Punya Bisnis Lalu Dijual

Punya Bisnis Lalu Dijual

Punya Bisnis Lalu Dijual
Sumber Gambar: Tribunnews

Minggu Malam Enaknya Makan Indomie

Siapa yang seperti saya?

Disaat hujan-hujan, bingung mau makan malam sama apa, tetiba inget punya mie instan, dengan merk indomie, langsung deh dibuka sobeknya, dimasak, aduh sedapnya. Maaf ya yang jadi buat pada pengen masak Indomie saat ini juga.

Silahkan deh, bagi yang mau masak Indomie dulu baru lanjut baca tulisan saya kali ini. Jangan lupa tambahkan telur dan sawi ya.

Mankyus.

Sambil masak, saya juga punya lho tulisan-tulisan yang patut Anda baca seperti dibawah ini:

Belajar Dari Kegagalan

Ok, Indomie sudah siap didepan Anda? Sambil makan, bisa kita lanjutkan bahas ya, kenapa topik ini perlu dan penting saya bahas. Siap, lanjut ya.

Punya Bisnis Lalu Dijual, Kok Gitu?

Siapa dari kita yang ingin punya bisnis? Ok, cukup banyak ya, Kenapa saya katakan kalau sudah punya bisnis, rintis sampe cape-cape dan berkeringat, kok malah dijual Mas Ndaru?

Ok, ini ternyata alasannya. Dunia sudah berubah, termasuk dunia usaha. Tahukah Anda, ada berita yang mengejutkan yang baru-baru ini ramai diberitakan, bahwa ICBP (anak perusahaan Indofood yang fokus dengan produk Indomie yang kita bahas tadi) melakukan akuisisi ke Pinehill sebesar 44 Trilyun.

Wow, disaat dunia dilanda corona gini, ada berita duit segitu pindah kantong ke pemilik Pinehil. Dan ternyata, tahukah Anda, 49% pemegang saham Pinehill itu yang punya Indofood juga.

Nah, karena berita ini, saya jadi penasaran ingin menulis. Jadi, kalau kita build bisnis dan bisnis yang kita bangun bisa survive dan lari kencang, sebaiknya (kalau saya ya) dijual dan terus dikembangkan kedepan.

Tapi saya penasaran pendapat Anda semua sih, so please tulis komen dibawah ya. Namanya juga sharing pikiran bersama. Tidak ada yang paling tepat bukan?

Kalau Anda Gimana

So, menurut Anda gimana? Ternyata bisnis Indomie segurih dan senagih itu ya dalam hal return dan nilai pasar.

Saya tahu, lalu Mas Ndaru, kalau dijual, saya dapat apa dong? Kan saya mau diwariskan. Apalagi saya nda punya uang dong klo dijual?

Pertanyaan bagus, tapi sebelum saya jawab, saya pasang iklan dulu ya dibawah ini.

Kantor saya, membuka peluang bagi Anda untuk belajar tentang Tableau, tools kekinian untuk para analis dalam membantu pekerjaan mereka buat analisa dan laporan yang super fancy untuk boss Anda.

Tertarik dong disaat covid gini nambah skills? Bisa tanya-tanya lebih lanjut ke tim saya, Mba Euis dengan menghubungi dinomor WhatsApp berikut: 0815 8690 2500

Kalau masih penasaran ingin baca-baca dulu dan lihat silabus seperti apa, bisa nih baca diartikel berikut: Training Tableau Kekinian atau bisa juga join Grup WhatsApp Belajar Tableau

Belajar Tableau dari Rumah
Sumber: Sunartha

Cape juga ya nulisnya. Eh, tapi belum saya jawab ya pertanyaan diatas. Lalu saya harus bagaimana kalau bisnis dijual?

Ok, tentunya, akuisisi oleh pihak pembeli bisnis Anda, bisa kita buat ketentuan kan. Misal nih ya, ada yang deal-nya Anda tetap sebagai pemegang saham minoritas disitu. Ada juga Anda akan tetap menjadi komisaris misal keluarga Tirto di Aqua saat akusisi Danone.

Banyak kok opsi-opsi lainnya. Dan tentunya, Anda punya 1 set tim manajemen yang lengkap untuk membantu Anda mengembangkan bisnis Anda kedepan. Agree?

Harus dong. Baiklah topik kali ini cukup menarik perhatian bukan?

Senyum Anda mustinya sama dengan pemilik warkop di Afrika sesuai gambar saya diatas.

Yuk mari kita mengembangkan bisnis kita kedepan agar bisa Anda jual dan financially freedom. Amin.

Tertarik untuk membaca bahasan topik seperti ini, bisa baca diblog saya ataupun blog Sunartha ya.

Bagi Anda yang terlanjur tertarik sama Tableau itu apa dan kalau mau coba-coba download dulu, saya kasi link download gratis trial selama 14 hari disini: Download Sekarang Juga

Selamat menikmati Indomie Anda.

