. Tetapi apabila dibesarkan skalanya, seperti yang kami coba, hal itu menjadi sangat berbeda.

Dari sisi produksi saja sudah harus berhubungan dengan efisiensi. Berapa banyak bahan baku yang harus ada, berapa tenaga kerja, berapa bahan bakar yang harus ada, berapa kecepatan produksi yang harus dijaga dan lain lain.

Waktu itu saya yakin apabila produk baik, maka proses penjualan akan mudah. Ternyata asumsi saya tidak sama dengan kenyataan. Pasar harus dimulai dulu sebelum produksi. Pasar harus siap dengan produk kita dan pesanan harus ada untuk menerima hasil produksi kita.

Apabila skala mulai adalah kecil, maka kita akan tahu terlebih dahulu. Bagaimana proses sales dan marketing, untuk menyesuaikan dengan kapasitas produksi.

Baik, kita lanjutkan besok untuk bahasan yang kedua, Think Big dan Act Now.

Tren ERP 2015

Selamat Tahun Baru 2015

Bagaimana dengan persiapan tahun 2015 dibisnis Anda? Sudah melakukan budgeting dan merencanakan aktivitas kerja untuk tim Anda?

Pastinya sudah direncanakan baik-baik pada akhir tahun 2014 lalu. Darimana data yang digunakan untuk mempersiapkan nya? Pasti dari file-file excel yang digunakan, software akuntansi yang sudah terpasang bahkan ERP system yang sudah ada.

Ok, sekarang saya mau sharing mengenai tren 2015 untuk aplikasi ERP bagi industri distribusi berdasarkan erpfocus.com :

1. Business Intelligence akan sangat dibutuhkan dari ERP

Bisa dibayangkan untuk melakukan pengambilan keputusan tanpa harus menunggu lagi proses melakukan penarikan data dari software, kemudian diolah dalam bentuk excel dan disajikan dalam bentuk bagan dan chart sehingga mudah untuk diambil kesimpulan dari data tersebut. Ya, business intelligence akan sangat membantu semuanya itu, cukup lihat dashboard yang sudah dibuat, kemudian diambil keputusan berdasarkan data tersebut. Anda bisa menjawab pertanyaan dari pelanggan mengenai ketersediaan barang, kapan pengiriman akan dilakukan dan kapan barang akan tersedia kembali saat itu juga? Masih penasaran kan? ada 2 lagi.

2.  Otomatisasi dalam proses pengiriman 

Semua proses yang terjadi digudang dari kegiatan masuk barang sampai, sortir untuk persiapan pengiriman sampai dengan pengiriman dan dikirim oleh ekspedisi yang ada semuanya akan tercatat di ERP. Saat ini dimulai dengan barcode scanner dan akan mulai menggunakan robot sebagai pengganti tenaga manusia, semuanya akan serba mungkin.

3. Siapa yang mampu mengelola persediaan lah yang menang

Dalam industri distribusi, yang paling optimal mengelola persediaan lah yang menang. Optimalisasi nya tidak terlepas dari sistem yang dapat memberikan informasi paling aktual baik dari sisi persediaan yang ada sampai dengan forecast persediaan yang dibutuhkan. Informasi mana persediaan yang akan dikategorikan sebagai dead stock dan mana yang harus cepat dipenuhi persediaannya, merupakan suatu keharusan dari ERP yang dimiliki.

Sekian informasi terkait trend 2015 ERP bagi perusahaan yang bergerak dibidang industri distribusi. Berikan komentar melalui email atau twitter saya.

 

Fenomena Film : Doraemon “Stand By Me”

Yups,

Akhirnya teater film Blitz Megaplex ramai kembali dengan hadirnya film Doraemon “Stand By Me”. Yang biasanya teater hanya terisi sedikit dengan film-film yang sama dengan 21 Cineplex, akhirnya sekarang membludak dengan rata-rata pengunjung orang tua muda dengan anak kecil mereka.

Doraemon merupakan tokoh fiksi robot kucing dimana sudah hadir di Indonesia sudah sejak lama. Dengan tokoh utama Nobita dan kawan-kawannya menghibur sejak saya SD. Ingat banget sejak saya sebelum SD sampai lulus, Nobita tidak lulus SD juga, he3… kasian bgt penderitaannya… wkwkw

Dari  segi bisnis, hadirnya Doraemon dengan wajah yang lebih bening (teknologi film sekarang beda dengan anime dulu) merupakan “De Javu” nya kenangan penggemar nya dahulu. Tidak perlu adanya edukasi dan semua orang langsung tahu mengenai Doraemon.

