Jam Terbang

Jam terbang. Mungkin istilah ini populer dikalangan pilot apabila ada kejadian khusus contoh kecelakaan. Berita selalu mengangkat berapa jam terbang pilot tersebut selama masa kariernya.

Jam Terbang

Pic Source: Pinterest

Tapi saya ga mau membahas tentang pilot ya. Yang mau saya bahas adalah jam dibidang bisnis. Konsepnya sama saja. Berapa lama kamu, kita semua menekuni bisnis kita. 5 tahun? 10 tahun? bahkan lebih.

Korelasi dengan Bisnis – Jam Terbang

Nah, apa korelasinya dengan bisnis nih. Pilot dengan jam terbang yang tinggi, biasanya sudah menghadapi banyak kejadian-kejadian mendebarkan didalam kariernya. Sama dengan pelaku usaha atau pebisnis.

Mulai dari krisis ekonomi, krisis internal didalam perusahaan, ditipu orang dll. Nah, pantes apabila orang bank bilang, kita ga mau kasi pinjaman ke perusahaan yang seumur jagung (eh umur jagung bulanan ya? ups salah) yang umurnya dibawah 2 tahun.

Kenapa begitu? karena bank dan investor tidak mau meresikokan dananya (meskipun yang peminjam mempunyai aset). Itu kuncinya. So, insight kali ini adalah, perbanyak jam Anda, perbanyak kegagalan (tetapi kegagalan yang terukur ya). perbanyak pertemanan dan sharing session.

Kenapa? Karena dengan itulah kita jadi mempunyai jam terbang yang lebih tinggi. Jam terbang yang lebih tinggi membuat kita lebih awas, perhatian, dan tau cara bersikap apabila mendapatkan tantangan dalam mengelola bisnis, setuju?

Kesimpulan

Nah, mulai dari sekarang, kita mulai mendaftar, kegiatan apa yang membuat jam terbang kita semakin tinggi lagi. Mulai dari sekarang dan kita akan mendapatkan ilmunya.

Karena apapun itu, ilmu yang kita miliki, tidak akan valid atau teruji, kalau kita tidak mempraktekannya. Sesuai gambar diatas, bahkan Bruce Lee pun takut sama orang yang sudah mempunyai pengalaman tinggi, meskipun 1 jurus aja.

So, bagaimana dengan Anda? Kalau saya sih, saya coba dan praktek terus, meskipun kenyataannya, sulit, sangat sulit.

Tetapi tidak apa, kita musti coba dan coba terus ya. Jangan khawatir akan hasil, berproses saja. Selamat belajar.

Regards,

Daru

Apabila ada teman-teman yang ingin berdiskusi lebih lanjut tentang bisnis dan usaha bisa menghubungi saya dan tim dinomor Whatsapp berikut: 0815-8690-2500

Tulisan saya yang lain, yang mungkin Anda perlu dan wajib baca nih. Silahkan.

Berani Beda

Laporan vs Analisa

Berani Beda

Berani beda.

Berani Beda

Pic Source: unisifm.com

Tidak semua orang, yang saya tahu, berani untuk berbeda dari orang kebanyakan. Setuju?

Contoh sederhananya. Apabila kita sendirian masuk kedalam suatu ruangan dimana baju kita beda model dengan yang kebanyakan, bagaimana perasaan Anda? Canggung? Grogi? Keringat dingin? Pasti.

Nah, karena saking takutnya orang untuk berbeda dengan yang lain, jadi terbawa dengan hampir semua pilihan yang kita ambil. Misalnya seperti apa itu Mas bro? Yuk mari kita bahas.

Melamar kerja

Iya, melamar kerja. Coba perhatikan, apabila teman-teman yang memiliki bisnis dan membuka lowongan untuk suatu posisi, coba tanyakan kepada bagian hrd dikantor. Berapa banyak yang mengirim surat lamaran kerja dengan amplop coklat, kertas A4 dan susunan CV yang mirip-mirip semua.

Banyak. Kalau saya lihat malahan hampir semua. Memang, mungkin karena sudah terbiasa dengan seperti itu menjadikan para pelamar kerja yang para mahasiswa menjadi tidak berani tampil beda daripada rekan-rekannya yang lain. Anda berkompetisi dengan pelamar lain lho, bukan lomba mirip-miripan.

Coba deh, amplopnya dibuat unik, berbeda, beda warna, beda ukuran, pokoknya beda. Lihat hasilnya. Coba kertas yang digunakan bukan A4 atau setidaknya kalau minta dikirimkan via email, didesain yang Anda banget. Bagian HR mungkin senyum-senyum sendiri melihatnya. Berani coba?