Salam,

Daru

Belajar Dari Kegagalan

Belajar Dari Kegagalan

Belajar Dari Kegagalan
Pic Source: hai.grid.id

Pagi Santai

Cerahnya pagi ini, membuat saya ingin menulis. Iya, menulis adalah salah satu cara untuk berbagi, melepaskan stres dan mencurahkan uneg-uneg pikiran saya selama bekerja.

Pekerjaan yang saya lakukan cukup menguras pikiran. Memikirkan bagaimana alur proses bisnis customer, implikasi kepada sistemnya serta apakah bisa dilakukan dan dijalankan oleh user dari client saya sesuai dengan harapan bersama.

Cukup rumit bukan? Ok, klo tidak rumit, mungkin saya harus merekrut Anda he3.. Yuks, kita lanjutkan ya, bahasan saya pagi ini, belajar dari kegagalan.

Oiya, bagi Anda yang tertarik untuk bekerja dengan job description seperti diatas, boleh lho apply melalui website Sunartha dan apply as functional consultant. Selamat mencoba!

Mari kita lanjutkan, sebelumnya, mampir dong ke artikel saya yang lain dengan prediksi 10 tahun kedepan sejak covid ini. Berikut artikelnya: Prediksi 10 Tahun Kedepan

Belajar Dari Kegagalan

Siapa sih yang tidak ingin sukses. Sukses dan kalau bisa tanpa gagal. Karena yang namanya gagal itu tidak enak.

Gagal saat ujian sekolah/kuliah, itu nda enak. Apalagi gagal cinta, aduh jangan sampe deh (tapi pasti banyak dong temen-temen semua yang pernah mengalami). Tapi, tahukah Anda, kegagalan ternyata membuat kita semua makin kuat.

Nda percaya?

Hayo kita buktikan. Setiap permasalahan yang kita miliki, diperlukan proses untuk melewatinya. Mungkin terasa sakit, terasa hampa dan masih banyak perasaan berkecamuk didalamnya, tetapi, namanya manusia, kita harus terus move on kan (anak-anak muda sekarang punya istilah).

Tiap kegagalan, apalagi bisnis, pasti ada insight atau pembelajaran yang kita dapatkan.

Contohnya saya. Kegagalan dibisnis kerupuk saya, membuat saya paham, ternyata bagaimana berbisnis dan cara-cara membuat bisnis kedua saya lebih “kebal” dengan hambatan tersebut.

Salah satu insight yang saya dapatkan adalah soal AR (account receivable) atau piutang usaha. Dimana bisnis pertama saya sangat bergantung sama penjualan berbasis piutang untuk mendapatkan revenue.

Saat ini, 180 derajat terbalik. Bisnis saya mempunyai AR collection days dibawah 30 hari dimana aliran cashflow menjadi cair. Dulu? Coba tebak? Lebih dari 90 hari. Lumayan kan dananya bisa utk beli gorengan hehehe.

Move On dan Terus Belajar

Ternyata, belajar itu nda pernah ada sudahnya. Barusan cek twitter, ada yang post seperti ini: Jangan pernah merasa puas diri tahu tentang semuanya, mungkin saja Anda belum mempelajarinya.

Setuju nda?

Bisnis pun sama, mungkin saat ini bisnis saya masi dikisaran medium, tapi tantangan dan pembelajarannya dilevel korporasi jadi beda lagi. Nah, kalau cepat puas diri, kapan kita pinternya? Atau jangan-jangan sudah tutup duluan karna pemiliknya malas.

Tapi saya setuju klo setiap kegagalan itu akan membuat depresi, rasa tertekan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Makanya saya tulis dong artikel tentang ini juga, coba mampir ya: Bangkit Dari Depresi

Jadi, apapun itu, kegagalan kali ini tidak menentukan Anda yang sekarang kok. Mungkin Anda yang sekarang jadi Anda yang lebih baik dari yang kemarin dengan modal tersebut. Sayangnya di CV jarang ya bilang kegagalan in term of kesuksesan. Penasaran juga.

Dan karena saya care untuk berbagi, saya juga menulis tentang topik ini nih: Survival Melewati Badai Corona. Karena setiap dari kita harus bisa survive dari badai ini. Setuju nda?

Atau bisa juga baca artikel berikut dari saya: Punya Bisnis Lalu Dijual.

Penutup

Bagaimana teman-teman, cukup mencerahkan bukan tulisan dipagi hari ini? Semoga kita semua selamat dan mampu bertahan dikondisi saat ini. Stay safe and survive sampai era pandemik berakhir.

Kami juga akan membuat webinar rutin tentang bisnis. Jadi bagi Anda yang ingin ikut dan mengembangkan diri selama kondisi ini, stay tuned di Linkedin Sunartha, tautan bisa dicek disini: Linkedin

Atau ingin berkenalan dengan saya dan diskusi bagaimana kita bisa berbagi tips menghadapi semua ini, tolong japri ya.

