Pengusaha Bermental Karyawan atau Sebaliknya

Bisnis

Pengusaha Bermental Karyawan atau Sebaliknya

Pengusaha Bermental Karyawan atau Sebaliknya

Pengusaha Bermental Karyawan atau Sebaliknya : inventiva

Sudah Siap Mental?

Sudah siap? Bersedia? Ya!

Biasanya kalau kita mau lomba lari, petugas pencatat waktu akan menanyakan hal tersebut bukan?

Sama halnya dengan terjun kebidang bisnis (atau bidang apapun itu menurut saya).

Karena kali ini blog saya bahasannya tentang bisnis, jadi saya bahas mengenai bisnis ya. Mental fokus utama bahasan kali ini. Lalu, para pemuja usaha ini sudah siap mental belum ya? Dan sampai sesiap apa Mas Ndaru?

Sabar. Kita bahas satu-satu ya.

Saya putar lagu dulu di-spotify saya – Indah Pada Waktunya.

Apa Bedanya Kalau Gitu

Mari kita lanjutkan. Mental menjadi salah satu faktor penting bagi para calon pengusaha. Sama halnya dengan bekerja, mental yang ada juga harus dipersiapkan.

Entrepreneurship atau kewirausahaan menjadi hal yang menarik sebagai profesi bagi para millenials belakangan ini. Tetapi apakah Anda tahu, ternyata profesi ini cukup sulit lho.

Kalau nda kuat mental, pasti akan berujung yang namanya kebangkrutan aka bisnisnya semaput alias tutup.

Dan sedihnya bukan kepalang. Lebih sedih daripada putus cinta.

Lalu mental apa yang harus dipersiapkan untuk menjadi pengusaha yang tangguh?

Kalau menurut saya, yang pertama adalah Tahan Uji. Tidak semua orang memilikinya. Ataupun punya sedikitpun, akan lebih baik kalau terus menerus diasah.

Contohnya saya, ada berbagai usaha sebelumnya yang “belum” saatnya sukses. Pasti banyak pemilik bisnis lainnya yang juga punya cerita seperti saya.

Nah, bagaimana kalau Anda baru mulai, trus maunya disuapin terus sama pihak lain alih-alih mau ambil kesempatan dan mengambil risiko diusaha Anda sendiri. Ya, ini usaha Anda sendiri lho, bukan usaha orang lain.

Lanjut ya poin kedua. Fokus pada Jangka Panjang. Saya jarang lihat ada pengusaha sukses yang mentalnya instan. Dengan berfokus pada jangka panjang, setiap keputusan yang diambil akan dipertimbangkan matang-matang dan penuh perhitungan.

Meskipun resiko tetap ada, tetapi arahnya akan ke jangka panjang. So, siap nda mental Anda untuk bermain jangka panjang alih-alih jangka pendek dan short term goals. Ingat, ini bisnis Anda sendiri lho.

Believe What You Do and make Great Impact. Terakhir dari saya, kalau Anda saja nda percaya dengan bisnis Anda, mental Anda saja ragu, apalagi orang lain seperti customer Anda, karyawan Anda, vendor Anda, Istri bahkan keluarga.

Dengan percaya dan yakin bahwa bisnis kita akan memberikan hasil, mental inilah yang harus dibina dan dilatih terus. Ok, kira-kira bagaimana menurut Anda?

Pengusaha Bermental Karyawan atau Sebaliknya

Sharing kali ini mudah-mudahan mencerahkan ya? Saya nulis ini karena terinspirasi oleh film Bohemian Rhapsody. Mungkin Anda perlu nonton juga bagi yang belum nonton ya.

Intinya, kalau ingin jadi pengusaha ya mentalnya pengusaha. Kalau mental atau Anda nyaman sebagai karyawan, ya nda apa-apa juga toh. Karier dan kenyamanan tidak salah juga. Asalkan tidak ingin jadi pengusaha karna ikut-ikutan atau kesel sama bos Anda.

Trust me, bos Anda yang galak jauh lebih baik dari customer yang marah. Saya pernah disana kok.  So, semoga malam senin ini menjadi lebih berkesan dengan membaca tulisan saya kali ini ya. Salam.

Terimakasih bagi Anda yang sudah membaca artikel saya kali ini. Bacaan lain yang sudah saya tulis antara lain terkait pekerjaan saya disini ya: Software ERP Terbaik di Indonesia

One response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 − 4 =