Bisnis

Siapa yang sekarang ini tidak mau membuka usaha sendiri. Bisnis istilah anak sekarang. Banyak anak muda yang merintis dari awal dan sekarang sudah masuk dalam daftar orang-orang yang sukses dari ukuran bisnis mereka. Membuat semua orang ingin mengikuti jejak mereka.

Selain kegigihan (determinasi) para pelaku bisnis yang sudah sukses. Saya melihat mereka juga mempunyai satu keunggulan yaitu berbeda. Yap, berani tampil beda. Berani ambil keputusan yang beda dari para pelaku dibidang yang sama.

Kenapa begitu? Kalau sama-sama aja, ya kita nda ada bedanya dengan tetangga-tetangga kita donk? Benar tidak. Contoh sederhananya adalah barusan saya membeli durian ucok dari tokopedia. Beda? Pasti! Durian yang saat orang ingin menikmati harus cari tukang durian keliling (biasanya dengan pickup bak) dan menunggu dibukakan durian satu per satu, sampe ketemu rasa yang pas.

Nah, si durian ucok ini sudah menyiapkan dalam kemasan per 1 Kg dan beku. Pas butuh, tinggal pesan via Tokopedia dan diantarkan sampai depan rumah oleh Gosend. Solusi banget bukan? Harga terbilang sama, tetapi nda perlu keluar rumah. Beda? Pasti!

Kesimpulan Berani Beda

Menonton Pandji P  (Standup komedian) berkata dalam salah satu shownya, berbeda itu jauh lebih baik dari lebih baik. Artinya kita harus selalu mencari sesuatu yang beda dari yang lain agar kita bisa dilihat. Agar bisa dicari orang atau pelanggan kita.

Itu yang saya lakukan dikantor kami. Disaat kantor lain cat nya putih, kami malah memasang bata ekspose (bata hias) dengan nuansa coffee shop. Tinggal coffee maker nya saja yang belum dan barista tentunya.

Saya ingin kantor kami mempunyai keunikan. Selalu unik pada cara kami menawarkan produk dan layanan kami. Contoh kami akan mencoba bersinergi dengan para EO untuk menganalisa data pengunjung event mereka, menggunakan Tableau as Business Intelligence Tools tentunya.

Dan masih banyak yang akan kami coba ditahun ini untuk mencapai target kami bersama. So, kesimpulannya adalah jangan takut beda. Jangan pernah khawatir apa kata orang, karena pada akhirnya, yang berani beda akan mencapai apa yang tidak bisa dicapai oleh orang yang sama pada umumnya.

Salam,
Daru

Bacaan lain yang kira-kira menarik untuk Anda baca: Memilih Bisnis Model

Hubungi tim saya, Mba Euis dinomor Whatsapp berikut 0815-8690-2500 untuk sinergi dan informasi tentang penerapan business intelligence ditempat kerja atau usaha Anda.

Memilih Bisnis Model

Memilih Bisnis Model

Memilih Bisnis Model
Pic Source: tuzzit.com

Welcome

Baik, selamat datang lagi diblog rutin saya. Bagi Anda yang baru pertama kali mampir, tidak apa-apa. Silahkan membaca beberapa artikel yang sudah saya tulis tentang bisnis, tools bisnis dan mungkin ide-ide saya.

Baru menulis kembali dikarenakan WFH ini cukup menyita waktu saya untuk mengurus operasional bisnis.

Oiya, bisnis saya full WFH. Bagaimana dengan bisnis Anda? Apakah berencana untuk terus WFH atau sudah masuk kembali or WFO?

Apapun itu, saya harapkan yang terbaik untuk Anda, bisnis Anda dan tentunya tim Anda. Terus patuhi protokol kesehatan yang ditetapkan dan jaga terus kesehatan Anda.

Ingat, kurva Covid masi terus tinggi, jadi tetap jaga kesehatan ya. Mudah-mudahan kondisi ini segera membaik untuk kita semua.

Memilih Bisnis Model – Sebuah Cerita

Hari jumat kemarin, saya sempat berbincang dengan prinsipal saya. Yups, kami merupakan partner resmi untuk implementasi Acumatica di Indonesia.

Nah, disela-sela kami berdiskusi, ada hal atau obrolan yang menarik yang saya dapatkan. Salah satu rekan/partner kami yang ada di negara lain, berencana untuk melepaskan kepemilikan usahanya.

Kenapa, tanya saya? Padahal yang saya tahu, partner tersebut cukup banyak melakukan aktivitas bisnis dan tentunya tidak sedikit customer dan dana yang sudah didapatkan, menurut saya dalam hati.

Ok, ternyata jawabannya cukup mengejutkan saya.