Tertarik untuk membuat webinar tentang bisnis bareng, bisa hubungi tim saya, Mba Euis dinomor whatsapp berikut: 0815 8690 2500 untuk kita maju bersama ya.

Salam,

Daru

Spoiler dikit tentang gambar diatas. Saya tertarik untuk berbisnis donat nih. Ada ide bagaimana kita bisa mencoba bisnis rumahan dijaman pandemik ini. Saya akan bagikan rutin cara saya memulai bisnis dari awal. Sepertinya seru untuk mendokumentasikannya dan berbagi untuk Anda semua. Psst, donat buatan keluarga saya enak lho.

Prediksi 10 Tahun Kedepan

Prediksi 10 Tahun Kedepan

Selamat Datang

Pagi! Apakabar? Semoga Anda dan teman-teman sehat selalu. Masih setia dirumah aja kan? Sebaiknya tetap sabar dirumah ya, kurangi bepergian dahulu pada saat ini sambil menunggu kebijakan pemerintah dan pemerintah daerah masing-masing terkait pembatasan berskala besar.

Bagi Anda yang sudah mendapatkan THR dari kantor Anda, selamat! Gunakan dengan bijaksana ya. Karena kita masih belum tahu sampai kapan pandemi ini akan berkurang atau berakhir. So think wisely before spending your money guys!

Pagi ini saya mendapatkan share link video dan saya langsung bagikan kepada Anda diawal tulisan saya kali ini. Pertanyaannya, 10 tahun kedepan itu akan seperti apa sih kehidupan kita? Mungkin bagi Anda yang sudah menontonnya, Anda akan langsung dapat menjawab pertanyaan saya.

Ok, saya berikan waktu ya untuk Anda menonton youtube diatas oleh Nas Daily. Setelah itu, jangan lupa mampir diartikel saya yang lain dibawah ini ya:

The New Normal

Prediksi 10 Tahun Kedepan

Yang pasti, hari-hari kita kedepan masih akan dibayangi oleh hadirnya virus corona, dimana setiap orang akan selalu sadar akan kebersihan terutama penggunaan masker, mencuci tangan dan masih banyak hal lain seperti social distancing.

Sulit? Pastinya. Apalagi bisnis yang berhubungan dengan kerumunan pembeli, interaksi dengan banyak orang dan terkait perjalanan antar daerah. Nda kebayang deh intinya.

Tapi tentunya kita nda boleh menyerah dong ya. Seperti yang Nas (divideo youtube) sampaikan, 10 tahun kedepan, peluang hal-hal baru yang tadinya mungkin tidak terpikir, akan menjadi salah satu pilihan hidup kita.

Seperti bekerja dari rumah (work from home). Gini-gini kantor kami sudah menerapkan work from home sejak pemerintah daerah Jakarta mengumumkan pembatasan.

Sulit untuk tim? Tentu saja. Tapi tetap kita lakukan. Stress? Pasti. Apalagi untuk tim sales saya yang terbiasa berkelana mencari prospek, hal ini sangat merepotkan tentunya.

Tetapi benar juga kata Nas, jangan-jangan, kita bisa lho menawarkan jasa dan produk kita tanpa harus kita keluar dari rumah. Apalagi tinggal didaerah seperti Jawa Tengah, sambil menikmati internet yang harus tetap kencang ya. Tetep.

Rencana dan Cita-cita

Ok, karena pandemic covid ini, sepertinya banyak orang yang harus merevisi rencana dan cita-cita kedepan. Setuju nda? Pasti dong, wong saya juga kok.

Lalu, bagaimana dengan Anda? Saya share bagian saya ya.

Tentunya, untuk bisnis Sunartha sendiri saya mungkin akan arahkan ke konsultan yang 100% murni online consulting. Bagaimana bisa? Nanti kita bahas diblog berikutnya ya.

Oiya, bagi teman-teman yang belum tahu Sunartha, kita merupakan consultant bagi perusahaan menengah dimana goals kami ingin membantu perusahaan-perusahaan tersebut mengadopsi teknologi dan tools IT supaya bisnisnya berkembang kedepan.

Kami juga partner dari product Acumatica dan Tableau. Tertarik? Boleh diskusi sama tim saya, Mba Euis ya dinomor whatsapp berikut: 0815 8690 2500

Lanjut ya. Trus kalau target pribadi gimana? Pastinya, kayaknya saya mempertimbangkan untuk membeli kendaraan yang biasa saja, alih-alih ingin memiliki rumah dengan view ruang kerja yang luar biasa. Ya mirip-mirip gambar dibawah ini lah ya

Yang lain? Tentunya saya akan lebih rajin belajar mengenai hal baru dibidang saya dan rutin berbagi seperti yang tim saya akan lakukan diminggu ini. Kita akan membantu teman-teman sekalian bagaimana menggunakan salah satu produk kekinian untuk work from home.

