Mulai Aja Dulu

Mulai Aja Dulu

Mulai Aja Dulu

Mulai Aja Dulu
Mulai Aja Dulu

Artikel Yang Tetap Hits saat Covid-19 Melanda

Akhirnya, saya punya waktu lagi untuk memperbarui tulisan diblog saya ini. Kenapa tidak? Setelah sekian lama tidak diupdate, masih saja ada pembaca setia, atau mampir aja karna penasaran sama judul tulisannya ya.

Mungkin Anda dan saya saat ini sedang bingung dan galau mengenai kondisi kedepan setelah Covid-19 ini. Ide mulai aja dulu menjadi salah satu yang patut dipertimbangkan. Atau bahkan ide yang harus segera dieksekusi, tidak dipertimbangkan lagi.

Kenapa tidak? Menurut berita yang bersliweran diluar sana, banyak teman-teman yang dirumahkan dan otomatis menjadi jobless. Mungkin karena industrinya sedang bermasalah karena regulasi atau karena perusahaan tempat bekerja juga kesulitan untuk bertahan.

Kok saya jadi berpikir, mulai aja dulu ini jadi bener-bener harus dilakukan.

Kalau Anda bisa memasak, kenapa nda coba memasak dan dipromosikan melalui sosial media yang Anda miliki. Banyak media yang bisa kita pakai, Instagram, Twitter, Facebook, Youtube, you named it. Tokopedia mungkin juga bisa.

Apapun itu, ide seharusnya tidak menjadi tumpukan ide saja, namun dieksekusi dan belajar dari hasil eksekusinya. Setuju?

Artikel saya yang original ada dibawah ya. Saling support untuk kondisi Covid-19. Semoga kita dapat melaluinya bersama.

Ide Banyak Eksekusi Minim

Siapa yang seperti ini?

Saya juga kok, santai aja, saya nda nyalahin Anda-Anda semua.

Ide saya banyak banget.

Mau buka usaha ini.

Kayaknya buat divisi itu enak juga.

Usaha client saya yang anu kayaknya untungnya gede.

Nah lho, itu maruk (kemaruk-bahasa jawane rakus) atau ngayal.

Beda tipis sih.

Cuma siapa sih yang nda kayak gitu.

Saya aja kepinginan. Ingin ngejalanin semua.

Banyak ide, tapi ujungnya hanya diujung mulut saja, tanpa adanya eksekusi.

Eksekusi yang serius, eksekusi yang konsisten dan pembelajaran yang menerus.

Mulai Aja Dulu

Daripada kebanyakan ide, mulai sekarang saya selalu mengingatkan diri saya.

Untuk yuk mulai aja dulu.

Mulai dari yang mudah dulu.

Dari yang sederhana dan bisa dilihat hasilnya.

Hasilnya belum sempurna, nda apa-apa.

Daripada manis dibibir (kayak judul lagu jadul ya) dan menguap seperti asap yang entah berantah.

Mending kita mulai pake slogan MVP (Minimum Viable Product). Tahu?

Itu lho, seminimum mungkin produk atau jasa yang bisa kita kasi ke pelanggan.

Contoh sederhana kalau dibisnis saya.

Saya mau jualan kopi nih.

Ya saya jualin aja kopi item (wong bisanya baru buat kopi item) ke sekitar kantor.

Nanti kalau udah ada respon dari pelanggan-pelanggan, baru deh belajar buat latte, cappucino dan menu-menu lainnya.

Slogan Tokopedia

Saya tidak dibayar dan diendorse oleh tokopedia ya.

Gini-gini saya pelanggan tokopedia lho.

Beli dari printer, makanan kucing, sendal kantor sampe barusan duren aja belinya dari toped.

Lalu, kok saya nda mulai jualan via toped. Ide bagus.

Mereka aja bisa, kok saya nda bisa ya? Padahal apa-apa ada.

Maksudnya ada komputer, internet dan barang dagangan.

Mungkin yang kurang niat.

Makanya slogan Nike dengan Just Do It dan Tokopedia yang Mulai Aja Dulu buat saya tahu.

Untuk memulai sesuatu itu mah nda usah dipikir panjang. Mikir harus ya! Tapi jalanin.

Lalu, bagaimana dengan Anda? Saya sih Mulai Aja Dulu.

Artikel paling rame dari blog perusahaan saya, silahkan mampir ya: Contoh Penerapan ERP

Kalau Anda penyuka film korea dan tertarik belajar bisnis sambil nonton, musti baca artikel saya yang ini:  Belajar Bisnis dari Itaewon Class

Salam Malam Mingguan,

Daru

Saat ini saya bekerja di Sunartha, partner perusahaan untuk implementasi tools terbaik untuk meningkatkan bisnis mereka. Mulai dari Cloud ERP dan Business Intelligence sampai ke jasa training dan konsultasi.

Kami juga lagi mencari beberapa kandidat tim kami, tertarik? Kirim ke hrd@sunartha.co.id ya. Add saya di Linkedin Anda ya. 

Artikel update 3 Mei 2020

Belajar Tableau

Belajar Tableau

Tableau adalah software yang membantu manajemen dalam mempercepat pengambilan keputusan berdasarkan visualisasi data.

Bisnis saat ini memerlukan proses yang serba cepat. Cepat bukan berarti tidak akurat. Cepat bukan juga berarti tidak berdasarkan data.

Menariknya, menjalankan bisnis sekarang tidak semudah menjalankan bisnis 10 – 20 tahun sebelumnya. Mungkin kalau Anda mencobanya sekarang, dengan gaya 10 – 20 tahun lalu, pilihannya adalah maju sekencang-kencangnya dan masuk ke jurang, ups.

Tidak mengkerdilkan pilihan action now lho ya. Artinya sekarang, menjalankan bisnis haruslah Anda seumpama berkendara dengan cepat tetapi selalu siaga terhadap semua kondisi yang ada.

Nah, apa hubungannya dengan belajar Tableau?

Tableau bisa membantu kita, pemilik bisnis, untuk mempercepat pengambilan keputusan berdasarkan data yang kita miliki.

Contoh sederhananya. Menentukan efektifitas kampanye marketing.

Kemarin saat saya berdiskusi dengan teman saya yang berbisnis distribusi yang berhubungan dengan kendaraan seperti shampo mobil, oli dan lainnya. Saya bertanya, apakah sempat menganalisa berpengaruh tidak antara kampanye via beberapa media dengan penjualan?

Jawabnya, belum. Ok, lanjut saya, kenapa? Karena belum tahu bagaimana cara melakukan evaluasinya. Ok. Menarik saya bilang. Bagaimana kalau Anda siapkan datanya dan saya siapkan tools untuk analisanya. Kita tunggu episod kedua ya..