Bisnis model yang dijalankan tidaklah cukup untuk menutup biaya overhead karyawan dan tim yang menjalankan bisnis.

Nah lho, saya jadi tambah bingung. Bagaimana bisa? Tanya saya kemudian.

Ternyata beliau tidak menagihkan jasa yang seharusnya dan sebaiknya dilakukan kepada customer.

Mudahnya seperti ini, apabila Anda mempunyai bisnis jahitan. Apabila customer minta ada perubahan atas desain awal yang disepakati, tentunya Anda akan meminta imbalan atas jasa bongkar tersebut bukan?

Yes, pasti Anda akan jawab tersebut. Tetapi kenyataannya berbeda. Dia tidak melakukan itu.

Ok, saya mungkin tidak mengetahui real case apa yang terjadi tetapi saya jadi teringat dan bertekad untuk menulis tentang topik bisnis model ini.

Apa Insightnya Untuk Kita

Model bisnis. Sesuatu hal yang baru-baru ini cukup terkenal karena banyaknya startup yang bermunculan dengan mengacu model bisnis yang tidak lazim.

Saya biasanya diskusikan dengan istilah konvensional bisnis versus new model bisnis.

Mungkin Anda tahu ya, bisnis konvensional. Fokus pada profit dari awal usaha, jangan ekspansi berlebihan sehingga bisnis akan fokus pada kekuatan internal untuk pengembangan.

Lain halnya dengan new model bisnis dimana tidak ada masalah untuk kerugian, tetapi pada akhirnya biar data yang berbicara dan pada sekian tahun, profit akan didapatkan juga.

Lari sekencang mungkin, kuasai market, ambil pendanaan dan menjadi yang paling besar diindustri yang dijalani.

Lalu apa salahnya? Yes, salahnya adalah, tidak semua bisnis dapat menggunakan model bisnis yang sama.

Contoh bisnis jasa, limitasinya adalah kemampuan tim untuk menghasilkan output. Sama halnya dengan pabrik, pasti limitnya adalah kapasitas produksi.

Pertanyaannya

Lalu pertanyaannya, bagaimana kita dapat memilih model bisnis yang tepat? Betul nda?

Ya, biasanya diawali dengan hipotesa, dari bisnis-bisnis sejenis yang ada duluan. Sebagai catatan kalau sudah ada bisnis sejenis ya.

Dan kalau belum ada, mungkin Anda akan harus memilih yang menurut Anda tepat, meskipun nanti ditengah jalan Anda bisa pivot (berganti strategi).

Seperti tulisan saya ini nih: Memulai Bisnis Lagi bagaimana kita dapat memulai bisnis lagi dan belajar dari pengalaman kita.

Nah, berkaca dari pengalaman itu, jadi pekerjaan rumah saya nih, menentukan bisnis model yang tepat untuk bisnis saya yang lain kedepan.

Apakah bisa menggunakan opsi yang sudah ada, atau total beda agar ada uniqeness. Jadi inget, berbeda mempunyai peluang lebih baik dari sekedar lebih baik saja.

Berbicara itu, akhirnya saya dan tim membangun ini nih di Acumatica: Silahkan baca linknya dibawah ya:

Pengajuan Uang Muka Perjalanan Dinas menggunakan Acumatica Cloud ERP.

Atau, kalau Anda ingin berdiskusi dengan tim saya tentang bagaimana penerapan metode atau tools yang akan membuat bisnis Anda jadi “Lebih Beda” coba kontak Mba Euis dinomor Whatsapp berikut 0815-8690-2500 

Iklan dulu boleh ya

Oiya, jadi inget, hari ini kami sudah melaksanakan Belajar Tableau dari Rumah dan ternyata yang mengikut acara tertarik banget mendapatkan ilmu baru.

Kalau Anda tertarik untuk mencobanya, bisa lho coba dulu Tableau ditautan berikut: Download Tableau Trial

Sukses untuk kita semua, mudah-mudahan tulisan saya bermanfaat ya.

Salam,

Daru

Memulai Bisnis Lagi

Memulai Bisnis Lagi

Memulai Bisnis Kembali
Pic Source: brilio.net

Minggu-minggu enaknya nulis blog

Selamat hari minggu, para pembaca yang budiman.

Sudah cukup lama ya, saya menulis kembali, blog pribadi saya, yang rutin membahas tentang bisnis, pemikiran saya, ide-ide bisnis yang liar serta apapun uneg-uneg yang ada dipikiran saya.

Ternyata, dipikir-pikir, menulis itu salah satu bentuk melepas kepenatan, stress atas profesi dan pekerjaan yang seminggu kita jalani. Terapi yang murah meriah, modalnya cukup notebook, segelas kopi kekinian (kopi Tuku, kita jadi deal ya) dan sebersit ide untuk mulai menulis.