Saya infokan disini ya eventya dan secara acara ini gratis, undang teman-teman Anda semua ya untuk join. Link pendaftarannya bisa daftar disini ya: https://bit.ly/35N2469

Source: Sunartha

Bagaimana? Cukup mencerahkan bukan? Oiya, kalau teman-teman tertarik untuk menyumbang ide, kira-kira permasalahan atau gimana cara membantu masalah dibisnis teman-teman yang terkait dengan kami, diinfo saja ya. Atau japri ke Mba Euis juga tidak apa-apa.

Terimakasih sudah membaca dan jangan lupa sharing kalau bermanfaat.

Salam,

Daru

Bacaan lain terbaru dari Sunartha: Survival Melewati Badai Corona

Belajar Mengelola Cashflow Usaha disaat Covid

Belajar Mengelola Cashflow Usaha disaat Covid

Belajar Mengelola Cashflow Usaha
Sumber Foto: stylo.grid.id

Intermezo

Cashflow. Atau sering kita sebut juga arus kas.

Hal yang saat ini menjadi hal yang paling berharga bagi para pengusaha atau pemilik bisnis. Bagaimana tidak, ditengah kondisi pandemik seperti ini, sepertinya yang namanya uang kas itu seperti menguap diudara. Siapa yang setuju?

Kenapa saya mau bahas tentang hal ini? Mungkin karena saya berpikir, pasti ada teman-tema sekalian yang kesulitan atau bingung bagaimana ya caranya atau ingin ada opini kedua mengenai topik pengelolaan uang diusahanya pada saat seperti ini.

Berarti temen-temen datang ke blog yang tepat. Selamat datang ya. Bagi yang sudah pernah sebelumnya dan sering mampir, saya ucapkan ketemu lagi dan selamat membaca.

Sudah siap? Mari kita lanjutkan.

Sebelum lanjut membaca, tolong bantu saya dong, mampir ditautan berikut ini, saya berbagi tentang belajar Tableau, baru kenal Tableau, nda apa-apa, nanti disana diajarkan kok:

Belajar Tableau

Belajar Mengelola Cashflow Usaha disaat Covid

Mengelola cashflow secara sederhana adalah berusaha untuk mengurangi cash out dan menambah cash in sehingga kita tidak mengalami yang namanya defisit cash atau dana tunai.

Sesederhana itu memang dasarnya. Tetapi aplikasi secara nyatanya, kita bisa rincikan satu per satu kok. Mari kita bahas bersama.

Prioritas pertama kita dalam mengelola arus kas adalah kita harus membuat yang namanya eksisting model cashflow usaha kita.

Teman-teman bisa menggunakan aplikasi spreadsheet seperti excel untuk membuat gambaran alur penerimaan dan pengeluaran bisnis. Komponen apa saja yang harus dibuat, mudah, kita daftar saja. Yang pasti terbagi menjadi 3 bagian utama, sisi penerimaan yaitu kita akan mendapatkan uang dari mana saja, sisi pengeluaran dimana kita akan membayarkan uang tersebut kepihak lain dan yang terakhir sisi balance atau saldo yang kita miliki.

Bingung? Sabar, nanti bisa saya jelaskan satu persatu kok. Yuk mari dilanjut ya.

Yang jadi kendala disaat pandemi seperti ini adalah dimana pengeluaran kita sifatnya tetap sedangkan penerimaan kita, bersifat menjadi tidak menentu. Setuju?

Nah, dalam ilmu per-cashflow-an, ini sudah menjadi salah satu pertanda yang kurang baik. Apalagi kalau kita mempunyai yang namanya hutang yang perlu diangsur tiap bulan, apapun itu namanya.

Apa yang harus kita lakukan dong klo gitu? Prioritas.

Survival is the Key

Betul, kita harus menentukan prioritas terlebih dahulu. Misalkan usaha Anda mempunyai hutang rutin yang harus dibayarkan tiap bulan sedangkan dana yang Anda miliki, setelah dimasukkan kedalam excel tersebut hanya cukup untuk periode tertentu, tentunya kita harus memprioritaskan terlebih dahulu mana yang kita bayarkan.

Pada umumnya, prioritas pertama adalah membayar kepada pihak ketiga yang kita sudah mengambil fasilitas pinjaman tersebut. Namun, ditengah kondisi seperti ini, biasanya dan umumnya, kita masih bisa mengajukan yang namanya restrukturisasi pinjaman, sehingga kita bisa minta keringanan untuk metode bayar atau nilainya.

Kedua, kita juga harus melakukan prioritas kepada supplier utama kita dimana bisnis kita bekerja sama. Misalkan Anda berbisnis kopi, mau tidak mau, apabila Anda stop membayar supplier kopi Anda, ada kemungkinan Anda tidak akan diberikan pasokan bahan baku lagi bukan?