Contoh menarik tersebut, membuat saya berfikir. Apakah masih banyak perusahaan dan pemilik bisnis yang saat ini sedang berjuang sekuat tenaga untuk meningkatkan penjualan tapi tidak tahu caranya. Bagaimana berjuang melakukan efisiensi untuk meningkatkan profitabilitas tetapi tidak tahu caranya.

Ya, sebenarnya jawabannya sudah ada melalui data yang mereka miliki. Tetapi bagaimana mempermudah dalam pengambilan keputusan lah yang ternyata sulit. Istilahnya dibadminton, umpan lambung tinggal dismash saja.

Ok, coba saya berikan ilustrasi salah satu hasil dari Tableau dashboard.

Bagi Anda yang baru pertama kali mengenal Tableau dan ingin mendownload Tableau Trial selama 14 hari dengan seluruh fitur tersedia, bisa mampir disini untuk link downloadnya:

Download Tableau Trial

Atau apabila Anda merasa sudah menggunakan trial tersebut dan tetap ingin menggunakan Tableau tetapi Anda tidak merasa data yang Anda miliki bersifat rahasia, artinya untuk belajar-belajar saja, Anda bisa gunakan link download Tableau Public disini:

Download Tableau Public

Btw, perbedaannya apa? Kalau menurut saya pribadi, hanya tempat menyimpan hasil visualisasi yang kita sudah buat. Dan karena public saya rasa ada beberapa fitur yang tidak tersedia, tetapi kalau untuk coba-coba dan belajar, saya rasa sudah cukup sih.

Baik, kita lanjutkan ya.

Jenis Produk Tableau

Seperti yang teman-teman tahu, Tableau mempunyai jenis/tipe produk. Yang paling sering dikenal adalah Tableau Desktop ya.

Tableau desktop ini merupakan bagian produk dari Tableau Creator ya. Jadi kalau misalkan kita membeli (oiya, Tableau sekarang konsepnya subscription ya, aka berlangganan) jadi setiap pembelian Tableau Creator, akan mendapatkan Tableau Desktop, Tableau Online (atau yang dulu disebut tableau server) dan Tableau prep builder ya.

Konsepnya serial number ya. So 1 user akan mendapatkan 1 serial number yang akan dikirimkan oleh Tableau sendiri, melalui email yang diregistrasikan saat membeli.

So, email temen-temen juga akan bisa digunakan untuk login ke yang namanya customer portal. Jadi disitu kita bisa download rilis produk terbaru dan tentunya submit case ya.

Penasaran isi Tableau Customer Portal, berikut link nya: Tableau Customer Portal

Ok, spesifik ke produk yang akan kita bahas kali ini adalah Tableau Desktop ya teman-teman. Kenapa? Karena kita bisa buat Viz dan menghubungkan data dari sumber datanya langsung.

Persiapan

Mari kita persiapkan dan download-download dl ya. Usahakan install tableau yang terbaru ya, waktu saya tulis blog ini, sekarang versi tableaunya di 2020.1.3

Sudah downloadnya? Ayuk kita coba install bareng ya.

Klik file installernya, kemudian lanjutkan sampai selesai ya. Nanti kalau sudah beres Tableaunya, temen-temen akan dapat menemukan tampilan sebagai berikut:

Tampilan Awal Tableau

Artinya kita bisa memulai untuk belajar bagaimana menggunakan Tableau ya.

Btw, saya akan melanjutkan membuat video terkait membuat 1 dashboard yang terdiri dari beberapa visualisasi ya setelah ini. Berikut dibawah ini salah satu contoh Dashboard default yang telah ada dari samplenya ya.

belajar tableau
belajar tableau

Kalau gambarnya terlalu kecil, tolong diklik saja ya supaya membesar.

Setelah itu, mungkin apabila Anda mempunyai ide topik yang bisa saya dan tim buatkan videonya, mungkin bisa ditulis dibagian bawah komentar ini ya. Kami mendukung nih temen-temen untuk bisa belajar menggunakan Tableau dari rumah disaat seperti ini.

Atau temen-temen bisa memfollow Linkedin Sunartha disini untuk mendapatkan informasi sharing tentang topik Tableau yang kami bagikan secara rutin.

Atau tertarik untuk membaca artikel lainnya tentang Tableau, coba lihat salah satunya dibawah ini ya.

Pelatihan Tableau secara Online

Workshop Tableau Server

Hubungi kami melalui whatsapp Mba Euis untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dinomor berikut ini: 0815 8690 2500

Salam,

Daru

Bacaan Artikel dengan Film yang lagi hits di Netflix: Belajar Bisnis dari Film Itaewon Class

The New Normal

The New Normal

The New Normal
Source: Forbes

Kondisi Saat Ini

Selamat Pagi. Sabtu ini saya akhirnya menuliskan kembali pikiran saya dalam blog pribadi, yang cukup lama terbengkalai. Maklum, karna WFH kali ini, kerjaan kok perasaan tambah banyak ya daripada disaat sebelum WFH.

Sambil melihat hujan rintik-rintik pagi ini, saya mulai menuliskan, apa yang menurut saya nanti akan muncul setelah Covid-19 dapat diatasi.

Menurut saya dan bacaan-bacaan yang saya lihat dari para pengamat akan ada kondisi dimana terjadi The New Normal.

Apa itu? Yuk simak bareng-bareng. Karena sedang puasa, nda perlu ada iklan nge-teh dan ngopi dulu ya 🙂

Artikel pada blog saya lainnya bisa Anda baca disini ya:

Belajar Bisnis dari Film Itaewon Class

The New Normal

Kondisi normal, bagi sebagian dari kita adalah disaat kita dapat beraktivitas sebelum kejadian Covit melanda. Betul kan?

Seperti setiap sabtu minggu jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Atau kita bisa berangkat kerja untuk ngantor. Atau juga ketemuan dengan mitra bisnis dan customer secara tatap muka.

Tetapi itu normal yang dulu. Sekarang ada normal yang baru. Saya share ya, kenapa gitu?

Saya dan tim saya, saat ini sudah menjalankan aktivitas pekerjaan dari rumah kami masing-masing. Dulu, kami sama seperti Anda kok, bekerja seperti biasa, jalan dan travelling seperti biasa. Tapi sekarang berbeda.

Shock? Pastinya. Yang saya ingat cuma 1 tim saya yang terbiasa bekerja dari rumah. Itupun dia join dengan tim kami karena sudah bosan dan ingin bekerja seperti orang pada umumnya.

