Berani Mengambil Resiko

Berani Mengambil Resiko

Berani Mengambil Resiko
Pic Source: https://rhapsodystrategies.com/

Selamat Pagi

Pagi!

Bagaimana hari ini? Semoga Anda semua mempunyai hari yang baik untuk dimulai ya.

Tidak terasa, dari bulan Maret, kita menghadapi pandemi Covid-19. Cukup lama, 7 bulanan yang membuat hari-hari kita berbeda dari sebelum pandemi melanda.

Anda merasakan hal yang sama bukan? Yang tadinya kita bisa bepergian tanpa menggunakan masker, sekarang harus.

Bisa bekerja dikantor bersama teman-teman sekantor, sekarang harus dari rumah.

Bersyukur bagi Anda yang masih bertahan selama ini dengan bisnis, pekerjaan dan kesehatan ya, karena masih banyak teman-teman kita yang secara industri dan pekerjaan cukup terdampak karena pandemi. Semangat!

Berani Mengambil Resiko

Kata-kata yang mudah diucapkan, dituliskan tetapi sulit sekali untuk dilakukan. Setuju nda?

Apalagi kondisi pandemi begini. Resiko sudah seperti teman sehari-hari kita bukan?

Lalu pertanyaannya, Anda berani mengambilnya atau duduk diam termenung seribu bahasa dan tidak berani melangkah?

Kalau saya lihat beberapa teman saya, mereka akhirnya “terpaksa” mengambil resiko itu. Kenapa? Nda ada pemasukan kalau bergantung ke hal yang itu-itu aja Bro dan Sis.

Ya, pada akhirnya, kita semua harus mencoba. Mencoba sesuatu yang baru yang kita belum tahu apakah pilihan kita akan membuahkan hasil atau membuahkan kegagalan.

Sekarang, yang jadi prioritas adalah hasil (baik ataupun buruk) harus dicoba agar kita tahu harus bagaimana menghadapinya, betul?

Kesimpulan

Menurut saya, sekarang adalah saat yang tepat untuk kita melakukan yang namanya “Berani Mengambil Resiko”.

Kenapa? Dulu setiap orang tidak berani karena masih mempunyai pilihan. Pilihan untuk melakukan hal lain yang secara resiko nda akan mempengaruhi kenyamanan hidup mereka.

Tapi sekarang, semua orang (terutama yang kepepet) akan melakukan apapun itu agar bisa selamet dulu. Jadi, kapan Anda beraninya?

Aduh, saya jadi keinget juga nih ada beberapa hal yang saya masih berani untuk mengambil resiko karena zona nyaman yang saya ciptakan sendiri.

Yuk mari kita mengambil resiko dan menjalani hal yang kita ingin lakukan.

Salam.

Daru

Bacaan lain yang Anda bisa nikmati ya sebagai bentuk dukungan tulisan ke saya. Atau kalau ingin berkenalan via Linkedin, bisa klik tautan nama saya diatas.

Bisnis Anda Autopilot

ERP Indonesia

Pengalaman Memulai Bisnis

Pengalaman Memulai Bisnis

Pengalaman Memulai Bisnis
Source: Phactory

Saatnya Menulis

Selamat Malam, selamat malam mingguan bagi Anda yang sedang dirumah saja.

Pada saat pandemi seperti ini, sebaiknya kita mengurangi perjalanan keluar rumah agar kondisi penyebaran corona virus bisa dikurangi ya. Setujukah? Pasti setuju ya.

Sambil dirumah saja, sama dengan saya, ada baiknya saya menulis pengalaman saya saat memulai bisnis. Daripada mengerjakan hal-hal yang menyenangkan hati seperti menonton netflix atau bermain mobile legends terus-terusan, akhirnya saya memulai untuk menulis kembali.

Ok, pertama-tama, saya mau mengucapkan semoga Anda yang membaca tulisan saya kali ini diberkahi kesehatan sehingga Anda dapat beraktivitas seperti biasa dan saya berharap Anda yang sedang dalam masa yang kurang baik seperti bisnis yang kurang baik atau kantor yang sedang berjuang selama masa ini, semoga kita semua bisa melalui ini semua ya.

You’re not alone my friends. Kita semua menghadapi ini kok. Bahkan negara-negara lain juga.

Istilah kata, bisa waras saja dalam melewati ini semua kita harus sudah bersyukur. Masih banyak teman-teman kita yang kurang beruntung. Semangat ya!

Makanya saya mulai menulis lagi nih. Selain agar bisa terus berkarya dan berbagi tentang pengalaman saya, mungkin bisa menjadi pencerahan atau manfaat bagi teman-teman semua ya. Amin.