Tentunya Anda dapat berdiskusi dengan supplier Anda, bagaimana caranya agar hutang usaha yang dimiliki bisa dikelola dengan baik dan bagaimana kondisi Anda agar bisnis terus dapat jalan dan saling membantu ditengah kondisi seperti ini.

Ketiga, yang tentu tidak boleh dilupakan adalah karyawan dan tim Anda. Tentunya tanpa mereka, bisnis Anda tidak akan jalan bukan? Apalagi kegiatan produksi.

Prioritaskan untuk melakukan pembayaran gaji terlebih dahulu daripada biaya-biaya yang dirasa kurang perlu. Apalagi seperti contohnya karena tim Anda bisa work from home, pengeluaran utilitas kantor bisa dikurangi bukan?

Mari Kita Lanjutkan

Nah, kira-kira apalagi ya?

Tentunya kita harus pikirkan dari sisi penerimaan ya. Dari sisi penerimaan, tips yang paling mungkin kita lakukan adalah lakukan segala cara untuk mendapatkan penerimaan dari seluruh produk dan jasa yang kita miliki.

Contohnya kalau ditempat saya, Sunartha kami merencanakan marketing campaign seperti pembelian voucher implementasi dimana nilai yang dikeluarkan lebih terjangkau daripada implementasi full package.

Atau juga kita siap-siap dengan modul-modul yang lebih sederhana sehingga para pelanggan kami dapat menggunakan jasa yang ada dengan nilai yang lebih terjangkau agar kebutuhan cashflow tercukupi.

Dan juga kita bisa memulai menggunakan channel e-commerce seperti slogan berikut ini Mulai Aja Dulu yang Anda pastinya sudah kenal sebelumnya bukan?

Kesimpulan

Baik, karena sudah cukup banyak tips yang dibagikan diatas, dan semoga bermanfaat untuk rekan-rekan semua, seperti gambar dibagian blog yang saya lampirkan, stay safe and healthy, jangan lupa minum jamu ya (secara saya jadi endorse mba aurel nih).

Ada ide tulisan lain yang kira-kira bermanfaat untuk dibagikan? Yuk tuliskan dibagian comment dibawah ini ya.

Salam,

Daru

Mulai Aja Dulu

Mulai Aja Dulu

Mulai Aja Dulu

Mulai Aja Dulu
Mulai Aja Dulu

Artikel Yang Tetap Hits saat Covid-19 Melanda

Akhirnya, saya punya waktu lagi untuk memperbarui tulisan diblog saya ini. Kenapa tidak? Setelah sekian lama tidak diupdate, masih saja ada pembaca setia, atau mampir aja karna penasaran sama judul tulisannya ya.

Mungkin Anda dan saya saat ini sedang bingung dan galau mengenai kondisi kedepan setelah Covid-19 ini. Ide mulai aja dulu menjadi salah satu yang patut dipertimbangkan. Atau bahkan ide yang harus segera dieksekusi, tidak dipertimbangkan lagi.

Kenapa tidak? Menurut berita yang bersliweran diluar sana, banyak teman-teman yang dirumahkan dan otomatis menjadi jobless. Mungkin karena industrinya sedang bermasalah karena regulasi atau karena perusahaan tempat bekerja juga kesulitan untuk bertahan.

Kok saya jadi berpikir, mulai aja dulu ini jadi bener-bener harus dilakukan.

Kalau Anda bisa memasak, kenapa nda coba memasak dan dipromosikan melalui sosial media yang Anda miliki. Banyak media yang bisa kita pakai, Instagram, Twitter, Facebook, Youtube, you named it. Tokopedia mungkin juga bisa.

Apapun itu, ide seharusnya tidak menjadi tumpukan ide saja, namun dieksekusi dan belajar dari hasil eksekusinya. Setuju?

Artikel saya yang original ada dibawah ya. Saling support untuk kondisi Covid-19. Semoga kita dapat melaluinya bersama.

Ide Banyak Eksekusi Minim

Siapa yang seperti ini?

Saya juga kok, santai aja, saya nda nyalahin Anda-Anda semua.

Ide saya banyak banget.

Mau buka usaha ini.

Kayaknya buat divisi itu enak juga.

Usaha client saya yang anu kayaknya untungnya gede.

Nah lho, itu maruk (kemaruk-bahasa jawane rakus) atau ngayal.

Beda tipis sih.

Cuma siapa sih yang nda kayak gitu.

Saya aja kepinginan. Ingin ngejalanin semua.

Banyak ide, tapi ujungnya hanya diujung mulut saja, tanpa adanya eksekusi.

Eksekusi yang serius, eksekusi yang konsisten dan pembelajaran yang menerus.

Mulai Aja Dulu

Daripada kebanyakan ide, mulai sekarang saya selalu mengingatkan diri saya.

Untuk yuk mulai aja dulu.

Mulai dari yang mudah dulu.

Dari yang sederhana dan bisa dilihat hasilnya.

Hasilnya belum sempurna, nda apa-apa.

Daripada manis dibibir (kayak judul lagu jadul ya) dan menguap seperti asap yang entah berantah.