Tetapi karena covid ini, kita semua akhirnya merasakan dan menjalankan apa yang diminta oleh pemerintah daerah masing-masing. Work from home. Menjadi the new normal kami sehari-hari.

Sulit? Pada awalnya iya. Karena menurut penelitian, kondisi normal atau sudah menjadi kebiasaan itu sulit untuk berubah.

Contohnya saya sendiri, untuk memulai berolahraga, itu sulit sekali. Saya lebih senang untuk bangun pagi, mandi dan langsung didepan notebook. Padahal kalau sudah terbiasa untuk 30 menit berolahraga selama 1 bulan terus menerus, pasti tubuh kita sudah menjadi normal dengan kondisi baru bukan?

Lalu, kira-kira berikutnya bagaimana ya?

Itu yang saya lagi cari tahu dan sambil menerka-nerka kedepannya. Barusan saya baca beberapa bisnis ritel seperti KFC, Ramayana dan perusahaan startup unicorn pun, Traveloka sedang berpikir (saya yakin manajemennya berpikir keras) bagaimana beradaptasi kedepannya.

Itu mereka ya, yang gede-gede. Gimana kita para pengusaha yang secara ukuran mungkin masih lebih kecil dibandingkan mereka.

Kita harus juga berpikir untuk beradaptasi kedepan. Mungkin saya bisa bagikan beberapa tipsnya:

Melakukan koordinasi pekerjaan yang sesuai dengan kondisi the new normal.

Contohnya kami, setiap pagi dan sore kita rutin mengadakan meeting-meeting singkat untuk membahas apa yang bisa saling bantu satu sama lain. Dulu kami harus keruang rapat secara fisik, sekarang cukup buka sesi teams maupun google meet dan instan join semua. Sama toh?

Belajar untuk menerima The New Normal

Ya. Kami berusaha untuk belajar untuk menerima the new normal. Baik dari sisi aktivitas bisnis kami, dengan customer kami, dengan mitra-mitra prinsipal kami. Karena apapun itu, kondisi ini akan menjadi kondisi kami kedepannya. Sambil berdoa dan berharap kondisi kedepan akan lebih baik.

Evaluasi Kondisi dan Strategi Kedepan

Setiap ada kondisi baru, kita harus beradaptasi. Menurut bapak evolusi, yang bertahan adalah yang bisa beradaptasi.

Mungkin bisnis kami dulu sangat terbiasa dan ahli dalam implementasi sistem secara tatap muka. Tetapi the new normal membuat kami harus beradaptasi dengan metode kerja full online. Sulit? Pasti!

Tetapi masih mungkin dilakukan. Karena seluruh bisnis saat ini berusaha juga untuk bertahan dan mempersiapkan diri untuk kedepannya. Teorinya, setiap yang bisa bertahan disaat kondisi berubah, pasti akan mempunyai keunggulan tersendiri. Seperti kekebalan kali ya.

Bahkan kelakar teman saya, disaat kondisi gini, akan ada orang-orang kaya baru yang bisa membaca peluang disaat kesempitan melanda. Jadi, Anda tipe yang mana? Terus mencari peluang atau tetap merenungi nasib? Saya sih pilih nomor 1 ya.

Kesimpulan – The New Normal

Sambil mendengarkan spotify lagu-lagu korea, saya akhirnya mempunyai kesimpulan. Kondisi apapun, kita sebagai manusia dan pengusaha ya, harus selalu siap dan menjalankan ilmu dasar kita, survival.

Yes, bertahan dahulu sambil mencari peluang dimanapun kita temui. Toh akhirnya yang bisa kita lakukan adalah mencoba strategi-strategi baru sekalian bertahan dulu bukan? Klise sih, cuma ini yang saya dapat simpulkan sementara.

Tulis komentar ya, kalau Anda ingin berdiskusi lebih lanjut.

Tulisan dari rekan saya, Pak Airlangga: Kerjanya di Ponsel, Temannya Ice Cream juga merupakan salah satu bentuk kreativitas disaat WFH. Mampir ya.

Yang ingin berkenalan di Linkedin juga boleh. Add saya ya.

Daru

Artikel baru lainnya terkait mengelola keuangan disaat pandemic Covid-19:

Mengelola Cashflow Bisnis

10 Tahun kedepan setelah Covid kira-kira gimana ya?

Belajar Bisnis dari Film Itaewon Class

Belajar Bisnis dari Film Itaewon Class

Belajar Bisnis dari Film Itaewon Class
Sumber Gambar: https://beautynesia.id/

Efek Work From Home

Selamat Hari Minggu. Pagi ini saya menyempatkan menulis kembali setelah sekian lama, mungkin ada 4 bulan lalu ketika saya terakhir menulis. Cukup lama juga.

Dan akhirnya saya menemukan ide untuk menulis kembali. Ya, setelah cukup lama saya berkutat dengan kesibukan dipekerjaan dan rapat online sana-sini dengan tim maupun client.

Akhirnya, saya menemukan ide, untuk menulis. Tulisan yang terinspirasi oleh aktivitas saya dari menonton drama korea (coba, bayangkan saja, disaat sibuk masih sempat-sempatnya nonton drama korea) dari langganan netflix saya.

Efek karena work from home, jadinya begitu butuh hiburan, saya lihat-lihat film dinetflix, apa yang menarik, ya ditonton bukan. Tentunya bukan pilihan pertama saya untuk nonton kdrama. Karena biasanya drama percintaan dengan ide cerita yang standar gitu deh (no hurt feeling bagi pecinta drama korea ya 🙂

Itaewon Class

Film atau korea drama yang diadaptasi dari komik (webtoon) menurut saya sedikit berbeda dengan tipikal cerita drama lainnya. Tentunya, saya juga cukup malas menonton ini, tetapi karena saya lihat review beberapa teman saya disocial media, akhirnya tergoyahkan juga iman untuk menontonnya.

Pemainnya, sudah tidak diragukan, top class. Tetapi yang saya tertarik adalah ceritanya. Dan karena itulah, saya jadi penasaran ingin menulis artikel kali ini, belajar bisnis dari film Itaewon Class.

Apa sih yang bisa kita pelajari bersama? Yuk simak bersama. Tetapi, kalau yang belum nonton filmnya, sebaiknya nonton dulu ya. Supaya ceritanya nyambung dengan artikel kali ini.

Selamat menonton ya!

Ok, selagi teman-teman yang lain menonton, saya coba bahas ya.