Siang ini, saya meluangkan waktu, 15-30 menit saya untuk menuliskan, ide yang menurut saya, harus dituliskan, agar teman-teman yang saat ini lagi diposisi yang kurang enak karna kondisi pandemik, bisa cepet pulih, dan selalu berharap kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dibantu kearah yang lebih baik ya. Amin.

Ok, saya nyeruput kopi dulu ya. Segar.

Dan balik lagi, minggu-minggu gini, dirumah aja, emang enaknya nulis diblog sendiri. Siaap? Mari kita lanjut ya.

Memulai Bisnis Lagi. Kenapa bisnis lamanya Mas?

Sesuai judul, kenapa saya bilang, memulai bisnis lagi. Lah, kenapa bisnis lama saya? Nda ada apa-apa juga kok. Bisnis lama saya, dan bisnis utama saya, Sunartha.co.id yang bergerak dibidang jasa konsultasi dan implementasi software-software terbaik untuk manajemen, berjalan seperti biasa kok. Malahan baru buka cabang di Surabaya. Nih, artikelnya saya buat khusus untuk Anda.

Buka Cabang Baru nih, Surabaya here we come.

Dapatkan penawaran khusus bagi Anda yang punya bisnis di Surabaya atau teman dan keluarga di Surabaya, Jawa Timur dan sekitarnya untuk berdiskusi tentang software apa yang terbaik untuk bisnis Anda. Monggo lho.

Lanjut ya bahasan kali ini. Kenapa saya memulai lagi? Karena saya ingin punya portofolio bisnis yang secara bisnis, punya market yang besar, retail dan ternyata saya mempunyai keunggulan kompetitif disitu karena itu yang dikerjakan oleh bisnis saya sebelumnya. Betul.

Teknisnya, nanti saya lanjutkan dan ceritakan ya, step-by-step-nya, karena sepertinya menarik kalau kita jadikan serial konten bikin bisnis baru, jadi teman-teman yang ingin bergabung atau membuat bisnis serupa, bisa jadi inspirasi.

Lalu, ternyata, saya menemukan sebuah insight, kunci atas memulai bisnis kembali ternyata langkahnya lebih cepat apabila kita mempunyai pengalaman atau urutan bisnis sebelumnya yang kurang sukses (to the pointnya, bisnis yang bangkrut ya).

Kita bahas dibawah ya. Saya nyeruput kopi kekinian dulu. Sambil ngemil donat gula yang manis, semanis siapa ya? Iya, kamu, jangan senyum-senyum sendiri sambil baca ini ya Mba.

Ternyata, itu toh kuncinya. Penasaran apa kuncinya?

Punya Bisnis Lalu Dijual? Nda sayang?

Tahukah Anda, saya pernah nulis tentang topik diatas itu. Silahkan mampir bagi Anda yang belum mampir ya. Terimakasih lho. Ditunggu masukannya.

Kunci dari penasaran Anda. Yes, karena pengalaman, apapun itu, baik maupun buruk, akan membuat Anda merintis bisnis berikutnya jauh lebih cepat dan lebih terstruktur. Sebagai contoh:

Bisnis berikutnya saya, bisnis yang akan jalan ini sudah mempunyai perhitungan antara penerimaan, target penerimaan, budget biaya dan detail teknis seperti infrastruktur IT, menempatkan dimana saja, software yang digunakan apa aja, dan seterusnya.

Jadi sesuai gambar diatas, meskipun usaha pertama, kedua, ketiga kita tidak sukses or so-so, Anda nda perlu khawatir. Anda akan mendapatkan pengalaman dan insight menarik dari situ. Ingat, belajar itu bukan dari kesuksesan saja lho, kegagalan juga. Setuju?

Wah ternyata saya nulis cukup banyak juga ya. Maafkan. Yang pasti, series merintis bisnis saya ini akan saya jadikan prioritas tulisan saya kedepan. Jadi, ditunggu ya tulisan dan sharing saya berikutnya.

Bagi yang ingin ngobrol-ngobrol tentang bisnis, sistem bisnis dan model bisnis, boleh lho diskusi sama saya. Siapa tahu bisa saling bantu. Anggep CSR pribadi saya deh.

Follow Linkedin saya, di hyperlink saya dibawah ya.

Daru

Saya dan tim sedang membuat bootcamp program untuk developer dibisnis saya Sunartha. Tertarik untuk bergabung? Sent CV Anda ke hrd@sunartha.co.id dengan judul email: BootCamp_BlogPW. Kabari dan bagikan ya kalau saudara, kenalan maupun teman Anda mau join. Trims.