Mending kita mulai pake slogan MVP (Minimum Viable Product). Tahu?

Itu lho, seminimum mungkin produk atau jasa yang bisa kita kasi ke pelanggan.

Contoh sederhana kalau dibisnis saya.

Saya mau jualan kopi nih.

Ya saya jualin aja kopi item (wong bisanya baru buat kopi item) ke sekitar kantor.

Nanti kalau udah ada respon dari pelanggan-pelanggan, baru deh belajar buat latte, cappucino dan menu-menu lainnya.

Slogan Tokopedia

Saya tidak dibayar dan diendorse oleh tokopedia ya.

Gini-gini saya pelanggan tokopedia lho.

Beli dari printer, makanan kucing, sendal kantor sampe barusan duren aja belinya dari toped.

Lalu, kok saya nda mulai jualan via toped. Ide bagus.

Mereka aja bisa, kok saya nda bisa ya? Padahal apa-apa ada.

Maksudnya ada komputer, internet dan barang dagangan.

Mungkin yang kurang niat.

Makanya slogan Nike dengan Just Do It dan Tokopedia yang Mulai Aja Dulu buat saya tahu.

Untuk memulai sesuatu itu mah nda usah dipikir panjang. Mikir harus ya! Tapi jalanin.

Lalu, bagaimana dengan Anda? Saya sih Mulai Aja Dulu.

Artikel paling rame dari blog perusahaan saya, silahkan mampir ya: Contoh Penerapan ERP

Kalau Anda penyuka film korea dan tertarik belajar bisnis sambil nonton, musti baca artikel saya yang ini:  Belajar Bisnis dari Itaewon Class

Salam Malam Mingguan,

Daru

Saat ini saya bekerja di Sunartha, partner perusahaan untuk implementasi tools terbaik untuk meningkatkan bisnis mereka. Mulai dari Cloud ERP dan Business Intelligence sampai ke jasa training dan konsultasi.

Kami juga lagi mencari beberapa kandidat tim kami, tertarik? Kirim ke hrd@sunartha.co.id ya. Add saya di Linkedin Anda ya. 

Artikel update 3 Mei 2020

Belajar Tableau

Belajar Tableau

Tableau adalah software yang membantu manajemen dalam mempercepat pengambilan keputusan berdasarkan visualisasi data.

Bisnis saat ini memerlukan proses yang serba cepat. Cepat bukan berarti tidak akurat. Cepat bukan juga berarti tidak berdasarkan data.

Menariknya, menjalankan bisnis sekarang tidak semudah menjalankan bisnis 10 – 20 tahun sebelumnya. Mungkin kalau Anda mencobanya sekarang, dengan gaya 10 – 20 tahun lalu, pilihannya adalah maju sekencang-kencangnya dan masuk ke jurang, ups.

Tidak mengkerdilkan pilihan action now lho ya. Artinya sekarang, menjalankan bisnis haruslah Anda seumpama berkendara dengan cepat tetapi selalu siaga terhadap semua kondisi yang ada.

Nah, apa hubungannya dengan belajar Tableau?

Tableau bisa membantu kita, pemilik bisnis, untuk mempercepat pengambilan keputusan berdasarkan data yang kita miliki.

Contoh sederhananya. Menentukan efektifitas kampanye marketing.

Kemarin saat saya berdiskusi dengan teman saya yang berbisnis distribusi yang berhubungan dengan kendaraan seperti shampo mobil, oli dan lainnya. Saya bertanya, apakah sempat menganalisa berpengaruh tidak antara kampanye via beberapa media dengan penjualan?

Jawabnya, belum. Ok, lanjut saya, kenapa? Karena belum tahu bagaimana cara melakukan evaluasinya. Ok. Menarik saya bilang. Bagaimana kalau Anda siapkan datanya dan saya siapkan tools untuk analisanya. Kita tunggu episod kedua ya..

Contoh menarik tersebut, membuat saya berfikir. Apakah masih banyak perusahaan dan pemilik bisnis yang saat ini sedang berjuang sekuat tenaga untuk meningkatkan penjualan tapi tidak tahu caranya. Bagaimana berjuang melakukan efisiensi untuk meningkatkan profitabilitas tetapi tidak tahu caranya.

Ya, sebenarnya jawabannya sudah ada melalui data yang mereka miliki. Tetapi bagaimana mempermudah dalam pengambilan keputusan lah yang ternyata sulit. Istilahnya dibadminton, umpan lambung tinggal dismash saja.

Ok, coba saya berikan ilustrasi salah satu hasil dari Tableau dashboard.