Bisnis Harus Mempunyai Tujuan Yang Jelas

Aktor utama dari film ini, saya simpulkan mempunyai tujuan yang sangat sangat jelas. Betul, saya menuliskannya sampai dua kali. Artinya, dia, mempunyai visi dan tujuan yang jelas bagaimana bisnis yang dirintis harus sebesar apa dan cakupannya sampai mana.

Coba bayangkan, kalau saya, dulu waktu merintis bisnis, bisa makan aja uda syukur. Yes, saya sering bersyukur waktu itu. Tetapi kurangnya visi dan tujuan yang jelas, akan membuat bisnis kita itu terombang-ambing nda karuan. Setuju banget nda sama yang pertama ini dulu?

So, tips-nya, harus mempunyai tujuan yang jelas. Misalkan saya ingin menjadi warung indom*e nomor satu se Indonesia sebanyak 200 cabang. Misal ya. Dengan begitu, semua energi, pikiran dan apapun itu akan menuju kesana. Lanjut?

Tim Yang Solid

Saya bilang solid berarti tim kita itu tidak harus yang paling jago pada awal kita mulai, tetapi mereka adalah orang kepercayaan (yes kita harus percaya mereka bisa dan mampu beradaptasi dan berkembang) seiring usaha kita juga membesar.

Diawali oleh hanya 2 orang saja dalam timnya, dan kemudian dibantu lagi oleh 2 orang lagi, tapi yang saya salut adalah bagaimana pemilik kedai Danbam ini sangat percaya akan timnya. Terutama saat adegan chef-nya yang mustinya sudah di (aduh saya spoiler lagi nanti). Yowes, nonton dulu aja ya.

Tim, apapun itu, adalah orang-orang yang percaya akan tujuan kita dan berani bertaruh (istilah saya) kepada mimpi yang dimiliki oleh owner. Kita harus percaya dan terus mentoring mereka untuk berkembang, tidak hanya sebatas kerja saja. Siapa yang setuju lagi?

Aduh, cape juga nih ngetiknya.

Break dulu iklan tulisan saya yang lain disini: Belajar Mengelola Cashflow Usaha disaat Covid

Belajar Bisnis dari Film Itaewon Class

Cukup panjang episodenya, tetapi menarik kok untuk ditonton. Asalkan tidak mengganggu aktivitas Anda dan pekerjaan Anda lho ya.

Mari kita lanjutkan lagi ya.

Networking Membantu Anda

Tepat sekali. Tujuan yang jelas, tim yang hebat, bisnis yang bagus, tidak ada artinya tanpa networking yang bisa membantu Anda dalam perjalanan Anda membesarkan bisnis.

Menjadi nomor 1 dibidang kuliner adalah tujuan dari Itaewon Class didirikan. Bagaimana bisa? Wong pemiliknya aja sekolah SMA aja nda lulus, drop out pula. Belajar cuma otodidak dari buku, itupun yang pemilik bukunya adalah rival besarnya.

Ternyata bisa. 1 kedai yang ramai dan bagus secara sistem, ternyata menarik para peminat bisnis lain untuk membantu membesarkan. Ada itu scenenya, so lihat aja sendiri ya.

Networking membantu Anda dalam mempercepat perkembangan bisnis. Bisa dari sisi pengetahuan yang bisa meleverage bisnis Anda, supply chain atau supplier atau investor. Semuanya bersatu padu, membantu Anda kalau Anda menghargai semuanya itu. Ok, lanjut ya?

Satu lagi ya? Bukan dari mayora lho ya.

Bertahan dan Terus Berinovasi

Meskipun permasalahan terus datang mendera, kita, sebagai pemilik bisnis jangan gentar. I know, it’s really hard out there, I’ve been there too, and always. Semua pasti ada jalan, klo nda ada jalan, ya buat jalan sendiri he3..

Jalan menjadi nomor satu, persaingan yang ketat, intrik politik, bahkan kekerasan (yang menurut saya agak lebay sih) biasa terjadi dibisnis. Siapa yang punya pengalaman yang sama? Ditikung sama kompetitor? Harga yang diancur2in seenaknya? Yes.

Tetapi itu yang menjadikan kita berbeda bukan? Tetap teguh dengan pendirian, prinsip, dan pilihan kita, akan membuat tim, stakeholder bahkan pesaing akan respect sama kita. Nah, film ini mengajarkan banyak tentang values ini.

Tambah penasaran ingin nonton nda? Kok saya jadi jualan banget ya orang utk nonton 🙂

Kesimpulan

Ok, masuk ke kesimpulan ya. Musti tonton film ini. Salah satu yang saya rekomendasikan. Selain itu pemeran wanitanya cantik (klo ini subyektif ya).

Lalu, bisnis itu, musti seperti ini menjalankannya. Always learn, always made our people no 1 daripada profit semata.

Nah, bicara bagaimana kolaborasi disaat era pandemic corona ini, kita, sebagai sesama pemilik bisnis, harus bisa saling share ilmu dan pengalaman nih bagaimana menghadapi kondisi yang serba tidak menentu.

Maka dari itu, saya dan tim berencana membuat sesi-sesi sharing (bukan full training ya) untuk Tableau Business Intelligence agar teman-teman pemilik bisnis dapat mengoptimalkan bisnis dari data yang dimiliki.

Seperti tim saya, mencoba membuat video bagaimana membuat visualisasi dari data yang ada ke Tableau. Mau lihat? Saya embedd disini ya.

Maafkan kalau rekaman dan suara kurang baik karena direkam saat tim saya wfh. Saya tunggu masukan Anda ya. Btw, apabila tertarik untuk diskusi lebih lanjut, bisa chat juga ke nomor whatsapp berikut dengan Mba Sely: 0815 8690 2499 

Sharing is caring, setuju?

Artikel baru lainnya yang bisa Anda baca: The New Normal

Wah, panjang juga ya ceritanya. Baiklah, saatnya kembali memikirkan ide tulisan berikutnya. Btw, kalau ada ide bahasan, silahkan dishare ya. Nanti saya coba tuliskan.

Titip satu artikel lagi, diblog sunartha.co.id (bisnis saya ya) yang Anda perlu mampir: Manajemen Gudang

Salam!

Daru

Bangkit Dari Depresi

Bangkit Dari Depresi

Bangkit Dari Depresi
Bangkit Dari Depresi. Sumber: pulsk.com

Jumat Malam

Siapa yang jumat malam ini, hari ini tepatnya, 27 Desember 2019, disaat hujan dan dingin tidak kepingin yang namanya mie instan?

Makan malam saya kali ini adalah mie instan. Bukan karena apa? Tapi karena enaknya menyantap mie instan disaat suasananya mendukung. Ya seperti ini, dingin dan hujan sedang turun dengan lebatnya.