Saya yakin banget dan dibuktikan dengan down nya jaringan pemesanan online di Blitzmegaplex membuat profit dari penyedia jasa tontonan ini meningkat signifikan. Coba bayangkan sampai IT drop melayani order pembelian. Tampak diluar ekspektasi bukan?

Next mungkin strategi ini yang akan dijadikan andalan Blitz melawan 21, menghadirkan film-film yang sudah punya penggemar setia, setahu saya Saint Seiya, Evangelion, Kenshin sudah muncul. Mungkin bisa saja Naruto, Bleach dll akan hadir.

Kita nantikan saja strategi berikutnya dari Blitz melawan 21.

Regards

Klo berkenan follow twitter saya ya di  @Purwandaru_W

Learning Story from Tokopedia Funding (Part II)

Hi teman-teman,

Lanjut lagi di part II (Secara Hunger Games aja dibagi 2 filmnya kan? spoiler -red)

Okeh. Dimulai dari tahun 2007 karena bisa menjawab masalah teman-teman nya diforum untuk jual beli (William itu anak warnet, bener-bener kerjaannya jaga warnet pas kuliah). Dia memutuskan pas kerja di content provider untuk bilang ke bos nya untuk buat yg namanya tokopedia (btw siapa nama bos nya ya… pasti skrg duitnya zuper banyak).

Insight inilah yang akhirnya membuat tokopedia lahir, analoginya adalah Taobao nya Indonesia atau ebay nya Indonesia. And gilanya lagi adalah it’s free (registrasi utk servicesnya dan bank admin transaksinya), Gila!!. (Secara gw orang keuangan ga akan pernah bisa terima alasan itu kecuali emang gila).

Inilah yang kita rasa buat traction nya jadi pesat banget dan membuat banyak orang untuk mencoba masuk dan berjualan via tokopedia. Analoginya simpel sebenernya, ITC cempaka mas aja lakuin itu. Maintenance charge free for all tenant asalkan jual barang semurah mungkin jadi smua orang tau ITC Cempaka mas jualan barang paling murah sejagad jakarta.

Everything is make sense. Seller pada masuk, buyer juga pada beli, brand awareness naik and sim salabim next rounding for funding came every year, yes every year. Insane… with that 10% shares…

Learning point from Tokopedia adalah :

1. You have to believe what is your streght : SDM/HRD/Talent itu PENTING di bisnis IT… contoh Google, Apple, Facebook… Yes there are the artist

2. Traction is a must to attract Investor… Siap2 utk tim Webpraktis kita harus terus jaga tractionnya – Iklan dulu ya

3. There’s someone have to be Local Hero to be media darling such as Pak Jokowi Presiden kita dan William di ranah Startup Asia Tenggara..

Well then, sekian ulasannya. Semoga bermanfaat dan bisa menginspirasi teman-teman untuk ber-startup-ria dan BELIEVE pada apa yang kita percayain bakal sukses.

Regards,

@Purwandaru_W

 

Learning Story from Tokopedia Funding (Part I)

Hi teman-teman,

Sudah lama saya tidak melakukan kegiatan blogging karena kesibukan diakhir tahun mengejar target perusahaan yang sudah ditetapkan (alasan-red).

Mau sharing mengenai event yang diadakan oleh idEA (Indonesian E-Commerce Assosiation) hari Rabu 10 Des 2014 di Hotel Aryaduta. Dimana bersamaan dengan demo buruh yang ada di Jakarta pula. Agak ironi sebenarnya dimana demo buruh untuk meningkatkan pendapatan sedangkan kami didalam mendengarkan sharing pemilik Tokopedia mendapatkan 100 Juta USD (Yup, Funding terbesar se – Asia Tenggara).

Acara dimulai dengan makan-makan (yg ini harus diceritakan karena kita membayar untuk event ini he3.. oportunis ya?) dan perjuangan beberapa yang hadir karena macet yang disebabkan oleh demo.

Dimulai dengan sesi sharing oleh William founder Tokopedia dan Wilson dari East Ventures. Klo mereka bikin tol jadi tol Wil Wil he3.. kidding.

Yang mengejutkan adalah tokopedia mempunyai visi dan misi yang sama sejak dari 2007 dicetuskan dan didanai 2009 dengan komposisi 90% untuk funder dan 10% untuk founder. (ga salah nih? beneran bener). Bahkan sampai ada yang nanya lagi dari peserta acara kembali.

Tetapi prinsip William adalah mending 1% of Something than 100% of Nothing. Itu yang menjadikan semuanya sampai sekarang, BELIEVE to something that we want to do and achieve (gaya euy bahasa londo nya he3).

Mungkin ini cerita musti dibagi sekian part biar seru kali ya. (Alasan cape ngetik pdhl wkwkw)… Ok let’s separate into 2nd part ya… Mau ngopi dan teh dl.

Regards,

Daru