Bagi Anda yang baru pertama kali mengenal Tableau dan ingin mendownload Tableau Trial selama 14 hari dengan seluruh fitur tersedia, bisa mampir disini untuk link downloadnya:

Download Tableau Trial

Atau apabila Anda merasa sudah menggunakan trial tersebut dan tetap ingin menggunakan Tableau tetapi Anda tidak merasa data yang Anda miliki bersifat rahasia, artinya untuk belajar-belajar saja, Anda bisa gunakan link download Tableau Public disini:

Download Tableau Public

Btw, perbedaannya apa? Kalau menurut saya pribadi, hanya tempat menyimpan hasil visualisasi yang kita sudah buat. Dan karena public saya rasa ada beberapa fitur yang tidak tersedia, tetapi kalau untuk coba-coba dan belajar, saya rasa sudah cukup sih.

Baik, kita lanjutkan ya.

Jenis Produk Tableau

Seperti yang teman-teman tahu, Tableau mempunyai jenis/tipe produk. Yang paling sering dikenal adalah Tableau Desktop ya.

Tableau desktop ini merupakan bagian produk dari Tableau Creator ya. Jadi kalau misalkan kita membeli (oiya, Tableau sekarang konsepnya subscription ya, aka berlangganan) jadi setiap pembelian Tableau Creator, akan mendapatkan Tableau Desktop, Tableau Online (atau yang dulu disebut tableau server) dan Tableau prep builder ya.

Konsepnya serial number ya. So 1 user akan mendapatkan 1 serial number yang akan dikirimkan oleh Tableau sendiri, melalui email yang diregistrasikan saat membeli.

So, email temen-temen juga akan bisa digunakan untuk login ke yang namanya customer portal. Jadi disitu kita bisa download rilis produk terbaru dan tentunya submit case ya.

Penasaran isi Tableau Customer Portal, berikut link nya: Tableau Customer Portal

Ok, spesifik ke produk yang akan kita bahas kali ini adalah Tableau Desktop ya teman-teman. Kenapa? Karena kita bisa buat Viz dan menghubungkan data dari sumber datanya langsung.

Persiapan

Mari kita persiapkan dan download-download dl ya. Usahakan install tableau yang terbaru ya, waktu saya tulis blog ini, sekarang versi tableaunya di 2020.1.3

Sudah downloadnya? Ayuk kita coba install bareng ya.

Klik file installernya, kemudian lanjutkan sampai selesai ya. Nanti kalau sudah beres Tableaunya, temen-temen akan dapat menemukan tampilan sebagai berikut:

Tampilan Awal Tableau

Artinya kita bisa memulai untuk belajar bagaimana menggunakan Tableau ya.

Btw, saya akan melanjutkan membuat video terkait membuat 1 dashboard yang terdiri dari beberapa visualisasi ya setelah ini. Berikut dibawah ini salah satu contoh Dashboard default yang telah ada dari samplenya ya.

belajar tableau
belajar tableau

Kalau gambarnya terlalu kecil, tolong diklik saja ya supaya membesar.

Setelah itu, mungkin apabila Anda mempunyai ide topik yang bisa saya dan tim buatkan videonya, mungkin bisa ditulis dibagian bawah komentar ini ya. Kami mendukung nih temen-temen untuk bisa belajar menggunakan Tableau dari rumah disaat seperti ini.

Atau temen-temen bisa memfollow Linkedin Sunartha disini untuk mendapatkan informasi sharing tentang topik Tableau yang kami bagikan secara rutin.

Atau tertarik untuk membaca artikel lainnya tentang Tableau, coba lihat salah satunya dibawah ini ya.

Pelatihan Tableau secara Online

Workshop Tableau Server

Hubungi kami melalui whatsapp Mba Euis untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dinomor berikut ini: 0815 8690 2500

Salam,

Daru

Bacaan Artikel dengan Film yang lagi hits di Netflix: Belajar Bisnis dari Film Itaewon Class

The New Normal

The New Normal

The New Normal
Source: Forbes

Kondisi Saat Ini

Selamat Pagi. Sabtu ini saya akhirnya menuliskan kembali pikiran saya dalam blog pribadi, yang cukup lama terbengkalai. Maklum, karna WFH kali ini, kerjaan kok perasaan tambah banyak ya daripada disaat sebelum WFH.

Sambil melihat hujan rintik-rintik pagi ini, saya mulai menuliskan, apa yang menurut saya nanti akan muncul setelah Covid-19 dapat diatasi.

Menurut saya dan bacaan-bacaan yang saya lihat dari para pengamat akan ada kondisi dimana terjadi The New Normal.

Apa itu? Yuk simak bareng-bareng. Karena sedang puasa, nda perlu ada iklan nge-teh dan ngopi dulu ya 🙂

Artikel pada blog saya lainnya bisa Anda baca disini ya:

Belajar Bisnis dari Film Itaewon Class

The New Normal

Kondisi normal, bagi sebagian dari kita adalah disaat kita dapat beraktivitas sebelum kejadian Covit melanda. Betul kan?

Seperti setiap sabtu minggu jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Atau kita bisa berangkat kerja untuk ngantor. Atau juga ketemuan dengan mitra bisnis dan customer secara tatap muka.