Selain melepas kelaparan mungkin juga untuk saya melepas depresi. Yups, yang kata orang itu stress yang sudah nda ada baiknya. Kata disalah satu artikel ya.

Pernahkah Anda mengalami depresi yang membuat Anda murung, sedih berkelanjutan, tidak mau makan, perasaan yang tidak mengenakkan itu? Saya pernah.

Perasaan Depresi Saat Berbisnis, Wajarkah?

Lalu pertanyaannya, bagaimana kalau kita, yang sedang sibuk-sibuknya menjalankan bisnis, mengalami depresi seperti ini? Wah apa nih solusinya?

Wajarkah bagi pemilik bisnis merasa depresi dan tertekan oleh permasalahan yang seringkali timbul saat mengelola bisnis?

Menurut saya, hal tersebut wajar. Karena, sebagai pemilik bisnis, atau Anda yang menempati posisi yang dibilang sebagai penentu kebijakan, mungkin Anda akan mengalami hal-hal seperti ini.

Bagaimana tidak? Eh kok saya jadi curcol ya. Hampir semua masalah, tentunya yang penting dan butuh keputusan dari penentunya, akan lari ke Anda. Betul atau betul ni?

Mungkin dilaporkan oleh bagian marketing kalau antara budget dan pencapaian tidak sesuai harapan. Atau ada kendala dibagian distribusi produk Anda. Bisa juga dilaporkan oleh bagian keuangan Anda kalau banyak piutang yang nda tertagih.

Nah lho, banyak juga ya masalahnya. Lalu gimana dong? Stress kemudian tambah depresi dong. Yuk kita lanjut ke bagian berikutnya.

Strategi Moved On aka Bangkit Dari Depresi

Kata orang bijak, semua masalah pasti ada penyelesaian atau solusinya. Weleh, beneran ada nih?

Ada Mas dan Mba. Semua ada solusinya. Cuma mau bayar piro? He3, becanda ya.

Ternyata semua permasalahan tersebut kuncinya adalah kita harus pilah-pilah. Ya macem milah hal-hal yang harus bisa kita putuskan dan yang tidak bisa kita putuskan atau kerjakan.

Gunanya apa? Supaya kita sendiri nda stress, depresi dan ujung-ujungnya sakit. Bahaya bukan? Padahal, kalau bisa Enjoy Aja, kenapa nda bukan?

Sama satu hal lagi. Ternyata masalah atau problems yang kita alami itu mungkin sudah ada solusinya asal kita bisa menanyakan kepada rekan kerja, temen bisnis atau mentor kita. Nda nanya nyasar lho!

Tips yang lain, ternyata klo ada masalah jangan dipegang terus. Kita harus tahu untuk menempatkan masalah itu dan menyerahkan kepada Tuhan. Yups, Gusti Mboten Sare (Tuhan nda tidur lho). Berdoa dan berusaha yang terbaik.

Kira-kira gimana tulisan kali ini? Jadi klo buat mie instan dan jatuh saat menuang mie alih-alih nuang air, ya mending buat mie instan baru bukan? Jangan serius-serius amat bacanya ya. Wong yang nulis juga lagi depresi ini.

Jangan lupa baca artikel saya yang lain dibawah ini ya. Monggo mampir, tulis komentar dan dishare apabila bermanfaat. Cheers.

Memilih Bisnis yang Tepat

Contoh Penerapan ERP pada Perusahaan Manufaktur

Satu lagi, Happy Holiday 2019 and and Have a Great 2020 ahead.

Daru

Memilih Bisnis yang Tepat

Memilih Bisnis yang Tepat

Memilih Bisnis yang Tepat
Source: whatwillmatter.com

Santai Sejenak

Selamat datang bagi Anda yang pertama kali mampir ke blog pribadi saya.

Dan selamat datang kembali bagi Anda yang rutin membaca tulisan-tulisan saya diblog ini.

Salam sejahtera untuk kita semua. Secara ini hari minggu, nda apa-apa ya kita sambil bersantai sejenak, sambil membaca tulisan saya tentang topik diatas.

Betul. Tentang pilihan.

Bagi Anda yang sedang menimbang-nimbang untuk memulai bisnis, pasti sempat terpikir tentang bagaimana sih memilih bisnis yang tepat.

Sama dengan Anda, dahulu saya pun juga mengalami hal yang sama. Kesulitan untuk memilih.

Bukannya apa, kesulitan memilih karna terus terang saya takut apabila saya telah salah memilih, waktu yang saya keluarkan untuk proses belajar, akan terbuang percuma.

Padahal kenyataannya adalah, ya, kita lanjutkan dibagian berikutnya dibawah ini ya.

Sebelumnya, tolong mampir diartikel saya yang lain seperti dibawah ini:

Belajar Tableau dan Cloud ERP Indonesia. Terimakasih ya.

Memilih Bisnis yang Tepat

Kenyataannya ternyata, menurut pengalaman saya, bisnis yang tepat itu adalah bisnis yang Anda selalu sempurnakan sambil jalan.

Artinya tidak ada dari awalnya bisnis yang Anda jalani mungkin bisa jalan terus sesuai dengan perencanaan awal.

Lho kok bisa? Yuk kita coba bahas satu persatu.

Saya sambil puter lagu dahulu ya, agar nulisnya makin lancar. Sip.

Theme song kali ini.

Ide bisnis yang kita jalani dari awal, mungkin biasanya lebih ke idealisme.

Contoh waktu saya awal memulai bisnis, saya ingin membantu pengusaha-pengusaha yang memiliki bisnis, dapat memonitor bisnis mereka semudah saya memainkan game bisnis.

Ide bagus bukan? Tentunya. Enak nda tuh, main eh berbisnis, tetapi bisa lihat dashboard secara keuangan, operasional dan data-data lainnya seperti dipermainan.

Kenyataannya, membuat ide bisnis itu menjadi kenyataan, ternyata kita harus sering-sering melakukan update dan pembaharuan sambil menjalankannya.

Awalnya saya mulai dari jasa pemasangan sistem akuntansi. Kemudian masuk kedalam Cloud ERP. Trus selanjutnya masuk ke Business Intelligence.

Ide awalnya, sederhana, tetapi pada prakteknya. Kita harus bisa fleksibel, mengikuti perkembangan jaman dan permintaan market atau customer.

Setuju nda? Ok, klo nda setuju, yuk diskusi bareng. Jangan lupa komen ya.

Lalu apa selanjutnya?

Betul, what’s next?

Selanjutnya, kalau Anda ingin mempunyai bisnis, idenya sederhana saja. Goalsnya musti bisa membantu banyak orang dengan kepusingan yang mereka miliki.