Pengalaman Memulai Bisnis

Ok, mari kita mulai ya. Tulisan kali ini tentang bagaimana pengalaman memulai bisnis.

Tentunya, ada pemilik bisnis yang memulai bisnis mereka dari jenjang karier atau pekerjaan sebelumnya.

Contoh ada client saya, yang memulai usahanya karena sudah bertahun-tahun bekerja pada tempat kerja sebelumnya.

Tentunya tidak hanya menguasai 1 atau 2 bagian, tetapi hampir semua departemen sudah pernah dijalani. Sehingga ilmu atas bisnis yang dijalaninya cukup lengkap.

Apakah Anda tipe yang seperti itu? Belajar terlebih dahulu, menguasai materi dan pengalaman dalam membesarkan tempat kerja Anda sebelumnya baru mendirikan usaha Anda sendiri?

Idealnya seperti itu ya. Kenapa? Karena selain Anda dibayar karena Anda bekerja didalam bisnis idaman Anda, pengalaman didalamnya adalah sesuatu yang menurut saya tidak bisa dibayar oleh apapun. Itu menurut saya ya.

Lalu, apa tipe yang kedua Mas Ndaru?

Sabar. Ada. Tipe yang kedua adalah tipe yang seperti saya.

Dimana saya mendirikan usaha atau bisnis saya karena saya tertarik dengan bidang tersebut dan terus belajar, sambil menjalankan bisnis diawal-awalnya. Startup, Bootstrap dan Bonek (bondo nekat).

Lalu, apakah saya merasa menyesal dengan memilih jalan tersebut?

Sebetulnya ada. He3. Tapi jangan negatif dulu ya. Saya akan coba jelaskan menyesalnya disisi dan bagian mana, sehingga Anda bisa belajar juga dari pengalaman saya.

Saya ganti playlist Spotify saya dahulu ya.

Lalu, Anda Sebaiknya Bagaimana?

Ok done. Mari kita lanjutkan.

Pertanyaannya, dari pengalaman saya, lalu Anda sebaiknya bagaimana nih, yang ternyata masi minim pengalaman dalam memulai bisnis sendiri.

Pengalaman saya, saat merintis bisnis sendiri, adalah punya visi yang kurang besar.

Itu satu hal yang terlewat dari checklist saya. Kok visi harus besar Mas?

Betul, dengan visi dan misi tentunya yang besar, Anda akan mempunyai arah yang jelas untuk bisnis dan karier Anda tentunya.

Jangan sampai tujuan Anda tidak besar dan membuat Anda putus asa ditengah jalan karena hasilnya ya segitu-gitu aja.

Bangunlah visi bisnis Anda agar Anda akan bergetar saat Anda menceritakan ke teman, keluarga bahkan tim Anda yang pertama-tama. Ok, lanjut ya.

Kedua yang penting adalah belajar mencari role model atau mentor yang sudah pernah melalui apa yang Anda inginkan.

Saya pernah baca salah satu quotes di Instagram berkata, jangan bertanya bagaimana cara mengendarai Roll Royce kepada orang yang mengendarai Toyota.

Maaf bukan bermaksud merk salah satu yang diatas ada yang kurang baik ya, tetapi hal ini mengingatkan saya, bahwa kalau saya mau ke suatu tujuan, saya musti bertanya kepada orang yang pernah kesana.

Closing Ya

Penutup. Ternyata saya sudah banyak banget nulisnya.

Pengalaman Anda ataupun orang lain adalah pengalaman yang sangat berharga. Apalagi pengalaman saat pandemi begini dan Anda sedang berjuang mempertahankan bisnis, tim bahkan keluarga Anda pada pundak Anda.

Tetap semangat. Mudah-mudahan tulisan saya mencerahkan ya. Feel free untuk berkenalan saya via Linkedin. Jangan lupa chat pada introductionnya kalau Anda kenal saya dari blog saya ya.

Daru

Bagi Anda yang sedang mencari pekerjaan karena kantor Anda sebelumnya kena efek pandemi ini, bisa mencari pada bagian karir web Sunartha ya.

Atau Anda yang senang mengutak atik data dari excel, database, kantor saya punya toolsnya dimana Anda bisa unduh trialnya secara gratis disini ya: Download Tableau Trial

Nah, tolong dukung saya supaya semangat terus menulis dengan mampir diartikel dibawah ini ya. Gratis kok. Klik, dibaca dan apabila dirasa bermanfaat, bisa Anda bagikan kok.

Memilih Bisnis Model

Cara Membuat Waffle Chart di Tableau

Terimakasih sudah mampir ya. Stay Safe dan sehat selalu.