Tetapi itu normal yang dulu. Sekarang ada normal yang baru. Saya share ya, kenapa gitu?

Saya dan tim saya, saat ini sudah menjalankan aktivitas pekerjaan dari rumah kami masing-masing. Dulu, kami sama seperti Anda kok, bekerja seperti biasa, jalan dan travelling seperti biasa. Tapi sekarang berbeda.

Shock? Pastinya. Yang saya ingat cuma 1 tim saya yang terbiasa bekerja dari rumah. Itupun dia join dengan tim kami karena sudah bosan dan ingin bekerja seperti orang pada umumnya.

Tetapi karena covid ini, kita semua akhirnya merasakan dan menjalankan apa yang diminta oleh pemerintah daerah masing-masing. Work from home. Menjadi the new normal kami sehari-hari.

Sulit? Pada awalnya iya. Karena menurut penelitian, kondisi normal atau sudah menjadi kebiasaan itu sulit untuk berubah.

Contohnya saya sendiri, untuk memulai berolahraga, itu sulit sekali. Saya lebih senang untuk bangun pagi, mandi dan langsung didepan notebook. Padahal kalau sudah terbiasa untuk 30 menit berolahraga selama 1 bulan terus menerus, pasti tubuh kita sudah menjadi normal dengan kondisi baru bukan?

Lalu, kira-kira berikutnya bagaimana ya?

Itu yang saya lagi cari tahu dan sambil menerka-nerka kedepannya. Barusan saya baca beberapa bisnis ritel seperti KFC, Ramayana dan perusahaan startup unicorn pun, Traveloka sedang berpikir (saya yakin manajemennya berpikir keras) bagaimana beradaptasi kedepannya.

Itu mereka ya, yang gede-gede. Gimana kita para pengusaha yang secara ukuran mungkin masih lebih kecil dibandingkan mereka.

Kita harus juga berpikir untuk beradaptasi kedepan. Mungkin saya bisa bagikan beberapa tipsnya:

Melakukan koordinasi pekerjaan yang sesuai dengan kondisi the new normal.

Contohnya kami, setiap pagi dan sore kita rutin mengadakan meeting-meeting singkat untuk membahas apa yang bisa saling bantu satu sama lain. Dulu kami harus keruang rapat secara fisik, sekarang cukup buka sesi teams maupun google meet dan instan join semua. Sama toh?

Belajar untuk menerima The New Normal

Ya. Kami berusaha untuk belajar untuk menerima the new normal. Baik dari sisi aktivitas bisnis kami, dengan customer kami, dengan mitra-mitra prinsipal kami. Karena apapun itu, kondisi ini akan menjadi kondisi kami kedepannya. Sambil berdoa dan berharap kondisi kedepan akan lebih baik.

Evaluasi Kondisi dan Strategi Kedepan

Setiap ada kondisi baru, kita harus beradaptasi. Menurut bapak evolusi, yang bertahan adalah yang bisa beradaptasi.

Mungkin bisnis kami dulu sangat terbiasa dan ahli dalam implementasi sistem secara tatap muka. Tetapi the new normal membuat kami harus beradaptasi dengan metode kerja full online. Sulit? Pasti!

Tetapi masih mungkin dilakukan. Karena seluruh bisnis saat ini berusaha juga untuk bertahan dan mempersiapkan diri untuk kedepannya. Teorinya, setiap yang bisa bertahan disaat kondisi berubah, pasti akan mempunyai keunggulan tersendiri. Seperti kekebalan kali ya.

Bahkan kelakar teman saya, disaat kondisi gini, akan ada orang-orang kaya baru yang bisa membaca peluang disaat kesempitan melanda. Jadi, Anda tipe yang mana? Terus mencari peluang atau tetap merenungi nasib? Saya sih pilih nomor 1 ya.

Kesimpulan – The New Normal

Sambil mendengarkan spotify lagu-lagu korea, saya akhirnya mempunyai kesimpulan. Kondisi apapun, kita sebagai manusia dan pengusaha ya, harus selalu siap dan menjalankan ilmu dasar kita, survival.

Yes, bertahan dahulu sambil mencari peluang dimanapun kita temui. Toh akhirnya yang bisa kita lakukan adalah mencoba strategi-strategi baru sekalian bertahan dulu bukan? Klise sih, cuma ini yang saya dapat simpulkan sementara.

Tulis komentar ya, kalau Anda ingin berdiskusi lebih lanjut.

Tulisan dari rekan saya, Pak Airlangga: Kerjanya di Ponsel, Temannya Ice Cream juga merupakan salah satu bentuk kreativitas disaat WFH. Mampir ya.

Yang ingin berkenalan di Linkedin juga boleh. Add saya ya.

Daru

Artikel baru lainnya terkait mengelola keuangan disaat pandemic Covid-19:

Mengelola Cashflow Bisnis

10 Tahun kedepan setelah Covid kira-kira gimana ya?