Lalu kalau sudah menemukan masalah dan kepusingan dari calon pelanggan kita, kitanya sendiri harus bisa fleksibel dong terhadap eksekusi bisnisnya.

Jadi sedari awal, nda perlu dibuat ribet dan njelimet dulu. Mulai aja dulu. Lalu kita sempurnakan sambil berjalan.

Tapi sekarang saya lagi butuh bantuan teman-teman nih. Bagi yang tertarik untuk bergabung dengan Sunartha (bisnis saya) untuk beberapa posisi penting seperti konsultan ERP dan developer aplikasi, bisa mampir ya.

Mampir diwebsite kami bagian career dan drop CV Anda disana. Tim saya akan menghubungi teman-teman semua.

Atau tertarik dengan bagaimana kami bisa membantu bisnis Anda lebih kekinian dalam berkompetisi dimarket yang tambah seru ini, bisa hubungi tim saya, Mba Ulfa dinomor whatsapp berikut ya: 0815 8690 2499.

Bisa tanya-tanya dulu soal software bisnis atau tentang jasa-jasa kita seperti apa. Sip?

Sebelum diakhiri, monggo mampir lagi diartikel kami yang lain dibawah ini. Trims ya sudah support kami.

Jasa Akuntansi

Bingung Membaca Laporan Keuangan

Salam,

Daru

WeWork dan Bisnis Kedepan

WeWork dan Bisnis Kedepan

Wework dan bisnis kedepan
Wework dan bisnis kedepan. Pic Source: straitstimes.com

Coworking Space

Selamat pagi. Bagaimana minggu ini?

Melelahkan? Menyenangkan?

Apapun itu, kita patut bersyukur atas pencapaian yang kita dapatkan dalam minggu ini.

By the way, sudah mau memasuki penghujung tahun lho. Coba, ingat-ingat kembali list dan mimpi-mimpi Anda ditahun 2019 ini?

Ok, back to the topic ya. Siapa yang tidak kenal salah satu bisnis kekinian yang disebut coworking space?

Betul. Bagi Anda yang belum tahu, saya coba jelaskan dahulu ya. Jadi, sekarang ini ada bisnis baru dimana perusahaan menyewa beberapa lantai digedung-gedung bagus tentunya secara alamat dan secara desain interior.

Kemudian menyewakannya kembali kepada para pemilik usaha, baik pemula yang sering kita sebut startup atau perusahaan besar yang tidak mau pusing dengan urusan sewa menyewa dengan pemilik gedung utamanya.

Solusi yang diberikan adalah kemudahan dan kenyamanan budget bagi pemilik usaha serta menyenangkan juga bagi karyawan karena kantor mereka keren.

That’s co-working. Sharing tempat kerja dengan budget yang jauh lebih terukur daripada harus investasi diawal, sayang cash bukan?

Wework dan Bisnis Kedepannya

Dibisnis ini, ada salah satu pemain besar, dunia cakupannya, bernama Wework.

Disokong pendanaan super kuat, Softbank, yang juga investor Uber, Grab, Tokopedia dan masih banyak lainnya. Wework berambisi (dan sudah pasti tentunya) menjadi pemain utama dalam bisnis coworking ini.

Sayangnya, apabila kita semua baca diberita-berita belakangan ini, ada update yang cukup membuat orang-orang terbelalak, dimana bisnis wework ini mempunyai rasio “bakar” uang luar biasa.

Dimana kalau tidak ditalangi dahulu oleh investornya, mungkin akan tutup. Wajarkah?

Menurut saya, mungkin saja. Dalam bisnis, apapun itu kondisinya, bagus atau sedang buruk, kalau kehabisan uang, pasti bisa gulung tikar. Setuju kan?

Apalagi skenario bisnis dengan high growth seperti ini, pasti dan hampir pasti akan mengorbankan yang namanya cadangan kas mereka untuk membiayai operasional.

Beda halnya dengan bisnis konvensional seperti pada umumnya, dimana manajemen mengelola kas secara hati-hati, dengan istilah agar nda tekor cashflow (arus kas).

Bagaimana dengan Bisnis Anda?

Saya jawab ya, so bagaimana nasib Wework kedepannya? Ini jawaban menurut pendapat pribadi ya.

Jadi apabila ada yang setuju, tidak setuju, ingin mengoreksi, monggo saja lho. Kan kita bebas beropini.

Sambil meneguk secangkir kopi hitam panas tentunya lebih nikmat untuk bahas case bisnis beginian.

Nasibnya, kalau menilik kepada kepentingan Softbank untuk membuat bisnis ini lepas landas secara IPO (initial public offering) maka akan disiapkanlah manajemen dan mungkin CEO baru yang lebih mengerti how to run business secara profitability.

Dengan injeksi equity baru dari Softbank, Wework akan dikelola dengan dana segar dan mungkin akan menjalankan tata kelola perusahaan bukan lagi mengincar growth, tapi profit.

Ujung-ujungnya profit boss. Setuju nda?

Nah, menilik case bisnis ini, bagaimana dengan bisnis Anda? Pada tahapan manakah bisnis Anda berada?

Apakah Anda secara manajemen sudah melakukan segala strategi untuk pengelolaan bisnis secara profesional, yaitu profitability? Atau masih hajar bleh untuk growth dan ekspansi? Cerita dong.

Klo saya, sudah mulai pada tahapan yang profitability dong, kan targetnya mau IPO. Betul?

Enjoy your weekend Boss-boss semua.

Jangan lupa baca tulisan saya yang lain dibawah ini ya.

ERP Manufacturing Indonesia

Cara Mengembangkan Bisnis

Salam,

Daru

Outing Sunartha ke Bandung

Outing Sunartha ke Bandung

Opening

Dihari minggu pagi yang cerah ini, sambil saya menunggu flight ke Surabaya, enaknya menulis hasil keseruan outing kantor Sunartha kemarin ke Bandung.

Outing kali ini termasuk cukup tanpa banyak persiapan.

Dimana pekerjaan sedang mau dimulai, kami menyempatkan diri dengan memilih tanggal dihari kerja, agar bisa menikmati destinasi dan perjalanan yang tidak terlalu melelahkan karna macet.

Outing Sunartha ke Bandung
Outing Sunartha ke Bandung.

Keseruan

Seru kenapa, karna sekantor pergi semua untuk jalan-jalan. Maaf ya kepada para customer atau pelanggan, kami masih manusia yang butuh hiburan 🙂

Kenapa kita pilih Bandung?

Karena dengan waktu yang terbatas, kami harus mengoptimalkan waktu yang ada, dan terpilihlah Bandung karena dapat dijangkau dengan bis dan beberapa destinasi yang kita ingin coba.

Dan juga dengan waktu yang singkat, musti optimal bukan?

Manfaat Outing

Mungkin tidak perlu diperjelas lagi ya. Tentunya melepaskan kepenatan pekerjaan.

Pusingnya deadline dari customer, tekanan target dan mungkin ekspektasi customer yang setinggi langit.

Just info, sunartha adalah perusahaan jasa. Kami membantu customer kami dalam melakukan implementasi sistem dan alat bantu yang berfokus hanya satu, meningkatkan bisnis customer kami.

So, tahu kan beratnya beban kami, diberikan tanggung jawab oleh customer kami yang mempercayakan beban tersebut kepada kita-kita semua.

Pastinya wajar, dalam setahun periode pekerjaan kami, inginnya kami menikmati waktu-waktu yang ada untuk jalan-jalan, makan dan foto-foto tentunya.

Sebelum melanjutkan bacaan ringan kali ini, mau tahu tips memulai bisnis? Silahkan dibaca ya.

Outing 2020?

Bagi Anda dan tim Anda yang belum meluangkan waktu untuk outing? Segera luangkan lah.

Selain meningkatkan kekerabatan antar tim Anda, juga bisa melepaskan kepenatan Anda sebagai pemilik bisnis atau manajemen.

Karena diperiode inilah Anda sudah dapat membayangkan, hasil akhir performa bisnis Anda bukan?

Bagi yang belum bisa, mungkin Anda harus baca tulisan saya yang lain disini. Apalagi bisnisnya adalah kegiatan produksi ya. Cocok.

Sistem ERP Manufaktur

Kebetulan juga, kami, sunartha sedang mencari tim karena cukup banyaknya inquiry ke kami. So, bagi Anda yang tertarik untuk bergabung dengan kami, bisa apply langsung ke web kami ya, sunartha.co.id bagian Karir.

Yang tertarik dengan bisnis proses, bisa apply as functional. Tertarik dengan utak atik code diaplikasi yang kami miliki, boleh juga sebagai technical consultant. BI? Join juga dengan kami, banyak case menarik diclient kami.

Ditunggu ya.

Selamat bermalam mingguan all.

Regards,

Daru

Bagaimana Memulai Bisnis

Bagaimana Memulai Bisnis

Bagaimana Memulai Bisnis
Bagaimana Memulai Bisnis. Pic Source: Kompasiana.com

Belum Ada Modal Bro

Selamat pagi Bro dan Sis. Selamat istirahat dan selamat hari minggu.

Gimana liburan kemarin? Habis gajian, duit nambah direkening bank, jangan langsung dibelanjain semua ya.

Ingat judul diatas. Kalau mau mulai usaha dan bilang belum ada modal bro, lah gimana mau ada modal kalau duit gajian/penghasilan rutin bulanan sudah dihabiskan aja beli barang-barang sale? Nah lho.

Ok, saya bukan aliran nda boleh belanja lho ya. Belanja boleh. Saya juga suka belanja. Tapi belanja yang sesuai dengan rencana hidup saya tentunya.

Misalkan, saya ingin banget punya smartphone terbaru (ngincer Pixel 4 nih), saya harus nabung dan nabungnya dari hasil bisnis saya.

Jadi kita lebih tertantang untuk menahan keinginan dan memprioritaskan dengan belanja dari hasil yang kita sudah dapatkan bukan dari penghasilan utama kita, contoh disini gaji ya.

Jadi, kalau ditanya, modal dari mana? Kita harus siap nabung ya untuk memulai bisnis. Btw, bisnis disini bukan untuk beli pabrik atau modal besar ya. Bisnis disini mulai dari hal kecil, lalu bisa membuktikan bisnis kita jalan dan bisa berkembang.

Kita lanjut ke topik utamanya ya.

Terus, Bagaimana memulai bisnis

Topik ini akan saya bahas bagaimana memulai bisnis.

Sederhana. Ya mulai aja.

Ok, tapi bagaimana Mas? Kan saya bingung mulainya. Sabar, sabar.

Sekarang saat ini memulai bisnis itu nda harus yang besar, mewah, megah dan serba ideal.

Ideal dalam artian sudah punya karyawan tetap, punya kantor disudirman, atau punya pabrik berhektar-hektar dikawasan industri.

Memulai bisnis bisa dari membuka account disalah satu online commerce seperti Tokopedia, Shopee atau bahkan membuka akun IG.

Produk? Jasa? Susah menentukan? Waduh. Kreatif dulu Mas dan Mbak.

Banyak sekali produk dan jasa yang minta dipasarkan oleh pemasar seperti Anda. Bahkan produk saya, wah promosi juga nih sekalian.

Jadi, 2 hal sudah terjawab ya. Poin ketiga yang penting menurut saya adalah Anda harus tahu caranya bagaimana. Produk, jasa, bisnis tetapi tidak tahu caranya, itu yang membuat bisnis Anda stuck atau nda kemana-mana.

Seperti sudah cape-cape buat dan desain warung kopi kekinian tapi nda tahu jual kemana atau parahnya, nda tahu cara jualannya. Waduh.

Mengembangkan Bisnis

Poin ketiga ini yang penting adalah Anda tahu cara untuk menyampaikan bisnis ke orang-orang yang berpotensi untuk membeli produk dan jasa Anda.

Simple things. Seperti dikantor saya. Kita coba pake Instagram untuk menawarkan produk dan jasa senilai 1 Milyar. Menurut ngana, ada yang langsung beli? Tentu tidak ferguso.

Iya kalau mereka yang lihat pas anak pemilik bisnis, atau pemilik bisnis mungkin saja. Tetapi kalau orang biasa, bukannya senang diiklankan begitu, malah nda lanjut untuk follow akun instagram kita. Benar?

So, everything must be learnt and tested. Nda semerta-merta langsung pasang web, semua langsung mampir. Anda tetap harus promosi. Anda harus juga beriklan contohnya. Duitnya dari mana? Ya, tadi kan nabung dulu dipoin awal, betul?

Enjoy your proses Mas dan Mba. The moment will come. Setelah menemukan deal-deal kecil, pasti Anda tambah semangat. Seperti saya tentunya. Nda langsung lho nemu deal besar. Pasti mulai dari yang sederhana dahulu.

Keep enjoy karna at end, itu yang kita mau cari kan dari mempunyai bisnis sendiri. Not just for the money ya.

Kesimpulan

So, setelah berbagi sedikit tips diatas. Kira-kira masih takut atau sudah bisa membulatkan tekad untuk memulai bisnis?

Mulai aja Bro and Sis. Bukan menjerumuskan ya, cuma kalau tidak dicoba ya tidak akan tahu pembelajarannya. And the last thing that i’ve to told you, siapkan dana cadangan jika bisnis Anda gagal.

Yes, tidak ada yang menjamin bisnis Anda 100% sukses. Bisa ada aja variabel yang menentukan kesuksesan bisnis Anda. Tetapi pembelajarannya yang terpenting menurut saya.

Bicara tentang belajar, ini ada 2 artikel yang menurut saya menarik untuk dibaca dan dipelajari. Sok atuh mampir. Dukung saya dengan membaca artikel saya yang lain ya.

Selamat berusaha, mencoba dan share disini kalau Anda ingin berbagi pengalaman bisnis dan merintis bisnis Anda.

Cari Ilmu dulu atau Gaji?

Belajar Sistem ERP

Salam,

Daru

Cari Ilmu dulu atau Gaji?

Cari Ilmu dulu atau Gaji?

Cari Ilmu dulu atau Gaji
Cari Ilmu dulu atau Gaji. Pic Source: notable-quotes.com

Knowledge

Selamat Malam bapak, ibu, mas dan mba sekalian. Apakabar?

Di malam yang sumuk (bahasa jawanya gerah ya) ini, kita enaknya itu nyantai sambil baca-baca tulisan yang menginspirasi. Bener nda?

Ok, sudah makan malam bukan? Berarti sudah siap makan malam dari tulisan kali ini ya.

Ilmu.

Satu kata yang biasanya dicari oleh kita sejak dari SD-SMP-SMA-Perkuliahan. Yang beruntung mungkin bisa melanjutkan sampai Master dan berikutnya.

Tapi, menurut teman-teman sekalian, ilmu versus gaji, saat kita sudah lulus kuliah lah ya, supaya ngerti nih perasaan para freshgrads yang baru lulus baru-baru ini, kira-kira penting mana sih?

Jujur saja, waktu saya kuliah dulu, oiya, saya kuliah di IPB, Institut Pertanian Bogor yang sekarang ini berganti nama menjadi IPB University ya, saya termasuk mahasiswa yang golongan so-so.

Definisi so-so itu yang penting masuk kuliah, nilai secukupnya, asalkan bisa maju ke tahapan berikutnya, ujung-ujungnya adalah skripsi-sidang dan wisuda.

Kenapa saya nda semangat untuk mencari ilmu saat saya kuliah? Ok, mungkin karena motivasi saya berbeda ya.

Dimana teman-teman saya berjuang untuk mendapatkan nilai yang terbaik, supaya mendapatkan tempat kerja yang terbaik saat lulus nanti, sedangkan saya masih asik cari recehan dikampus. Maksudnya cari duid sendiri dari hasil jualan ya.

Dan kita masuk part 2 ya ditulisan saya kali ini.

Part 2: Knowledge Means Money

Receh.

Betul, saya mencari recehan waktu kuliah dulu waktu di bogor. Dari jualan pulsa, jualan kerupuk, jualan rokok (meskipun gw nda merokok ya) dan lain-lain.

Apakah saya punya ilmu? Yups, punya. Tapi nda membanggakan.

Bisa jualan saja tidak cukup.

Dan sekarang ini saya baru tahu, kalau waktu kuliah dulu itu diajarkan lho ilmu-ilmu yang menurut saya terpakai saat saya lulus dan masuk ke dunia profesional.

Kecuali saat saya belajar hortikultura ya, itu belajar apa pula, nilai saya jelek pula, he3, cukup intermezo-nya.

Lalu, pertanyaannya, ilmu yang kita dapatkan, apakah bisa 100% plek cocok waktu kita kerja? Tentu tidak ferguso.

Karena saya, bukan banyakan praktek, tapi banyakan duduk dikelas.

Saya nda ngerti tuh belajar akuntansi. Manajemen Pemasaran. Akuntansi biaya? Apapula semua itu. Saya nda mudeng. Karena saya nda tahu, aplikasinya seperti apa.

Bisa dong kita lanjut ke part 3?

Saya ganti lagu spotify pengiring tulisan saya kali ini ya: Takkan Kemana

Part 3: Cari Ilmu dulu atau Gaji?

Pertanyaannya. Anda pilih mana saat memilih tempat kerja?

Ok, saya butuh gaji. Anda butuh gaji. Siapa yang nda butuh gaji? Tapi yang menurut saya, yang harus dikejar saat Anda awal masuk kedunia kerja adalah pengalaman dan ilmu yang Anda bisa dapatkan.

Setuju? Boleh kok tidak setuju. Bebas.

Kalau saya, setelah saya lulus, saya langsung terjun bebas. Yups, memulai usaha dimana saya nda tahu sama sekali bagaimana menjalankan sesuatu yang namanya bisnis.

Bahkan bisnis itu harus untung gimana caranya saya nda tahu saudara-saudara. Tapi apakah saya menyesal? Sedikit sih.

Menyesal lebih ke kenapa ya saya nda belajar dahulu, menimba ilmu, kalau perlu disedot pake jetpump supaya kita tahu, sebelum terjun bebas lagi.

Sama halnya dengan didunia profesionalitas. Yang dijual adalah jasa Anda. Your knowledge bro and sis. Your attitude, your passion and your determination dalam perusahaan yang merekrut dan memperkerjakan Anda.

Sambil belajar Anda akan mendapatkan ilmu yang menurut saya akan menentukan set of knowledge Anda, serta kearah mana yang Anda inginkan.

Seperti saya, akhirnya bisnis saya saat ini adalah kumpulan set of knowledge yang saya dapatkan dibisnis terdahulu sebagai salah satu pijakan hidup saya.

Berat yak?

Ngemil kerupuk karak sambil teh tawar hangat enak deh. Monggo.

Kesimpulan sudah didapatkan?

Gimana freshgrads? Sudah kebayang kah apakah yang akan Anda ingin kejar lebih dahulu? Tapi kalau memang Anda mampu untuk tempat kerja dengan Gaji yang Baik, saya tetap dukung kok! Rejeki Anda itu.

Tetapi bagi teman-teman yang so-so seperti saya, semangat! Dunia adil kok, kalau kita tahu caranya, pasti ada jalan (slogan gojek ya?).

Jangan lupa mampir diartikel saya yang lain dibawah ini ya. Diklik ya, supaya saya jadi bahagia.

Apa Kegalauan Pengusaha

Pelatihan Tableau di Jakarta

Salam,

Daru